CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
ULAR BURAKSA


__ADS_3

"Tolong, tolong, tolong!" suara keras memecah malam.


Semua yang sedang tertidur langsung terbangun. Waspada. Dengan keberadaan nyawa yang belum utuh terbangun, setiap orang menyiapkan diri dengan posisi senjata sudah digenggaman.


Seekor ular besar tampak menggeliat. Seekor ular raksasa, ular tua yang sudah berusia ratusan tahun. Tubuhnya ditumbuhi lumut dan warna kulitnya sudah kehilangan warna aslinya, sehingga tidak tampak lagi bentuk aslinya. Sehingga dikira akar pohon yang besar. Saat pengawal Nimas Ayu menancapkan belatinya ke akar tersebut, tiba-tiba terdengar desisan keras.


Candani Paramita dan Lintang Samudera tampil ke hadapan sang ular tua. Dengan sopan mereka berdua menyapa sang ular penunggu hutan.


Pembicaraan berlangsung diantara Candani dan sang ular, dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti siapapun kecuali Candani sendiri.


Candani berdiri hormat," Tuan ular" sapanya.


Tuan ular mendesis keras, tubuhnya meliuk berkeliling. "Bagaimana kalian bisa masuk ke dalam hutan yang tersembunyi ini?" ucap sang ular marah.


"Sebelumnya perkenalkan namaku Candani Paramita, murid guru Jagratara."


"Kau murid Jagratara. Kau apakan lembah yang menjadi pelindung hutan tua ini?"


"Atas perintah Guru Jagratara, aku pindahkan lembah Chedana ke tempat lain," jawab Candani.


"Kau tahu apa akibatnya karena sudah berani mengambil selubung hutan tua ini?" Sang ular bicara dengan suara keras. Terlihat dari dengungan desisan yang semakin tinggi.


"Hutan ini menyimpan banyak rahasia, dan misteri yang tidak boleh diungkap. Banyak hewan-hewan yang berusia ratusan tahun yang bertapa di sini. Menjadi penjaga atas kelangsungan kehidupan. Kenapa Jagratara berani menyalahi perjanjian?"


Ular tua itu sangat murka. Suaranya menggelegar membangun malam. Hewan-hewan kecil lari terbirit-birit. Pepohonan menundukkan diri, bunga-bunga yang mekar langsung kuncup.


Terdengar langkah-langkah berat mendekat. Satu persatu muncul hewan-hewan penunggu hutan lainnya.


"Kenapa ramai sekali di sini ular Buraksa?" tanya seekor rajawali yang cukup besar. "Kali ini siapa yang membuatmu marah besar?"

__ADS_1


"Jagratara seenaknya saja menyuruh anak ingusan ini memindah lembah pelindung hutan ini," geram ular Buraksa dengan kemarahannya.


"Siapa yang memanggil anakku masih ingusan?" Sepasang ular jantan dan betina masing-masing mendekat ke sisi kanan dan kiri Candani Paramita.


"Ayah harimau, ibu harimau," panggil Candani riang.


"Harimau betina, apakah Ini bayi kecil yang dulu menyusu padamu?" tanya rajawali.


"Iya ini anakku. Hebat bukan? Lembah Chedana yang sangat besar bisa dipindahkan," ucap harimau betina bangga.


"Sekarang katakan padaku, apa tujuan Jagratara membuka tabir hutan ini?" tanya ular Buraksa.


"Bangsamu bangsa ular menemui guruku, meminta bantuan untuk menyelamatkan kaum ular. Bangsa ular sudah lama sekarat diperbudak Mpu Adhigana dan keturunannya.," jelas Candani.


"Tidak mungkin. Bangsa ular merupakan bangsa yang kuat dan mumpuni, anak keturunannya pun banyak, tidak mungkin bisa sembarangan diperbudak. Jangan bicara seenaknya bocah ingusan!"


"Kemana saja kau selama ini. Apakah pekerjaanmu hanya bertapa dan lupa dengan tugasmu, sampai guru Jagratara yang harus turun tangan membantu," ucap lantang Candani.


Ular Buraksa berteriak mengeluarkan suaranya yang menggelegar. "Dasar bocah ingusan, jaga perkataan mu. Beraninya meragukan posisiku," jawab ular Buraksa marah. "Aku bertapa demi kedamaian bangsa ular."


"Bukan demi kedamaian bangsa ular tapi demi kedamaian mu sendiri," bentak Candani Paramita sangat berani. "Kau ular Buraksa menghabiskan waktu untuk ketenangan batinmu, untuk mempertinggi kesaktianmu, tapi tidak kau pikirkan keselamatan bangsa ular. Sesakti apa kau ular Buraksa?"


"Anak ingusan berani-beraninya kau menantangku!" Ular Buraksa berteriak keras, mulutnya terbuka mengeluarkan semburan api panas.


Candani Paramita tidak membiarkan dirinya dan teman-temannya terbakar. Dikeluarkannya selendang Baruna, saat api menyentuh selendang Baruna api pun langsung padam.


"Selendang Baruna, apakah kau seorang penguasa laut, hanya penguasa lautan yang mampu memiliki dan mengendalikan selendang baruna." Ular Buraksa mengitari Candani. Badannya berdiri tegak, matanya membesar menatap lawannya, misainya bergerak terbawa angin.


Ular Buraksa menatap Candani tajam. "Jika bukan sepasang harimau tua itu, sudah aku jajal ilmumu."

__ADS_1


"Cobalah, lawan anak angkatku. Tapi ingat jangan main api di sini, jangan sampai hutan ini murka dan langsung menghabisimu." Sepasang harimau menyisihkan diri.


Sikap pongah ular Buraksa muncul kembali. Sikap pongah dan kesombongan yang sangat tinggi, yang membuatnya menghabiskan ratusan tahun untuk meredam keburukannya itu.


Ular Buraksa terbang tinggi mengelilingi angkasa yang luas. Tubuhnya meliuk-liuk seperti seorang penari sedang menarikan tarian angkasa. Gerakan tarian ular Buraksa semakin cepat, tubuhnya bersinar diselubungi api, dan dengan tiba-tiba turun menukik sangat cepat menerjang Candani.


"Dasar gila." Sang Rajawali mengumpati temannya yang mesti sudah bertapa bertahun-tahun tapi belum mampu menghilangkan penyakit pongah dan sombongnya.


🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸


Perkelahian sengit tidak bisa dihindari. Tubuh ular buraksa meliuk-liuk menerjang Candani Paramita. Hawa panas mulai menguasai hutan. Api yang menyelimuti ular Buraksa bukanlah sembarangan api. Api ini mampu membakar satu wilayah yang cukup besar.


Candani Paramita tidak gentar, dengan tenang ia melawan kepongahan ular Buraksa. Selendang Baruna terus berputar ke berbagai sisi. Melindungi hutan dan penghuninya dari keganasan api ular Buraksa.


"Hai ular sombong, pantas bangsamu diperbudak orang, kau ini sudah tua ditambah gila, karena kepongahanmu kau lupa kewajiban." Ejek Candani memanas-manasi lawannya di sela-sela perkelahian.


"Tidak mungkin bangsa ular diperbudak. Jaga mulutmu bocah ingusan. Kalau kau takut melawanku mundur dan mengaku kalah," jawab ular Buraksa pongah.


"Kalah, mundur, maaf ular tua, kalah dan mundur bukanlah sifatku. Kalau kau biasa untuk kalah dan mundur bersembunyi, aku persilahkan."


"Hei makin lama mulutmu makin tajam, aku bakar lautan yang berada di bawah kekuasaanmu," tantang ular Buraksa di tengah perkelahian.


"Jangan sombong ular tua. Menjaga bangsa ular yang menjadi tugas dan tanggung jawabku, kau pun tidak mampu, jangan mimpi untuk mengalahkan ku," jawab Candani lantang.


Candani sudah malas meladeni permainan api dan permainan udara si ular tua. Ular Buraksa mukanya menjadi merah padam, kemarahan dan harga diri yang tinggi menyerang dirinya, membuatnya kehilangan pengamatan.


Sedikit waktu yang ada sangat berharga. Saat ular buraksa lengah, Candani Paramita langsung melingkarkan selendang baruna ke misai si ular tua, dan mengikatnya melingkar ke leher ular tersebut. Candani menjadikan ular buraksa layaknya tunggangan.


"Tidak menurut mati, menurut jadi tunggangan malunya setengah mati." Itulah kondisi Ular Buraksa. Misai Ular Buraksa tertarik keras ke belakang, menimbulkan rasa sakit luar biasa, jeritan menyayat keluar dibarengi api besar tersembur ke awang-awang dari mulut ular buraksa. Ular Buraksa menggeliat liar, semakin kuat gerakannya semakin kuat Misai dan lehernya tertarik selendang Baruna.

__ADS_1


__ADS_2