CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
MUSTIKA PELINDUNG SEJATI


__ADS_3

Saat nyawa ular Buraksa telah tercabut dari jasadnya mustika pelindung sejati ular melayang-layang hendak memasuki raga pelindung sejati yang belum terlahir di dunia ini.


"Mustika pelindung sejati," tatap iblis Pratangga. "Mustika itu milikku," teriaknya keras.


Iblis Pratangga berlari-lari berusaha meraih mustika pelindung sejati yang berputar-putar mengelilingi Nimas Ayu Palupi. Dengan memiliki mustika pelindung sejati iblis Pratangga bisa terbebas dari kutukan khayangan, mengembalikan wujudnya yang tampan.


Mustika pelindung sejati melempar tubuh iblis Pratangga yang berusaha meraihnya dan berusaha melukai Nimas Ayu Palupi. Cahaya mustika pelindung sejati menyelimuti seluruh tubuh Nimas Ayu hingga akhirnya bersatu di dalam rahim gadis itu.


Iblis Pratangga menatap nanar masuknya mustika pelindung sejati ke dalam rahim Nimas Ayu Palupi.


"Kerajaan khayangan aku bersumpah akan aku hancurkan apapun yang kau lindungi!" Iblis Pratangga mengeluarkan sumpah serapahnya, suaranya menggema menerjang wilayah-wilayah kerajaan ular.


"Kakang Raja Muda Ular apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nimas kepada suaminya. Dirinya kebingungan kenapa mustika pelindung sejati ular memilih masuk ke dalam rahimnya.


Raja muda ular memeluk erat istri tercintanya, penyelamat bangsa ular. "Nimas di dalam rahimmu sedang tumbuh anak kita. Anak kembar. Sepasang ular jantan. Yang satu akan terlahir untuk menggantikan posisiku kelak sebagai raja, dan yang satunya menjadi posisi pelindung sejati ular menggantikan paman ular Buraksa," jelas raja muda ular sambil mendekap erat istrinya.


"Paman Buraksa, anak-anakku." Nimas Ayu mengelus rahimnya yang masih rata. Berusaha merasakan tumbuhnya keajaiban di diri anak-anaknya.


Raja muda ular mencium kening istrinya penuh cinta.


"Berikan mustika pelindung sejati padaku, cepat berikan!" teriak iblis Pratangga garang.


Nimas mengingsar tubuhnya, berlindung di balik tubuh suaminya.


Saat iblis Pratangga hendak kembali unjuk kesaktiannya, tiba-tiba terjadilah suatu hal luar biasa.

__ADS_1


Jasad ular Buraksa yang tiba-tiba menghilang dan berubah menjadi bentuk cahaya, menggetarkan keris Sarpa Hastha. Keris itu menggeliat berputar-putar terbawa cahaya ular Buraksa. Darah Buraksa yang dijadikan persembahan kepada keris itu telah menghancurkan alam Sarpa Hastha. Memusnahkan kekuatan yang tersimpan di dalam keris itu.


Alam Sarpa Hastha tergoncang hebat, satu persatu bagian alam Sarpa Hastha hancur berserakan. Pintunya terbuka lebar dan jiwa-jiwa yang terpenjara di dalamnya bersorak-sorai gembira, menggeliat dari dendam panjangnya. Saling berebut untuk keluar dari alam yang selama ini memenjarakannya dan menempuh perjalanan kembali ke alam kelanggengan.


Keris Sarpa Hastha berputar-putar di udara, bercahaya putih terang. Ujung keris itu mengarah ke langit melepaskan satu persatu jiwa-jiwa bangsa ular yang terjebak di dalam keris itu. Jiwa-jiwa yang terbebas itu melayang-layang di wilayah kerajaan ular, saling berbaris rapi memandang raja muda ular dan Nimas Ayu Palupi.


Jiwa raja ular tua memimpin jiwa-jiwa ular lainnya memberikan hormat kepada raja dan permaisuri ular. "Terima kasih putraku, terima kasih menantuku. Terima kasih sudah membebaskan kami. Jiwa-jiwa kami akan menuju alam kelanggengan, kembali kepada Sang Pencipta." Sebelum jiwa-jiwa itu pergi, jiwa-jiwa ular itu bertarung untuk kesekian kalinya. Mereka menghempaskan iblis Pratangga keluar dari wilayah kerajaan ular. Iblis-iblis kecil pun ikut terlempar mengikuti tuannya. Para pasukan ilmu hitam lari lintang pukang menyelamatkan diri. Berlari cepat keluar wilayah kerajaan ular.


Jiwa-jiwa ular yang terpenjara di keris Sarpa Hastha terbebas. Cahaya putih berputar-putar mengelilingi alam ular, berputar-putar memenuhi langit biru, yang dilanjutkan menuju alam kelanggengan. Tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi kemarahan, yang ada hanyalah suka cita.


Para ksatria ular dan rakyat ular memenuhi lapangan pertempuran, bukan untuk bertempur, tapi untuk melepas kepergian para jiwa-jiwa ular menuju alam kelanggengan.


Keris Sarpa Hastha terjatuh ke bumi. Kosong. Hanya tinggal onggokan batu meteor hitam berbentuk keris, kosong tidak ada penghuninya, tidak ada jiwanya.


"Darliah kenapa kau lakukan ini?" tanya Ki Estungkara tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan anaknya.


"Aku tidak ingin terus-menerus mengorbankan bayi-bayi ular dan menggunakan darah bayi-bayi ular itu untuk memandikan keris Sarpa Hastha, memenuhi rasa haus keris itu akan darah Tahukah ayah, ribuan bayi ular sudah aku cabut nyawanya. Apa salah mereka? Mereka layak hidup." Santika Darliah tertunduk, siap menerima hukuman dari ayahnya Ki Estungkara.


Santika Darliah duduk berlutut di depan ayahnya. "Ayah ampuni Darliah, meskipun hanya sekali, Darliah ingin berbuat kebaikan dalam kehidupan ku."


Ki Estungkara memejamkan matanya. "Mendiang ibumu seorang wanita baik-baik. Ayah menikahinya dengan cara baik-baik. Mungkin karena itu kau pun mewarisi kebaikan yang dimiliki ibumu. Ayah pun sangat mencintainya. Setelah ibumu meninggal, ayahmu ini menghibur diri dengan banyak wanita, tapi percayalah cinta ayah hanya untuk ibumu." Ki Estungkara memejamkan matanya mengingat sosok wanita cantik berbudi luhur yang bersedia menikah dengan laki-laki jahat bejat dan tidak punya hati seperti dirinya.


"Ayah," ucap Santika Darliah.


"Sudahlah anakku. Ayah bangga padamu. Kau bisa melakukan apa yang tidak bisa ayah lakukan."

__ADS_1


"Ayah tidak marah?" tanya Darliah ragu.


Ki Estungkara menggelengkan wajahnya. "Tidak, ayah tidak marah. Ayah bangga padamu, ibumu di alam sana pasti bahagia mempunyai seorang putri sepertimu. Jika ibumu masih hidup, kau pasti benar-benar menjadi wanita baik-baik seperti ibumu." Ki Estungkara membantu Santika Darliah berdiri. "Istriku aku rindu,"ucap Ki Estungkara di dalam hati.


Ki Estungkara berdiri dengan gagah di hadapan bangsa ular. "Raja muda ular dan semua rakyat ular. Hutang diantara kita sudah lunas. Mulai sekarang aku dan keturunan ku tidak memiliki dendam lagi dengan kalian, dan tidak berhutang apapun juga." Ki Estungkara pun berlalu pergi sembari menggandeng tangan Santika Darliah.


"Kakang Raja Muda Ular?" tangis Nimas Ayu pecah di dada laki-laki itu.


Raja muda ular mencium kepala istrinya berusaha menenangkan. "Sudahlah jangan bersedih, tidak baik untuk anak kita. Paman ular Buraksa tidak mati, sekarang dia ada di dalam rahimmu. Dia tidak pernah meninggalkanmu."


Nimas Ayu mengangguk sambil mengelus pelan perutnya.


Sarang-sarang ular porak poranda. Mayat-mayat ular berserakan dimana-mana. Para iblis anak buah iblis Pratangga yang mati berubah menjadi api dan menghilang dengan sendirinya.


Rakyat ular menguburkan ksatria-ksatria ular yang mati di medan laga. Meregang nyawa demi membela kehormatan bangsa ular. Mati meninggalkan nama yang harum.


Sisa-sisa kebakaran besar dibersihkan, saling bahu-membahu membangun kembali sarang-sarang ular yang ikut hancur karena dahsyatnya pertempuran.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Besok hari Senin, jangan lupa berikan vote dan like para readers semua untuk "Cinta Suci Ratu Samudera."


Berikan vote dan like para readers semua untuk novel ini.


Sukses selalu untuk semuanya. Love you my readers.

__ADS_1


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


__ADS_2