
Tabir pelindung istana Segaralaya bergetar. Sebuah kekuatan ghaib yang cukup besar memaksa menembus tirai pelindung. Ilmu sirep yang ditebar berhasil dimentahkan oleh Ratu Samudera. Tapi semakin lama ilmu sirep yang ditebar makin kuat. Beberapa orang di luar sana dengan tingkatan kesaktian yang berbeda sedang berusaha menembus perlindungan ghaib di istana Segaralaya. Ada yang mau dicuri, mutiara laut. Dan hanya di kerajaan Segaralaya ini yang memiliki mutiara laut dalam jumlah banyak.
Di belakang para maling itu, di tempat yang cukup dekat dari istana, terdapat seseorang dengan ilmu kanuragan yang cukup tinggi sedang berusaha menaklukkan tabir ghaib yang melindungi pusat kerajaan Segaralaya. Kekuatan Sirepnya yang cukup tinggi berkali-kali dimentahkan. Kabut yang berusaha dipanggilnya teramat sulit untuk dibentuk, kumpulan kabut itu selalu gagal dan rusak. Ilmu seseorang yang entah siapa dia, memiliki ilmu yang sama tapi dengan tingkatan yang jauh lebih tinggi. Dikerahkannya kembali daya upayanya. Dipaksanya menembus tabir pelindung, semua kemampuannya dikerahkan.
🔸🔸🔸🔸🔸
Di biliknya, Ratu Samudera langsung terbangun, merasakan adanya kekuatan dari luar yang mencoba menembus tabir pelindung. Bahkan selendang Baruna dengan sendirinya terbang.
"Ada apa?" tanya Lintang Samudera.
"Ada yang mau menembus tirai pelindung," jawab Ratu Samudera.
"Itu, selendang mu bagaimana bisa terbang berputar-putar sendiri?" Lintang Samudera memperhatikan selendang Baruna yang terus berputar-putar mengelilingi ruangan. Saat angin kencang berhasil membuka paksa pintu kamar, selendang Baruna pun terbang keluar.
"Asal selendang Baruna dari laut. Selendang ku merupakan salah satu pusaka suci kerajaan ini. Jadi sekarang selendang Baruna sudah kembali asalnya. Apapun yang mengganggu kedamaian kerajaan Segaralaya, membuat selendang Baruna bergerak sendiri," Ratu Samudera terdiam sesaat. "Biarkan selendang Baruna menjalankan tugasnya."
"Aku akan keluar mengikuti arah pergi selendang pusaka mu. Siapa yang berani berusaha mencuri di istana ini. Tunggulah di sini, aku akan mencari pemilik ilmu sirep ini!" perintah Lintang Samudera kepada istrinya.
Ratu Samudera Sanura membiarkan suaminya pergi mengikuti arah gerak selendangnya. Kekuatan ilmu sirep tingkat rendahan yang sedang berusaha menguasai istana Segaralaya segera dipatahkan oleh sang ratu. Sirep yang dikerahkan pihak lawan diacak-acak, dan dikembalikan kepada pemiliknya.
Saka terjungkal dari duduknya. Ilmu sirepnya dikembalikan secara paksa bahkan disertai serangan balasan.
"Setan alas," umpat Saka. "Siapa yang berani menghajar ku dengan cara seperti ini!"
__ADS_1
Saka pantang mundur, mutiara laut dalam jumlah banyak harus segera didapatkan, atau pasukan daratan dari kerajaan Abyudaya tidak akan bisa memasuki alam samudera. Saka memanggil kabut, dikerahkannya kabut yang tipis dan secara perlahan mulai menebal, kabut itu dipanggilnya untuk menutupi istana Segaralaya. Kabut itu datang perlahan berjalan mengikuti perintah orang yang memanggilnya. Istana Segaralaya mulai diliputi oleh kabut tipis, membuat pandangan sedikit demi sedikit menjadi terhalang.
Ratu Samudera menjadi kesal dengan seseorang di luar sana yang sedang bermain-main dengan sirep dan kabut di istananya.
"Anak kecil mana yang kurang kerjaan," geram sang ratu. Dengan cepat kabut tipis itu dikembalikan kepada pemiliknya. Dibarengi dengan pukulan balik untuk membuat kapok seseorang yang sedang bermain-main di luar sana.
Tubuh laki-laki muda itu terpelanting. Dadanya terasa sangat sakit.
"Bagaimana Saka, apakah ilmu sirep mu tidak berguna di sini?" tanya laki-laki dengan bungkusan kosong di bahunya.
"Ada seseorang yang mementahkan semua serangan ku, bahkan mengirim serangan balik. Dadaku sakit sekali," jawab Saka sembari memegang dadanya yang terasa nyeri.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya orang itu lagi.
"Sebenarnya siapa yang jadi lawan ku di dalam istana itu?" Saka menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi
"Apakah suami sang ratu samudera bernama Lintang Samudera?" tanya Saka kembali.
"Betul sekali. Bahkan mulutmu itu bisa menyebut nama suami sang ratu samudera dengan tepat dan sangat lancar. Selancar menyebut namamu sendiri. Benar-benar beruntung si Lintang Samudera itu," teman Saka menggelengkan kepalanya. Terpukau tidak jelas.
"Apanya yang beruntung? Bukannya Ratu Samudera Sanura hanya ratu tua yang doyan daun muda alias doyan perjaka muda. Si ratu tua itu yang beruntung, si laki-lakinya yang dapat musibah." Saka tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang muda yang gagah perkasa bersedia menikah dengan ratu yang sudah tua.
"Ratu Samudera Sanura sudah tua!" teman Saka menggaruk kepalanya. "Selama ini kabar yang aku dengar selalu mengatakan bahwa ratu samudera cantik jelita."
__ADS_1
"Halah... mana ada ratu muda yang memiliki kekuasaan sebesar ini. Mulutmu dan kabar yang kau dengar sama ngawurnya." Saka kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saka kembali mengerahkan ilmunya. Kali ini pikiran kotor menguasai otaknya. "Seorang ratu tua yang doyan perjaka muda, sepertinya ratu samudera yang sudah tua ini harus aku beri pelajaran," gumam Saka.
Kali ini yang Saka kerahkan bukan sirep atau kabut. Yang dia kerahkan kali ini sebuah ilmu yang entah dari mana asalnya. Ilmu itu merasuk ke dalam alam mimpi seseorang, ilmu yang mampu membangkitkan gairah seseorang yang sedang tidur. Sehingga siapapun yang sedang tertidur dan terkena ilmu ini akan terbang melayang-layang dalam sebuah percintaan semu yang sangat panas. Tapi meskipun hanya mimpi, percintaan yang dilakukan tampak seperti nyata, bahkan membawa orang itu bisa mencapai puncak percintaan.
"Aku buat penghuni istana Segaralaya kepanasan dan mendesah puas," senyum licik keluar dari bibir Saka.
Hawa aneh menjalari istana Segaralaya. Para dayang yang sedang tidur mulai menggeliat dalam tidurnya. Mimpi panas itu sedang dimulai. Lintang Samudera yang menyadari ada yang tidak beres dengan hawa yang sedang menyebar segera keluar istana. Dicarinya asal hawa ini. Hawa yang bermuatan penuh nafsu.
Lintang Samudera terus berlari dalam gelap. Menyusuri jalanan, melewati rumah-rumah. Di depannya dilihatnya sebuah tempat peristirahatan kecil. Di dalam tempat itu berkerumun beberapa orang dengan bungkusan kosong di pundaknya. "Mereka pasti maling yang batal melakukan pencurian," ucap hati Lintang Samudera.
Dilihatnya kembali dengan seksama, di tengah-tengah para maling itu ada seorang pemuda sepantaran dirinya sedang duduk bersila dengan tenang. Kedua mata pemuda itu terpejam. "Hawa aneh yang membawa muatan nafsu b*r*h* ini ternyata berasal dari pemuda yang sedang duduk sila itu," ucap Lintang Samudera.
Lintang Samudera mengambil batu sekepalan tangan. Lalu batu itu dilemparkannya kencang, tepat sasaran mengenai punggung pemuda yang sedang bermain-main dengan hawa nafsu yang membawa celaka.
Pemuda itu terjungkal jatuh ke bawah. Badannya menggelinding. Punggungnya terasa sangat sakit. Saat yang mengendalikan hawa aneh itu kehilangan pengendaliannya, seketika terputus muatan udara yang membawa hawa kotor itu.
"Siapa yang berani menggangu ku?" teriak Saka murka.
"Aku. Dasar laki-laki bodoh. Permainan sirep dan kabut mu berhasil dipatahkan, sekarang kau bermain-main dengan permainan kotor seperti ini. Kau mau membawa penghuni istana larut dalam permainan bejadmu?" ucap tegas Lintang Samudera.
"Itu Lintang Samudera, suami sang ratu," bisik salah seorang teman Saka.
__ADS_1
"Ooooo jadi kau yang bernama Lintang Samudera, suami dari si ratu samudera yang sudah tua. Wajah mu tampan, bentuk tubuhmu juga kekar, pantas saja sang ratu tergila-gila padamu," Saka tertawa keras. Menertawakan kebodohan laki-laki yang ada di hadapannya.
"Tua. Siapa yang tua, istriku tua. Istriku cantiknya minta ampun malah dibilang tua," ucap hati Lintang Samudera. "Pemuda ini sepertinya belum pernah berjumpa dengan istriku."