
"Dia putraku."
"Ayah!"
"Jagratara... Bukankah anak itu sudah ma..ti?" Mata Mahogra dengan mata tajamnya menatap rupa Lintang Samudera. Semakin dilihat makin tidak asing.
"Kenapa Mahogra? Apakah kau sudah lupa siapa dia?" Guru Jagratara terdiam sejenak. "Dialah anak kecil yang dahulu kau kejar-kejar. Perhatikan baik-baik rupa wajahnya!"
"Kau... wajahmu... sangat mirip dengan gambaran Jagratara muda. Harusnya kau sudah mati! Jelas-jelas aku yang sudah membunuh mu!" Mahogra berusaha tidak percaya dengan yang dilihatnya, tapi bukti di depannya sungguh nyata, tidak bisa dipungkiri.
"Dan aku hidup!" Lintang Samudera melangkahkan kakinya menuju Guru Jagratara. "Ayah, putra menghadap. Sembah sujud putra untuk ayah Jagratara."
"Putraku berdirilah!" balas Guru Jagratara.
Lintang Samudera tetap pada posisi simpuh sembari memandang wajah ayahnya yang sudah bertahun-tahun lamanya meninggalkannya. "Ayah, Nura... Nura... telah tiada."
"Putraku Lintang Samudera berdirilah terlebih dahulu...Sanura merupakan salah satu murid kinasih ku, tidak mungkin secepat itu meninggal. Tenangkan dirimu!" jelas Guru Jagratara yang menjadikan kedua bola mata Lintang Samudera membulat lebar.
"Maksudnya...?" Tatapan Lintang Samudera penuh ketidakpercayaan, jelas-jelas Sanura sudah tidak bernafas bahkan dirinya yang memastikan kematian wanita yang dicintainya itu.
Guru iblis Mahogra merasa tidak ada gunanya lagi melanjutkan peperangan ini. Karena dengan kehadiran Jagratara sudah dipastikan hanya kekalahan yang diperoleh. Sebelum hancur ***** lebih menyelamatkan diri dan pasukannya.
🔸🔸🔸🔸🔸
Dari arah langit tampak serombongan wanita terbang dan turun ke samudera Segaralaya. Pemimpin rombongan wanita cantik itu tersenyum kepada Lintang Samudera.
__ADS_1
"Ibunda..." Mata Lintang Samudera kembali disuguhi penglihatan yang baginya sangat mustahil, dirinya benar-benar tidak percaya dengan sosok wanita cantik yang ada di hadapannya. Dirinya terpaku. Seingatnya wanita ini meninggal kala dirinya masih belia.
"Putraku...! Sudah besar, sudah dewasa." Sepasang mata wanita cantik yang ternyata ibu dari Lintang Samudera tampak berkaca-kaca. "Bagaimana kabarmu anakku?"
"Ibu... ibu... kenapa?" Lintang Samudera tidak melanjutkan pertanyaannya. Kedua orang tuanya saling menatap penuh rindu.
Tatap mata Dewi dari langit bertemu dengan sepasang mata Jagratara. Sang Dewi langit seketika bersimpuh di hadapan Guru Jagratara, mencium tangan laki-laki yang sedang terpaku menatapnya.
"Kakang Jagratara!" Tatapan rindu terpancar dari kedua bola mata dewi langit. Rindu akan suaminya, rindu dengan riuh rendah suara putranya.
"Dewi Telaga..."
🔸🔸🔸🔸🔸
"Lintang Samudera ikutlah dengan ibumu ke istana langit. Bawa istrimu ke telaga murni yang ada di langit, dan biarkan berendam di sana selama satu purnama." Perintah Guru Jagratara kepada putranya.
"Ibumu penjaga telaga murni di istana langit. Ibumu seorang Dewi telaga. Dahulu terpaksa meninggalkan mu yang masih sangat kecil semata-mata demi menjaga telaga murni langit yang banyak diperebutkan oleh banyak pihak." Guru Jagratara menjelaskan secara perlahan kepada Lintang Samudera.
"Lalu...lalu... apakah Sanura akan sembuh, dan untuk seterusnya akan tinggal di langit?" Rona cemas dan bahagia bercampur menjadi satu di wajah Lintang Samudera. Bahagia karena ternyata nyawa istri tercintanya masih bisa diselamatkan, cemas dikarenakan khawatir Sanura tidak diperbolehkan kembali ke bumi.
"Tentu akan kembali ke Segaralaya." Ibunda Wali Ratu tersenyum menatap menantunya.
"Dewi Samudera. Sudah lama kita tidak berjumpa!" Ucap Guru Jagratara dan Dewi Telaga Murni bersamaan.
"Salam rinduku untuk kalian berdua," sapa Ibunda Wali Ratu kepada kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Menantuku Lintang Samudera, bawalah putriku Nura ke istana langit. Sudah waktunya Sanura menggantikan kedudukan ku sebagai seorang Dewi Samudera. Semua kejadian ini merupakan ujian yang harus dihadapi oleh kalian berdua."
"Maksud Ibunda Wali Ratu, istriku Sanura seorang Dewi Langit?" tanya Lintang Samudera tergagap.
"Anakku Sanura seorang dewi langit, menggantikan tugasku sebagai Dewi Samudera. Jadi tempat tinggalnya tetap di samudera," jelas Ibunda Wali Ratu.
🔸🔸🔸🔸🔸
Bala tentara Segaralaya berbaris rapi di palagan bekas peperangan, menunggu kedatangan dia yang sudah layak menjadi guru besar Segaralaya.
"Hormat kami guru besar Segaralaya."
Gemuruh suara prajurit Segaralaya memenuhi lautan luas. Mendebarkan hati siapapun yang mendengarnya.
Lintang Samudera merasa takjub dengan apa yang didengar dan berdiri di hadapannya. 'Guru besar Segaralaya' benarkah dirinya layak menyandang gelar terhormat itu. Kini seluruh bala tentara Segaralaya memberi hormat di hadapannya. Dadanya berdebar keras, belum sanggup menerima anugerah penghormatan sebesar ini. Seandainya.. seandainya istrinya sang Ratu Samudera melihatnya alangkah baiknya.
"Bala tentara Segaralaya, untuk saat ini aku belum pantas menerima posisi sebagai seorang Guru Besar Segaralaya. Ijinkan aku sekali lagi menunjukkan pengabdian ku. Akan aku bawa ratu agung Segaralaya ke langit untuk disembuhkan. Jika Ratu Samudera dapat bergabung kembali dengan Segaralaya, maka saat itulah aku bersedia menerima tugasku sebagai seorang guru besar."
Para panglima dan senopati saling bertatap mata, lalu saling mengangguk. Kembali pasukan Segaralaya memberi hormat kepada Lintang Samudera.
"Lintang Samudera kami bersedia menunggu kembali mu dari istana langit. Kami mohon sembuhkan ratu agung kami, dan kembalilah dengan membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi Segaralaya dan sekitarnya." Perkataan Panglima Senopati Biru Loka mewakili isi hati seluruh pasukan laut Segaralaya.
🔸🔸🔸🔸🔸
Dewi Telaga membawa serta tubuh Sanura yang terdiam seakan tidak bernyawa lagi. Tubuh Ratu Samudera Sanura yang terbalut selendang Baruna dan aneka bunga melayang menuju permukaan laut. Lintang Samudera ikut serta mengikuti perjalanan istrinya ke istana langit.
__ADS_1
Di sisi lain raja muda ular ikut berbahagia menyaksikan keberhasilan yang diperoleh oleh Lintang Samudera. Akhirnya Segaralaya telah menerima Lintang Samudera dengan utuh. Dan sekarang saatnya kembali kepada istri tercintanya Nimas Ayu Palupi dan kedua putra nakalnya.