
"Ampun, tobat. Jangan melawan wanita itu. Bisa mati berdiri. Aku masih ingin nyantet orang, masih ingin main kirim-kirim paku," jawab tetua ilmu hitam yang satunya.
Mereka berdua bergidik ngeri. "Aku masih ingin belajar ilmu rawa rontek."
"Ilmu rawa rontek tidak mempan digunakan kepada orang sakti seperti wanita itu. Ada orang sesakti itu. Muridnya saja sehebat itu, bagaimana dengan gurunya?" Kedua tetua ilmu hitam itu mempercepat langkahnya. Hal ini cukup menjadi rahasia mereka berdua.
🔸🔸🔸🔸🔸
"Kang Mbok Candani, sebenarnya siapa permaisuri Gasita Anjali? Kang Mbok mengenalnya?"
"Kenal. Sangat kenal. Dia adik kandung dari Suteja Thani, raja dari Kerajaan Segara Pitu, yang berencana makar dan menyerang kerajaan Segaralaya."
"Tapi kenapa sepertinya dia punya dendam kesumat kepada Kang Mbok? Setahuku dia lemah lembut."
Candani tertawa pelan mendengar pujian yang Nimas Ayu berikan untuk Gasita Anjali. "Sudahlah, Nimas tidur. Tidak usah memikirkan hal lain."
Nimas Ayu mengangguk dan merebahkan dirinya pada dipan batu yang ada di ruangan itu. Raja muda ular membelainya lembut sampai Nimas Ayu terlelap.
"Candani, siapa sebenarnya Gasita Anjali?" Lintang Samudera membuka pembicaraan.
"Ah, itu. Kapan-kapan aku ceritakan. Sepertinya ini bukan tempat yang tepat untuk bicara. Banyak telinga yang tersembunyi."
Lintang Samudera memahami maksud pembicaraan istrinya. Didekatinya Candani Paramita. Candani menempelkan telunjuknya ke bibir.
Beberapa saat waktu berlalu. Malam bertambah larut. Kilauan lampu jarak menerangi ruangan ke lima sandera. Saat hening sudah datang Candani mengingsar duduknya.
Candani menuliskan tulisan di dipan batu. "Di bawah ruangan ini terdapat sebuah ruangan lagi."
Lintang Samudera dan raja muda ular mengernyitkan kedua alisnya. Candani menyuruh Lintang Samudera turun dari dipan batu tempat Candani tidur. Candani pun ikut serta turun. Digesernya bagian atas dipan batu, yang ternyata merupakan sebuah pintu untuk memasuki sebuah lorong menuju ruangan rahasia.
Candani kembali menulis, sekarang menulis di dinding, tulisan ini ditujukan untuk raja muda ular. "Bangunkan Nimas Ayu pelan, jangan berisik!"
Nimas Ayu terbangun saat ciuman lembut mendarat di pipinya. Nyawanya yang belum sepenuhnya terbangun membuatnya sedikit kebingungan. Diikutinya langkah raja muda ular, yang berjalan sambil memegang tangannya.
Ke lima sandera yang istimewa itu menuruni tangga batu perlahan. Tangga batu itu membawa mereka ke sebuah ruangan batu yang lain.
__ADS_1
"Ruangan ini tampaknya sudah lama tidak dikunjungi, apa Raja Akusara tidak mengetahui tentang adanya ruangan ini?" Tidak ada yang menjawab pertanyaan yang diutarakan raja muda ular.
"Lihat batu ini, bentuknya sama persis dengan batu yang ada di goa di tebing perbatasan laut." Candani berjongkok mengamati ukiran dan tulisan di sekitar batu itu. "Sama persis," gumamnya.
Teman-teman Candani ikut serta mengamati kursi batu yang ditunjuk Candani. Nimas Ayu hanya menggeleng tidak paham. Lintang Samudera merasa seperti pernah melihat ukiran yang sama dengan batu itu, tapi dimana.
Lintang Samudera mencoba duduk bersila di batu itu. Tidak terjadi apa-apa.
"Kakang Lintang, coba pejamkan mata, tutup pintu-pintu nafsu," perintah Candani Paramita.
Lintang Samudera mengikuti perintah istrinya. Dikosongkan nya semua isi hatinya, berusaha memasuki pintu alam lain. Lama dia berusaha mencari pintu yang dituju. Pintu terbuka. Seketika matanya terbuka dan langsung turun dari kursi batu itu.
"Aku tidak sanggup, kalau diteruskan ruh ku belum tentu bisa kembali." Lintang Samudera memandang raja muda ular. "Batu ini sepertinya alam yang sengaja dibuat oleh Mpu Adhigana untuk menyimpan jiwa-jiwa ular."
Raja muda ular meminta ijin kepada Candani Paramita untuk menduduki kursi batu itu.
"Ratu muda laut, tolong awasi aku. Jika ruh ku tersasar, tolong dicari dan bawa kembali ke ragaku. Nimas Ayu tidak mengijinkan ku mati," ucap raja muda ular sembari berkelakar.
"Baiklah. Nimas, jangan khawatir." Candani menepuk pundak Nimas Ayu, memberikan ketenangan pada gadis muda itu.
Candani Paramita dan raja muda ular duduk di kursi batu. Duduk sila dan memejamkan mata. Saat pintu-pintu nafsu sudah tertutup, dengan mudahnya mereka memasuki alam lain. Di alam bawah sadar, Candani mengantarkan raja muda ular untuk memasuki pintu alam Sarpa Hastha.
Saat pintu dibuka, angin lesus memaksa keluar siapapun yang memaksa masuk alam Sarpa Hastha.
"Ratu muda laut, bagaimana ini?"
"Tenang raja muda ular. Tenanglah!" Candani mengambil bunga mawar putih berkelopak delapan yang terselip digelung rambutnya. Dibacanya bait-bait doa, lalu ditiupkan pada bunga mawar itu.
Candani melepas kelopak dari bunga mawar putih. Kelopak yang ke delapan ditiupkannya ke pintu masuk alam Sarpa Hastha. Bagai mendapat salam, alam Sarpa Hastha membuka pintunya pelan. Tidak ada lagi angin lesus yang berputar-putar kuat. Yang ada hanya sebuah sambutan.
Raja muda ular memandang bunga mawar putih berkelopak delapan yang ada di tangan Candani Paramita.
Candani melepas kelopak ke tujuh, dan menyerahkannya pada raja muda ular. "Pegang kelopak bunga ini, simpan, satupun tidak boleh ada yang jatuh."
Raja muda ular menerima kelopak ke tujuh, dan menyimpannya di sapu tangan putih milik Nimas Ayu Palupi. Lalu disimpannya sapu tangan itu di selipan ikat pinggangnya.
__ADS_1
Candani dan raja muda ular sudah memasuki alam Sarpa Hastha.
"Tunggu di sini, nanti ada yang menjemput."
Seorang laki-laki paruh baya berbaju putih datang menjemput mereka, dan membawa mereka memasuki alam Sarpa Hastha lebih dalam.
"Raja muda ular katakan keperluan mu pada penjaga pintu alam Sarpa Hastha!" perintah Candani Paramita.
Raja muda ular mengangguk. "Bapak tua penjaga, aku ingin menjumpai ayahku, raja ular terdahulu, raja yang dengan berat hati mengorbankan dirinya demi keselamatan bangsa ular."
Bapak tua penjaga pintu alam Sarpa Hastha mengangguk, dia memasuki pintu yang lebih lebar. Saat pintu dibuka, terlihat jiwa-jiwa ular yang terpenjara. Mereka menangis meraung-raung meminta pembebasan. Kehidupan getir di alam Sarpa Hastha sangat menyiksa jiwa mereka. Jiwa bayi-bayi ular yang tidak berdosa hanya duduk termangu di pinggir penjara alam Sarpa Hastha, menanti waktu untuk reinkarnasi.
Penjaga pintu membawa seekor ular yang berbeda dari ular-ular lain. Dialah raja ular terdahulu, ayahanda raja muda ular.
Jiwa raja ular terdahulu tidak mampu mengenali anaknya. Dendam dan kesedihan telah merusak mata batinnya.
Candani melepas kelopak ke enam, dan meminta raja ular terdahulu untuk memakannya.
Raja ular terdahulu langsung duduk bersimpuh menangis tersedu-sedu. Jiwanya sudah sangat lelah, ingin secepatnya kembali ke alam kelanggengan.
"Ayahanda, ini aku putramu, raja muda ular."
"Anakku, ular yang bisa berubah wujud menjadi manusia, anakku yang lucu, buah hatiku," raja ular terdahulu tidak sanggup lagi menahan sesak air matanya. Dipeluknya anaknya erat, dilimpahinya pundak anaknya dengan air matanya.
"Anakku, ular muda. Tolong ayahanda dan semua jiwa ular yang ada di sini. Selamatkan kami. Antar kami kembali ke alam kelanggengan. Ayahanda lelah, nak." Air mata raja ular terdahulu tidak mau berhenti. Kepiluan di hati, kepedihan, kesedihan, ketidakberdayaan, semua beradu menjadi satu. "Tolong kami anakku, biarkan kami mati dengan tenang. Kami sangat tersiksa."
Raja muda ular bersimpuh di hadapan ayahandanya, suara tangisnya yang keras menyayat hati yang mendengar. Tangis seorang anak yang menderita batinnya sepanjang waktu. Dia terus bersimpuh di hadapan ayahandanya. Dibasahinya kaki raja ular terdahulu dengan air matanya. Dadanya begitu sesak. "Sang Pencipta tolong kami, tolong leluhur kami yang terpenjara di sini."
Raja ular terdahulu ikut bersimpuh, dipeluknya anaknya, dibasahinya punggung anaknya dengan air matanya. Seluruh tubuh raja muda ular basah oleh air mata ayahandanya. "Bebaskan kami. Di alam kelanggengan nanti, kami ingin pulang kepada Sang Pencipta. Asal muasal tidak ada, biarlah kami menjadi tiada. Tidak perlu reinkarnasi, biarkan kami melanjutkan perjalanan ke alam kelanggengan dengan tenang."
Ayah dan anak yang selalu hidup dalam penderitaan itu, saling melimpahkan air mata. Air mata yang terlahir karena kepiluan, rasa ketidakmampuan.
"Ayahanda, jangan khawatir, aku akan membebaskan semua jiwa-jiwa ular yang terpenjara di sini. Tapi apa kunci untuk membebaskan jiwa-jiwa di sini?"
"Tanyakan pada Guru Jagratara, dia akan memberitahumu tentang kuncinya."
__ADS_1