
Kehidupan pedukuhan itu mulai berangsur-angsur pulih. Para penduduk mulai berani keluar rumah untuk mencari nafkah. Atas permintaan seluruh penduduk, Lintang Samudera dan Candani Paramita bersedia untuk tinggal sementara waktu di pedukuhan untuk melindungi pedukuhan. Candani dan Lintang Samudera tinggal di rumah wanita yang mereka tolong, karena wanita itu memohon-mohon sambil menangis agar Lintang dan Candani bersedia tinggal di rumahnya sebagai bentuk balas budi. Akhirnya mereka berdua pun menerima permintaan wanita itu untuk menghargai keinginan yang tulus dari wanita itu dan suaminya, meskipun sebenarnya Lintang dan Candani tidak mengharapkan balas budi ini. Setelah pasangan suami istri itu tahu bahwa Lintang Samudera dan Candani Paramita bukanlah suami istri, mereka pun memisahkan tempat istirahat mereka. Candani tidur bersama istri pemilik rumah, dan Lintang tidur bersama dengan suami dan kedua anak laki-laki dari wanita itu.
"Candani kenapa saat perkelahian terjadi kau tidak membantuku," tanya Lintang Samudera.
Candani pun tersenyum. "Tidak ada apa-apa Kakang," jawabnya singkat masih dengan tersenyum. Senyuman yang membuat Lintang Samudera dimabuk kepayang, senyum yang memancing hatinya untuk berdegup kencang. " Pertama-tama aku menghormati perkelahian Kakang, yang kedua wilayah daratan bukanlah wilayahku. Wilayahku di lautan, kecuali seseorang dari daratan memintaku untuk menolong baru aku bersedia turun tangan atau aku berada dalam bahaya tentu saja aku harus menyelamatkan diri. Baik wilayah daratan maupun wilayah lautan, bahkan alam lelembut, masing-masing mempunyai aturan sendiri, jadi aku harus menghormatinya. Apalagi diriku sebagai seorang ratu tidak bisa sembarangan mengambil tindakan di negeri orang, karena aku juga mengharapkan setiap yang datang ke wilayah kerajaanku untuk menghormati peraturan dan apapun itu yang sudah menjadi aturan dan ketentuan di wilayah kerajaanku." Candani berusaha menjelaskan agar tidak terjadi salah paham.
Lintang Samudera mencoba mencerna penjelasan kekasih hatinya itu. Ditatapnya wanita yang ada di hadapannya ini. Ditatapnya dengan pandangan dalam. Kecantikannya tidak pudar meskipun sudah berbulan-bulan melakukan perjalanan yang sangat berat. Ditambah lagi mereka melakukan perjalanan dengan berjalan kaki semakin menambah penderitaan yang ada.
Hari menjelang malam. Malam ini bulan purnama penuh. Para penduduk sudah masuk ke dalam rumah. Hanya beberapa penduduk yang mendapat tugas ronda yang masih terjaga. Lintang Samudera dan kepala pedukuhan juga ikut berjaga di malam ini. Seperti yang diberitahukan oleh penduduk bahwa penculikan terjadi di saat menjelang bulan sabit dan bulan purnama.
Malam semakin larut. Tiba-tiba alam menjadi ribut. Burung-burung yang sudah tertidur dengan tergesa-gesa langsung terbang tinggi di angkasa. Ternak-ternak yang dimiliki penduduk sudah mulai gelisah. Alam sudah memperingatkan sedang ada bahaya besar yang mengintai.
Dari angkasa tiba-tiba muncul bola-bola api dalam jumlah banyak disertai dengan paku-paku panas dalam jumlah yang tidak terhitung banyaknya. Bola-bola api dan paku-paku panas itu menuju pedukuhan tempat Lintang Samudera dan Candani Paramita tinggal. Suaranya bergemuruh keras disertai kilatan petir yang menyambar-nyambar, sedangkan malam ini langit dalam keadaan terang bersih disertai sinar bintang di mana-mana menandakan malam merupakan malam yang cerah. Sepertinya malam ini malam pembalasan dendam rombongan para penculik yang memiliki ilmu aneh yang sangat menakutkan bagi kebanyakan orang.
Lintang Samudera langsung berlari beberapa langkah. Ditancapkannya tongkat miliknya ke dalam tanah. Dia duduk bersila sebentar memasang perisai Mandira untuk melindungi seluruh wilayah pedukuhan kecil itu.
__ADS_1
Anak-anak kecil dicekam rasa ketakutan sambil memegang erat kain ibunya. Para laki-laki langsung keluar berbagai senjata yang ada dibawa serta. Ada yang membawa pacul, sabit, bahkan ada yang membawa alu yang digunakan untuk menumbuk padi.
Bola-bola api itu turun menyerang pedukuhan, bahkan kilatan petir juga ikut menyerang. Saat bola-bola api dan kilatan petir itu bertabrakan dengan perisa ghaib yang dibuat oleh Lintang Samudera terdengar dentuman keras yang memekakkan telinga disertai pijaran api yang besar di angkasa.
Debuuummm.....
Debuuuummmm....
Debuuummm....
Pijaran api di angkasa semakin besar. Bola-bola api yang menabrak perisai Mandira langsung hancur berpijar menjadi pijaran-pijaran api yang akhirnya menghilang. Paku-paku panas yang tak terhitung jumlahnya dikirimkan kembali ke tuannya oleh Lintang Samudera. Kilatan-kilatan petir dari angkasa belum berakhir terus menghantam Perisai Mandira, mencari celah untuk bisa menghancurkan perisai itu. Saat kekuatan musuh begitu kuat, Perisai Mandira pun bergolak menimbulkan rasa sakit di bagian dada Lintang Samudera.
Setelah Perisai Pancaka Palastri sudah terbentuk secara utuh, kilatan-kilatan petir yang mengenai perisai ganda yang melindungi pedukuhan itu langsung hancur ketika kekuatannya bertabrakan dengan perisai ganda yang ada.
Setelah perisai yang Candani bentuk menjadi sempurna, Lintang Samudera pun berusaha mengembalikan kekuatan batinnya yang ikut bergolak karena serangan yang dahsyat tadi. Setelah kekuatannya pulih, diperkuatnya kembali Perisai Mandira yang sempat melemah.
__ADS_1
Penduduk pedukuhan merasa takjub dengan perkelahian yang ada. Perkelahian dengan kekuatan batin yang begitu dahsyat. Perkelahian kasat mata. Yang tampak hanyalah bola-bola api yang berubah menjadi pijaran-pijaran api disertai kilatan petir yang membahana. Tidak ada saling menendang ataupun baku hantam, pertarungan yang kasat mata ini terlihat sangat mengerikan. Anak-anak kecil menangis ketakutan. Bayi-bayi menjerit merasakan ketegangan yang ada. Para penduduk terpaku terpana sambil menatap takjub ke angkasa.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️🔲▪️
Sementara itu di sebuah pegunungan tidak jauh dari pedukuhan itu, lima orang sedang duduk bersila menyatukan kekuatan mereka. Menggabungkan kekuatan bawah sadar untuk menghadirkan bola-bola api, paku-paku panas, dan kilatan petir. Penggabungan kekuatan ini begitu dahsyat.
Mereka sedang melakukan aksi pembalasan dendam atas kematian salah seorang dari anggota mereka yang mati karena serangannya berbalik menghantam dirinya. Dia mati seketika. Dengan mata terbuka menatap nanar tak percaya. Selama ini tidak ada yang berani melawannya, tapi sekali ada yang melawannya nyawanya langsung tercabut.
Di sekeliling lima orang yang sedang melakukan aksi balas dendam itu, tampak sekumpulan orang membentuk lingkaran melakukan tarian-tarian sambil berteriak-teriak. Kehilangan kesadaran sambil terus berputar dengan mata yang terpejam dan tangan berputar-putar. Memanggil para iblis untuk membantu pembalasan dendam ini.
Saat penyatuan kekuatan mereka sudah sempurna dan hampir memecah perisai yang ada, tiba-tiba ada perisai dari kekuatan lain yang melindungi. Gabungan kekuatan dari dua perisai itu sangat kuat, memukul balik kekuatan mereka.
"Kakang semuanya redam kekuatan kembalikan kekuatan yang ada. Dan lepaskan, atau kita berlima akan mati karena gabungan kekuatan kita menyerang balik kita semua," perintah salah seorang yang sudah kembali kesadarannya.
Keempat lainnya saling bertatapan tanda setuju. Mereka pun masih ingin hidup. Sebelum ilmu dan kekuatan mereka kembali ke asal dengan sempurna, sebuah hantaman keras menerjang mereka, memberikan rasa nyeri yang tak terkira di dalam dada.
__ADS_1
Beruntung bagi yang sadar terlebih dahulu. Dia lebih dahulu membebaskan diri dari gabungan kekuatan. Sehingga tidak mengalami luka sama sekali.
Malang bagi keempat lainnya, yang langsung memuntahkan darah tapi nyawa masih selamat. Guru besar mereka akan menyembuhkan luka-luka yang ada.