CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
PETAKA DI DESA KARANGWUNI


__ADS_3

Di pagi yang cerah dimana embun-embun pagi belum mengering terdengar suara jeritan-jeritan disertai tangisan-tangisan memilukan hati.


Sekumpulan perampok biadab sedang menjalankan aksi bejadnya di pagi hari. Perampokan disertai dengan pemerkosaan dan pembunuhan.


Dengan gilanya sekawanan perampok mengantri untuk menyetubuhi seorang wanita yang sedang hamil. Dan dua orang anak dari wanita itu yang masih kecil meraung-raung memanggil ibunya. Dan hinanya perampok-perampok biadab itu hanya tertawa sambil mengeluarkan liurnya. Dalam balutan nafsu yang membuncah.


Apsara dengan cepatnya melarikan kudanya mendekati segerombolan orang biadab yang tidak mengenal kehormatan dan rasa hormat itu.


Dikeluarkannya gendewa dan anak panah dari punggungnya. Sambil terus memacu kuda, tangan kanan memegang gendewa dan tangan kiri menarik panah. Dibidiknya satu persatu sekumpulan manusia tidak bermoral itu. Panah melesat dengan cepat tanpa jeda mengenai bagian leher kawanan perampok itu hingga tembus ke sisi satunya, menjadi gambaran dari murka Sang Dewa Pemanah. Mereka mati dengan raut wajah penuh kekagetan, mati dalam penantian biadabnya.


Di dalam masih tertinggal satu orang lagi yang sedang berpacu mereguk kenikmatan durjana. Peluhnya mengalir membasahi tubuh. Dari mulutnya keluar suara dengusan penuh kenikmatan. Sedangkan wanita yang sedang diperkosanya menangis meratapi kehinaan dan kesakitan yang sedang dialaminya.

__ADS_1


"Makhluk hina. Musnah kau dari kehidupan ini." Dengan murkanya Apsara mengeluarkan belatinya dihujamkannya belati itu tepat mengenai sumsum tulang belakang. Perampok itu tidak bisa membedakan antara kenikmatan yang telah direguknya dari wanita di hadapannya dengan rasa sakit karena panggilan dewa kematian. Rasa sakit itu muncul bersamaan dengan puncak kenikmatan yang sedang diperolehnya. Matanya menatap nyalang kebingungan. Diapun tersungkur. Mati.


Di luar rumah itu Baluh Jingga memeluk dua anak kecil anak dari wanita malang itu. Kedua anak itu kebingungan disertai rasa takut yang luar biasa dengan apa yang terjadi. Bapaknya telah tergeletak tak bernyawa dan ibunya menangis-nangis menjerit-jerit.


Setelah menutupi tubuh wanita yang sangat kasihan itu, Apsara keluar dengan muka merah padam menahan marah. Baluh Jingga langsung masuk dan melihat wanita yang di dalam. Tapi dirinya terlambat beberapa waktu. Wanita itu menemukan belati milik perampok yang telah memperkosanya. Dengan sisa kekuatan yang ada ditusukkannya belati itu tepat di jantungnya. Lampus. Wanita ini lebih memilih lampus diri daripada hidup membawa kehinaan. Dibawanya anak yang di dalam kandungannya turut serta untuk menjumpai suaminya yang telah lebih dahulu meninggalkannya. Kepedihan, kehinaan, putus harapan bertumpuk menjadi satu.


Baluh Jingga keluar dari rumah itu dengan membawa murka. Dia berlari diterjangnya kawanan rampok lainnya yang sedang menyeret seorang bapak tua yang berusaha untuk menyelamatkan kehormatan putrinya. Dikeluarkannya cambuk yang menjadi senjata andalannya, dengan penuh murka diayunkannya cambuk itu ke arah perampok di hadapannya. Merasa ada yang menantang, perampok itu dengan garangnya melayani serangan-serangan Baluh Jingga. Pedangnya menari melayani permainan cambuk seorang pendekar wanita yang entah dari mana asalnya. Cambuk itu terus menyerangnya dari segala sisi tidak memberikan kesempatan untuk berkelit. Terus menyerang penuh kedahsyatan, kanan kiri, depan belakang, atas bawah. Perampok itu menurunkan badannya menghindari cambuk yang terbang di atasnya. Saat cambuk itu menyerang bagian bawahnya dengan lincahnya dia melompat ke atas dan langsung menyamping diarahkannya pedangnya untuk melukai keganasan lawannya, seorang wanita muda yang cantik. Sebenarnya agak berhati-hati perampok ini dalam menghadapi Baluh Jingga. Kembang seindah ini sungguh sayang apabila terluka. Tapi karena kehati-hatian yang tidak berdasar yang disertai khayalan buasnya, beberapa kali ia terkena hantaman cambuk yang begitu deras menderu, sehingga perampok itu mengalami kesakitan di beberapa bagian tubuhnya. Hilang sudah kesan wajah ayu di hadapannya, yang ada sekarang bagaimana caranya dia menaklukan kegarangan dari cambuk yang menjadi senjata wanita muda yang sedang beradu olah kanuragan dengan dirinya.


Keringat mengucur deras dari wajah dan leher Baluh Jingga. Bajunya pun sudah basah kuyup oleh keringat. Tidak ada lagi jejak seorang emban yang sehari-harinya harus mengabdikan diri untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan seorang pelayan di kerajaan. Yang tampak sekarang hanyalah kelincahan dan kemurkaan seorang pendekar wanita.


Pertempuran itu berlangsung cukup lama. Dalam satu kesempatan Baluh Jingga melakukan serangan yang menipu. Diarahkannya cambuknya ke bagian kaki perampok itu, dengan secepat kilat perampok itu melompat mengangkat kakinya, dan tanpa aba-aba saat perampok itu masih dalam posisi melompat digerakkannya cambuknya secepat kilat ke arah leher perampok itu. Krek terdengar suara tulang leher yang patah. Saat perampok itu sadar nyawanya telah lepas dari badan.

__ADS_1


Baluh Jingga masih dengan napas membara. Matanya menatap tajam ke sekililing mencari penjahat untuk melampiaskan kemurkaannya.


Apsara mendekatinya dan menyentuh pundaknya. " Sudah istirahatlah, urus anak-anak dan penduduk yang membutuhkan pertolongan. Biarkan kami yang laki-laki ini yang bertarung melawan penjahat," ucap Apsara pelan berusaha menenangkan emosi Baluh Jingga yang tak terduga.


Baluh Jingga hanya diam menatap tajam Apsara. Tapi dia tidak melawan dengan apa yang diperintahkan oleh Apsara. Disimpannya kembali cambuknya ke tempatnya. Dirinya ikut berbaur menolong penduduk dan anak-anak yang sedang tertimpa malapetaka.


Di beberapa tempat dari desa ini terjadilah pertarungan-pertarungan. Sekawanan perampok ini memiliki kemampuan olah kanuragan yang mumpuni. Gerakan-gerakannya seperti gerakan yang telah terdidik dengan mahir, yang dilatih dengan kedisiplinan tingkat tinggi. Pertempuran-pertempuran itu terjadi dengan sengitnya.


Jaladhi bertarung dengan hebatnya menghadapi salah satu pimpinan perampok. Mereka sama-sama bersenjatakan pedang. Saling melibas, saling menebas. Tingkat ilmu lawannya ini ada di bawahnya. Tapi orang ini begitu prigel begitu telaten dalam menghadapinya. Dia memperhitungkan segenap gerakan lawannya sehingga tidak mudah bagi Jaladhi untuk mengalahkannya. Otak lawan dengan otak. Lawannya sebagian besar bertarung dengan otaknya, gerakannya mengamati dan mempelajari, setelah mengambil keputusan barulah dia menyerang.


"Bagaimana caranya mengalahkan orang ini," umpatnya dalam hati.

__ADS_1


Dicobanya sebuah cara. Jika sedari tadi dirinya fokus menyerang maka sekarang dirinya akan mengikuti arus air mengikuti kemanapun arah orang itu bergerak. Lawan Jaladhi mengarahkan pedangnya ke bagian samping kanan dirinya, dengan gerakan cepat Jaladhi langsung berpindah ke samping kanan lawannya. Dipukulnya tangan lawannya dengan kerasnya hingga tangan itu bergetar dan terlepas pedangnya. Lawan Jaladhi berusaha membungkuk untuk mengambil pedangnya memanfaatkan sedikit waktu yang ada. Jaladhi pun ikut membungkuk tapi tidak mengambil pedang lawan melainkan menyepak pedang lawannya hingga terpental jauh. Lawan Jaladhi menjadi sedikit gugup. Kesempatan ini digunakannya sebaik mungkin. Dipukulnya punggung orang itu dengan sekuat tenaga, sebelum lawannya mencapai tanah ditendangnya keras-keras sampai lawannya terlempar beberapa depa dari dirnya. Diangkatnya tubuh orang itu lalu disejajarkannya dengan pohon randu besar yang ada di tempat itu dipukulnya perut lawannya dengan empat kali pukulan tanpa jeda dengan mengeluarkan tenaga sepenuhnya. Lawannya terdiam, terdiam untuk selamanya.


Titik-titik pertempuran di beberapa tempat sudah lengang. Berhenti tanpa diaba-aba. Kemenangan berasa di pihak pasukan kelana. Sudah setahun mereka mengembara dan beberapa kali menyaksikan kejahatan, tapi kejahatan yang dijumpai kali ini sangat tidak manusiawi, karenanya harus ditumpas tanpa sisa. Meskipun Jaladhi merasa ada kejanggalan di kejadian hari ini tapi diabaikannya yang akan menjadikan penyesalan terbesar bagi dirinya.


__ADS_2