
Penasehat Osadha murka. Seluruh anak buahnya dicaci-maki dengan semua bahasa kasar yang ada di dunia ini.
Plakkk!
Sebuah tamparan mendarat sempurna di wajah anak buahnya. "Bodoh, kalian bodoh. Hanya menangkap seorang perempuan yang sedang hamil kalian tidak mampu. Otak kalian di mana?"
Penasehat Osadha kebingungan. Cucunya Moktika sampai sekarang belum kembali. Dan satu-satunya harapannya, iblis Pratangga terluka parah dan lari menyelamatkan diri. Tidak ada lagi dukungan, semuanya harus dihadapi sendiri. Tidak ada lagi yang bisa diajak kerjasama. Semuanya menjadi hancur seketika.
🔸🔸🔸🔸🔸
Raja muda ular mengerahkan prajuritnya untuk membekuk penasehat Osadha dan para pengikutnya. Tidak ada tempat lagi yang tersedia untuk bersembunyi para pengkhianat itu. Semua pintu alam ular dijaga dengan penjagaan yang sangat rapat. Prajurit-prajurit berbaris dengan senjata telanjang siap menghajar lawan yang berani berkhianat.
Para penculik yang telah melindungi permaisuri Nimas Ayu Palupi kini menjadi bagian dari para prajurit yang mencari keberadaan para pengkhianat kerajaan. Dengan patuh dan setia mereka bersumpah setia untuk mengorbankan semua miliknya demi keselamatan permaisuri kerajaan ular.
Suasana senyap. Siang berganti malam. Sebuah pergerakan bawah tanah terjadi di sebuah tempat. Mereka menyusuri jalan gelap menuju ujung jalan di mana di sana berharap akan datang bala bantuan. Penasehat Osadha sudah menyadari bahwa dirinya tidak akan bisa selamat. Karena itu segenap kekuatan yang sudah disusunnya selama ini, mulai dikerahkan untuk menyerang kekuatan istana.
Di dalam istana ular terjadi sebuah gerakan senyap. Punggawa dan prajurit yang memilih berada di samping penasehat Osadha mulai bergerak. Mereka mendapat perintah untuk mencari keberadaan gadis ular Moktika dan menyelamatkannya. Di sisi lain istana, beberapa prajurit yang berilmu cukup tinggi berusaha membobol bilik permaisuri.
"Prajurit kepung bilik permaisuri!" perintah salah seorang pemimpin prajurit dari kubu penasehat Osadha. Mereka menyelinap dengan penuh kehati-hatian. Sebelum gerakan dimulai lampu-lampu yang menerangi dipadamkan terlebih dahulu.
"Berhenti! Ada yang janggal di sini. Kenapa tidak ada prajurit jaga di sana. Apakah keberadaan kita sudah diketahui?"
"Tidak mungkin. Raja muda ular terlalu asyik dengan istri manusianya, hingga hilang kepandaian dan kewaspadaannya," ucap pemimpin prajurit musuh.
Mereka pun terus melanjutkan aksinya. Dibukanya pintu bilik permaisuri. Pedang terhunus ke depan. Bilik itu sepi tidak berpenghuni. Dicarinya keberadaan permaisuri Nimas Ayu Palupi di pemandian dan taman kerajaan. Kosong. Peluh memenuhi badan mereka, menyadari nasib naas yang sebentar lagi akan menimpanya. Semua kosong tidak ada prajurit jaga sama sekali. Kosong. Sepi.
__ADS_1
"Jangan menempuh jalan ini?" perintah salah seorang prajurit musuh.
"Kenapa?" tanya prajurit lainnya.
"Jangan masuk dan keluar melalui pintu yang sama. Aku yakin pintu bagian depan sudah dikepung."
Akhirnya mereka pun memilih melompati tembok taman kerajaan, yang menurut perhitungan mereka lebih aman. Saat mendarat mulus di tanah, sebuah pedang tajam bertengger mengancam di leher mereka. Pasukan prajurit menghadang langkah gerak mereka.
"Menyerahkan diri atau mati!" ancam prajurit keselamatan permaisuri Nimas Ayu Palupi.
"Lebih baik kalian bunuh saja kami. Menyerah kami mati, tidak menyerah pun kami segera mati. Tidak ada pilihan yang cukup menyenangkan," ucap pemimpin prajurit musuh
"Urusan hidup mati mu bukan urasan ku, tapi urusan raja muda ular. Kau ingin mati, katakanlah dihadapannya. Berani berkhianat harus siap meregang nyawa."
Di sisi lain di balik pintu taman bunga. Gadis ular Moktika terikat erat. Berkali-kali diusahakannya untuk melepaskan diri, tapi apa daya tali yang mengikatnya makin erat menjerat tubuhnya.
Satu persatu gabungan prajurit yang berusaha menyerang raja muda ular dari dalam istana berdiri kaku, saat menghadapi kenyataan bahwa mereka sudah terkecoh dengan siasat raja muda mereka. Mereka berhasil dibekuk tanpa adanya perlawanan yang berarti.
Sebuah perkelahian kecil terjadi di beberapa tempat di istana. Anak buah penasehat Osadha yang berasal dari kesatuan keprajuritan harus menerima keadaan yang pahit saat berhasil dikalahkan.
🔸🔸🔸🔸🔸
Para pemberontak berlarian saat menyadari bahwa semua tempat persembunyiannya telah dikuasai oleh prajurit dari istana kerajaan. Semua pengkhianat mendapat hukumannya masing-masing.
Suasana alam ular tenang kembali setelah berhasil menumpas pengkhianatan yang dilakukan oleh penasehat Osadha dan anak buahnya. Kehidupan kembali seperti semula.
__ADS_1
Nimas Ayu Palupi menjalani masa kehamilannya yang berat. Kesabaran dan kesungguhan raja muda ular dalam menemaninya, membuat semakin besar cinta Nimas Ayu kepada suaminya.
"Aku dan suamiku harus pamit. Kami akan kembali ke kerajaan laut Segaralaya," ucap Candani Paramita kepada raja muda ular.
"Kenapa tidak menunggu Nimas Ayu melahirkan?" tanya raja muda ular.
"Kerajaan mu sudah damai. Sekarang sudah saatnya aku mengurus kerajaan ku. Sudah cukup lama aku meninggalkan tahta ku."
Akhirnya raja muda ular harus rela melepaskan kepergian Candani Paramita dan Lintang Samudera.
"Saat anakku sudah terlahir, aku akan membantu melawan musuh-musuh mu. Aku mewakili semua rakyat ku mengucapkan terima kasih atas semua bantuan yang sudah diberikan oleh kalian berdua," ucap raja muda ular.
"Jangan sungkan," jawab Candani Paramita dan Lintang Samudera bersamaan.
🔸🔸🔸🔸🔸
Hari kelahiran tiba.
Langit bersinar cerah. Orang-orang di dalam istana ular lari tergopoh-gopoh, permaisuri kerajaan ular akan melahirkan. Selama beberapa hari Nimas Ayu Palupi menahan rasa sakit luar biasa, bayinya tidak mau keluar. Segala macam usaha telah dilakukan, tapi seakan-akan bayi-bayi itu enggan keluar dari rahim ibunya.
"Raja Muda coba temui sepasang ular penghuni goa pengantin. Permaisuri Nimas Ayu Palupi memiliki hubungan yang erat dengan goa pengantin, mungkin bayi-bayi permaisuri ingin kehadiran pemilik goa pengantin," Mahapatih kerajaan ular menyampaikan sarannya.
Raja muda ular bergegas pergi, setelah sebelumnya berpamitan terlebih dahulu kepada istrinya. Beberapa prajurit pilihan dibawanya serta. Hutan belantara yang sunyi membuka pintu menyambut kehadiran raja kerajaan ular yang bijaksana. Setelah di dalam hati meminta pertemuan dengan pemilik goa pengantin, tiba-tiba kunang-kunang bertebaran di tempat goa tersembunyi itu berada.
Sang Dewi penjaga telaga suci alam ular dan suaminya, sudah menanti kehadiran raja muda. Cahaya terang benderang menyinari goa. Bahkan langit dipenuhi dengan bintang. Angin bertiup semilir, pepohonan diam damai, seluruh alam semesta ular bersukacita menyambut kelahiran bayi penerus kerajaan dan bayi pemilik mustika pelindung sejati. Sang Dewi dan suaminya turut serta menuju kerajaan ular, mereka bersedia membantu kelahiran permaisuri.
__ADS_1
Sang Dewi pemilik goa pengantin memberikan air suci dari telaga alam suci ular. Nimas Ayu dengan susah payah meminum air itu . Cahaya berpendar menyinari perut Nimas Ayu, bayi-bayinya yang awalnya tidak mau keluar akhirnya menunjukkan tanda-tanda bersedia keluar dari rahim ibunya. Suara tangis dua bayi ular memecah keheningan di pagi hari.