
Sepasang harimau penunggu hutan mengaum keras, suaranya menggema memenuhi seluruh penjuru hutan. Sang raja dan ratu hutan menunjukkan kekuasaannya, siapa berani mengganggu ketentraman hutan, berarti harus berani berhadapan dengan mereka berdua.
"Bagus anakku Sanura," puji sepasang harimau yang merupakan raja dan ratu penguasa hutan kuno.
"Kau ular tua, ratusan tahun bertapa hasilnya tidak ada. Sikap pongah dan kesombonganmu terus kau pelihara, mendarah daging dengan tubuhmu," ucap raja hutan.
Burung rajawali tersenyum nyinyir, menyaksikan Ular Buraksa terkapar dalam lilitan selendang Baruna.
"Nura sekalian kau penggal saja ular tua yang pongah ini. Sudah tua bangka masih kebanyakan tingkah. Tidak usah pamer kesaktian di hutan ini. Ular Buraksa kalau sekedar terbang, bangsa burung juga mampu terbang. Kalau mengeluarkan api, lihat gunung berapi kalau sudah marah semua dihancurkan. Jangan memamerkan sesuatu yang sudah menjadi milik alami makhluk hidup lain ," ucap burung rajawali.
Ular Buraksa terkulai lemah, tidak perduli.
"Dasar ular tua," umpat Candani.
"Nura jaga lidahmu. Walau bagaimanapun ular buraksa pelindung sejati bangsa ular, tunjukkan sopan santun mu. Bukan tempatmu untuk bicara seenaknya," burung rajawali menegur dengan keras.
Candani mengangguk dan meminta maaf kepada Ular Buraksa dan terutama kepada sepasang harimau penguasa hutan tua yang kuno ini. Sepasang raja dan ratu hutan kembali mengaum keras menunjukkan kekuasaannya.
"Paman Ular Buraksa, bangsa ular membutuhkan pertolonganmu, jangan hanya diam di sini lari dari tanggung jawab."
__ADS_1
Ular Buraksa menitikkan air mata. Ulu hatinya terasa nyeri. "Aku adalah pelindung sejati bagi semua ular, aku mewarisi posisi itu bukan karena aku mampu, tapi semata-mata mewarisi dari ayah ular. Bangsa ular tidak mau memiliki pelindung sejati yang lemah sepertiku, mereka terus menerus menghina karena ilmuku yang tidak seberapa ," Ular Buraksa menangis pelan.
Ular Buraksa melanjutkan kisahnya. "Akhirnya aku berguru untuk menambah kesaktian agar layak menjadi sebagai pelindung sejati bangsa ular. Tapi setelah kesaktianku makin tinggi dan mumpuni, tumbuh penyakit baru dalam hatiku, penyakit pongah dan sombong. Ular yang pernah menghinaku, aku bunuh satu persatu, aku habisi nyawa mereka. Posisiku sebagai pelindung ular berganti menjadi malaikat pencabut nyawa bagi yang seharusnya berada di bawah perlindunganku. Dari perkelahian satu ke perkelahian yang lain, sampai akhirnya begitu banyak ular yang mati oleh tanganku, baik itu tua ataupun muda, baik itu memiliki ilmu kanuragan atau tidak, aku bunuh semua yang pernah menghinaku. Aku lampiaskan rasa dendam yang ada. Akhirnya julukanku berubah menjadi pembunuh ular. Lama-kelamaan semua ular dari semua alam yang ada di semesta ini, semua menjauhiku. Semua ketakutan kepadaku. Saat melihatku bagi mereka seperti melihat dewa kematian. Hal itu membuatku murka. Dan puncaknya, suatu hari di suatu waktu seperti biasanya dilakukan tiap tahun diadakan upacara penghormatan kepada semua pelindung sejati ular yang telah tiada, semua bangsa ular dari berbagai alam bersujud syukur kepada Sang Pencipta, dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada semua pelindung ular yang telah tiada sambil berurai air mata. Semua bangsa ular berdoa bersama, menangis bersama. Dan aku, tidak ada satupun yang perduli, tidak ada yang mengundangku untuk menghadiri upacara sakral bangsa ular. Karena sakit hati, murka, dan kesombongan yang luar biasa tinggi, aku sangat marah, merasa terhina, dan puncak kebengisanku aku bunuh semua ular yang datang ke upacara tersebut. Mayat-mayat ular berserakan. Bahkan yang masih bayi dan masih dalam kandungan, semua aku bunuh. Tubuhku berlumuran darah bangsaku sendiri."
Semua terdiam terpaku mendengarkan kisah Ular Buraksa.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Candani karena Ular Buraksa terdiam lama.
Ular Buraksa menarik napas panjang, melanjutkan cerita yang tersimpan dalam kenangan. "Setelah aku melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap bangsa ular, ruh ayah ular yang telah tiada datang menjumpaiku di alam mimpi. Ayah ular menangis tersedu-sedu, seluruh tubuhnya bersimbah darah ular-ular yang sudah aku bunuh. Ayah ular berkata kepadaku "pergilah tinggalkan bangsa ular, jangan pernah kembali kecuali seluruh ular dari berbagai alam bersedia memaafkanmu, maka barulah kau bisa kembali." Bekas-bekas pembunuhan yang aku lakukan masih ada, tidak ada yang berani membersihkan karena takut nyawanya ikut tercabut. Bangkai ular berserakan di mana-mana, ular-ular kecil menangisi orang tuanya yang sudah aku bunuh. Bau anyir darah menguasai udara. Akhirnya aku bersimpuh di bawah papan-papan nama semua pelindung sejati ular yang telah tiada. Aku menangis keras. Hatiku sangat sakit melihat anak-anak dan bayi-bayi ular menangis pilu. Jantungku rasanya terkoyak. Ular-ular itu mati oleh kesombongan yang menguasai ku. Semua mati tanpa melakukan kesalahan apapun. Dalam kesedihanku, ruh-ruh para pelindung sejati ular menerjangku, melemparkan ku keluar dari bangsa ular. Akhirnya dalam perjalananku yang panjang, aku memasuki hutan ini dan bertemu dengan seseorang yang mengajariku ilmu budi. Dalam rasa sesal yang menghentak-hentak diri, aku putuskan untuk bertapa, sebagai perwujudan pertaubatanku, dan upayaku untuk menguasai nafsu kesombonganku."
Suasana hening. Sepasang harimau penguasa hutan bahkan duduk dengan khidmatnya.
"Seharusnya dahulu ketika kesaktianku sudah mumpuni, aku melindungi bangsa ular tanpa mengharap penghormatan. Kebaikan belum aku tanam, tapi aku sudah gila dengan puja dan puji. Dan sekarang kau gadis muda, menyuruhku menolong kaumku, apakah aku mampu, apakah aku layak?" Ular Buraksa menangis histeris.
Ular Buraksa melingkarkan badannya. Dan membiarkan anggota tubuhnya menjadi tempat duduk Candani Paramita.
Sepasang harimau penguasa hutan dan rajawali mengajak Ular Buraksa berbicara. Mereka berempat menepi. Ular Buraksa tampak mendengarkan.
"Jelaskan padaku keadaan kaum ular saat ini!" pinta Ular Buraksa.
Candani pun menceritakan keadaan bangsa ular kepada Ular Buraksa. Tentang perbudakan yang dialami bangsa ular, tentang jiwa-jiwa ular yang harus mendendam karena diikat di dalam keris Sarpa Hastha.
__ADS_1
Ular Buraksa menyimak dengan hati geram. Karena dirinya yang pendek pikiran menjadikan bangsa ular sangat menderita. Dibunuh diperbudak, diperlakukan semena-mena. Harga nyawa berpuluh-puluh ribu ular hanya berharga sebuah permainan " menang atau kalah ".
Ular Buraksa menyendiri. Hanyut dalam duka. Hatinya nelangsa meratapi segala yang telah lalu. Seandainya, jika. Muncullah rasa penyesalan yang tiada guna.
"Paman Ular Buraksa belum terlambat untuk memperbaiki diri. Seluruh ular dari berbagai alam menanti pelindung sejatinya. Menanti kehadiran paman ular di sana." Candani berbicara pelan.
Ular Buraksa diam terpaku. Pandangannya sayu. Sebuah pengampunan untuknya sangat dinantikan dari segenap bangsa ular. Dirinya adalah pelindung sejati ular. Tapi lihatlah, seorang pelindung sejati yang lepas tanggung jawab, menjadikan segenap berbagai kaum ular hidup terhina dalam perbudakan. Bahkan sampai matinya masih tetap menjadi budak kekuasaan manusia serakah.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Teman-teman Candani Paramita terdiam, kebingungan. Lintang Samudera mendesah pelan. Merasakan betapa rendahnya ilmu yang dimilikinya. Masing-masing terpekur dengan perubahan keadaan.
Malam berlalu digantikan pagi hari. Embun masih menetes menjadi obat bagi berbagai penyakit. Para penghuni hutan mengintip melalui sela-sela pepohonan. Berjalan pelan takut membuat marah sang pertapa ular.
ππππππππππ
Terima kasih semua yang sudah membaca karya pertamaku ini. Jangan lupa berikan like dan vote nya, dan jangan lupa sertakan ke favorit readers semua yaπππ. Dikasih poin dan koin, mauuuuuuu bangggeeetttttt.
Agak lambat up nya. Maklum setelah libur lebaran kerjaan menumpuk, harus mengurusi banyak permintaan, surat jalan dll. Curcol dikit.
__ADS_1
Makasih semuanya ya. Semoga semua readers ku senantiasa dalam keadaan sehat wal Afiat. Amin