
Setelah kejadian terakhir di malam pembalasan dendam Itu. Kehidupan para penduduk di pedukuhan semakin membaik. Rasa takut sudah memudar dari raut wajah mereka. Anak-anak sudah kembali bermain tanpa beban.
Selama tinggal di pedukuhan, Nadi Tirta berada dalam pengasuhan kepala pedukuhan dan istrinya. Anak-anak kepala pedukuhan sudah besar-besar jadi rumah mereka menjadi sepi. Dengan kehadiran Nadi Tirta rumah mereka pun kembali hidup.
Lintang Samudera mengumpulkan segenap orang yang memiliki dasar ilmu beladiri. Meskipun dirinya bukan seorang prajurit, dirinya masih mampu mengajari satu dua jurus tata berkelahi. Bagi yang memiliki dasar ilmu kebatinan digemblengnya untuk melakukan laku prihatin untuk semakin memperkuat batin mereka.
Untuk kaum wanita di pedukuhan itu khususnya yang masih gadis dan para ibu muda, ikut belajar ilmu beladiri dari Candani Paramita. Setiap saat para wanita menjadi korban kekerasan jika ada petaka melanda. Karenanya Candani merasa prihatin, sehingga ia memutuskan untuk membekali mereka dengan sedikit ilmu kanuragan. Tapi sebelum dirinya mengajari ilmu kanuragan kepada kaum wanita pedukuhan tersebut, ia pun berpesan setinggi-tingginya ilmu seorang wanita kewajiban utamanya tetap mematuhi suami. Jangan sampai jumawa, lupa diri, sehingga lupa dengan tata subasita, ngelunjak kepada suami.
"Kakang Lintang Samudera, sudah sebulan kita tinggal di pedukuhan ini. Sepertinya sudah saatnya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan yang tertunda," Candani Paramita membuka percakapan.
"Tunggu sebentar lagi Candani. Kakang sedang kebingungan, jika suatu saat orang-orang jahat itu kembali balas dendam menyerang pedukuhan ini maka akan musnahlah semua yang ada di pedukuhan ini," jawab Lintang Samudera.
Candani Paramita merenung. Sebuah masalah yang berat. Jalan satu-satunya hanya ada satu mengusir orang-orang jahat yang berilmu aneh itu. Sepertinya mereka berdua harus menelusuri tempat persembunyian para penjahat itu.
"Candani tidak bisakah menanam salah satu senjatamu di pedukuhan ini. Sama seperti pedang Gentala Handaru yang ada di Desa Kali Ranti." Lintang Samudera mencoba memberi saran.
"Tidak mungkin Kakang. Ini bukan wilayahku. Aku juga tidak mungkin meninggalkan senjataku lagi, kecuali hatiku memang ingin melakukan itu. Lebih baik Perisai Mandira dan Perisai Pancaka Palastri tetap terpasang di pedukuhan ini," ucap Candani.
"Tidak bisa Candani. Apakah kau lupa kedua perisai itu merupakan bagian dari ilmu kita. Saat kita ada perisai bisa diciptakan, saat kita tiada perisai pun tiada," jawab Lintang Samudera.
__ADS_1
"Baiklah kita coba ciptakan perisai yang diambil dari alam semesta. Dan kita ajari salah satu penduduk yang terpilih untuk menjadi wadah perisai tersebut sampai dia menguasai perisai itu. Dan untuk selanjutnya penduduk yang kita ajari ilmu perisai tersebut sedianya mewariskan ilmunya secara turun-temurun kepada anak cucunya, sehingga bisa melindungi pedukuhan ini dari marabahaya." Lintang Samudera memberi saran.
Akhirnya disepakati untuk menjalankan saran yang disampaikan Lintang Samudera.
Lintang Samudera pamit untuk melakukan tapa brata selama beberapa hari di pegunungan terdekat dari desa itu untuk meminta petunjuk kepada Sang Pencipta.
Setelah selesai tapa brata. Lintang Samudera berniat kembali ke pedukuhan. Tapi baru beberapa perjalanan didengarnya sekumpulan orang tertawa dengan sangat keras, mereka memakan daging buruan dalam keadaan masih mentah. Darah membasahi bibir mereka di sana sini.
"Sepertinya inilah kumpulan penjahat yang memiliki mantra-mantra teluh," ucap Lintang Samudera dalam hati
Lintang Samudera bergegas kembali ke pedukuhan. Tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Dia sampaikan hasil yang diperolehnya saat bertapa kepada Candani Paramita, termasuk tentang orang-orang yang mempunyai tingkah aneh di pegunungan yang dijumpainya
Prasaya bertapa selama sembilan hari di pinggir sungai, dilanjutkan dengan bertapa selama sepuluh hari di puncak gunung terdekat. Bertapa di sungai dengan tujuan meminta ijin kepada alam semesta untuk diijinkan untuk mengendalikan air, dan bertapa di puncak gunung dengan maksud untuk diberikan kemampuan untuk mampu mengendalikan angin.
Setelah tahapan tersebut selesai, Prasaya pun mandi menggunakan air yang berasal dari tiga sungai dan empat gunung.
Lintang Samudera memberi nama perisai tersebut dengan nama Perisai Sendang Sadagati.
Prasaya menghadirkan kekuatan air dan angin yang ada di dirinya lalu dibentuklah perisai yang melindungi seluruh wilayah pedukuhan itu. Suara angin menderu berputar-putar mengitari pedukuhan, dan suara air mengombak bergelombang menjadi satu dengan kekuatan angin yang telah tercipta.
__ADS_1
Lintang Samudera berpesan kepada Prasaya untuk terus melakukan laku prihatin agar ilmu perisai tersebut menyatu dengan jiwa dan raganya. Dan meminta kepada Prasaya untuk semua anak keturunannya jangan meninggalkan pedukuhan ini, dan harus mewariskan ilmu perisai Sendang Sadagati kepada anak keturunannya. Karena dialah yang sudah terpilih dari segenap penduduk yang ada di pedukuhan itu.
Akhirnya setelah hampir tiga bulan Lintang dan Candani tinggal di pedukuhan tersebut, pamitlah sepasang pendekar itu dari pedukuhan. Dengan berat hati para penduduk melepasnya. Istri kepala pedukuhan menangis tersedu-sedu tatkala harus dipisahkan dari Nadi Tirta. Candani dan Lintang Samudera berjanji suatu saat melewati pedukuhan ini maka akan disempatkan untuk mampir.
Lintang Samudera dan Candani Paramita berjalan menuju pegunungan, ke tempat Lintang Samudera menemukan tempat persembunyian tempat persembunyian para pencuri berilmu mengerikan itu.
Nadi Tirta sudah bisa berjalan meskipun belum lancar. Selama dalam perjalanan Lintang Samudera dan Candani tetap bergantian untuk menggendongnya.
Mereka berdua akhirnya sampai ke pegunungan yang dituju. Dari kejauhan tampak api unggun yang cukup besar.
"Nadi diam ya, jangan menangis dan jangan ribut ya!" pinta Candani kepada Nadi Tirta.
Nadi Tirta tampaknya memahaminya. Berbulan-bulan hidup bersama dalam keprihatinan membuat Nadi Tirta seolah-olah bisa memahami permintaan dari Candani Paramita dan Lintang Samudera. Dia pun terdiam patuh dalam gendongan Candani.
Malam semakin pekat. Pesta gila di puncak pegunungan itu baru dimulai. Lintang dan Candani melihat ada beberapa barak yang digunakan untuk tempat tinggal.
Untuk sementara mereka berdua hanya mengamati sebagai bahan untuk membuat rencana.
Cahaya bulan tertutup awan. Menjadikan malam tampak meredup. Kisah anak-anak manusia yang terjerumus dalam jalan iblis di wilayah pegunungan itu semakin ramai, teriakan dan tawa mereka membahana. Membuat ciut nyali hewan-hewan buas yang ada.
__ADS_1