
"Kakang, Kakang Lintang. Tunggu aku."
Seorang gadis muda tampak berlari-lari menuju ke arah mereka.
"Nimas Ayu Palupi, kau nakal sekali. Apakah ayahandamu tahu kalau kau pergi?" tanya Lintang Samudera.
"Tahu. Waaah cantik sekali, ini siapa Kakang?"
"Kenalkan ini Candani Paramita. Kekasihku," bisiknya pelan kepada Nimas Ayu.
Nimas Ayu Palupi mengelilingi Candani Paramita. Lalu tiba-tiba dikeluarkannya pedangnya dan menyerang Candani dengan membabi-buta. Nimas Ayu meliuk-liukkan pedang rampingnya ke berbagai sisi Candani. Gerakannya yang lincah penuh semangat. Jurus-jurusnya terarah pasti. Candani Paramita meladeni polah putri nakal ini. Ditangkisnya setiap serangan Nimas Ayu dengan ketenangan. Dirinya tidak memerlukan senjata apapun untuk meladeni permainan anak ini. Liukan pedang Nimas Ayu terus membelit dan mengejar. Saat pedang menuju ke lehernya, Candani memukul tangan Nimas Ayu sehingga jatuhlah pedang yang sedang dipegang gadis nakal itu.
Lintang Samudera mendekati Nimas Ayu," kau jangan membuatku malu. Ilmunya jauh di atasku."
"Hahahaha.... Akhirnya Kakang kena batunya."
Diraihnya tangan Candani. Anak. "Kang Mbok sejak kapan kalian menikah, kenapa sudah ada anak?"
"Kakang apa kau menikah tanpa meminta ijin Bopo Guru? Jangan durhaka Kakang."
"Nimas Ayu ini bukan anak kami. Aku hanya menolongnya."
"Betulkah?"
Tiba-tiba dari arah seberang jalan muncullah dua ekor kuda. Saat melihat Candani Paramita, penunggangnya langsung turun
"Hormat kami Kanjeng Ratu."
Nimas Ayu Palupi tercengang mendengar ucapan orang tersebut. "Kakang Lintang calon kakak iparku ini sebenarnya siapa?"
"Tanyalah sendiri."
Nimas Ayu tidak berani memotong percakapan antara seorang ratu dengan bawahannya. Sebagai seorang puteri raja, dirinya mengetahui saat seorang ratu atau raja sedang bicara tidak boleh disela.
"Apa yang sedang dilakukan telik sandi Segaralaya di sini?" tanya Candani.
"Kami mengikuti kepergian Raja Suteja Thani ke sebuah gunung yang bernama gunung Wadas Putih."
"Ada urusan apa Suteja Thani ke gunung itu?" tanya Candani.
"Setelah kami selidiki anak dari Ki Estungkara adalah salah satu selir dari Suteja Thani. Di gunung Wadas Putih diadakan upacara-upacara persembahan dengan menggunakan manusia hidup sebagai persembahannya."
__ADS_1
"Siapa Ki Estungkara?"
"Dia pemimpin gunung Wadas Putih."
"Prajurit aku perintahkan kepadamu untuk pergi ke desa Karangwuni. Temui Apsara dan Baluh Jingga. Perintahkan kepada mereka untuk meninggalkan desa itu dan pergilah menuju ke Kotaraja Kerajaan Citraloka. Dan aku akan menyusul segera kesana. Bawa kuda Antari."
"Baik Ratu."
"Apsara dan Baluh Jingga, sepasang suami istri dari desa Karangwuni? Apakah mereka yang dimaksud?" ucap Nimas Ayu setelah melihat prajurit menyelesaikan laporannya.
"Iya betul, Baluh Jingga adalah keponakanku, dan Apsara salah seorang bagian dari senopatiku. Sepasang suami istri?"
"Iya betul, Apsara dan Baluh Jingga sepasang suami istri. Tapi Ratu sebenarnya siapakah ratu ini, kenapa bisa ada di kerajaan Citraloka?"
Sekarang yang dihadapi Candani bukan lagi seorang gadis nakal melainkan seorang gadis dengan posisinya sebagai Puteri bungsu dari kerajaan Citraloka.
Candani berdiri dari tempat duduknya yang merupakan batang dari pohon besar yang ditebang. " Aku adalah Ratu Sanura, ratu dari Kerajaan Laut Segaralaya."
"Ratu Sanura. Hormat Ratu. Aku sering mendengar kisah Ratu Sanura. Kakak seperguruanku luar biasa bisa menjadi dipilih oleh seorang ratu sakti yang melegenda."
Sanura hanya tersenyum.
"Ratu Sanura, sebelum kepergianku, ayahanda raja berpesan bahwa jika bertemu Ratu Sanura maka undanglah Ratu Sanura untuk bisa berkunjung ke kerajaan Citraloka, ada pesan yang dititipkan mendiang gurunya kepada ayahandaku."
"Guruku dari lembah Chedana. Guru Jagratara dan Nyai Gastiasih?"
"Betul," jawab Nimas Ayu.
Candani mengangguk. "Nimas Ayu di sini di bumi daratan panggil namaku Candani Paramita. Karena aku sedang dalam proses penyamaran. Aku akan segera menghadap raja Citraloka."
"Baik Kang Mbok." Dengan manjanya Nimas Ayu langsung bergelayut kepada Candani.
" Kakang mulai sekarang aku akan mengikuti kemanapun Kang Mbok Candani pergi."
Lintang Samudera geleng-geleng kepala.
Ratu Sanura jadi ingat dengan keberadaan Lintang Samudera.
"Prajurit aku kenalkan kepada kalian, inilah Lintang Samudera putra Ki guru Yasa Rasendriya calon suami ratumu ini."
Kedua prajurit tersebut menatap Lintang Samudera sekilas, menggambar wajah calon suami ratunya dalam ingatannya, untuk dilaporkan kepada Ibunda Wali Ratu.
__ADS_1
Setelah kedua prajurit pergi tinggallah mereka berempat.
"Candani aku ingin bicara," pinta Lintang Samudera.
Nadi Tirta yang sudah mulai berjalan menangis keras. "Kang Mbok lanjutkan pembicaraan dengan kakang Lintang. Nadi Tirta denganku saja," ucap Nimas Ayu. Nimas Ayu Palupi memahami isi hati kakak seperguruannya. Menjadi calon suami seorang ratu yang memiliki kekuasaan tinggi tidaklah mudah.
"Nimas Ayu sepertinya Nadi Tirta lapar. Carilah harimau betina yang sedang menyusui, dan biarkan Nadi Tirta menyusu pada harimau betina itu." Candani menjelaskan.
"Harimau, apakah nanti tidak diterkam?"
"Tidak mengapa. Selama dalam perjalanan kami, Nadi Tirta selalu menyusu pada induk harimau betina. Aroma tubuh Nadi Tirta lama kelamaan beraroma harimau. Jadi tidak akan diterkam." Lintang Samudera ikut menjelaskan.
"Kompaknya kakak seperguruanku dan kakak iparku. Ya sudahlah. Bayi harimau ayo kita cari indukmu," perintah Nimas Ayu kepada Nadi Tirta.
"Ada apa Kakang?"
"Istriku," ucap Lintang penuh cinta.
Candani terlonjak kaget dengan ucapan Lintang Samudera.
"Di kerajaan Citraloka kita menikah ya?" pinta Lintang Samudera.
"Maksud Kakang?"
"Aku tahu betapa besar rasa cinta dan kerinduanmu padaku. Kau sudah mengenyampingkan keinginan pribadimu demi kerajaanmu. Dan kau tetap menghormati setiap perkelahianku meskipun kesaktianmu jauh tinggi di atasku."
Candani terdiam.
"Jangan khawatir aku tidak akan menyentuhmu sampai perayaan pesta pernikahan diadakan di Segaralaya. Aku tetap menghormati dan menghargai rakyatmu. Tapi kalau peluk dan cium-cium bolehkan?" lirik mata Lintang Samudera nakal.
Candani dilirik seperti itu menjadi tersenyum salah tingkah. Lintang Samudera mendekatkan wajahnya ke depan Candani. Melihat rona merah di wajah Candani ada kebahagiaan tersendiri di hatinya. Saat wajah Candani merona merah sifat kegadisan gadis itu pun tampak, menjadi diri sendiri, bukan seorang ratu yang harus senantiasa berwibawa. Gadisnya. Hanya gadisnya.
"Kakang wajahnya jangan dekat-dekat," pinta Candani malu-malu.
"Ingin rasanya aku mencium dan memelukmu. Bibirmu dan pipimu yang merona sangat menggoda," goda Lintang Samudera.
Wajah Candani semakin bersemu merah. Rasa malu menguasai dirinya. " Awas berani peluk-peluk apalagi cium sebelum aku sah menjadi istrimu, aku..."
"Gadis cantikku, aku tidak akan menyentuhmu sebelum menikahimu." Lintang Samudera sangat menikmati suasana ini. Candani terlihat lebih santai di sela beban dan tanggung jawab berat yang ada di pundaknya.
Mereka pun saling tersenyum dan memandang dengan penuh cinta. Menyelami samudera yang sangat dalam di hati masing-masing. Gadis ini telah membuatnya tergila-gila. Lintang Samudera sadar sejak Candani Paramita menyampaikan jati dirinya kepada prajurit telik sandi, hal ini menunjukkan mulai sekarang dirinya selalu diawasi dari berbagai penjuru oleh segenap prajurit Segaralaya. Dengan menikahi Candani Paramita dirinya tidak akan sungkan untuk memberikan bantuan kepada Segaralaya. Dan sepertinya memberikan perintah kepada prajurit Segaralaya juga tidak akan masalah. Candani juga tidak perlu harus terus-menerus merasa sungkan terhadap dirinya, berusaha menghormati setiap perkelahiannya. Kalau cuma calon suami, apa yang bisa diperbuatnya, tidak ada. Dan satu hal lagi, dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk tidak memeluk atau mencium Candani. Hal ini membuatnya gila.
__ADS_1