
Candani Paramita dan Lintang Samudera sedang berada di telaga. Duduk di di sebuah batu besar. Dikelilingi pepohonan besar yang membuat mereka berdua tersembunyi dari pandangan.
"Candani," sapa Lintang Samudera.
Candani menatap dalam suaminya. Lintang Samudera meletakkan kepala istrinya ke bahunya. Sepasang suami istri ini menatap lepas ke kedalaman hutan. Kelinci hutan mengendap-endap, bersembunyi dari satu pohon ke pohon yang lain, menghindari lesatan anak panah yang mengincar, ataupun terjangan hewan lain yang ingin memangsanya. Ayam hutan yang kesiangan berkokok tiada henti, mungkin karena malu, atau mungkin sedang berbagi kabar kepada kawannya di hutan.
Di sudut pohon tampak ular yang sedang kawin. Saling melilit melampiaskan birahi. Sang ular jantan begitu rakus mencumbu si ular betina. Berguling-guling mengusik kawanan semut yang sedang berbaris rapi.
Semua pemandangan itu disaksikan sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta.
"Candani bolehkah aku menanyakan sesuatu hal?"
"Bertanyalah Kakang, tidak perlu sungkan," jawab Candani.
"Siapa ular raksasa itu, dan kau berbicara apa dengannya?" tanya Lintang Samudera.
Candani meletakkan kepalanya ke dada suaminya. Dada yang hangat. Tempat bersandar yang nyaman di saat masalah bertubi-tubi datang. Dilingkarkannya kedua tangannya memeluk pinggang lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
"Ular tadi bernama Ular Buraksa, dia adalah pelindung sejati bangsa ular, dia patut dikasihani. Pelindung sejati yang terpenjara dalam rasa bersalah dan penyesalan." Candani melanjutkan seluruh cerita yang diketahuinya
Lintang Samudera mendengarkan dengan seksama. "Jadi Ular Buraksa sudah ratusan tahun bertapa di hutan kuno ini?"
"Ya begitulah."
"Bagaimana caramu bisa memahami bahasa hewan?" lanjut Lintang Samudera.
"Itu bukan sesuatu yang dipelajari. Itu anugerah yang diberikan Sang Pencipta kepadaku. Saatnya tiba, Kakang pun bisa melakukan itu, bahkan banyak orang-orang tersembunyi, orang-orang agung yang mampu melakukan hal itu." Candani terdiam sejenak. "Tidak usah rendah diri Kakang. Kakak Lintang bukannya tidak mampu, hanya belum waktunya. Saatnya tiba, ilmu Kakang akan berada di atasku," lanjut Candani.
__ADS_1
"Dari mana kau mengetahui semua itu?"
Candani hanya terdiam. Dirinya memahami kegelisahan dan rasa rendah diri yang tumbuh di hati Lintang Samudera. Apalagi saat Candani melihat tatapan Apsara yang sangat bangga dengan kehebatannya sebagai ratu junjungannya.
"Kakang Lintang, Guru Jagratara pernah mengajariku satu ilmu." Candani memulai pembicaraan kembali.
"Ilmu apa itu, apakah membutuhkan pelatihan dan mesu diri yang luar biasa?" tanya Lintang Samudera tidak sabar.
Candani mengangkat kepalanya dari dada suaminya. Ditatapnya kedalaman kedua bola mata suaminya.
"Ilmu diam. Guru Jagratara mengajariku ilmu diam."
"Maksudnya?" tanya Lintang Samudera kebingungan.
"Ya ilmu diam. Diam untuk tidak menyampaikan sesuatu yang bukan bagiannya. Diam untuk bisa menahan diri dari semua sesuatu yang namanya bertanya, keinginan untuk bertanya, dan diam dari nafsu ingin menjawab karena merasa mengetahui. Diam saat menyaksikan semua hal. Diam menahan diri dari bagian tubuh yang bernama mulut dan lidah. Saat sudah memahami ilmu diam, maka siapapun yang menguasai ilmu itu dalam tindak tanduknya tidak akan menjadi seorang sombong yang serba tahu. Lidah dan mulut akan terjaga. Segala sesuatu bisa dijawab, tapi tiap manusia, tiap pemimpin memiliki tugas masing-masing. Dan manusia manapun harus mampu menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri," Candani menjelaskan secara mendalam.
Lintang Samudera terpaku. Rasa ingin tahu, rasa serba tahu, itulah yang sering menguasai dirinya, dan mungkin orang lain juga sama.
"Tidak," jawab Lintang Samudera dengan suara parau.
Lintang Samudera menggelengkan kepalanya. Tatapannya kembali lurus menembus batas pandang. Ditatapnya wajah Candani Paramita, istrinya, yang ayu rupawan. Bibir indah ini selalu menggodanya, serasa wangi saat dikecup dan dikecap. Saat embun masih turun, saat kabut mulai pudar, dua insan saling mereguk keindahan bercumbu rayu. Bibir yang saling berpadu saling mengulum berbagi cumbu, nafas berebut dicekat nafsu.
Wajah Lintang Samudera merah menahan diri, deru nafasnya memburu tajam, berlarian memohon untuk disalurkan. Hanya sebatas cium dan peluk yang bisa ia lakukan pada istri cantiknya yang sangat menggoda untuk dijamah. Lintang Samudera memejamkan mata. Nafasnya naik turun tidak menentu.
"Candani, istriku, kapan kita bisa melakukan hubungan suami istri pada umumnya?" tanya Lintang Samudera dengan suara parau tercekat. Nafasnya berhembus panas ke leher Candani Paramita. Membuat ratu muda itu merinding merasakan gejolak yang menguasai isi dadanya.
"Nanti Kakang, nanti." Candani menjadi sedikit takut melihat wajah suaminya yang memerah diiringi nafas berat tertahan.
"Nanti setelah kita melangsungkan pesta pernikahan di kerajaan laut Segaralaya. Walaupun sekarang aku sudah sah menjadi istrimu, tapi kita belum bisa melakukan hubungan suami istri sampai....."
__ADS_1
Kata-kata Candani terhenti, Lintang Samudera kembali mengulum bibir wangi Candani Paramita. Ciumannya begitu liar, tidak selembut biasanya. Hasratnya sudah menguasai seluruh tubuhnya. Jika memiliki tubuhnya istrinya secara utuh belum bisa, maka dirinya akan mencium dan memeluk istrinya dengan rasa ingin yang membara. Ciuman dan sentuhan Lintang Samudera semakin dalam, berpindah ke seluruh bagian kulit yang tampak saja. Candani Paramita ******* baju laki-laki yang sedang menciuminya dengan sangat panas. Semakin dalam dan dalam. Membuat kabut yang tinggal sedikit lagi habis tidak mau pergi, malu, menutupi penglihatan pepohonan agar tidak menyaksikan adegan kemesraan yang begitu menggebu.
"Kau hanya milikku, milikku saja, hanya aku yang bisa menyentuhmu, semua yang ada di dirimu adalah milikku," ucap Lintang Samudera dengan nafas yang masih begitu berat.
"Ya, aku hanya milikmu, aku akan menjaga diriku hanya untuk dirimu. Percayalah aku ini milikmu."
🔸🔸🔸🔸🔸
Di sisi hutan yang lain, tampak Baluh Jingga dengan berani mengelus-elus kepala Ular Buraksa.
"Aku ingin terbang, bawa aku terbang Paman Ular Buraksa!"
Ular Buraksa mengangkat kepalanya. Menatap tajam pada wanita gendut yang sedang mengelusnya. Tiba-tiba Ular Buraksa mengangguk.
Baluh Jingga melonjak girang, lupa dengan bayi di dalam perutnya. Diambilnya selendang yang melilit perutnya. Tentu hanya selendang biasa, bukan selendang sakti seperti milik Candani Paramita.
Dililitkannya selendang itu ke bagian yang menurutnya bagian leher Ular Buraksa. Dan akhirnya Baluh Jingga pun terbang menabrak angin, dia berteriak lepas kegirangan.
Apsara menatap panik dari bawah. Istrinya yang sedang hamil besar dibawa terbang meliuk-liuk di udara. Dan istrinya hanya tertawa senang.
"Aku terbang, hei aku terbang!"
Nimas Ayu Palupi belum tersadar dari kebingungannya semakin bertambah bingung. Berkelana dengan orang-orang dari negeri lautan membuatnya tampak bodoh, sangat bodoh, mulutnya yang ceriwis langsung terkunci, dan seolah-olah kuncinya hilang entah kemana. Nimas Ayu menganga, iri, ingin ikut serta terbang bersama Baluh Jingga tapi takut.
"Nimas Ayu ayo ikut terbang!" teriak Baluh membahana.
Ular Buraksa mendarat pelan. Baluh Jingga menarik tangan Nimas Ayu. Dan kini kedua gadis itu terbang tinggi sambil menjerit ketakutan tapi tidak mau turun. Ular Buraksa merasa terhibur. Baru sekarang dirinya merasa berguna, bisa membuat orang lain bahagia. Ternyata membahagiakan orang yang baginya terasa sulit, ternyata begitu mudah dan sederhana. Tidak perlu bertarung meregang nyawa, tidak perlu pamer kesaktian, cukup hanya membuat orang lain tertawa.
🔸🔸🔸🔸🔸
__ADS_1
Ucapan terima kasih kembali dari author untuk semua readers. Jangan lupa vote dan like ya, dan jadikan "Cinta Suci Ratu Samudera" menjadi bacaan favoritmu.
Semoga semuanya bahagia selalu.