CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
CINTA DI KARANGWUNI


__ADS_3

Bahtera rumah tangga Apsara dan Baluh Jingga sudah berlangsung selama empat bulan lamanya. Selama menjalani kehidupan rumah tangga, Baluh Jingga bersikap seperti biasa tidak ada perubahan sama sekali. Lain halnya dengan Apsara yang benar-benar memposisikan dirinya sebagai seorang suami. Diberikannya penjagaan dan perlindungan kepada Baluh Jingga, dicarinya nafkah dengan sepenuh hati untuk menafkahi kehidupan rumah tangga mereka berdua. Meskipun Baluh belum memberikan hati dan tubuhnya, tapi Apsara tetap sabar. Karena bagi Baluh pernikahan ini hanya sekedar pernikahan yang bukan sebenarnya. Saat Candani Paramita kembali maka pernikahan ini pun akan selesai.


Apsara memperlakukannya dengan sangat baik. Menghormati segenap keinginannya. Tidak pernah sekalipun Apsara bertindak dengan tindakan yang tidak menghormatinya.


Suatu hari lewatlah serombongan kecil pasukan berkuda memasuki desa Karangwuni. Di depan sendiri ada seorang gadis muda yang ayu mempesona. Didampingi oleh seorang prajurit wanita dan empat orang prajurit lelaki.


Saat bertemu dengan Apsara, puteri ayu yang berkuda paling depan langsung turun dan menyapa Apsara.


"Kakang ijinkan aku bertanya."


"Silahkan Kanjeng Puteri," jawab Apsara.


"Jangan panggil aku Kanjeng Puteri. Panggil saja namaku. Namaku Nimas Ayu Palupi."


Apsara pun tersenyum melihat kepolosan dan keterusterangan Tuan Puteri di hadapannya ini.


"Pernahkah berjumpa dengan seorang pemuda bernama Lintang Samudera. Dia kemana-mana selalu membawa sebuah tongkat tua," tanya Nimas Ayu Palupi.


Apsara berpikir sebentar, lalu dijawabnya pertanyaan itu. "Seingatku tidak pernah Kanjeng Puteri," jawab Apsara.


"Panggil namaku saja Kakang. Aku risih kemana-mana dipanggil Kanjeng Puteri, seperti aku tidak punya nama saja."


"Baiklah Nimas Ayu," jawab Apsara.


Dari kejauhan Baluh Jingga memperhatikan keakraban Apsara dan seorang wanita. Hatinya berdebar kencang meninggalkan seberkas rasa sakit.


"Ada apa ini, kenapa hatiku merasa sakit melihat Kakang Apsara dekat dengan wanita lain. Bukankah Kakang Apsara berjanji selama pernikahan berjalan dia akan benar-benar menjadi seorang suami yang baik, apakah Kakang Apsara akan meninggalkanku," ucap isi hati Baluh Jingga.


Apsara mengajak Nimas Ayu Palupi dan rombongannya untuk mampir sekedar minum di rumahnya. Nimas Ayu Palupi tidak keberatan.

__ADS_1


Baluh menyuguhkan kelapa muda yang dipetik oleh suaminya. Tidak lupa disediakannya juga kendi yang berisi air putih dan panganan ala kadarnya.


Apsara dan Nimas Ayu Palupi berbicara dengan begitu riuhnya, sampai mengabaikan keberadaan Baluh Jingga. Mereka saling bertukar kisah seru petualangan mereka. Apsara begitu tertarik dengan ilmu keprajuritan yang ada di Kerajaan Citraloka. Nimas Ayu Palupi dan rombongannya dengan senang hati menceritakan tentang ilmu perang dan cara menggembleng prajurit yang diterapkan di Kerajaan Citraloka ini.


"Nimas tadi kau mengatakan sedang mencari Kakang seperguruanmu yang bernama Lintang Samudera. Apakah dia juga kekasihmu?" tanya Apsara. Tidak disadarinya tatapan tajam dari Baluh Jingga yang duduk di sampingnya.


"Dia bukan kekasihku Kakang. Dia hanya kakang seperguruanku, tidak lebih. Kakang Lintang Samudera sangat menyayangiku sebagai seorang adik, begitu pun aku hanya menganggapnya sebagai seorang kakak. Saat aku sedang bosan tinggal di istana, aku sering ikut Kakang Lintang berkelana," jelas Nimas Ayu Palupi.


"Lalu seperti apakah laki-laki yang Nimas sukai?" tanya Apsara.


"Ya laki-laki seperti kakang ini. Yang tampan dan enak diajak bicara," celoteh Nimas Ayu bercanda. Mereka berdua pun tertawa penuh canda.


Panas hati dan panas telinga Baluh Jingga. Dia pamit undur diri ke belakang untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang terbengkalai. Apsara tidak curiga sama sekali. Rasa diabaikan memenuhi hatinya. Apsara berbicara tanpa ditahan-tahan dengan Nimas Ayu Palupi, tidak seperti saat bicara dengannya sangat menjaga sikap dan tutur bahasa.


Baluh pergi ke hutan yang dekat dengan desa. Dikumpulkannya ranting-ranting dan kayu-kayu kering untuk bahan bakar tungku. Sebenarnya pekerjaan ini selalu dilakukan oleh suaminya. Apsara melarangnya melakukan pekerjaan yang berat. Tapi karena rasa panas di hatinya, dan persediaan kayu sudah hampir habis, Baluh pun pergi ke hutan. Berusaha mendamaikan hati yang sedang terbakar cemburu.


Hari menjelang sore hari. Apsara mulai khawatir karena dari tadi tidak melihat keberadaan istrinya. Tidak biasanya istrinya pergi dalam waktu yang lama. Tapi ditahannya kegelisahannya di hadapan tamu-tamunya ini. Diantarkannya Nimas Ayu Palupi dan rombongannya ke banjar desa untuk tempat menginap mereka.


Apsara telah kembali ke rumahnya. Tidak tampak keberadaan istrinya.


Apsara pun mencoba mencari istrinya di hutan. Dan benar istrinya sedang mengaso di bagian lereng hutan yang agak tinggi. Di sampingnya sudah terkumpul kayu dan ranting dalam jumlah yang banyak. Apsara menyalahkan dirinya sendiri. Dia lupa bahwa kayu di dapur tinggal sedikit, dan tidak akan cukup untuk bahan bakar.


Baluh Jingga mengabaikan kehadiran Apsara.


Apsara duduk di samping istrinya. "Baluh ayo pulang hari sudah sore," ajak Apsara.


Baluh hanya menganggukkan kepala. Apsara mengangkat kayu dan ranting yang sudah dikumpulkan oleh istrinya di bahunya.


Di rumah Baluh hanya diam setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.

__ADS_1


"Baluh, Kakang minta maaf atas kelalaian Kakang. Apakah kau marah kepadaku?" tanya Apsara menyesali kelalaiannya.


"Tidak, hanya sekedar mencari kayu apa susahnya," jawab Baluh ketus.


Apsara berpindah tempat duduk di depan istrinya. Dipegangnya tangan istrinya untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka. Baluh Jingga membiarkan Apsara memegang tangannya. Apsara berusaha meredakan amarah istrinya itu.


"Baluh maafkan Kakang ya, sebenarnya adakah hal lain yang membuatmu marah, katakan kepadaku?"


Baluh hanya terdiam. Apsara tersenyum girang. Cintanya mulai bersambut. Dipegangnya pipi Baluh Jingga dengan tangan kanannya. Dibelainya pelan. Tidak ada perlawanan. Apsara memberanikan diri mencium kening Baluh Jingga, lalu dikecupnya kedua mata gadis itu. Kini wajah mereka berhadapan dengan sangat dekat. Saling memandang dan saling mengagumi.


"Baluh bolehkah aku meminta hakku sebagai seorang suami?" tanya Apsara dengan suara parau dan tanpa basa basi.


"Maksud Kakang Apsara?" tanya Baluh Jingga sambil menggenggam erat kain jariknya.


"Menyempurnakan pernikahan kita," jawab Apsara pelan.


"Bukankah pernikahan ini bukanlah pernikahan sesungguhnya, pernikahan ini hanya pernikahan sementara sampai Kang Mbok Candani Paramita kembali."


"Aku tidak bermain-main dengan pernikahan ini. Sedari awal Kakang benar-benar tulus mencintai dan menyayangimu. Baluh yang selama ini menganggap pernikahan ini tidak berarti. Kakang tidak mungkin mempermainkan seorang kanjeng putri dari Kerajaan Laut Segara Jingga, keponakan dari Ratu Sanura sendiri."


"Tapi Kakang bukankah Kakang mencintai Kanjeng Puteri Nimas Ayu Palupi?"


Apsara tersenyum. "Kakang hanya mencintaimu, hanya menginginkanmu. Bukankah Kakang selama pernikahan kita selalu berusaha menjadi seorang suami yang pantas dan baik untukmu? Bolehkah aku meminta hakku?" ucap Apsara mengulang pertanyaannya dengan nafas yang sedikit memburu. Rasanya sudah terlalu lama dia menahan hasrat di hatinya.


Baluh terdiam terpaku. "Aku belum siap Kakang, dan aku belum yakin dengan hatiku."


"Baiklah. Istirahatlah," ucap Apsara seraya berjalan meninggalkan bilik Baluh Jingga. Disebarkannya hatinya.


Hati Baluh Jingga merasa tidak rela melihat Apsara berlalu. Ada rasa takut ditinggalkan dan diabaikan. Diapun berlari dan memeluk erat Apsara dari belakang.

__ADS_1


Apsara memejamkan matanya, merasakan debaran hatinya yang semakin kencang. Dia pun membalikkan badannya. Diangkatnya Baluh Jingga dengan kedua tangannya, membawanya duduk di pinggir dipan. Dia memberanikan diri mencium seluruh wajah gadis itu. Diciumnya bibir Baluh dengan lembut. Wajah Apsara memerah mencurahkan gejolak gairah di dirinya. Ciuman lembut berganti menjadi ciuman yang penuh hasrat. Diletakkannya gadis itu di pembaringan. Ditatapnya tubuh yang halus mulus yang penuh dengan lekukan indah. Disentuhnya seluruh tubuh itu dengan tangan dan tubuh yang bergetar menambah gairah yang ada. Diciuminya leher Baluh Jingga. Dari leher ciuman berpindah ke dada gadis itu. Direguknya nikmatnya keindahan di bagian dada gadis itu.


Malam semakin larut bulan purnama sedang berkuasa di alam ini. Apsara memeluk erat tubuh istrinya. Hatinya begitu berbunga-bunga. Mahkota gadis ini telah direguk dan dimilikinya. Cinta dan hatinya pun telah menjadi miliknya. Merekapun terlelap dalam balutan rindu yang tiada akhir.


__ADS_2