
Kini Raja Suteja Thani sedang berada di dalam bilik cinta sang selir. Selir yang mampu memuaskan hasrat birahinya. Santika Darliah.
"Darliah selama dua bulan lamanya kau menjalankan tugas dariku, apakah kau pernah selingkuh?"
'Kakang Suteja jaga bicaramu ya. Meskipun aku liar tapi ganti-ganti pasangan tanpa status yang jelas bukan kebiasaanku. Ayah berpesan sebagai perempuan harus pandai menjaga kehormatan."
Suteja Thani tertawa sekeras-kerasnya. "Sungguhkah? Melihat nafsumu yang begitu buas aku ragu."
"Apa peduliku, percaya tidak percaya bukan urusanku. Bawahanmu juga selalu memberikan laporan. Kau lebih tahu jawabannya," jawab Santika Darliah tidak perduli.
Suteja Thani kembali tertawa. Ya dia tahu meskipun Santika Darliah gila dan liar, tapi dia orang yang setia. Bergonta-ganti pasangan bukanlah bagian dari perilaku buruknya.
Nafas yang berat berhembus pelan di leher Darliah. Membangkitkan kembali hasrat yang telah tersalurkan. Bibir Suteja Thani mulai berselancar di bibir lalu berpindah ke leher, dilanjutkan dengan menciumi tulang selangka Santika Darlian. Di bagian dada wanita liar itu, Suteja Thani bermain-main meremas sambil berputar-putar di bagian puncaknya. Diselusupkannya dalam-dalam wajahnya di bagian itu, membuat Darliah mendesah. Entah sudah berapa kali mereka memuaskan diri dalam kamar ini. Jeritan dan desahan Santika Darliah memenuhi ruangan menembus batas-batas dinding. Membuat Darliah merengek-rengek ketagihan.
"Aku punya permohonan kepadamu?" ucap Suteja Thani di sela-sela permainan mereka, dengan tangan yang terus bekerja.
"Apa itu? Apakah kau akan menyuruhku pergi lagi?" jawab Santika Darliah dengan terus hanyut dalam permainan Suteja Thani.
"Aku ingin meminta bantuan kepada ayahmu untuk mengerahkan bangsa ular yang berada dalam kendalinya."
"Bantuan ayah."
Suteja Thani semakin mempercepat gerakannya, membuat wanita itu menjerit-jerit keras di puncak kepuasan.
"Bagaimana, bisa?" pinta Suteja Thani merayu tanpa melepas tubuhnya.
__ADS_1
"Apa hadiah untukku jika aku berhasil meminta persetujuan ayahku?"
"Bukankah kau mau jadi permaisuri, jadi patuhilah perintahku. Maka posisi permaisuri menjadi milikmu."
Dengan masih dalam kondisi bergetar Santika Darliah menyetujui permintaan Suteja Thani.
Tentu saja Santika Darliah tinggal merengek pada ayahnya, dengan mudah ayahnya akan mengabulkan. Hanya pasukan ular apa susahnya untuk ayahnya. Ratusan ribu ular dikorbankan juga tidak mengapa.
▪️▪️▪️▪️▪️
Saat malam tiba Santika Darliah mencari keberadaan Suteja Thani. Sesuai laporan bahwa Suteja Thani sedang berada di bilik selir barunya, seorang gadis muda cantik putri dari seorang Senopati.
Melihat Santika Darliah datang, para emban dan prajurit jaga berusaha mencegah saat dirinya memaksa masuk. Tapi apalah arti dari keberadaan mereka, sekali saja Santika Darliah mengibaskan tangan, mereka pun jatuh bergelimpangan.
Diterobosnya pintu bilik. Begitu melihat Suteja Thani yang sudah bertelanjang dada dan tengah menikmati tubuh selir barunya, dengan tanpa malu-malu didorongnya selir baru tersebut. Kemudian dengan manjanya dirinya duduk di pangkuan Suteja Thani sambil menjilati leher laki-laki itu dengan penuh hasrat.
"Kau sudah keterlaluan Darliah. Keluar dari bilik ini. Kembali ke bilikmu dan tunggu aku di sana," perintah Suteja Thani murka.
Santika Darliah membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan. Dia pun pergi dengan wajah kesal dan tidak perduli.
Setelah Darliah pergi, Suteja Thani langsung menarik kembali selir barunya yang bertubuh mungil dan cantik ke dalam pelukannya. Dinikmatinya setiap bagian tubuh selir barunya dengan nafsu yang membuncah. Sudah lama dia menginginkan tubuh gadis ini, tubuh gadis ini sangat indah di matanya, membuatnya kesulitan tidur saat berjumpa dengannya. Dan sekarang tubuh ini keindahan ini menjadi miliknya. Dengan rakus dimainkannya lidahnya di tubuh gadis itu, begitu bersih mulus dan penuh dengan getaran-getaran yang sangat diidam-idamkannya. Dinikmatinya tubuh gadis itu semalaman sehingga membuat dirinya terlelap dalam kepuasan.
Saat dini hari datang, Suteja Thani teringat dengan kemarahannya pada Santika Darliah. Dengan hanya memakai celana panjang dan bertelanjang dada dia berjalan tergesa ke bilik Darliah. Murka wanita liar ini sangat berbahaya bisa merusak semua rencananya.
"Di mana garwa selir Darliah?"
__ADS_1
"Ada di dalam Raja, sedang istirahat," jawab seorang emban sambil menundukkan pandangannya.
"Apakah dia tidak keluar lagi setelah menemuiku?"
"Tidak Raja. Selir Darliah tampak marah lalu berdiam diri di kamarnya hingga sekarang."
Suteja Thani pun kembali terlihat tenang. Dirinya pun kembali ke kamar selir barunya kembali. Besok pagi-pagi akan dikunjunginya Darliah untuk minta maaf dan meredakan kemarahan selir liarnya itu.
Dan saat pagi hari tiba. Suteja Thani dengan wajah tampannya memasuki kamar Darliah. Kosong. Tidak ada siapapun di kamar itu. Dicarinya ke kolam pemandian, tidak ada siapapun juga, hanya ada prajurit jaga yang sedang bertugas.
"Cepat cari Santika Darliah!" teriaknya kepada prajurit jaga.
"Bodoh kalian semua. Apa kerajaan membayar kalian untuk melaksanakan tugas kewajiban dengan seenak jidat kalian, dasar goblok," umpat Suteja Thani melepaskan murkanya.
Prajurit jaga yang bertugas pagi itu merasa mendapat sial, baru saja pergantian tugas dirinya sudah kena murka raja, dengan tergesa-gesa dia langsung melapor kepada atasannya. Dan terjadilah hiruk pikuk. Prajurit dikerahkan untuk mencari dan menemukan keberadaan selir liar ini. Suteja Thani keblingsatan sambil berteriak-teriak. Seharusnya ditinggalkannya selir barunya tadi malam. Urusan dengan selir barunya hanya urusan tubuh dan kepuasan ranjang, tapi dengan Santika Darliah menyangkut urusan kenegaraan. Menyangkut keberhasilannya untuk merebut tahta Kerajaan Laut Segaralaya. Dirinya dan segenap bala tentaranya tidak akan sanggup menghadapi orang-orang sakti yang menjadi anak buah Ratu Sanura, apalagi menghadapi Sanura, belum apa-apa pasukannya sudah pasti kalah. Hanya karena tubuh molek seorang gadis muda yang bisa didapatnya di banyak tempat, kenapa dirinya bisa melupakan tugasnya untuk terus memanjakan Santika Darliah, untuk bisa meminta bantuan kepada ayah wanita liar itu dengan senjata dan pasukan ularnya.
"Bodoh, sangat bodoh," umpat Suteja Thani mengutuk kebodohan dirinya sendiri. Karena kenikmatan sesaat bisa-bisanya dirinya melupakan urusan penting mengenai rencana makarnya.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Sebenarnya Santika Darliah hanya ingin berpamitan untuk menemui ayahnya. Dia tidak perduli dengan hubungan Suteja Thani dan selir-selirnya yang lain. Ada seribu selir pun dia tidak perduli. Selagi Suteja Thani menjadikan dirinya sebagai yang utama.
Karena perlakuan kasar yang diperolehnya, Darliah pun pergi dalam keadaan marah dan gusar, kemarahannya sampai di ubun-ubun. Dia pun meninggalkan kerajaan Segara Pitu dengan cara menyelinap, melewati penjagaan-penjagaan para prajurit. Para prajurit jaga dan emban tidak ada yang menyadari kepergiannya. Tinggallah Suteja Thani yang kelabakan mencari keberadaan Santika Darliah.
Darliah memacu kudanya dengan kencang. Dirinya mendapatkan mameling dari ayahnya ( pesan melalui kekuatan batin ), untuk segera kembali ke gunung Wadas Putih. Ayahnya mengatakan bahwa kelompok mereka di pegunungan Asmoro sudah diserang, dan menyuruh Santika Darliah untuk mencari tempat baru sebagai tempat untuk melakukan ritual penyembahan.
__ADS_1
🔸🔸🔸🔸🔸
Jangan lupa vote dan like nya ya. Dan ditunggu saran-sarannya. Makasih. Dan love you all.