
Di Gunung Wadas Putih, Ki Estungkara meradang. Kepulangan pelindung sejati bangsa ular, membuatnya tidak mampu menembus kerajaan ular. Bahkan untuk menguasai ular-ular di alam lain pun tidak dapat dilakukannya lagi. Cahaya pelindung sejati gemerlapan melindungi segenap nyawa-nyawa ular yang masih hidup.
Bahkan keris Sarpa Hastha bergejolak marah. Jiwa-jiwa ular yang ada di dalamnya bergemuruh saling berdesakkan meminta pembebasan. Jiwa-jiwa itu bersorak merasakan kembalinya pelindung sejati bangsa ular. Saat pembebasan hanya tinggal menunggu waktu. Sedikit waktu lagi untuk bersabar, dan mereka semua bisa kembali ke alam kelanggengan.
"Kurang ajar, sialan. Jagratara sialan." Nafas Ki Estungkara berebut satu persatu mengisi paru-paru. Pecut Sahasra Agni tidak bisa lagi meluluhlantakkan kerajaan ular. Baru sampai di perbatasan sudah dihempas oleh kekuatan pelindung sejati. Seharusnya dari awal dicarinya pelindung sejati ular untuk dibunuh. Ratusan tahun keberadaan pelindung sejati ular dicari, tapi tidak pernah ditemukan. Jagratara sialan sudah melindunginya, merahasiakan rapat tempat persembunyian pelindung sejati ular.
Dan kini kehancuran keturunan Mpu Adhigana ada di depan mata.
🔸🔸🔸🔸🔸
Suasana di Kerajaan Segara Pitu terlihat damai. Tidak ada tanda-tanda pemberontakan. Semua pasukan yang dilatih dipindahkan ke daratan tepatnya di Gunung Anaga, di bagian wilayah Kerajaan Abyudaya. Permaisuri Kerajaan Abyudaya yang merupakan adik kandung Raja Suteja Thani, memberikan perlindungan, bahkan memenuhi semua kebutuhan pasukan Segara Pitu.
Di bilik cinta inilah Suteja Thani kini berada. Bercinta dan bercinta bersama Santika Darliah. Saling melepas peluh keringat, dan saling memiliki tubuh satu sama lain.
"Bagaimana perjalanan mu?"
"Perjalananku lancar," jawab Darliah singkat.
"Sudahlah jangan marah lagi. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang telah lalu."
Darliah diam tidak perduli. Hatinya masih marah, tapi jujur dirinya merindukan percintaan dengan Suteja Thani, merindukan sentuhan-sentuhannya. Membuatnya terbaring lemas di ranjang.
"Bagaimana dengan pasukan di Gunung Anaga dan pasukan di kerajaan siluman, apakah semuanya berjalan sebagaimana mestinya?" Suteja Thani kembali memberikan belaian lembut pada tubuh Santika Darliah, membuat wanita liar itu melenguh keras.
__ADS_1
"Semuanya berjalan lancar. Pelatihan di Gunung Anaga tidak ada gangguan sama sekali. Pasukan siluman pun aman. Hanya saja untuk tentara bangsa ular tidak bisa diikutsertakan."
"Kenapa, bagaimana bisa?" Suteja Thani mulai panik.
"Pelindung sejati bangsa ular telah kembali. Setiap nyawa ular yang masih hidup berada dalam perlindungannya. Bahkan dia juga mampu melepaskan jiwa-jiwa ular yang terpenjara di dalam keris Sarpa Hastha."
"Maksudmu kesaktian pelindung sejati bangsa ular sangat tinggi, sampai-sampai pecut Dahasra Agni dan keris Sarpa Hastha tidak mampu memanggil para ular."
"Bukan begitu Suteja Thani. Pelindung sejati bangsa ular merupakan salah satu anugerah Sang Pencipta yang diberikan kepada bangsa ular. Kalau sekedar melawan kesaktian bangsa ular, sesakti apapun mereka mudah untuk ditaklukkan, tapi melawan Sang Pencipta tidak mungkin bisa."
"Kalau begitu dibunuh saja pelindung sejati ular." Suteja Thani menjadi panik.
"Dia akan bereinkarnasi kepada penerusnya. Saat pelindung sejati ular mati, akan ada gantinya, itulah hukum alam yang berlaku." Darliah menerawang batas angan-angan. " Dan, jika pelindung sejati rela mengorbankan dirinya untuk membebaskan jiwa-jiwa bangsa ular yang terpenjara di keris Sarpa Hastha, maka pelindung sejati pasti langsung mati, lalu bereinkarnasi."
"Siapa yang membebaskan pelindung sejati ular?" Suteja Thani bertanya di tengah permainan ranjang yang sedang menghangat.
"Lawan mu, ratu laut Sanura dari Kerajaan Laut Segaralaya. Dia sangat sakti. Kesaktiannya membuatku bergidik."
"Lalu untuk peperangan nanti, siapa yang menggantikan posisi tentara ular?"
"Para penganut ilmu sesat yang mengikuti Ayah Estungkara. Mereka akan dikerahkan serta. Tapi jangan besar kepala dahulu. Setahuku Ibunda Wali Ratu dari Kerajaan Laut Segaralaya mampu membekuk mereka semua."
Darliah menjadi bosan karena Suteja Thani bertanya dan bertanya. Diambil alihnya permainan, ditutupnya bibir Suteja Thani menggunakan bibirnya.
__ADS_1
Saat percintaan panas mereka selesai, benar-benar selesai, pembicaraan pun berlangsung kembali.
"Perjanjian apa yang kau berikan pada bangsa siluman yang bersedia membantumu dalam peperangan nanti?" Santika Darliah sangat curiga, tidak ada yang cuma-cuma dari setiap bantuan yang diberikan oleh bangsa siluman. Semua ada harganya, ada nilainya. Satu bantuan sangat bernilai tinggi. Apalagi ini bantuan perebutan tahta.
"Ehm...ehmm. Jika menang, bangsa siluman yang membantuku, aku ijinkan untuk mengambil beberapa rakyatku untuk menjadi budak mereka di alam siluman."
"Aku tidak percaya hanya itu perjanjiannya. Beberapa, tidak mungkin. Mereka pasti meminta tumbal berkali-kali lipat. Dan meminta budak berkali-kali lipat juga."
Suteja Thani mengangguk, membenarkan perkataan selir Santika Darliah.
Santika Darliah teringat kepada gurunya, Guru Yasa Rasendriya. Meskipun dirinya seorang yang jahat, tapi saat berpetualang mencari guru, dia berguru dengan seorang guru dari jalur kebenaran. Guru Yasa mengetahui jati dirinya yang sebenarnya, tapi tetap bersedia menerimanya menjadi murid. Seluruh kesaktian yang dimilikinya berasal dari ajaran Guru Yasa Rasendriya. Dari awal Darliah tidak berminat mempelajari ilmu hitam.
Ayahnya Ki Estungkara tidak melarangnya berguru pada guru dari aliran putih. Darliah selalu menghormati ayahnya, karena itulah ayahnya tidak mempersulit setiap keinginannya.
🔸🔸🔸🔸🔸
Di bagian lain Gunung Wadas Putih, tepatnya di bilik Pambayun Ayu Nastari, asap dupa membubung tinggi. Puteri sulung raja Citraloka itu sedang mendalami ilmu hitam yang sedang dialaminya. Ilmunya dari sehari ke sehari semakin meningkat pesat. Lama-kelamaan ilmu sesat yang dipelajarinya bukan lagi untuk menaklukkan Lintang Samudera. Pambayun sudah jatuh cinta dengan ilmu hitam itu sendiri. Ada rasa bangga tersendiri saat orang-orang ketakutan pada dirinya.
"Ayahanda ampuni anakmu ini, inilah jalan yang sekarang menjadi tujuan Pambayun," ucap Pambayun dalam hati.
Asap dupa mengepul tinggi. Bau kemenyan menyebar memenuhi seluruh ruangan. Bait-bait mantra mulai dibaca untuk memanggil penguasa kegelapan. Tubuh Pambayun memanas. Desakan kebaikan di hati nuraninya membuatnya kesulitan untuk menguasai ilmu-ilmu sesat yang baginya sangat luar biasa.
Malam semakin larut. Bait-bait mantra masih dibaca setiap penghuni Gunung Wadas Putih.
__ADS_1