
Pinggala dan gadis Ramaniya diam tidak berkutik. Kedua tangan mereka terikat kencang, menjadi sandera.
Lintang Samudera berjalan mendekati Candani Paramita. Memeluknya dari belakang. Digandengnya tangan istrinya, dibawanya menuju gadis Ramaniya.
Gadis Ramaniya membuang pandang.
"Ramaniya, aku sudah menikah. Dan aku sangat mencintai istriku. Jangan lakukan hal seperti itu lagi. Pasti banyak laki-laki yang bersedia menemani hidupmu."
Mata gadis Ramaniya berkaca-kaca mendengar ucapan Lintang Samudera. "Tapi aku mencintaimu, Kakang? Aku sangat mencintaimu."
"Tapi aku sangat mencintai istriku. Jadi carilah laki-laki lain."
"Tapi waktu pertama kali melihatku, Kakang Lintang Samudera langsung terpesona melihat wajahku. Bahkan langsung berjalan mendekatiku," ucap gadis Ramaniya di sela tangisnya.
"Itu kesalahan ku. Dan karena hal itu, aku harus meminta pengampunan kepada istriku."
Lintang Samudera pun berlalu pergi. Meninggalkan sejuta luka di hati gadis Ramaniya.
🔸🔸🔸🔸🔸
Candani Paramita membersihkan dirinya di bawah kaki gunung buatan, yang merupakan batas aliran sungai. Sebenarnya bukan batas aliran, hanya saja aliran sungai di alihkan ke jalur aliran yang lebih kecil.
Lumpur tanah melekat di kulitnya, begitu kotor. Dibersihkan nya lumpur-lumpur yang melekat di badan. Perkelahian kali ini menjadikan dirinya mandi lumpur, dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Lintang Samudera mendekat. Diambilnya batu hitam yang sedang digunakan Candani Paramita untuk menggosok anggota badannya yang kotor terkena lumpur. Digosoknya tangan dan bagian tubuh istrinya yang kotor oleh lumpur. Sejak kesadarannya kembali, Candani sama sekali tidak menanyainya, memarahinya, atau sekedar tegur sapa.
"Maaf. Aku khilaf. Aku tidak mencintai siapapun selain dirimu," ucap Lintang Samudera penuh cinta. Diciumnya kening dan seluruh wajah istrinya. Diletakkannya kepala Candani Paramita di dadanya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menerima sebuah pengkhianatan, meskipun hanya sedikit. Kalau kecantikan yang berbeda membuat mu tunduk, apa yang kau sukai dariku hanya sebuah wajah. Saat ada wajah yang lebih cantik, hatimu pun akan berbalik ke wajah yang lebih cantik."
"Aku paham dengan marah dan cemburu mu. Aku mencintai semua yang ada di dirimu. Kedudukan mu yang berat sebagai seorang ratu. Tanggung jawab yang harus kau pikul sendiri. Maafkan aku," kembali Lintang Samudera menekuk wajahnya.
"Sihir perindu gadis Ramaniya sedari awal bisa kau hindari. Jika saja hatimu kukuh pada cinta yang ada, tidak akan sihir perindu menjeratmu. Hanya saja hatimu sudah terpukau pada pandangan pertama saat melihat gadis Ramaniya. Cinta apa yang hendak kau tunjukkan padaku."
"Maafkan aku, istriku! Aku salah. Aku berdosa Hukum aku semau mu, tapi jangan tinggalkan aku. Kau kurung aku di kerajaan lautmu juga tidak mengapa. Tapi jangan tinggalkan aku."
Lintang Samudera menggenggam kedua tangan istrinya. Diciumnya kedua tangan itu dengan penuh cinta dan penyesalan. Dipeluknya Candani Paramita dengan pelukan yang sangat erat.
"Aku ini seorang ratu. Dari awal Kakang sudah mengetahui kedudukan ku. Aku panutan bagi rakyatku. Jika suamiku seorang yang mudah goyah, siapa yang akan dijadikan panutan oleh rakyatku. Di hatiku yang utama adalah rakyat Segaralaya. Seorang laki-laki yang berkedudukan sebagai seorang raja pun merasa berat menanggung beban kerajaannya di pundak. Apalagi aku yang hanya seorang wanita. Aku selalu diam tidak pernah mengeluh. Karena bagiku menjadi ratu sebuah kerajaan bukan beban melainkan kewajiban."
Lintang Samudera semakin memeluk erat istrinya. Tugas istrinya memang sangat berat menjadi ratu dari sebuah negeri. Dari begitu banyak kerajaan, sebagian besar dipimpin oleh seorang raja, bahkan banyak raja yang memiliki banyak selir sebagai penghibur hati, sebagai obat lelah. Tapi istrinya, menjadi seorang ratu, pemimpin kerajaan, seorang wanita yang harus selalu menjaga kesucian, menjaga martabatnya, menjaga kesetiaan, tidak seperti seorang raja yang bisa mengambil selir dalam jumlah yang banyak. Tapi seorang ratu tidak mungkin melakukan hal itu. Martabat dan kesetiaan sebagai seorang ratu dan wanita sangat utama.
"Aku salah." Lintang Samudera memohon pengampunan dari istri tercintanya. "Dengan apalagi aku harus memohon?" ucapnya lirih.
"Cukup cintai aku, lihat aku, rindui aku, dan hanya memelukku," ucap Candani menenangkan kegundahan hati suaminya.
🔸🔸🔸🔸🔸
Pohon besar dan rimbun itu berdiri dengan kokoh. Tidak akan ada yang menyangka bahwa pohon itu merupakan jelmaan dari penunggu yang sekaligus pemilik tempat yang indah ini.
"Katakan apa yang sudah kau lakukan pada pemilik tempat ini?" tanya Candani Paramita.
Pinggala diam. Ditatapnya pohon besar yang ada di hadapannya. Dirinya yang sekarang menjadi seorang pesakitan, hanya bisa patuh dan tunduk.
"Tidak ada yang aku lakukan pada mereka pemilik tempat ini," jawab Pinggala.
__ADS_1
"Matamu tidak sama dengan mulutmu. Haruskah aku robek mulutmu baru kau bicara jujur? Apa kau menggunakan sihir pembalik mantra?" bentak Candani Paramita.
Pinggala tidak bisa menghindar lagi. Semua ia lakukan hanya sekedar untuk unjuk kekuatan.
Saat itu ia dan cucunya mendapat ijin dari penunggu tempat ini untuk tinggal sementara waktu. Dari awal niat hatinya memang busuk. Kebaikan dibalas dengan kejahatan. Pinggala meminta untuk diajari jurus berubah wujud, dengan alasan untuk melindungi diri. Karena kebaikan pemilik tempat itu, diapun diajari. Tapi saat sepasang suami istri pemilik tempat itu mengajarinya jurus ubah wujud, dengan liciknya Pinggala menggunakan sihir pembalik mantra dan sihir pengunci, sehingga sepasang suami istri itu terkena jurus mereka sendiri, dan terkunci.
"Lepaskan sihir pengunci yang kau gunakan kepada sepasang suami istri ini."
Dengan berat hati Pinggala mengeluarkan belatinya. Disayatnya telapak tangannya hingga mengeluarkan darah. Dibacanya bait-bait mantra lalu ditiupkan ke darahnya, dan diusapnya pohon besar itu dengan darahnya.
Asap putih mengepul tebal menyelimuti seluruh pohon besar. Dari balik asap tebal itu muncul sesosok manusia yang diikuti sosok yang lain.
Sepasang suami istri itu memandang Pinggala dan gadis Ramaniya dengan pandangan sayu. Merasa kasihan dengan orang-orang yang hanya mengutamakan nafsu keserakahan, merasa diri paling sakti dan paling kuat.
Mereka berpaling kepada Candani Paramita. Dan langsung memberi hormat.
"Ratu Samudera terimakasih atas segenap bantuannya. Terima kasih sudah menyelamatkan tempat ini." Sepasang suami istri itu menunduk dalam.
"Tuan dan Nyai sudah selayaknya untuk saling membantu. Sebelumnya aku perkenalkan teman-teman seperjalanan ku. Pemuda tampan yang berdiri di sampingku namanya Lintang Samudera, dia suamiku. Gadis muda di sebelahku ini bernama Nimas Ayu Palupi putri bungsu dari raja Citraloka, dan pemuda yang berdiri di sampingnya adalah raja muda ular dari kerajaan ular yang sekaligus suami Nimas Ayu," jelas Candani kepada sepasang suami istri pemilik tempat itu.
Lintang Samudera memeluk erat pinggang istrinya. Tidak peduli semua mata memandang. Dirinya tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.
"Ratu Samudera baiknya kita bicarakan segala sesuatunya di dalam pondok, agar lebih nyaman," pinta sang suami pemilik tempat itu.
"Lalu bagaimana dengan kakek dan cucunya ini?" tanya Candani.
"Biarkan mereka berada di sini. Hati-hati dengan mereka berdua. Mereka memiliki banyak tipu muslihat," jawab sang istri pemilik tempat indah ini.
__ADS_1
Sang istri pemilik tempat indah ini memandang gadis Ramaniya. "Ramaniya kau gadis yang cantik jelita. Jangan merusak rumah tangga orang. Cari laki-laki lain sebagai pendamping hidupmu. Kau tahu siapa dia? Dia seorang ratu besar dan kau hanya seorang gadis terdampar yang tidak punya apa-apa, yang kau punya hanya kelicikan dan keculasan."
Gadis Ramaniya menatap Candani Paramita dengan penuh kebencian. Kebencian yang membawa dirinya makin tenggelam pada jalan kegelapan.