CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
MATA-MATA


__ADS_3

Dalam pengintaiannya Lintang Samudera dan Apsara menemukan keberadaan jejak makhluk aneh itu. Ditemukan banyak bekas cakaran di pepohonan dan tanah. Dan ada sisa air liur berwarna biru kemerahan. Air liur itu lengket dan sangat menjijikkan, bahkan baunya sangat menyengat. Mereka berdua terus berkeliling menyusuri lembah. Banyak keanehan, sangat banyak. Pengintai itu matanya menatap tajam tapi tidak diketemukan keberadaannya.


"Kakang Lintang Samudera dimana makhluk pengintai itu?"


"Kata istriku karena siang makhluk-makhluk mengerikan itu tidak tampak. Tunggu malam hari mereka akan menunjukkan diri mereka," jawab Lintang Samudera.


Tiba-tiba kaki Lintang Samudera disepak oleh Apsara. Hatinya dongkol sekali mendengar Lintang Samudera terus-terusan memanggil ratu junjungannya dengan sebutan istriku.


"Hei kenapa kau Apsara?" tanya Lintang terkejut mendapat sepakan keras dari Apsara.


"Kakang Lintang Samudera masih untung aku hanya menyepak kakimu. Rasanya aku ingin memukul kepalamu dan menyumpal mulutmu yang lancang itu. Berhenti memanggil Ratu Segaralaya dengan sebutan istriku." Apsara sudah tidak sanggup lagi menahan dongkol kepada laki-laki di hadapannya ini.


"Sini duduklah," pinta Lintang tenang.


"Aku tahu bahwa untuk menjadi suami ratumu tidak mudah. Salah satunya aku harus mendapat pengakuan dari semua bala tentara Segaralaya, termasuk dirimu di dalamnya. Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku layak untuk menjadi pendamping ratumu." Lintang Samudera berusaha menjelaskan kepada Apsara.


"Tapi jangan panggil Ratu Sanura dengan sebutan istriku." Jawab Apsara dengan suara tinggi.


"Lalu aku harus memanggilnya dengan sebutan apa, dia istriku. Aku tahu kau sangat menghormati dan sangat mempercayai Candani Paramita atau Ratu Sanura. Kau pasti yakin bahwa ratumu memilihku bukan karena cinta semata, pasti banyak hal lain yang menjadi penyebabnya. Dan hal lain itu aku juga tidak mengetahuinya. Istriku itu ....."


Apsara menatap tajam. "Sudahlah, lanjutkan!" pintanya mencoba menerima dengan keberadaan suami dari ratunya ini.


"Istriku itu tidak pernah membahas sesuatu hal dengan mendalam. Segala sesuatu selalu dipertimbangkan dengan sangat matang. Tapi kalau sudah tepat waktunya untuk membuka suatu hal, tanpa sungkan langsung diberitahukannya suatu hal tersebut. Jadi sekali lagi aku mohon beri aku kesempatan untuk menjadikan diriku layak untuk menjadi pendamping ratumu."


Apsara mendapatkan keseriusan dalam kata demi kata yang disampaikan oleh Lintang Samudera. Dirinya mencoba berdamai dengan diri sendiri, mencoba menerima keadaan bahwa ratunya tidak mungkin salah dalam menjatuhkan pilihan. Begitu banyak pertimbangan dan rahasia yang dimiliki oleh ratu junjungannya itu. Begitu banyak laki-laki yang mengharapkan untuk bisa menjadi pendamping ratunya, tapi pilihan jatuh pada laki-laki yang seolah-olah bukan siapa-siapa ini. Dijambaknya rambutnya.


"Baiklah, karena Ratu Sanura mempercayai dan menjatuhkan pilihan kepada Kakang Lintang Samudera untuk menjadi pendamping hidupnya, aku akan ikut percaya. Buktikan kepadaku bahwa kau layak menjadi pendamping ratu kami." Apsara mengelus dadanya pelan.


"Nah begitu kawan. Ayo kita lanjutkan mengelilingi lembah ini," ajak Lintang Samudera.


Kedua orang itu pun kembali melanjutkan penyelidikannya. Beberapa semak belukar telah tercabut paksa dari tempatnya tumbuh. Sisa-sisa tulang belulang hewan berserakan di beberapa tempat. Hewan-hewan itu dimakan dalam keadaan masih hidup, hal itu dibuktikan dengan adanya jejak darah yang mengering.


Lintang Samudera dan Apsara kembali ketika hari menuju senja. Ranting-ranting kering dalam jumlah banyak telah terkumpul, bahkan kayu-kayu kering juga banyak didapatkan. Kayu dan ranting-ranting itu disimpan di samping rumah yang sepertinya memang digunakan untuk itu.


Candani Paramita langsung menemui suaminya dan Apsara. Segenap hasil penyelidikan telah diterimanya. Para makhluk pengintai itu tidak akan bisa menembus perisai pancaka palastri yang sudah dipasang sejak mereka sampai di tempat itu.

__ADS_1


"Kakang Lintang, aku minta ijinmu untuk berbicara berdua dengan Senopati Apsara."


"Baiklah istriku. Aku akan bergabung dengan pasukan pengiring Nimas Ayu."


Setelah kepergian Lintang Samudera terciptalah keheningan sesaat. "Senopati Apsara, apa kau mengetahui maksudku kenapa memanggilmu seperti itu?"


"Apakah Kanjeng Ratu mau membahas mengenai Kakang Lintang Samudera?" jawab Apsara menerka.


"Benar. Dia yang aku pilih menjadi suamiku. Beri kesempatan baginya untuk menunjukkan adanya. Jika kau percaya padaku maka percayalah kepada suamiku. Bagaimana Senopati Apsara?" tanya Candani Paramita atau Ratu Sanura.


"Baik Ratu, hamba mengerti dan patuh." Jawab Apsara.


"Aku tahu kau mengetahui bahwa banyak pasukan telik sandi yang menyebar di wilayah daratan ini. Beritahu setiap kau bertemu dengan mereka mengenai hal ini. Sampaikan bahwa ini perintahku. Dan aku yakin Kakang Lintang Samudera pasti mampu menunjukkan kelayakannya untuk menjadi pendampingku."


Apsara terdiam tanda mengerti, dan berusaha menerima permintaan ratunya, meskipun di hatinya belum menerima, tapi akan diperhatikannya sepak terjang suami ratunya itu


🔸🔸🔸🔸🔸


Malam mulai turun. Bintang di langit muncul satu persatu. Binatang penguasa malam mulai menunjukkan wilayah kekuasaannya. Seperti yang diperkirakan oleh Candani Paramita, makhluk-makhluk pengintai itu mulai menunjukkan dirinya.


"Candani apa yang harus kita lakukan dengan makhluk-makhluk itu?" tanya Lintang Samudera.


"Mereka harus dikembalikan ke alamnya agar tidak melapor kepada tuannya. Jika mereka melapor bisa mempersulit keadaan. Tunggu aku di sini," pinta Candani Paramita.


Lintang Samudera menarik tangan istrinya. "Aku ikut."


"Ah ya baiklah. Maaf aku belum terbiasa."


"Biasakan mulai sekarang ya!" Rajuk Lintang Samudera.


"Baiklah suamiku." Diciumnya pipi suaminya dengan hangat.


Mereka berdua berjalan keluar lembah Chedana menuju tempat yang sudah Lintang Samudera dan Apsara singgahi tadi siang.


"Dengan apa aku bisa memusnahkan makhluk aneh itu?" tanya Lintang Samudera kebingungan.

__ADS_1


"Tongkat, pakai tongkatmu. Mereka akan hancur seketika saat terkena tongkatmu, tapi usahakan jangan membunuh mereka kecuali mereka menantang dan melawan," jelas Candani Paramita.


Candani Paramita memusatkan pandangannya. Matanya terpejam, setelah itu dihentakannya kakinya sebanyak tiga kali ke bumi. Dan terbukalah tirai ghaib yang menghalangi pandangan mata kasar. Sosok-sosok mengerikan itu menunjukkan diri satu persatu. Pandangan mata mereka nyalang meminta mangsa. Air liur biru kemerahan mengalir dari mulut mereka dengan tiada henti.


Pemimpin pasukan aneh itu mendekati Candani dan Lintang Samudera. Melihat tongkat di tangan Lintang Samudera dia pun mundur ketakutan.


"Kakang silahkan berbicara dengan mereka."


Lintang Samudera maju ke depan istrinya. Dia berdiri sambil bersedekap tangan di depan dada, dengan tongkat yang terus dipegangnya erat.


"Siapa kalian dan apa tujuanmu mengintai tempat ini?" tanya Lintang Samudera tegas.


Makhluk itu bersuara menggeram pelan. "Kami diperintah oleh majikan kami untuk mengawasi tempat ini dan menemukan barang-barang berharga di sini. Serta mengusir siapapun yang masuk ke lembah ini." Jawab pemimpin makhluk aneh itu.


"Siapa majikanmu dan apa barang yang kau cari?"


Makhluk mengerikan itu terdiam dengan tatapan merah menyala. Gigi-giginya berwarna merah darah, liur tidak berhenti menetes dari mulutnya mengeluarkan bau anyir yang sangat menjijikkan. "Jika kami memberitahukan siapa majikan kami dan tujuan kami maka kami akan dibunuh dengan cara yang sadis. Kami sudah terikat dengan perjanjian. Dimusnahkan dengan tongkatmu lebih baik bagi kami, kami bisa mati tanpa penyiksaan dan tidak ada rasa sakit, tapi jika yang memusnahkan kami majikan kami, maka kami akan disiksa terlebih dahulu, dan dimusnahkan dengan cara yang sangat menyakitkan."


"Baiklah jika itu permintaan kalian. Asal kalian dari api, akan aku kembalikan kalian menjadi api." Tantang Lintang Samudera.


Kelompok makhluk mengerikan itu langsung menerjang Lintang Samudera dengan kuku-kukunya yang panjang dan tajam. Tongkat Lintang Samudera menghentak dan memukul ke berbagai sisi. Makhluk mengerikan yang terkena sapuan tongkatnya langsung berubah menjadi api dan musnah seketika.


"Kakang hati-hati jangan terkena kuku-kuku mereka. Kukunya beracun. Hati-hati juga dengan air liur mereka, air liurnya panas dan bau anyirnya susah dihilangkan." Candani berteriak memberitahu Lintang Samudera.


Malam kian larut, peluh sudah membasahi seluruh pakaian yang dikenakan Lintang Samudera. Tapi sepertinya makhluk mengerikan ini tidak ada habisnya. Tongkat dikibaskan ke segala arah, kuku-kuku beracun itu mengancamnya dari semua sisi, dan seringai makhluk mengerikan itu sungguh mengganggu pemandangan, ditambah tetesan liur yang menjijikkan. Api berkobar dimana-mana, menandakan musnahnya makhluk itu satu persatu. Tapi setiap musnah satu maka seolah-olah bertambah sepuluh. "Apa artinya ini, sungguh memusingkan kepala," ucap Lintang Samudera dalam hati.


Lintang Samudera melompat keluar dari arena perkelahian. Ditatapnya lawannya yang sepertinya bertambah banyak. "Sungguh tidak masuk akal," ucapnya dalam hati. Diterapkannya perisai mandira, saat perisai mandira belum sempurna terbentuk sekelebat bayangan lari meninggalkan kumpulan makhluk mengerikan itu. Dan terjadilah kegaduhan besar, makhluk-makhluk aneh itu lari lintang pukang kesana kemari. Sosok yang menjadi pengendali mereka telah pergi dan tinggallah mereka kebingungan.


Dalam keadaan kacau balau, Lintang Samudera menghempaskan tongkatnya ke arah bumi dengan sekuat tenaga. Dan makhluk-makhluk itu langsung terlempar menabrak perisai mandira. Mereka terjatuh ke tanah dan langsung berubah menjadi api. Sehingga seolah-olah terjadi kebakaran besar di tempat itu.


Lintang Samudera berdiri dengan nafas memburu. Candani Paramita langsung mendekati suaminya. Diusapnya peluh di seluruh wajah suaminya itu dengan selendangnya. Suaminya terdiam. "Kenapa diam, marah?"


"Kenapa tidak kau katakan langsung cara untuk memusnahkan makhluk-makhluk itu, kenapa harus membuatku bertarung kelelahan terlebih dahulu?" Lintang Samudera meluapkan rasa lelah dan marah di dirinya.


"Kalau aku menjelaskan segala sesuatunya, bukankah Kakang tidak akan berusaha mempelajari kemampuan tersembunyi di diri Kakang. Sudah jangan merajuk, ayo kita ke puncak lereng itu." Candani Paramita menggamit tangan suaminya yang sedang merajuk, mengajaknya berjalan menuju salah satu puncak lereng yang mengitari lembah itu.

__ADS_1


Malam semakin larut. Mengajak insan yang ingin mengetahui rahasia alam semesta untuk tetap terjaga.


__ADS_2