CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
MANTRA PENJARA SUKMA


__ADS_3

Saat baru satu langkah memasuki jalur tengah Candani Paramita langsung mundur jauh. Teman-temannya dibawanya menjauh serta dari jalur itu.


"Ada apa di jalur tengah itu ratu muda laut?" tanya raja muda ular kepada Candani Paramita.


"Tidak ada apa-apa. Hanya jalur yang tengah ini sangat mengerikan. Penghuni jalur tengah ini akan menjadi salah satu musuh besarku di peperangan dengan kerajaan Segara Pitu."


"Lalu apa yang harus kita lakukan dengan jalur tengah ini?" tanya Lintang Samudera. "Apakah dibiarkan saja penghuni jalur tengah ini?"


"Tentu saja aku harus mengurus penghuni jalur tengah ini, tapi nanti bukan sekarang. Untuk sekarang tujuan utamaku kesini untuk membantu bangsa ular. Sepertinya yang kita tuju ada di jalur kanan." Candani membayangkan betapa besarnya serangan yang akan melanda di peperangan nanti. Dia pun menarik nafas dalam. Lintang Samudera menyentuh bahu Candani Paramita, mencoba menenangkan kekhawatiran yang melanda istrinya itu.


Sekarang pandangan keempat orang itu tertuju pada jalur kanan. Candani tetap memimpin di depan. Oncor di sekitar dinding jalur kanan dinyalakan satu persatu. Tidak ada suara berisik maupun sosok menyeramkan di jalur itu.


Di ujung jalur tengah terdapat sebuah ruangan dengan penerangan jelas yang berasal dari tembusan sinar matahari yang masuk melalui atap goa yang terbuat dari batu berwarna bening. Ruangan ini satu-satunya bagian goa yang mendapat curahan sinar matahari. Sebuah batu yang cukup lebar berada di tengah-tengah ruangan itu. Di sisi kanan kirinya terdapat dinding yang sengaja di bentuk menjadi meja mengelilingi dinding ruangan, terdapat tulisan yang ditulis pada lontar-lontar kuno yang diletakkan rapi pada dinding itu


Lintang Samudera mengambil salah satu lontar, di dalam lontar itu tertulis mengenai cara memenjarakan sukma ular, bahkan ada gambar ular yang dijelaskan secara rinci tiap titik nadi yang ada di tubuh ular. Lintang Samudera memanggil raja ular, dan diserahkannya lontar yang dipegangnya.


Tubuh raja muda ular bergetar oleh kemarahan yang menggelegak. "Orang sakti mana yang telah menciptakan mantra penjara sukma bagi bangsaku, mantra yang sangat mengerikan. Bangsa ular harus menderita setelah matinya disebabkan oleh lontar keji ini." Raja muda ular pun duduk bersimpuh. Air matanya mengalir, kepiluan yang diterima ular-ular yang telah mati kembali menusuk relung-relung hatinya. Hanya dengan sebuah lontar kuno, kaum ular yang mati harus terpenjara menjadi satu di alam keris Sarpa Hastha yang begitu sempit. Teriakan dendam dan sakit hati mereka yang telah mati menghujam telak ke dadanya.

__ADS_1


Nimas Ayu ikut duduk di samping raja muda ular, diraihnya raja muda itu ke dalam pelukannya. Dibelainya pelan. Dia pun ikut menangis merasakan kepiluan yang menghinggapi suaminya itu. Raja muda ular yang lebih sering berkelakar, kini terduduk lemah bersimbah air mata. Rasa sedih dan tekanan yang luar biasa selalu ditahan dan diredam demi memberi ketenangan bagi segenap kawulanya. Tapi di kedalaman hati raja muda ular tersimpan kepedihan yang sangat dalam.


Raja muda ular menyandarkan kepalanya di bahu Nimas Ayu Palupi. Mencoba mencari ketenangan dalam bahu itu. Belaian gadis itu mampu menenangkan kesedihannya. Ditahannya gejolak perasaannya. Dia pun kembali berdiri dengan tangan yang memegang erat telapak tangan Nimas Ayu Palupi.


"Ratu muda laut kita apakan lontar-lontar ini?" tanya raja muda ular yang ditujukan kepada Candani Paramita atau Ratu Sanura.


"Ambil yang kau butuhkan. Dan tinggalkan yang tidak diperlukan."


Dengan cepat raja muda ular menyimpan lontar yang berisikan mantra penjara sukma ular. Lintang Samudera mengelilingi tempat itu. Lontar-lontar yang ada di tempat itu sangat berbahaya, mantra-mantra yang ada di dalamnya sebagian besar berisi mantra-mantra jahat penguasaan bangsa ular. Dan terdapat ilmu mantra ilmu sirep dan ilmu pemikat. Tapi untuk ilmu sirep tidak begitu berbahaya, karena golongan putih pun banyak yang memilikinya. Makin tinggi ilmu batin seseorang maka semakin kuat ilmu sirep yang dimilikinya beserta jangkauannya. Sedang untuk ilmu pelet juga ilmu yang ramai dimiliki orang. Jadi dikembalikannya kedua lontar itu pada tempatnya.


Candani sibuk meneliti batu besar yang tergeletak dengan gagah di jalur kanan itu. Batu ini hampir berbentuk bulat, hanya saja di bagian luar dari batu itu terdapat runcingan yang menghadap ke lima sisi, tapi kelima runcingan itu seakan-akan terputus arah. Sedangkan dasar batu berbentuk lebih ramping dari bagian atas batu. Batu ini mengingatkan kisah yang pernah diceritakan oleh Guru Jagratara kepadanya.


"Jangan sentuh itu Kakang!" Candani berteriak panik.


Lintang Samudera sontak menarik jari jemarinya yang hampir saja menyentuh mutiara hitam itu.


"Mutiara ini merupakan paku yang menghubungkan dengan bumi. Jika mutiara itu disentuh maka akan terjadi gempa di sekitar wilayah ini, dan wilayah lautan di sekitarnya pun akan ikut bergolak," jelas Candani Paramita.

__ADS_1


Lintang Samudera menjauhi mutiara hitam itu. Pandangannya beralih pada sebuah keris yang tergeletak tanpa warangka. "Ini bukankah keris Sarpa Hastha?" tanya Lintang Samudera


"Bukan, itu bukan keris Sarpa Hastha. Itu adalah keris kembaran dari keris Sarpa Hastha. Jika keris Sarpa Hastha yang utama hancur maka jiwa-jiwa ular yang terpenjara di keris Sarpa Hastha yang asli akan berpindah ke keris ini semua." Candani Paramita menjelaskan dengan mata yang terus mempelajari batu besar yang ada di tengah.


"Apakah kita bawa saja keris ini?" tanya Nimas Ayu.


"Jangan disentuh dan jangan dibawa keris itu. Rakyatku yang ada di gunung Wadas putih dan yang ada di sebuah tempat rahasia di wilayah kerajaan Abyudaya akan disiksa jika keris itu dibawa. Dan keberadaan kita di goa ini akan diketahui oleh Ki Estungkara." Raja muda ular berkata dengan panik.


Nimas Ayu akhirnya menyusutkan tubuhnya ke tubuh raja muda ular. Dirinya takut salah sentuh dan mengakibatkan bahaya bagi bangsa ular.


"Apa saja yang kau ambil?" tanya Candani Paramita.


"Aku mengambil lontar mantra penjara Sukma ular, lontar yang menjelaskan tentang bisa-bisa ular, lontar yang berisikan makanan untuk meracuni dan melumpuhkan ilmu ular. Aku juga mengambil peta kerajaan ular." jawab raja muda ular.


Candani memandang ke sekitar. "Ayo kita keluar sebelum keturunan pemilik tebing ini menyadari keberadaan kita. Dan mumpung air pasang belum datang."


Keempat orang itu kembali ke pintu masuk goa, dan kembali menuruni tebing curam itu. Setelah mendarat ke daratan mereka segera mengayuh kapal kecil yang mengantarkan mereka ke bawah tebing. Dan saat sudah sampai di bibir pantai, air pasang datang dan menerjang tebing yang mereka daki.

__ADS_1


Empat ekor kuda berlari kencang. Candani bersama kuda Antari berderap dengan lepas didampingi oleh Lintang Samudera dan kudanya. Raja muda ular dan Nimas Ayu berkuda di belakang. Arah tujuan mereka sekarang adalah menuju ke Kerajaan Abyudaya. Pasukan kelana sudah menunggu kehadiran Candani Paramita di wilayah kerajaan itu. Hasil penyelidikan pasukan kelana mengenai pasukan rahasia kerajaan Segara Pitu yang digembleng di Kerajaan Abyudaya sangat mengkhawatirkan. Membuat Candani merasa perlu untuk turun terjun langsung mengamati pasukan rahasia itu.


__ADS_2