
Candani Paramita tengah berendam di dalam kolam air berisikan kembang mawar putih berkelopak delapan susun. Wajahnya yang pucat pasi berangsur-angsur mulai memerah. Khasiat bunga itu perlahan-lahan membangunkan raganya yang seolah-olah mati. Napasnya berangsur-angsur kembali lancar.
Candani Paramita membuka matanya perlahan. Dilihatnya seorang wanita paruh baya sedang membersihkan tangannya.
"Nini Ayu, syukurlah, akhirnya sadar juga," ucap Nyai Danasura.
"Dimana saya Nyai?" tanyanya pelan.
"Nini Ayu ada di rumahku. Suamiku yang sudah menolong menyembuhkan Nyai. Namaku Nyai Danasura. Dan suamiku Ki Danasura."
Candani Paramita telah selesai berendam. Nyai Danasura meminjamkan baju dan kain jariknya untuk dipakai Candani. Meskipun kain bajunya sudah lusuh tapi saat yang memakai orang cantik tetap indah dipakai.
"Ayu sekali Nini. Rambutnya indah sekali," puji Nyai Danasura.
Candani Paramita hanya tersenyum mendengar pujian yang ada.
"Nini ada yang mau menemuimu. Dia penolongmu. Maukah kau menemuinya?"
Candani pun hanya mengangguk tanda setuju.
"Tunggu di sini, sebentar aku panggilkan," ucap Nyai Danasura.
Seorang pemuda yang gagah masuk ke dalam ruangan. Pandangan mereka saling beradu menggambarkan hasrat kerinduan yang terpendam.
"Kakang kemana saja dirimu. Sudah setahun aku mencarimu?" tanya Candani tanpa basa-basi..
__ADS_1
"Sanura," panggil Lintang Samudera.
"Panggil namaku Candani Paramita. Sekarang aku sedang menggunakan nama itu."
"Baiklah Candani. Selama dua tahun aku tinggal di hutan. Tapa Brata menjaga tongkat ayahku. Karenanya kita hanya bisa berjumpa di alam yang lain bukan di alam nyata," jelas Lintang Samudera masih dengan tatapan terpukau.
Lintang Samudera terkesima dengan kesempurnaan lahiriah wanita yang ada di hadapannya. Sebuah lambang keindahan yang hakiki. Wajah, bibir, kulit yang halus kuning langsat, pipi yang ranum, rambut yang tergerai indah, dada yang berisi. Keindahan yang jarang adanya. Sebuah lukisan alam yang tiada duanya.
Merasa diperhatikan Candani pun tersipu malu.
Lintang Samudera tersadar dari rasa terpukaunya. Senyum malu-malu Candani semakin menambah degup jantungnya. "Kekasih hatiku indah sekali dan sangat pemberani," ucap Lintang Samudera di dalam hati.
"Nama Kakang sebenarnya siapa? Kakang tidak pernah memberitahuku, membuatku kebingungan karena tidak tahu nama Kakang."
"Kakang, adakah sesuatu yang salah?" tanya Candani penasaran.
"Ah tidak. Maaf. Namaku Lintang Samudera."
"Lintang Samudera," ucap Candani pelan, disimpannya nama itu di hatinya.
Candani terdiam sejenak. Merasa ada sesuatu yang terlewatkan. Sesuatu yang sangat penting. Ada sesuatu yang hilang. "Bayi, dimana bayinya Kakang? Bayi yang aku ikat dengan selendang."
"Bayi itu ada di rumah tetangga Ki Danasura. Kebetulan istri tetangga Ki Danasura itu memiliki seorang bayi juga, jadi untuk sementara pengasuhan bayi yang kamu bawa diserahkan kepadanya."
Lintang Samudera ingin bertanya tapi ragu.
__ADS_1
"Ada apa Kakang?"
"Itu bayi siapa?" tanya Lintang Samudera penasaran.
"Itu bayiku," jawab Candani sambil tersenyum bercanda.
Lintang Samudera kaget sekaligus panik. Bayi. Siapa ayah bayi itu. Berani-beraninya mengambil kekasih hatinya. Lintang Samudera terdiam geram.
"Itu bukan bayiku Kakang. Itu bayi orang lain. Aku hanya menyelamatkannya."
"Ahhhh, maafkan aku sudah salah sangka Candani." Lintang Samudera merasa lega.
"Kakang tidak menjawab pertanyaanku, kenapa selama ini tidak mau memperkenalkan namamu."
"Candani dirimu seorang Ratu Samudera yang disuyudi di Kerajaan Segaralaya. Pun aku menginginkanmu tidak mungkin aku melakukannya dengan terus terang. Kamu seorang ratu dan aku orang biasa. Kamu laksana bulan di langit dan aku hanya orang biasa dari negeri daratan. Dalam posisimu sebagai seorang ratu banyak tipu muslihat dan permainan di dalamnya. Kau akan memanfaatkan siapapun demi negerimu. Dan kau selalu mempelajari setiap orang yang ada di sisimu, siapapun dia." Lintang Samudera diam sejenak, menunggu Candani bicara.
"Lanjutkan penjelasanmu Kakang!"
"Jika kau sebagai seorang ratu dan khususnya sebagai seorang wanita menginginkanku, biarlah dirimu sendiri yang menentukan pilihan. Maafkan aku karena tidak berusaha mengejarmu. Semata-mata aku tidak ingin memaksamu untuk memilihku dengan kedudukanmu sebagai seorang wanita. Aku lebih bahagia jika kau memilihku dengan kedudukanmu sebagai seorang ratu dan sebagai seorang wanita secara bersamaan. Sehingga akan lahir kepercayaan dan kesetiaan untuk tetap memimpin sekaligus mengabdi."
Candani Paramita terdiam, meresapi kata demi kata yang diucapkan Lintang Samudera. Merenung sejenak.
"Aku mencintaimu dan menginginkanmu baik dengan kedudukan diriku sebagai seorang ratu terlebih lagi sebagai seorang wanita. Aku yakin akan itu. Buat apa aku bersusah payah mencarimu jika tidak ada keyakinan di dalamnya."
Lintang Samudera tersipu malu mendengar pengakuan cinta dari Candani Paramita. Mungkin dikarenakan posisinya sebagai seorang ratu membuat Candani tidak bertele-tele termasuk dalam urusan cinta. Tidak seperti kebanyakan wanita yang malu untuk mengakui isi hatinya secara terang-terangan.
__ADS_1