CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
PRAHARA KERAJAAN ULAR


__ADS_3

"Paman Ular Buraksa!"


Seruan Nimas Ayu Palupi membuat Buraksa mundur beberapa langkah dari pertarungan dahsyat yang akan terjadi.


"Raja muda ular jaga Nimas Ayu. Jangan biarkan dia mendekat!" perintah ular Buraksa.


Pertempuran dahsyat pun segera terjadi. Ular Buraksa terbang meliuk-liuk di angkasa raya dengan gagahnya. Iblis Pratangga dengan sayap-sayap di kedua bahunya tidak kalah lincah. Seluruh tubuh iblis Pratangga mengeluarkan api panas menerjang perisai alam ular. Perisai itupun bergetar keras hancur berkeping-keping. Pecah porak-poranda.


Ki Estungkara dan pasukan para ilmu hitam menerjang masuk menyerbu. Para ksatria ular menyambut serangan itu dengan gagah perkasa. Menyambut kedahsyatan pukulan-pukulan dan benturan-benturan yang menyerang.


Api besar menyambar wilayah kerajaan ular. Api berkobar-kobar dengan luar biasa. Para rakyat ular ribut menyelamatkan diri ke tempat perlindungan yang sudah disiapkan.


"Ksatria ular lindungi permaisuri kerajaan ular Nimas Ayu Palupi!" teriak raja muda ular khawatir dengan keselamatan istrinya.


"Siap, Raja Muda Ular." Para ksatria ular berlari cepat melindungi permaisuri kerajaannya.


"Kakang Raja?" teriak Nimas Ayu.


"Aku tidak apa-apa. Cepat berlindung!"


Nimas Ayu tidak ingin menambah kekhawatiran suaminya. Diikutinya langkah para ksatria ular yang berkeliling melindunginya.


Raja muda ular dengan gagah menghadapi Ki Estungkara. Pecut Sahasra Agni menyambar-nyambar ke semua sisi. Setiap pecut itu disentakkan api besar keluar dari pecutan pecut itu. Raja muda ular menghadapi sentakan pecut itu dengan lincahnya. Pedang raja muda ular berhasil melilit pecut Sahasra Agni. Pedang yang dimiliki raja muda ular bukanlah pedang pada umumnya. Pedang yang dimilikinya merupakan pedang warisan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Pedang itu berkilauan membuat silau pandangan lawannya. Hawa panas menguasai kerajaan ular. Peluh raja muda ular mengalir deras.


Pelindung sejati ular Buraksa harus membagi dua kekuatannya. Di sisi lain iblis Pratangga terus menggempur, tapi di sisi lain dirinya harus menyemburkan air ke segenap wilayah kerajaan ular, agar api tidak memakan habis wilayah kerajaan ular.


Api bisa dipadamkan, tapi paku-paku terbang, bola-bola api yang melintas tidak bisa dihadang begitu saja. Batu-batu besar dan panas bergelimpangan di arena pertempuran.

__ADS_1


Perang brubuh tidak bisa dihindarkan lagi. Sebuah perang besar demi menyelamatkan kehormatan bangsa ular. Hidup atau mati.


Iblis Pratangga memanggil kawanannya. Iblis-iblis kecil dengan ilmu yang cukup tinggi berhamburan datang, bagaikan air bah yang menerjang dengan kekuatan yang sangat besar. Kesatria-ksatria ular tumbang satu persatu.


"Iblis Pratangga apa yang kau lakukan? Apa kau ingin menghabisi semua bangsa ular?" teriak Buraksa.


"Iya. Akan aku hancurkan semua kawula ular. Aku bunuh mereka semua. Demi dendam ku. Apa yang dijaga oleh kerajaan khayangan akan aku hancurkan semuanya sampai tidak ada sisa."


Kembali mereka bertarung di udara. Saat mereka turun ke tanah, semuanya menyingkir, menghindari kematian yang sia-sia karena terkena kibasan dua makhluk angker yang sedang bertempur tanpa ampun. Panasnya api memancar dari kedua makhluk itu. Sebelum diperintah, semuanya menyingkir secara teratur.


Ksatria-ksatria ular bertempur habis-habisan. Para iblis buangan yang berasal dari tempat pembuangan bayi-bayi iblis bertarung dengan penuh murka. Menjadi iblis yatim piatu yang ditinggal oleh orang tua iblis nya, menjadikan iblis-iblis itu patuh pada perintah iblis yang mengasuhnya. Mereka mengamuk dan menghancurkan apapun yang diperintahkan oleh yang mengasuhnya.


Di tengah-tengah pertempuran Santika Darliah muncul dengan membawa keris Sarpa Hastha. Dalam hidupnya yang penuh kehinaan, biarlah satu kali ini akan melakukan kebaikan. Demi baktinya kepada sang guru.


"Darliah untuk apa kesini?" tanya Estungkara do tengah-tengah perkelahiannya dengan raja muda ular.


"Pergi. Bawa keris Sarpa Hastha dari sini."


Santika Darliah tidak peduli dengan perintah ayahnya Ki Estungkara, dirinya hanya berjalan-jalan menyaksikan pertarungan hidup dan mati.


Ular Buraksa melihat kehadiran pembawa keris Sarpa Hastha. Rasa tenang menyergap dirinya. "Waktuku sudah tiba," ucap hati ular Buraksa sembari tersenyum.


"Buraksa saat-saat kematian mu sudah tiba, apa kau berubah menjadi gila?"


"Iblis Pratangga apa peduli mu, urus saja urusanmu. Untuk apa kau urusi urusanku. Perkelahian kita tidak mewajibkan kita untuk saling peduli dengan nyawa lawan. Terima serangan ku." Dari mulut ular Buraksa mengeluarkan air yang sangat deras. Mematikan api-api yang hasil pecutan pecut Sahasra Agni.


Iblis-iblis anak buah iblis Pratangga terlempar terkena semburan air ular Buraksa, mereka terlempar keluar dari wilayah kerajaan ular. Menggelepar mati terhantam semburan air yang sangat kuat.

__ADS_1


"Buraksa lawanmu aku, bukan iblis-iblis rendahan itu?" tantang iblis Pratangga.


"Iblis Pratangga semua yang berkeinginan menghancurkan bangsa ular, mereka semua musuhku. Termasuk iblis-iblis rendahan yang kau besarkan dan kau manfaatkan untuk menjalankan niat busukmu."


"Lawan aku." Iblis Pratangga menyerang ular Buraksa. Bulu-bulu tajam iblis Pratangga beterbangan menyerang ular Buraksa. Mulut ular Buraksa menyemburkan angin, bulu-bulu tajam itu dikembalikan kepada pemiliknya. Bulu-bulu itu sangat beracun. Seorang dukun yang dengan tidak sengaja terkena lemparan balik bulu tajam beracun langsung mati menggelepar. Tubuhnya menghitam seperti terbakar api yang sangat panas, matanya melotot tidak terima dengan takdir buruk yang menimpanya.


Saat iblis Pratangga menerima kembali bulu-bulu tajam beracunnya, Ular Buraksa langsung meninggalkan iblis Pratangga, terbang menuju Santika Darliah.


"Aku datang Santika Darliah," sapa ular Buraksa kepada Santika Darliah.


"Dan aku datang memenuhi takdirku. Datang memenuhi janjiku yang telah aku ucapkan di depan guruku," jawab Darliah.


"Raja muda ular panggil Nimas Ayu Palupi," perintah Buraksa kepada raja muda ular.


Raja muda ular tidak menjawab ular Buraksa. Dirinya sedang sibuk menghadapi Ki Estungkara yang bersenjatakan pecut Sahasra Agni.


Ular Buraksa menyemburkan air deras dari mulutnya ke arah Ki Estungkara. Ki Estungkara pun terpental jauh dan pingsan. Para pengikut Ki Estungkara menciut nyalinya melihat pemimpinnya terlempar jauh dan pingsan tidak sadarkan diri.


Raja muda ular bergegas membawa Nimas Ayu Palupi. Setelah kehadiran Nimas Ayu, ular Buraksa pun tersenyum. "Nimas aku titipkan perlindungan kerajaan ular kepada keturunan mu," ucap ular Buraksa. "Tugasku sudah usai."


Santika Darliah menikamkan keris Sarpa Hastha ke tubuh ular Buraksa. Ular Buraksa menjerit keras merasakan nyawa yang tercabut dari badan.


Nimas Ayu Palupi menjerit keras. "Paman Buraksa!" Ditangisinya ular Buraksa dengan air matanya. "Paman kenapa harus mati?"


"Tugasku sudah usai. Aku mati dengan terhormat. Membela dan menyelamatkan bangsa ular."


Yang dipegang Nimas Ayu tinggal jasad tidak bernyawa. Jasad itupun lama-kelamaan menghilang berubah menjadi kilauan yang kembali ke langit. Sebuah mustika berkilauan yang muncul dari tubuh ular Buraksa terbang menuju perut Nimas Ayu, masuk ke dalam rahimnya yang sudah berisikan anak kembar bayi ular.

__ADS_1


__ADS_2