
Suasana di dalam pondok sangat lengang. Candani dan Lintang Samudera menuju dua pasak lain yang telah ditemukan oleh Apsara dan Lintang sendiri.
Nimas Ayu dan pengawal pengiringnya memencar mencari makanan untuk dimakan pagi ini.
Dan Apsara mengatakan kepada semua orang bahwa dirinya ingin menemani istrinya untuk memastikan keberadaan anak yang berada di dalam kandungan istrinya baik-baik saja.
Apsara melihat sekeliling. Di saat sudah dirasa aman, ditutupnya pintu dan jendela rapat-rapat, dilucutinya satu persatu pakaian yang dikenakan Baluh Jingga. Dengan gerakan kilat dan nafas yang tergesa-gesa, dilakukan pemanasan secepat kilat, dilanjutkan gerak percintaan yang berpacu dengan waktu. Dipan tua itu berderit pelan, seirama dengan gerakan Apsara dan Baluh Jingga.
Mereka berdua bersama-sama terengah-engah mencapai puncak. Secepat kilat percintaan, secepat kilat pula baju telah dikenakan kembali. Tak lupa diciumnya seluruh wajah istrinya di akhir percintaan singkat yang hangat itu.
"Dimana Apsara?" tanya Candani.
"Ah Apsara. Dia sedang mengecek kandungan istrinya. Tadi Baluh Jingga sempat ikut berkelahi, jadi Apsara sedikit khawatir," jawab Lintang Samudera mengarang cerita.
"Apa tidak sebaiknya kita ikut melihat keadaan Baluh Jingga?"
"Tidak perlu. Jangan ganggu urusan suami istri. Apsara sedang melakukan pengecekan luar dalam, jadi jangan ikut-ikutan." Ditariknya Candani Paramita untuk melanjutkan tujuan awal.
🔸🔸🔸🔸🔸
Candani menatap dua pohon besar yang menjadi pintu masuk lembah ini. Diantara dua pohon itu, tumbuh pohon jati yang melengkung dengan posisi tidak wajar.
Sebuah ukiran yang tidak dimengerti benar-benar ada di tubuh pohon jati itu. Pasak yang satunya lagi seperti dugaannya belahan batu berwarna putih, dengan bentuk ukiran sama dengan pasak yang lainnya.
Mereka berdua segera kembali ke pondok. Memenuhi panggilan rasa lapar yang minta untuk segera dipenuhi.
"Nimas Ayu, Baluh ada dimana?" tanya Candani.
"Oh Baluh. Tadi pergi dengan suaminya ke telaga untuk membersihkan diri."
Lintang Samudera tiba-tiba terbatuk pelan.
__ADS_1
"Jangan diganggu," bisiknya pelan ke telinga istrinya. Candani hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Candani mencari keberadaan pasak terakhir, dicarinya di dalam pondok, dan di sekitar kebun. "Dimana pasak pusatnya," ucap Candani pelan.
"Sanggar Pamujan, tempat Guru Jagratara biasa bersemedi. Kenapa aku bisa melupakan tempat itu."
Dibukanya pintu sanggar pamujan. Betul sesuai perkiraannya, ternyata batu bulat yang biasa menjadi tempat duduk gurunya saat semedi, merupakan pasak yang kelima.
Candani menunjukkan penemuannya kepada Lintang Samudera.
"Kakang Lintang, aku pinjam tongkat dan bandul kalungmu?" pinta Candani.
Lintang Samudera hanya mengangguk dan melepaskan bandul kalungnya, sebuah bandul kalung yang terbuat dari batu berwarna biru memancar.
Candani melepas bandul kalungnya juga, sebuah batu tidak berwarna, hanya bening seakan-akan batu itu terbuat dari aliran air. Diputarnya patahan tongkat yang berada tepat di tengah. Disatukannya kembali tongkat itu dengan posisi terbalik, yang bagian dalam menjadi di posisi luar, dan yang bagian luar berubah jadi di dalam.
Dimasukkannya kedua batu itu masing-masing di sisi luar tongkat.
"Istriku, kenapa kunci lembah ini bisa ada di tanganku?" Lintang Samudera penasaran, kenapa benda berharga milik Guru Jagratara bisa ada bersamanya.
"Nanti saat Kakang Lintang Samudera berjumpa Guru Jagratara, silahkan langsung ditanyakan kepada beliau ya." Digenggamnya tangan Lintang Samudera dan diciumnya pelan.
Rombongan kecil Candani Paramita berkumpul di dalam pondok. Sesuai arahan bahwa setiap orang tidak diijinkan bepergian. Harus bersama di dalam pondok.
"Kakang Lintang, aku mohon bantuannya."
"Bantuan apa Candani?" jawab Lintang Samudera.
"Duduklah di kursi batu tempat biasa Guru Jagratara bersemedi. Tongkat milik Kakang, tolong ditancapkan ke lubang tempat tongkat yang ada di depan batu bulat ini."
Lintang Samudera mematuhi perintah istrinya. Dirinya duduk sila di atas batu, dan tongkat ditancapkan tepat di depannya.
__ADS_1
"Sudah siap, Kakang Lintang?" tanya Candani Paramita.
Lintang Samudera memutar tubuhnya, hingga berhadap-hadapan dengan wajah istrinya.
"Istriku, aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu apa-apa."
"Kakang Lintang cukup duduk sila pusatkan tenaga dalam, tutup pintu-pintu nafsu, semuanya sama seperti saat sedang bersemedi. Satukan hati, jiwa, dan pikiran. Bedanya pusatkan kekuatan yang Kakang miliki ke tongkat tersebut. Ikuti arus yang mengalir. Satukan diri Kakang dengan tongkat dan kedua batu yang ada di kedua sisi tongkat. Ada getaran apapun harap ditahan, dan yang utama bantu aku." Candani menjelaskan perlahan.
Lintang Samudera menganggukkan kepala. Tidak mengerti itulah yang tercetak tebal di dalam hatinya. Tapi sudahlah, toh selama ini istrinya selalu berusaha membimbingnya dengan baik.
🔸🔸🔸🔸🔸
Matahari berada di puncaknya. Hawa panas melingkupi lembah Chedana. Silir angin dari arah pepohonan menerpa setiap sisi lembah. Memberikan perlindungan dari menyengatnya sinar matahari.
Candani Paramita duduk sila membelakangi suaminya Lintang Samudera. Dipusatkan alam bawah sadarnya, diarahkannya kekuatan tersebut kelima pasak lembah Chedana. Secara perlahan ditariknya kelima pasak itu.
Getaran yang sangat dahsyat bergolak luar biasa. Bumi mengeluarkan suara keras, dikarenakan tiang-tiang penyangga lembah Chedana ditarik paksa.
Gempa bumi tiba-tiba terjadi di luar wilayah lembah Chedana. Candani Paramita berusaha menjaga keseimbangan. Jangan sampai upayanya untuk memindahkan lembah ini, memberikan akibat fatal bagi daerah di sekitarnya. Jikalau hal itu terjadi, sudah dipastikan, dirinya akan mendapatkan hukuman yang sangat berat dari Guru Jagratara.
Dalam alam bawah sadarnya, Lintang Samudera mengetahui kesulitan istrinya. Secara alami ditariknya pusat pasak lembah, yaitu batu yang sekarang sedang didudukinya. Ditekannya bumi yang menjadi pijakan lembah agar tidak bergoyang yang mana goyangan tersebut dapat menimbulkan gempa, dikarenakan terjadi pergeseran rangka bumi. Tongkat yang menjadi kunci lembah berputar perlahan mengandalkan kekuatan Lintang Samudera.
Terjadi goncangan hebat di lembah Chedana. Suara dentuman menggema menguasai lembah. Bertalu-talu. Berulang-ulang. Gesekan yang terjadi jangan sampai menimbulkan keretakan dan pergeseran lempeng bumi.
Candani Paramita mengeluarkan semua tenaga dalamnya. Pasak lembah Chedana harus tercabut bersamaan, tidak bisa satu persatu. Harus bersama.
Lintang Samudera memutar kunci dengan sempurna, menyebabkan tercabut bersama kelima tiang lembah Chedana. Tercabutnya pasak lembah, mengakibatkan gesekan yang luar biasa hebat. Di sekitar pasak yang tercabut timbul retakan ringan.
Selama perpindahan, kekuatan Lintang Samudera terserap oleh alam semesta. Lintang Samudera bersama Candani mengangkat lembah yang luas itu. Sesuai permintaan Guru Jagratara, Candani memindahkan lembah Chedana ke tengah-tengah lautan luas. Hanya itu tugasnya.
Untuk berikutnya, setelah lembah Chedana berpindah ke tengah lautan, sehingga seolah-olah telah terlahir pulau baru di tengah laut. Gurunya akan menutup pulau itu dengan tirai pelindung, sehingga manusia biasa tidak mampu melihatnya, bahkan yang dari alam ghaib juga terhalang pendangannya. Ilmu apa yang digunakan gurunya, Candani tidaklah tahu.
__ADS_1