CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
PERANG KEDUA


__ADS_3

Para pengurus kuda, dan dayang-dayang yang bertugas menyediakan kebutuhan makanan untuk prajurit, semuanya menjalankan tugasnya dengan kesiagaan. Di balik semua keramaian persiapan peperangan, tiap pandang mata dari mata-mata Segaralaya tidak pernah terlepas dari keramaian yang terjadi. Bisa saja penyusup Segara Pitu berasal dari para pengurus kuda dan dayang.


Meskipun perang, istana Segaralaya pun tidak dibiarkan kosong. Beberapa Panglima Senopati pilihan dan pasukan dalam jumlah yang tidak kalah banyak ditugaskan untuk menjaga istana. Jangan sampai menang di peperangan tapi istana Segaralaya disikut diambil alih oleh musuh. Saat perang segala sesuatu bisa saja terjadi.


🔸🔸🔸🔸🔸


Suara bende samudera milik Segaralaya terus-menerus ditabuh membakar semangat juang segenap prajurit Segaralaya. Prajurit yang bertugas sebagai pemegang umbul-umbul (bendera ) kerajaan Segaralaya dengan gagah berani mengangkat dan mempertahankan umbul-umbul yang menjadi lambang Segaralaya. Saat mata prajurit Segaralaya memandang umbul-umbul itu yang hadir di hati mereka adalah rakyat Segaralaya, dengan memandang umbul-umbul Segaralaya semangat mereka pun berkobar-kobar apalagi ditambah dengan suara bende Samudera yang tidak henti-hentinya ditabuh.


Prajurit Segara Pitu yang dikerahkan berjumlah dua kali lipat dari prajurit Segaralaya. Satu prajurit Segaralaya harus bertarung menghadapi lima sampai sepuluh orang prajurit lawan, mereka berasa antara hidup dan mati melawan musuh.


Senjata beradu senjata. Prajurit Segaralaya pantang mundur meskipun dikeroyok beramai-ramai oleh pasukan Segara Pitu. Seorang prajurit Segaralaya dengan tombak di tangan menari-nari indah menghadapi lima orang lawannya. Dirinya menghindar dan dilanjutkan dengan menyerang lawan-lawannya dengan tanpa ampun. Kelima lawannya menegang. Meskipun sudah dikeroyok tapi prajurit Segaralaya ini tetap bisa membebaskan diri, bahkan menumbangkan lawan-lawannya meskipun pelan tapi pasti. Prajurit itu meloncat ke atas dengan tombak yang terhunus membidik tubuh lawan, serangan kelima lawannya ditangkisnya, tendangan kakinya berhasil mengenai dada salah satu lawannya yang lengah. Prajurit yang mendapat tendangan keras di dada merasakan sakit, mungkin bukan rasa sakit yang menguasainya tapi lebih kepada pernapasannya yang menjadi terganggu, napasnya menjadi berat dan menjadikan gerak laju serangannya lambat dan tidak terarah, dan diapun mulai tersengal-sengal. Prajurit Segaralaya yang sedang dikeroyok itu mengetahui salah satu kelemahan yang menimpa lawannya, serangannya dipusatkan pada lawan yang masih bertahan dengan gagah, dan saat semuanya lengah, tombaknya menancap di perut prajurit yang sudah menerima tendangan ganasnya. Darah mengucur dari prajurit itu, dan seketika mati. Keempat lawannya semakin menggila melibas dan menerjang, tapi prajurit Segaralaya yang dikeroyok itu tetap tenang menghadapi murka lawan-lawannya. Segenap prajurit Segaralaya dididik untuk tetap tenang saat menghadapi keadaan apapun. Senjatanya tetap menari-nari berubah menjadi perwujudan dewa pencabut nyawa.

__ADS_1


Di sisi lain tampak Ki Yasa Rasendriya bertarung menghadapi iblis Pratangga. Tidak ada yang berani mendekati pertempuran mereka berdua. Semua menjauh. Menghindari libasan hawa panas dan pusaran air yang tercipta dari pertarungan dua orang sakti yang sedang beradu hidup dan mati.


Bahkan Nyai Niti Padmarini pemilik taman bunga mawar berkelopak delapan ikut serta hadir membantu Ratu Samudera yang merupakan anak sahabatnya itu. Nyai Niti Padmarini tidak pilih-pilih dalam menghadapi lawan, saat beberapa prajurit Segara Pitu mengeroyoknya, Nyai Niti Padmarini dengan sekali pukulan menumbangkan prajurit yang mengeroyoknya itu. Menyadari salah memilih lawan, prajurit yang mengeroyok Nyai Niti Padmarini pun segera berlalu mencari lawan yang lain, yang bisa diajak berduel beberapa jurus.


"Nyai Niti Padmarini." Sebuah suara menyapanya.


"Oh kamu. Nyai Gendheng Daminah. Ternyata kau ikut serta bermain-main dengan kekisruhan ini," balas Nyai Niti Padmarini.


"Tentu saja. Harga yang ditawarkan Suteja Thani lumayan tinggi. Tentu saja aku terima."


"Nyawa banyak orang tidak berhubungan dengan nyawaku. Selagi nyawaku masih bersarang di badanku, nyawa orang lain tidak aku pedulikan. Nyawa orang-orang Segaralaya bagiku semurah nyawa semut yang begitu mudah dibunuh dan diinjak-injak."

__ADS_1


"Mulutmu besar sekali Nyai Gendheng Daminah. Bagaimana kalau nyawamu saja yang dijual murah? Aku bersedia membelinya," tantang Nyai Niti Padmarini.


"Kau, jaga mulut kurang ajar mu itu!" Nyai Niti Daminah pun mulai melancarkan serangan-serangannya. Dua orang yang seumuran itu dan sama-sama menjelang usia senja saling baku hantam. Sebenarnya dulunya kedua orang itu bersahabat, tapi karena laki-laki yang sama-sama mereka cintai lebih memilih Nyai Niti Padmarini, hal itu membuat Nyai Daminah murka dan beralih menjadi musuh bebuyutan Nyai Niti Padmarini.


Pertarungan dahsyat yang melibatkan bekas sahabat itu menjadi pusat perhatian para prajurit. Para prajurit baik dari Segaralaya maupun dari Segara Pitu menyingkir dengan teratur menghindari amukan angin yang melibas peperangan dua orang wanita tua itu.


Lawan Ki Yasa Rasendriya bertambah. Beberapa iblis sakti ikut terjun melawannya. Dengan curang iblis Pratangga memanggil bala bantuan dari iblis-iblis sakti lainnya. Dirinya pun tidak mau mati dalam peperangan ini. Dirinya bersedia ikut serta mengikuti peperangan semata-mata karena harga mahal yang ditawarkan oleh Suteja Thani. Harga yang sangat menggiurkan yang membuat air liurnya menetes.


Ki Yasa Rasendriya tidak patah arang. Usianya yang sudah senja tidak menjadikan dirinya menjadi lelaki tua manja yang hanya menunggu diurus oleh anak dan cucunya. Tenaganya masih penuh, masih bisa dibawa bertarung selama berhari-hari lamanya. Hawa panas yang keluar dari tubuh iblis Pratangga dan iblis lainnya dilawannya dengan ilmunya yang menjadikan hawa panas itu hanya berada di dalam tubuh iblis-iblis itu dan tidak menyebar kemana-mana, tidak menjadikan air laut menjadi mendidih. Sedangkan iblis Pratangga sendiri tidak berani mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya karena hal itu juga membahayakan keselamatan prajurit Segara Pitu dan semua pasukan sekutu yang ada di kubu Segara Pitu. Hal itu membuat dirinya murka karena membuatnya tidak bisa mengerahkan seluruh kemampuannya. Tempat pertarungan mereka begitu lapang, memberi kesempatan mereka untuk saling beradu mengerahkan kesaktian.


Para siluman baku hantam dengan sesama siluman. Jumlahnya yang ribuan memenuhi tanah lapang tempat pertempuran terjadi. Siluman dari gunung Pandan Wangi berhutang budi dengan Guru Jagratara dan Ratu Samudera di masa lalu, di saat Ratu Samudera masih seorang gadis kecil berumur sepuluh tahun. Meskipun seorang gadis kecil tapi sudah memiliki kemampuan bela diri yang handal.

__ADS_1


Seluruh wilayah laut di perbatasan Segaralaya dan Segara Pitu bergemuruh dengan keras. Arus laut yang kuat tercipta tiba-tiba. Tanpa dikomando terjadi pusaran-pusaran air yang kuat yang menggelegak hingga permukaan. Di dalam lautan dan di permukaan lautan terjadi pertempuran yang sama-sama dahsyatnya. Manusia dari wilayah daratan menghentikan semua pekerjaannya di lautan. Para nelayan menyembunyikan perahunya ke tempat yang cukup jauh. Menyelamatkan perahunya dari hempasan ombak yang bergulung tinggi. Penduduk wilayah pesisir dengan gerak cepat mengungsi ke wilayah yang jauh dari pantai. Tidak disangsikan lagi saat mereka kembali rumah dan ladang mereka pasti sudah hancur ***** diterjang ombak yang menggila.


Prajurit Kerajaan Abyudaya memilih peperangan di permukaan air. Pertempuran di dalam lautan bukanlah keahlian mereka. Dengan sangar mereka menggempur tentara laut Segaralaya. Dikiranya bala tentara laut Segaralaya lembek seperti lumrahnya seorang wanita. Permaisuri Abyudaya Gasita Anjali selalu berkoar-koar mengatakan bahwa bala tentara Segaralaya lembek-lembek seperti seorang wanita yang bisanya hanya merengek dan menangis, sebuah kerajaan yang dipimpin penguasa wanita tentu lembek sama seperti penguasanya. Mereka menelan perkataan Gasita Anjali apa adanya, tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu. Alhasil saat berhadapan langsung dengan prajurit Segaralaya mereka pun harus merasakan kepahitan. Gempuran-gempuran prajurit Segaralaya sangat ganas. Mereka bertarung bukan hanya dengan tenaganya tapi juga dengan otaknya. Prajurit Abyudaya dibuat kalang kabut. Mau mundur sudah tidak mungkin, prajurit Segaralaya mengunci keberadaan mereka dari tiap sisi. Sengitnya perlawanan prajurit Segaralaya menjadikan para prajurit Abyudaya berada dalam hidup dan mati. Mereka tidak menyangka permaisuri Gasita Anjali rela mengorbankan beribu-ribu nyawa prajurit Abyudaya demi membela Segara Pitu. Satu-persatu nyawa prajurit Abyudaya tumbang mati, yang terluka parah harus merayap-rayap kesusahan menuju pantai terdekat dan saat pantai sudah di depan mata, nafasnya pun terhenti seketika, mati. Beberapa prajurit Segaralaya yang mengunci keberadaan prajurit Abyudaya dengan senang hati menolong prajurit Abyudaya yang terluka yang berteriak minta tolong untuk dibawa ke pantai. Prajurit Abyudaya merasakan kebesaran hati lawannya, membuat hati mereka luruh dan menghormati sikap ksatria dari lawannya


__ADS_2