
Setelah mendapat perintah untuk menuju kerajaan Citraloka. Apsara dan Baluh Jingga bergegas bersiap pergi.
Apsara agak sedikit khawatir dengan kandungan istrinya yang masih muda. " Baluh apa tidak sebaiknya kau berdiam di desa ini saja," pinta Apsara.
Dipukulnya lengan Apsara. " Kau mau meninggalkanku di sini, hah? Kau mau mencari wanita lain karena aku sedang hamil anakmu. Kau suruh aku mencari nafkah sendiri?" Bentak Baluh Jingga
"Aduh salah lagi," batin Apsara
"Bukan begitu istriku sayang. Aku hanya mengkhawatirkan kandunganmu."
"Siapa yang akan memberiku makan, siapa yang akan mengurusku, kalau aku mati siapa yang menguburku," tambah Baluh.
"Kalau kau tidak mau pergi bersamaku, kita berangkat sendiri-sendiri, pisah jalan. Aku sehat. Kandunganku juga sehat. Kakang jangan melarangku berjumpa bibi Ratu Sanura." lanjut Baluh Jingga sambil terus melakukan persiapan.
"Nyai, maafkan aku. Bukan itu maksudku. Maaf sudah salah bicara. Kita berangkat bersama ya?" pinta Apsara pelan mengakui kesalahan.
Baluh Jingga tetap diam tidak perduli. Apsara memeluk istri cantiknya dari belakang. Diciuminya tengkuk dan bahu istrinya dengan lembut. Baluh menepis pelukan Apsara. Bukan Apsara namanya jika tidak mampu meruntuhkan kemarahan istri tercintanya. Tangan Apsara berpindah membelai lembut perut Baluh Jingga, berusaha merasakan kehidupan yang ada di dalamnya. Ditariknya kain yang menutupi tubuh istrinya. Satu tangannya membelai indahnya rambut Baluh Jingga. Memberikan belaian dan sentuhan lembut. Baluh Jingga hanya terdiam.
"Jangan marah, tidak baik untuk bayi kita. Besok pagi kita berangkat ke Kotaraja Citraloka." Bujuk Apsara lembut. "Kakang akan minta maaf kepada Ratu Sanura karena berani menikahimu tanpa ijinnya. Dan jika Ratu Sanura mengijinkan, aku akan menghadap Paduka Raja Kerajaan Segara Jingga dan permaisuri, memohon ampun karena berani menikahi puteri seorang raja tanpa sepengetahuan pihak kerajaan. Bagaimana setuju?" rayu Apsara kepada istri tercintanya.
Baluh Jingga menenggelamkan kepalanya di bahu Apsara. Dengan penuh kelembutan Apsara membelai bahu istrinya, dari bahu berpindah ke telapak tangan, kini telapak tangan mereka saling bertautan. Diciumnya kepala istrinya, diciumnya tangan istrinya berulang-ulang penuh cinta, dari kepala ciuman berpindah ke dahi, ke pipi, dari pipi berpindah ke bibir istrinya yang ranum yang selalu terasa manis dan wangi. Mereka saling berpagutan mendalami kesucian cinta yang terjalin. Sentuhan kelembutan Apsara berpindah ke leher dan tengkuk Baluh Jingga, menghembuskan nafas yang hangat, menghayati keindahan yang ada. Tangannya mulai berpindah ke sepasang gunung kembar yang sangat menantang baginya yang selalu membuat tangannya bergetar saat jari jemari menyentuh yang ada di sana. Nafas Apsara menjelajahi kenikmatan yang diberikan. Baluh Jingga melenguh panjang, menyerahkan jiwa raga dan kehidupannya pada laki-laki yang kini menjadi suaminya.
🔸🔸🔸🔸🔸
Saat hati memanggil merindukan dia yang tidak diketahui. Nama tiada. Bayangan tiada. Suara pun tiada. Aku pun merindu. Aku berada di sebuah puncak gunung yang agung. Duduk bersila terpaku memejamkan mata. Mengharap dia yang tiada diketahui. Saat mata terbuka langit terbuka, mengulurkan tangganya. Angin bertiup pelan menemani hati yang rindu.
__ADS_1
🔸🔸🔸🔸🔸
Untuk mempercepat perjalanan, Nimas Ayu Palupi membeli dua ekor kuda masing-masing untuk Candani Paramita dan Lintang Samudera.
"Kuda betina untuk Kang Mbok Candani yang cantik jelita dan sakti mandraguna," ucap Nimas Ayu sambil memberikan lirikan mengejek pada Kakak seperguruannya.
"Dan kuda jantan yang gagah untuk Kakak seperguruanku Lintang Samudera yang tidak sakti." Ledekan Nimas Ayu Palupi sontak membuat semua rombongan yang ada di situ tertawa.
"Walaupun kurang sempurna kesaktianku tapi bagaimana pun cinta ratu yang cantik dan sakti ini hanya untukku." Lintang Samudera menimpali sambil tersenyum mesra ke arah kekasihnya.
"Terpaksa aku memilih Kakang Lintang Samudera, hati sudah buntu. Bukan kebiasaanku untuk menunggu, lebih baik langsung dikejar daripada diambil orang," ucap Candani sambil tertawa lepas.
"Waduh mesranya, tolong carikan satu untukku Kang Mbok. Tidak harus yang setara denganku, yang penting mencintai dan menyayangiku." Ucap Nimas Ayu merengek.
"Mana berani aku sembarangan mencari jodoh untuk Tuan Puteri bungsu kesayangan dari Raja Citraloka, carilah sendiri. Jadi kalau ayahandamu marah, tanggunglah sendiri," timpal Candani.
Di tengah perjalanan ada sebuah kuda yang sepertinya sengaja menunggu mereka.
"Ratu Sanura, kita berjumpa di sini?" sapa seorang lelaki tampan dengan terus menatap merayu ke Candani
"Pangeran Kawiswara dari Kerajaan Segara Madya. Ada perlu apa mencariku?" balas Candani.
"Apakah yang di sampingmu itu calon suamimu? Jika iya aku ingin berkenalan dengannya. Sehebat apa kekuatannya sampai bisa membuat Ratu kesayanganku bertekuk lutut kepadanya." Sindir Pangeran Kawiswara.
"Namanya Kakang Lintang Samudera. Dia tidak sehebat dirimu yang menjadi seorang pangeran dan pewaris kedudukan raja. Tapi karena dia bukan apa-apa, hal itu yang membuatku memilihnya, karena dia berharga bagiku," jawab Candani Paramita.
__ADS_1
"Hai kau Lintang Samudera, Ratu Sanura hanya pantas bersanding denganku yang seorang calon raja. Kau gunakan ilmu apa untuk membuatnya takluk kepadamu, ketampananmu, atau kau gunakan permainan licik untuk mendapatkan cintanya," ucap Pangeran Kawiswara dengan geram. "Bertahun-tahun aku mengejar Ratu Sanura dan dia tidak sedikitpun tertarik kepadaku. Dan kau hanya dengan modal wajah tampan dan rayuan, berani-beraninya mengambil milikku."
"Milikmu! Sejak kapan aku milikmu, jaga bicaramu Pangeran Kawiswara," ucap Candani dengan tajam.
"Aku tidak perlu merayu. Ratu Sanura mencintaiku, lalu apa masalahmu Pangeran Kawiswara?" Lintang Samudera maju dengan gagahnya. Urusan wanita calon istrinya tidak bisa sembarangan dihina.
"Aku menantangmu adu tanding," teriak Pangeran Kawiswara langsung dengan serangan pertamanya.
Perkelahian pun tak dapat dihindari. Candani melarang Nimas Ayu Palupi dan rombongannya untuk membantu. "Bagaimanapun ini berkaitan dengan harga diri Kakang Lintang Samudera, jangan ikut campur," cegah Candani.
Nimas Ayu langsung mundur. Candani berusaha menghargai posisi Lintang Samudera. Menjadi suami seorang ratu tidaklah mudah, bagaimanapun Candani harus memberikan harga diri untuk Lintang Samudera.
Pertarungan berlangsung dengan sengit. Ilmu kanuragan Lintang Samudera beberapa tingkat lebih tinggi daripada Pangeran Kawiswara.
Golok emas Pangeran Kawiswara berputar menyerang, golok emasnya terus mengejar dengan garang. Terjangan goloknya disertai dengan tendangan dan hantaman yang dahsyat. Lintang Samudera berusaha meladeni pertarungan lawannya yang berkelahi dengan cara kasar. Beberapa kali dirinya berhasil memberikan pukulan-pukulan telak yang mengenai bagian-bagian tubuh Pangeran Kawiswara.
Pangeran Kawiswara merasakan nyeri di beberapa bagian badannya. Suatu waktu lawannya berhasil memukul pergelangan tangannya, menimbulkan rasa nyeri hingga tangan pergelangan atas. Tangan saling beradu, saat tangan kanan Pangeran Kawiswara menyerang lengan bagian kanan lawannya, Lintang Samudera menangkis dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya bergerak menyerang bagian perut Pangeran Kawiswara. Melihat perut bagian kirinya dalam keadaan bahaya, Pangeran Kawiswara memutar dirinya lalu dia melenting dan mengarahkan golok ke tengkuk Lintang Samudera. Lintang Samudera tidak membiarkan tengkuknya menjadi korban sasaran golok emas lawannya, dia mundur dua langkah. Dengan tangan kiri dia menghalau golok, dan kaki kanannya menendang perut lawannya dengan sangat keras. Menjadikan Pangeran Kawiswara terlempar dan tersungkur jatuh. Saat Pangeran Kawiswara telah berdiri kembali hantaman kepalan tangan Lintang Samudera dengan tepat mengenai dagu Pangeran Kawiswara. Darah segar mengalir dari bibir Pangeran Kawiswara.
Pangeran Kawiswara mundur beberapa langkah, matek aji andalannya aji gada tibra. Yang menjadikan pukulan-pukulannya menjadi berkali-kali lipat kuatnya seperti pukulan gada. Lintang Samudera tidak mau menjadi bulan-bulanan aji gada tibra, dirinya langsung matek aji Prasanti Tantra yang dibuka dengan melintangkan kedua tangan di depan dada. Kedua ajian yang hebat itu saling bertemu dan menyerang. Aji Prasanti Tantra mulai memutar balik pintu ilmu yang terhubung dengan alam semesta. Pangeran Kawiswara merasa heran karena setiap gerak ajiannya langsung menyerang balik dirinya, saat serangan balik begitu besar dirinya memuntahkan cairan berwarna merah yang berasal dari dadanya. Dadanya terasa sangat nyeri seperti terhantam palu gada yang sangat berat.
Lintang Samudera langsung melangkah mundur kembali duduk di kudanya dengan nafas masih terengah-engah.
Dengan susah payah Pangeran Kawiswara bangkit kembali.
"Ratu Sanura lihat saja pembalasanku,"ancam Pangeran Kawiswara.
__ADS_1
Sanura maju ke depan, mensejajarkan kudanya dengan kuda Lintang Samudera. Saat Lintang Samudera akan mundur, Sanura menatapnya tajam. Lintang Samudera pun mendampingi kekasihnya itu.
"Pangeran Kawiswara apa yang sedang kau rencanakan? Apakah kau berencana makar, apakah Raja Segara Madya mengetahui rencana makarmu, apa yang sedang kalian rencanakan?" Perkataan tajam Ratu Sanura dengan mata tajam penuh wibawa.