
Sejak diciptakannya alam semesta, kebaikan dan keburukan sudah menjadi bagian dari kehidupan. Saat berjalan tapakilah jalan dengan penuh perhatian. Jika terjatuh maka bangunlah, jika salah jalan maka kembalilah. Segala sesuatunya sudah termaktub dalam berbagai kitab yang ditulis oleh orang-orang suci.
Malam berikutnya merupakan malam bulan sabit. Puncak pegunungan bergemuruh riuh ramai dengan tawa membahana, dan suara-suara keras yang tidak dimengerti pendengaran.
Orang-orang pengikut aliran iblis itu menari-nari dengan mata mendelik-delik ke atas. Gerakan mereka serampangan mengikuti naluri iblis yang menguasai diri mereka.
Di tengah-tengah tampak persembahan berupa makhluk hidup yang bernyawa. Setiap pelaksana upacara aliran iblis ini, masing-masing memberikan luka sayatan pada makhluk hidup yang dijadikan korban persembahan.
Darah segar mengucur dari tubuh korban persembahan. Dan para pengikut upacara yang menjijikkan ini saling berebut untuk membasahi seluruh bagian tubuh mereka dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan darah segar yang sedang mengucur. Seluruh wajah mereka berwarna merah, seluruh bagian mulut mereka berwarna merah, bahkan rambut mereka berwarna merah. Sudah hilang dan lenyap wujud aslinya, bersamaan dengan lenyapnya kesadaran hati nurani.
Candani Paramita merasa mual dan jijik menyaksikan ritual kebengisan yang dilakukan orang-orang yang sudah lupa jalan kebenaran.
Lintang Samudera berbisik pelan ke telinga Candani. "Jika tidak sanggup menyaksikan menyingkirlah, biar aku sendiri yang menghadapi. Kau dan Nadi Tirta pergi agak menjauh, dan tetap awasi keberadaanku. Jika aku dalam bahaya lekaslah memberikan pertolongan."
"Manusia-manusia pemuja setan ini, apakah mereka tidak tahu tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan hanya tipuan. Semua semu. Dan mereka mengabdikan diri kepada...." Candani Paramita tidak sanggup melanjutkan ucapannya, dia menggelengkan kepalanya. Rasa muak dan jijik bergelayutan dari mata turun ke perut. Tapi dirinya tidak bersedia menjauh dari tempat laknat itu.
Semakin malam para pemuja setan itu semakin menggila. Gerakannya semakin cepat, teriakannya menggelegar membahana disertai jeritan menyayat hati dari korbannya. Tiba-tiba hadirlah pemimpin utama mereka. Dia pun ikut menari gila, mulutnya komat-kamit membaca mantra.
Makhluk hidup yang jadi persembahan sudah tidak berujud utuh lagi. Bagian-bagian tubuhnya telah berpindah ke mulut orang-orang yang sudah dikuasai naluri setan itu. Bahkan pemimpin utama mereka dengan liar menarik jantung korban persembahan dan memindahkan jantung segar itu ke dalam mulutnya.
Jeritan semakin riuh kian riuh, membahana dan membahana. Inilah salah satu perwujudan iblis dalam diri manusia.
Di saat upacara semakin menggila, dan orang-orang yang mengikuti upacara sudah kehilangan kesadaran secara keseluruhan. Lintang Samudera langsung merusak tabir ghaib yang melindungi upacara iblis itu.
__ADS_1
Pemimpin upacara langsung tersadar saat dirinya merasakan tabir ghaib yang dibuatnya rusak seketika.
Dia pun melenting tinggi melewati gerombolan orang yang sudah hilang kesadaran.
"Siapa, siapa yang mengantarkan nyawa kesini, tunjukkan keberadaanmu! Sudah bosan hidup." Teriak pemimpin upacara itu dengan suara lantang memecah malam.
"Tidak usah berteriak. Aku ada di sini," jawab Lintang Samudera tenang.
"Sudah bosan hidup," lanjut lawan Lintang Samudera.
"Tentu saja aku masih ingin hidup. Kau dan orang-orangmu yang gila ini juga masih ingin hidup. Mana mungkin aku yang waras menginginkan mati."
Lawan Lintang Samudera mendengus marah mendengar jawaban lawan bicaranya. Orang itu langsung mengambil posisi sambil merapal mantra.
Saat pemimpin upacara penyembah setan sedang merapal mantra, Lintang Samudera dengan kekuatan terpusat langsung menghantam tongkatnya ke tubuh orang itu. Tidak dibiarkannya orang itu memanggil setan, iblis, demit, atau apapun itu namanya, sehingga akan membuatnya kesulitan mengusir mereka semua dari pegunungan ini. Tiba-tiba angin berhembus dengan kencangnya menghempas orang-orang yang sedang menjerit-jerit dan berputar-putar. Sehingga mereka semua tersadar dalam kondisi kalang kabut. Tanpa dikomando mereka semua secara serentak menyerang Lintang Samudera, membuatnya sedikit kerepotan. Karena tidak sabar dipukulnya dengan keras tiap-tiap pengikut upacara itu. Tapi mereka tampaknya berubah menjadi kebal, gerakannya pun seakan dikendalikan.
Candani Paramita yang memahami kesulitan yang ada langsung ikut serta terjun dalam kancah pertarungan. Dengan lincah ia menggerak-gerakkan tubuhnya dalam tata perkelahian. Orang-orang yang dihajarnya seakan-akan tidak mengenal rasa sakit. Setiap terjatuh seketika bangkit kembali.
Lintang Samudera dan Candani Paramita saling bertatapan. Yang harus dimusnahkan adalah pemimpin upacara, dialah yang mengendalikan tiap gerak orang-orang ini. Secara bersamaan mereka berdua menerobos kepungan, setelah terbebas dari kepungan masing-masing langsung menerapkan perisai yang dimiliki. Lintang Samudera meminta Candani Paramita untuk mundur. Diterapkannya ajian Prasanti Tantra yang mampu memutus tujuh pintu kekuatan alam semesta yang dikuasai oleh seseorang, di arahkannya ajiannya ke dada pemimpin upacara yang mengerikan itu. Dengan sekali pukul terhempaslah yang menjadi sasarannya. Seketika pengendaliannya akan orang-orang yang ada langsung terlepas. Tubuh orang itu pun tumbang lemah, jalan kekuatan di dirinya terputus. Dia pun menjerit tersungkur tak berdaya. Bagian tubuhnya tidak ada yang terluka, hanya saja pintu ilmunya yang terhubung dengan alam semesta sudah terputus.
Brubuh orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Secara cepat segala yang berharga dibawa serta. Mereka berlari ke satu arah. Seperti sudah menjadi sebuah keputusan jika ada keadaan bahaya di tempat tinggal sekarang, maka para pemuja setan itu sudah memiliki tempat tujuan yang baru.
"Siapa pemimpinmu?" bentak Lintang Samudera. "Siapa namamu? Apa tujuanmu dengan melakukan upacara-upacara mengerikan di tempat ini?" Tanya Lintang Samudera tanpa jeda.
__ADS_1
Orang itu terdiam seribu bahasa. Jika berani menyebutkan pemimpin utamanya dan menjawab semua pertanyaan lawannya maka nyawanya yang jadi taruhan.
Lintang Samudera mengalami kesulitan untuk mengenali wajah orang yang sudah tidak berdaya itu. Lumuran darah yang menyelimuti seluruh wajah dan kepala orang itu membuat bentuk rupa aslinya tidak terlihat. Diamnya orang ini membuat emosi Lintang Samudera meninggi.
Tiba-tiba sekelebat bayangan hadir, dengan gerakan cepat meraih tubuh orang yang menjadi lawan Lintang Samudera.
Sebuah lecutan pecut diarahkan ke tubuh Lintang Samudera yang dengan sigap dihindarinya lecutan pecut itu. Orang yang datang tanpa diundang itu tidak berhenti sampai di situ. Setelah lawannya berhasil menghindari serangannya, orang yang tidak dikenal itu dengan cepat melecutkan pecutnya ke tempat pelaksanaan upacara tadi dan tempat sekitarnya. Sehingga dalam sekejap tempat itu berada dalam kobaran api yang dahsyat.
"Pecut Sahasra Agni," ucap Lintang Samudera terpukau.
"Anak muda jurusmu jika sudah kau kuasai dengan sempurna akan sangat berbahaya. Suatu saat jika kita bertemu lagi aku akan membuat perhitungan denganmu atas apa yang telah kau lakukan pada orang-orangku." Setelah selesai berkata orang langsung pergi.
Dalam sekejap mata, kedua orang yang menjadi lawannya menghilang seketika.
"Kakang, pecut Sahasra Agni."
"Benar Candani. Pemilik pecut Sahasra Agni telah muncul. Mungkin dia anak keturunan dari sang Mpu Adighana," jawab Lintang Samudera berusaha memahami perubahan keadaan yang tengah terjadi.
Lintang Samudera dan Candani Paramita langsung membuat pemutus jalur api agar tidak membakar area pegunungan. Dibuatnya jalur api sehingga membentuk lingkaran. Dengan ini api hanya akan berada dalam lingkaran itu dan tidak akan merambah ke tempat lain.
"Apa rencana kita selanjutnya Kakang?"
"Kita tunggu sampai pagi datang. Lebih baik sekarang kita mencari tempat untuk istirahat. Hari sudah hampir pagi. Beberapa waktu lagi ayam akan berkokok."
__ADS_1
Candani pun tertidur sambil bersandar pohon, sedang Nadi Tirta tertidur di atas tikar pandan. Lintang Samudera sendiri berjaga sambil terus menjaga nyala api agar terus menyala.
Api di puncak pegunungan perlahan-lahan padam. Bersamaan dengan padamnya upacara-upacara pemuja setan di wilayah ini.