CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
LINTANG SAMUDERA


__ADS_3

Sudah sepuluh hari Lintang Samudera duduk bersemedi di pinggir sungai. Mengheningkan diri memasuki alam keheningan. Hujan deras yang mengguyur mayapada tidak mempengaruhi semedinya, Lintang Samudera telah larut ke kedalaman alam keheningan.


Di sore hari ini di hari keempat belas dari semedinya, Lintang Samudera membuka mata sebagai pertanda bahwa tapa brata yang dilakukan di pinggir sungai itu telah selesai.


Hal yang pertama kali dilihat dari kejauhan tampak dalam penglihatannya sebuah rakit pohon pisang mengambang bahkan disertai dengan tangisan anak bayi. Diapun berlari mendekati rakit pohon pisang itu. Tampak olehnya seorang wanita terbaring tidak berdaya di atas rakit dengan anak bayi terikat dengan selendang di atas tubuh wanita itu. Dia mempertajam pandangannya.


"Sanura," jeritnya. "Sanura, Nura, kau, kenapa ini?" Lintang Samudera merasakan panik yang luar biasa.


Diapun menerjunkan diri ke dalam derasnya arus sungai. Dibawanya rakit pohon pisang menepi dan ditariknya ke bibir sungai.


"Ini, ini apa yang terjadi. Luka tusukan, darah, siapa yang sudah melukaimu?" Tidak ada yang menjawab pertanyaan. Hanya suara aliran sungai yang terdengar.


Diangkatnya tubuh Candani beserta bayi yang masih terikat di tubuhnya. Lintang Samudera berlari dengan begitu cepat menuju ke desa terdekat. Ditembusnya hutan kecil yang ada.


"Bertahanlah Nura, bertahanlah," ucapnya dengan penuh kepanikan."Bertahanlah, aku akan menyelamatkanmu."


Bibir hutan di depan mata. Tampak pemburu sedang membidik mangsanya.


"Bapak, Bapak tolonglah aku, tolong," ucap Lintang Samudera memelas penuh pengharapan.


"Anak muda ada apa gerangan, dan kenapa gadis ini?" tanya pemburu itu.

__ADS_1


"Gadis ini aku menemukannya terbawa arus sungai beserta dengan bayi ini. Tolonglah Bapak, kumohon."


"Tenang anak muda, jangan panik. Aku akan menolong sebisaku. Sebaiknya kita bawa ke rumah Ki Danasura untuk diobati. Meskipun ilmu pengobatan Ki Danasura tidak sempurna tapi yang utama sudah berikhtiar."


Tidak berapa jauh dari hutan ada sebuah desa. Desa Kali Ranti.


" Anak muda apa tidak sebaiknya bayinya dilepaskan dulu dari ikatan."


"Baik Bapak." Lintang Samudera menjawab dengan kondisi linglung.


Si pemburu memahami keadaan. Dengan pelan dilepaskannya ikatan selendang. Dan bayi itu langsung digendongnya.


"Bayi yang lucu. Kasihan sekali. Ikut sama bapak ya."


"Ki Danasura tolonglah gadis muda ini. Dia terbawa arus sungai beserta bayi ini. Entah sudah berapa hari mereka mengambang di sungai."


"Wirasena masuklah. Ada apa ini?" tanya Ki Danasura.


Saat melihat kondisi lemah Candani, Ki Danasura langsung terburu-buru, tidak jadi melanjutkan pertanyaannya."Lekas, lekaslah baringkan gadis ini di dipan. Dan bayinya serahkan ke istriku. Untuk bayi ini sementara biar istriku yang mengurusnya."


"Nyai, Nyai. Tolong kesini. Bayinya kau gendong lagi Wirasena. Nyai tolong bantu ganti baju gadis ini. Dan kau Wirasena mintakan baju kering ke rumah Baswara. Pinjam baju bayi dua atau tiga untuk bayi ini."

__ADS_1


Wirasena masih diam mematung sambil menggendong bayi.


"Lekaslah pergi! Bayinya sudah kedinginan." Ki Danasura mengingatkan tidak sabar.


"Baik Ki."


"Nyai mana? Lekaslah! Nini muda ini sudah kedinginan," perintah Ki Danasura tidak sabar.


Nyi Danasura dengan cekatan langsung menutupi tubuh Candani Paramita dengan salah satu kain jarik miliknya. Dengan perlahan dilepaskannya seluruh pakaian gadis itu. Lalu dikenakannya pakaian kering sebagai pengganti pakaian yang basah tadi.


Ki Danasura dan Lintang Samudera menunggu di luar bilik. Wajah Ki Danasura terlihat tenang meskipun sebenarnya di dalam hati sangat khawatir. Sesudah Candani berpakaian lengkap, Ki Danasura masuk ke bilik kembali.


"Nyai tolong ke rumah Baswara. Sampaikan ke Baswara kalau aku Ki Danasura minta tolong untuk sementara bayi yang dibawa Wirasena untuk tinggal di sana. Dan sampaikan juga minta tolong ke istri Baswara untuk bersedia menyusui bayi itu. Lekaslah Nyai."


Nyai Danasura bergegas ke rumah Baswara. Dia sudah paham pastilah pasien yang datang memiliki sakit yang tidak biasa, menilik dari keseriusan Ki Danasura.


"Anak muda siapa namamu?" tanya Ki Danasura untuk mengalihkan kebingungan anak muda yang ada di hadapannya ini.


"Namaku Lintang Samudera."


"Aku minta tolong pergilah ke dapur untuk memasak air. Nanti saat istriku datang serahkan tugas itu ke istriku. Lekaslah Nak Lintang."

__ADS_1


Suasana desa Kali Ranti mulai sepi. Hanya beberapa orang tampak duduk-duduk di depan rumahnya. Cahaya bulan tertutup awan gelap. Rintik hujan mulai turun kembali. Langit perlahan-lahan kembali mencurahkan airnya ke muka bumi.


__ADS_2