
Ki Estungkara marah besar. Gadis muda ini sudah berani menghinanya. "Tutup mulutmu! Berani bicara lagi, aku sobek mulutmu."
"Ampun ,Ki. Ampun Ki!" Candani pura-pura menggigil ketakutan. "Ampuni aku, Ki. Jangan sobek mulutku, karena hidup tanpa mulut sangat tidak mungkin. Manusia mana yang bisa hidup tanpa mulut. Coba aki sobek mulut aki sendiri, kalau aki bisa hidup tanpa mulut, silahkan untuk dicoba pada orang lain."
Si prajurit kembali melompat girang dalam diam. Diikutinya sandiwara yang dilakukan oleh gadis yang mengaku sebagai istri raja muda ular. Sebenarnya si prajurit setelah mengantar sandera, dirinya hendak berlalu pergi, tapi begitu mendengar Candani Paramita mengaku sebagai istri raja muda ular, dia pun memilih berdiri di tempat, menunggu diusir.
Wajah Ki Estungkara semakin memerah. Sudah cukup caci maki yang diterimanya dari perempuan bermulut lancang ini. Berani-beraninya mempermainkan seorang Estungkara.
"Sekali lagi kau bicara, aku tebas kepalamu." Ki Estungkara mengancam dengan wajah garang, berharap gadis muda yang dikiranya istri raja muda ular akan menggigil ketakutan.
Dan Ki Estungkara tertawa keras saat melihat Candani menggigil ketakutan. Dilihatnya gadis muda itu matanya sudah berkaca-kaca. Bahkan menyembah-nyembah memohon ampun dengan kedua tangannya.
"Ampun, Ki. Ampuni aku. Maafkan mulutku yang sudah lancang. Jangan tebas kepalaku, Ki. Jangan, Ki. Karena tidak mungkin seorang manusia hidup tanpa kepala, tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa kepala. Kalau aku hidup tanpa kepala, nanti anak-anak kecil ketakutan. Mungkin aki bisa kepala aki sendiri, tapi aku mohon jangan tebas kepalaku." Candani semakin memasang wajah ketakutan. Lutut tertekuk di lantai, dan tangan di depan dada memohon sebuah pengampunan. Sandiwara.
Serempak Lintang Samudera dan raja muda ular tertawa keras. Bahkan dengan kurang ajarnya, raja muda ular sampai berguling-guling. Dan Lintang Samudera sampai melompat-lompat sambil memegangi perut.
Si prajurit ingin rasanya tertawa sambil melompat-lompat, lalu dilanjutkan sambil berguling-guling. Si prajurit bersorak-sorai melihat kedunguan Ki Estungkara yang sedang dipermainkan oleh gadis yang selalu dipanggil dengan nama Candani Paramita itu. Gadis yang sudah membuat dua orang tetua ilmu hitam berlari ketakutan.
"Diam, kataku." Dengan garangnya Ki Estungkara menampar wajah Candani Paramita. Tapi sebelum tangan kotor itu mendarat di pipi Candani yang mulus, perut Ki Estungkara ditendang keras, bahkan tepat sasaran, tepat di atas pusat laki-laki tua tidak tahu diri itu.
"Diam atau aku buat senjata mu tidak berfungsi lagi untuk selamanya."
🔸🔸🔸🔸🔸
Pagelaran latihan gabungan antara pasukan daratan dan lautan sedang berlangsung di kaki gunung Anaga. Sebuah latihan yang bukan sekedar latihan. Berbagai senjata tajam sudah tersedia dengan gagahnya. Anak panah dibuat dalam jumlah ribuan. Tombak berbaris rapi, ujung tombak dibuat dengan besi-besi khusus, begitu tajam.
Ada beberapa orang ahli senjata yang dipekerjakan di tempat pelatihan ini. Dan ada sekitar seratus orang menjadi pekerja untuk membantu pembuatan senjata-senjata.
Pasukan dari kerajaan Segara Pitu masing-masing dipasangkan dengan pasukan daratan dari kerajaan Abyudaya. Setiap prajurit mempelajari tata perkelahian yang berbeda dari wilayah asalnya. Prajurit Segara Pitu berusaha mengikuti setiap gerak, pembacaan situasi, penggunaan strategi, yang digunakan oleh prajurit kerajaan daratan Abyudaya, begitupun sebaliknya.
__ADS_1
Jaladhi memperhatikan semua yang ada di tempat latihan gabungan prajurit itu. Setiap yang dilihat dan didengarnya disimpan di dalam ingatan.
Tadi, saat Candani Paramita sedang mempermainkan Ki Estungkara, Jaladhi menyelinap secara perlahan-lahan. Prajurit yang mengawal mereka sebenarnya mengetahui kepergiannya, tapi dia hanya mengangguk, tidak melarang ataupun menahan. Mungkin prajurit itu terlalu asyik melihat adegan Candani Paramita, atau mungkin dia tahu siapa yang harus dia bela.
Jaladhi mencuri pakaian salah satu prajurit yang sedang dijemur. Begitu banyaknya pakaian yang dijemur, tidak mungkin pemiliknya akan paham ini baju siapa dan itu baju siapa. Alhasil, sekarang Jaladhi sudah berpakaian lengkap dengan seragam prajurit dari Segara Pitu. Hal ini tentu saja sangat memudahkannya untuk menelusup.
Jaladhi berjalan dari satu tempat ke tempat lain. "Dasar pengkhianat," umpatnya.
Dilihatnya sekumpulan prajurit dari pasukan pengawal Segaralaya dan dari kesatuan lainnya, sedang berkumpul di tempat itu. Bergabung dengan para pemberontak dari Segara Pitu. "Hal ini tidak bisa dibiarkan," gumam Jaladhi
"Hei, kau, kesini!" perintah salah seorang pemimpin prajurit.
Jaladhi mendekat, lalu memberi hormat sesuai tradisi kerajaan laut.
"Antar sahabat dari Kerajaan Laut Segaralaya ini ke tempat Panglima Senopati Laut Agra Raga di kemah singa."
Dengan sigap Jaladhi mengantar pengkhianat Segaralaya ke tempat Panglima Senopati Agra Raga. Hal itu mudah dilakukan. Kedudukan Jaladhi sebagai salah satu senopati telik sandi, mewajibkannya harus melapor dengan menggunakan penutup wajah. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui wajah dari bagian kesatuan keprajuritan telik sandi.
Dicatatnya semua pengkhianat itu. Diambilnya secarik kain berwarna putih yang sudah pudar warnanya. Ditulisnya nama-nama pengkhianat yang berani mengkhianati Segaralaya dengan tulisan sandi yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu. Saat Jaladhi hendak pergi, seseorang mendekatinya. Dialah Senopati Arkana, berasal dari kesatuan prajurit pengawal istana.
"Pasir pantai dibeli jadi emas."
Jaladhi menjadi tegang mendengar sandi itu. Sandi khusus dari Ibunda Wali Ratu.
"Sang ratu menjadi maya di perjalanan." Mau tidak mau Jaladhi harus menjawab sandi itu. Sandi yang menandakan bahwa orang yang mengucapkan sandi itu merupakan suruhan dari Ibunda Wali Ratu.
"Dimana Candani Paramita?" tanya Senopati Arkana.
"Ada di kemah tengah, sedang bercanda dengan Ki Estungkara."
__ADS_1
Senopati Arkana tersenyum-senyum. Ratu Sanura jarang bercanda. Ternyata pengembaraan kali menjadikan hati Ratu Sanura lebih terbuka.
"Sejak kapan Candani Paramita bisa bercanda?"
"Yah belum lama. Keberadaan suaminya Lintang Samudera sedikit membantu beban di hati. Ditambah berteman dengan raja muda ular yang suka bercanda." Jaladhi terdiam sejenak. "Apa ada pesan dari Ibunda Wali Ratu?"
"Perintah Ibunda Wali Ratu, setelah urusan selesai cepatlah kembali."
"Bukankah Ibunda Wali Ratu bisa mengirimkan pesan melalui mameling?"
Senopati Arkana mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu. Mungkin beliau ada pertimbangan sendiri."
"Terus, apa yang sedang dilakukan para pengkhianat Segaralaya di dalam sana?" Jaladhi tidak mampu lagi menahan rasa penasarannya.
"Seperti yang dilihat "sedang berkhianat". Senyum Senopati Arkana melahirkan sebuah teka-teki.
"Ayolah, jangan berbohong padaku."
"Beberapa diantaranya memang benar-benar pengkhianat. Beberapa lagi sengaja disusupkan oleh Ibunda Wali Ratu. Kau tadi melihat wajah penjilat Senopati Kanaka?" Senopati Arkana menunjuk seseorang dengan lirikan matanya.
"Tentu, aku melihatnya. Dasar penjilat. Dari dulu aku sudah curiga bahwa suatu saat dia akan berkhianat." Jaladhi menjadi berang sendiri.
Tanpa disangka Senopati Arkana tertawa meskipun dengan suara yang ditahan, membuat lawan bicaranya kebingungan.
"Kau tertipu. Senopati Kanaka salah satu tangan kanan Ibunda Wali Ratu dan Ratu Sanura. Dia memang ditugaskan untuk menyusup ke tempat-tempat yang ada pengkhianatnya. Lihatlah gaya penjilatnya, luar biasa bukan? Entah berapa tahun dia berguru untuk menjadi seorang penjilat."
"Jadi maksudmu?" Jaladhi menganga mendengar penjelasan Senopati Arkana
"Betul sekali. Senopati Kanaka ditugaskan untuk mencari pimpinan pengkhianat yang berasal dari Segaralaya. Pengkhianat yang menjual informasi-informasi penting yang berasal dari ruang Balairung pertemuan para punggawa kerajaan laut Segaralaya.
__ADS_1