
Apsara dan Baluh Jingga sudah kembali bersama dengan Candani Paramita, begitu pun dengan kuda Antari. Apsara duduk bersimpuh di hadapan Candani Paramita, memohon pengampunan karena sudah berani menikahi keponakan sang ratu tanpa ijin. Bahkan sudah menebarkan benih di dalam rahim Baluh Jingga. Sederetan teguran panas menampar telinga Apsara membuat mukanya merah padat. Candani Paramita selama ini mengetahui bahwa Apsara mencintai Baluh Jingga, tapi bukan dengan cara harus menikahi Baluh Jingga tanpa meminta ijinnya ataupun ijin dari kedua orang tua keponakannya itu. Memanfaatkan keadaan. Ingin rasanya ia menendang laki-laki yang menjadi suami keponakannya itu. Tapi lihatlah, Baluh Jingga menatap bibinya dengan penuh iba, bahkan ikut memohon agar dirinya mengampuni Apsara. Cinta buta sama seperti dirinya terjebak cinta kepada Lintang Samudera.
Setelah berpamitan kepada Paduka Raja Citraloka, Candani melanjutkan perjalanannya. Disertai dengan suaminya, Baluh Jingga, dan Apsara. Dan jangan dilupakan, rengekan puteri bungsu mengiba kepada ayahnya untuk ikut serta. Alhasil dibawalah serta Nimas Ayu Palupi diiringi lima pengawal kepercayaannya. Berisik. Tentu. Sepanjang perjalanan Nimas Ayu berkicau tidak mau berhenti.
Perjalanan ke lembah Chedana tidak mengalami hambatan. Dibutuhkan waktu perjalanan beberapa hari untuk sampai di lembah itu. Rumput-rumput liar tumbuh dengan tingginya menutupi pandangan. Dan sekarang banyak pohon-pohon lain yang ikut meramaikan kemeriahan lembah Chedana yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya.
Candani Paramita bersama rombongan memasuki rumah Guru Jagratara yang sudah tidak berpenghuni. Sebuah pemandangan aneh menyusuri relung hati yang melihatnya. Pondok kecil dan sederhana ini sepertinya pernah disinggahi oleh sekelompok orang yang penasaran mencari sesuatu hal. Keadaan dalam rumah diobrak-abrik tidak karuan. Setiap sudut rumah itu mendapat sentuhan kasar. Meninggalkan bekas berantakan dimana-mana.
"Aneh," gumam pelan Lintang Samudera. Apa yang dicari dari rumah tua ini.
Nimas Ayu Palupi dan Baluh Jingga dengan sigap langsung membersihkan rumah yang berantakan dan penuh debu itu. Beberapa anak buah Nimas Ayu mencari makanan sekedar untuk makan siang mereka. Sebuah kebun yang asri tumbuh dengan teratur. Berbagai sayuran dan buah-buahan ditanam dengan baik di kebun itu. Seolah-olah tidak pernah ditinggalkan oleh penghuninya.
Candani Paramita dan Lintang Samudera menyusuri setiap bagian dari lembah. Di beberapa sudut lembah tampak beberapa pasang mata mengintai.
"Kakang nanti malam aku minta bantuan Kakang untuk melakukan sesuatu hal di lembah ini." Candani Paramita membuka pembicaraan.
Lintang Samudera mengangguk. "Tapi sebenarnya apa yang dicari di sini?"
Candani Paramita menatap Lintang Samudera dengan tajam.
Melihat tatapan tajam Candani, Lintang Samudera menggenggam erat tangan istrinya. "Belajar untuk mempercayaiku ya," ucapnya pelan sembari mencium kening istrinya.
Candani Paramita terdiam. Diajaknya suaminya ke mata air yang ada di lembah itu. Mereka pun duduk dengan santai di gugusan batu berlumut yang tersusun rapi di sekitar mata air itu. Lintang Samudera menarik kepala Candani ke pangkuannya.
"Sebagai seorang istri mulai sekarang kau harus belajar bermanja-manja dengan suamimu. Saat kita hanya berdua sepertinya tidak mengapa kalau kau menyandarkan dirimu padaku." Sapa Lintang Samudera pelan. Istrinya yang tidak pernah bergantung pada siapapun harus diajarinya untuk mempercayainya dan sedikit bermanja-manja. Sepertinya tidak seru jika istrinya terus-menerus memasang wajah berwibawa di hadapannya di setiap waktu dan di setiap saat
Candani merasa aneh tapi terasa hangat di hati. Bersandar dan bermanja-manja kepada suami. Suatu hal baru yang bisa dicoba.
"Sebenarnya guru Jagratara memberikan beberapa tugas kepadaku. Yang pertama Kakang bantu aku untuk mencari tiang-tiang penyangga dari lembah ini."
"Maksudmu?" Lintang Samudera menatap tajam istrinya meminta penjelasan.
__ADS_1
Candani mengangkat kepalanya dari pangkuan Lintang Samudera, tapi ditahan oleh laki-laki itu. "Sebenarnya lembah Chedana bukan berasal dari alam ini. Guru Jagratara bisa membawanya serta kemanapun pergi. Ada tiang-tiang penyangga yang seakan-akan menyangga lembah ini. Dan ada kuncinya juga. Aku mendapat tugas untuk memindahkan lembah ini ke lautan. Tiangnya ada lima dan kuncinya ada dua." Jelas Candani Paramita.
"Bagaimana lembah ini akan dipindah?" Lintang Samudera tidak habis pikir, ilmu apa saja yang dikuasai istrinya. Penasaran menggelayutinya. Memindah kursi atau bebatuan itu mudah, tapi memindah sebuah lembah?
"Nanti Kakang juga tahu. Tapi bantu aku dulu untuk menemukan tiang-tiang penyangga lembah ini." Candani tersenyum. "Aku mau mandi di telaga ini."
"Aku ikut mandi." Lintang Samudera menimpali. Dia pun langsung menerjunkan dirinya di telaga.
Sepasang suami istri ini saling melempar air, bermain-main menghilangkan penat karena perjalanan yang melelahkan. Telaga yang berada di bawah mata air terlihat sangat jernih. Lintang Samudera pun menyelam ke bawah telaga. Semakin dalam Tampak samar dilihatnya sesuatu seperti pembatas telaga. Sebuah tiang yang tampak sangat biasa. Tertutup oleh bebatuan dan pasir.
"Candani ikut aku menyelam ke bawah." Ditariknya istrinya untuk segera menyelam, dibawanya ke tempat tiang tadi berada.
Ya inilah salah satu tiangnya. Tampak seperti kayu biasa, bentuknya mengombak berlekuk lima. Di setiap bagian tiang itu diukir dengan ukir-ukiran yang sangat menarik.
"Ya Kakang tiang pertama sudah ditemukan."
"Kita apakan tiang itu, apakah dicabut?"
Lintang Samudera dan Candani Paramita kembali dengan membawa tiga ekor ayam liar yang kelihatannya sudah lama menjadi penghuni tempat itu. Untuk menghindari kecurigaan beberapa pasang mata yang memperhatikan dari luar lembah.
"Wah pengantin baru dari mana? Segar banget? Baru mandi bersama ya?"
"Nimas Ayu jangan meledek istriku. Lihat wajahnya sudah mulai malu bersemu merah. Makanya kamu cepat menikah biar bisa mandi bersama."
Nimas Ayu merengut dalam. "Kang Mbok lihat Kakang Lintang Samudera menggodaku?" rujuknya.
Candani mengusap lembut rambut Nimas Ayu Palupi. "Sudah ada calon apa belum?"
"Siapa yang mau dengan gadis seperti Nimas Ayu. Sukanya berkelana. Pangeran mana yang mau. Nanti diajak berkelahi lagi."
Nimas Ayu mengambil batu dan dilemparkannya ke arah Lintang Samudera. Kedua saudara seperguruan itu terlihat begitu akrab. Selayaknya kakak dan adik pada umumnya. Berbeda dengan Puteri Pambayun yang jelas-jelas kakak kandung Nimas Ayu Palupi, tapi tidak ada kedekatan sama sekali diantara mereka berdua.
__ADS_1
Baluh Jingga sibuk memasak ditemani oleh Apsara. Apsara sibuk merawat ayam hasil tangkapan Lintang Samudera. Sesekali Baluh Jingga mengusap perutnya yang sudah mulai membesar.
Makan pagi menuju siang dilalui dengan kebersamaan yang hangat. Ala kadarnya tapi nikmat.
Lintang Samudera meminta Apsara untuk menemaninya mencari kayu bakar. Apsara yang mengetahui ada maksud tersembunyi dari ajakan itu langsung pamit kepada istrinya. Candani Paramita pura-pura sibuk menghabiskan ayam bakarnya.
"Ada apa suami ratu?" ucapnya bingung. Panggilan seperti apa yang harus diberikan kepada suami ratunya ini. Suami ratu, yang mulia suami ratu, atau apalagi.
"Hahaha....," panggilan Apsara membuat Lintang Samudera tertawa lepas. "Panggil namaku saja, tidak usah memanggilku dengan panggilan aneh-aneh. Suami ratu," geli menggelitik dasar hati Lintang Samudera dengan panggilan itu
Apsara pun ikut tertawa lepas. "Baiklah. Kakang Lintang sepertinya ada hal yang harus dilakukan kita berdua."
"Betul sekali." Jawab Lintang Samudera sambil terus mengumpulkan ranting-ranting kering. "Di sekitar lembah ini ada beberapa pasang mata yang mengintai. Istriku memintaku untuk menemukan jejak mereka, bahkan kalau bisa menyingkirkan mereka tanpa harus membuat keributan."
"Kakang Lintang apa sebaiknya kita berpisah jalan?" tanya Apsara.
"Tidak usah. Yang mengintai keberadaan kita bukan makhluk sewajarnya. Jadi jangan berpisah," jawab Lintang Samudera.
"Apakah makhluk aneh itu yang mengacak-acak rumah Guru Jagratara. Tapi kenapa sekarang mereka tidak bisa memasuki lembah ini?" tanya Apsara.
"Sepertinya memang benar makhluk itu yang sudah berulah di lembah ini. Istriku sudah memasang perisai pancaka palastri karenanya mereka terlempar keluar."
Apsara memandang Lintang Samudera dengan terheran.
"Apsara kenapa kau memandang seperti sedang meledek? Apa masalahmu?" Lintang Samudera merasa tatapan Apsara tidak semestinya.
Apsara tersenyum. Sebenarnya ia selalu ingin memukul laki-laki yang sudah menjadi suami ratunya. Dan setiap Lintang Samudera menyebut ratunya dengan panggilan istriku hatinya menjadi panas. Ratunya seorang pemimpin kerajaan memiliki kekuasaan mutlak di Segaralaya, ratunya juga seorang panglima perang, tapi lihatlah laki-laki di hadapannya ini, begitu kurang ajar sudah berani memanggil Ratu yang menjadi junjungannya dengan sebutan istriku. Dan lagi kesaktian laki-laki ini berada sangat jauh di bawah ratunya. Apsara tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kakang Lintang, apa yang disukai ratuku darimu? Tampan bolehlah, bentuk badan lumayan, tapi kesaktian jauh di bawah." Apsara tetap berada dalam kebingungannya.
"Ratumu mencintaiku tentu ada sebabnya. Yang aku sendiri juga tidak tahu. Ratumu itu banyak menyimpan rahasia. Tapi yang utama dia menerimaku apa adanya dan sangat mencintaiku." Lintang Samudera tertawa bangga, membuat Apsara semakin ingin memukulnya. "Untuk kesaktian jangan kau meledekku Apsara. Kau juga hanya seorang senopati tingkat bawah dari pasukan telik sandi berani-beraninya menikahi putri dari kerajaan Segara Jingga. Jangan saling menghina apalagi menertawakan. Yang utama kita harus menerima takdir yang menimpa. Takdir dari orang yang tidak memiliki apa-apa." Lintang Samudera tertawa dengan keras, puas menghina Apsara. Dan Apsara tidak bisa berkutik, diam terpaku seperti semut yang terinjak.
__ADS_1