
Ular Buraksa mengangkat kepalanya, menatap lepas ke barisan udara, yang tak tampak tapi ada. Seharian ini dia bermain-main dengan Baluh Jingga dan Nimas Ayu Palupi. Dua gadis beda wilayah itu dengan seenaknya mempermainkan anggota tubuhnya.
Nimas Ayu dengan gaya sembrononya melingkarkan rangkaian bunga dan daun liar ke tubuhnya, menjadikan dirinya seekor peri ular tampan. Bukan hanya itu, gadis sembrono ini dengan kurang ajarnya mengikat misainya membentuk pita.
Baluh Jingga meskipun manja tapi lebih keibuan, tidak seperti Nimas Ayu si gadis sembrono. Baluh dengan cekatan memandikan anggota tubuh Ular Buraksa, menggosoknya, berusaha keras membersihkan daki dan kotoran tanah yang sudah ratusan tahun melekat. Hampir saja Baluh Jingga pingsan. Bayangkan, membersihkan kotoran di tubuh seekor ular yang berukuran sangat besar. Dipetiknya bunga-bunga liar yang wangi, lalu dimasukkan ke dalam air, dan diguyurnya tubuh Ular Buraksa dengan air bunga itu. Sebagai imbalannya dua gadis itu minta diajak terbang kembali untuk menjerit-jerit ketakutan.
Ular Buraksa kembali meliuk-liuk di udara. Dengan rangkaian bunga di sepanjang tubuhnya yang berjuntai-juntai terbawa angin, dengan misai yang dijalin membentuk pita, sangat mirip dengan ular pemain akrobat. Para hewan penghuni hutan dibuat terkejut dengan dandanannya. Kawanan kera dengan kurang ajarnya tertawa terpingkal-pingkal sambil berguling-guling di tanah, puas menghina tanpa harus mencaci. Dan sekawanan banteng sampai harus berlarian takut kehilangan tontonan yang berharga, dan ayam hutan dengan tidak sopan berkokok memenuhi seantero hutan membuat kebisingan dengan suaranya menertawakan dandanan ular buraksa.
Wajah kedua gadis itu berbinar, puas berteriak-teriak di udara. Saat sudah mendarat, mereka sempoyongan, dan menjatuhkan diri di tubuh Ular Buraksa.
Ular Buraksa menikmati hari dengan riang. Kebahagiaan seperti itu sudah lama berlalu semenjak dirinya menjadi pelindung sejati ular dan melarikan diri dari tanggung jawab. Nimas Ayu meskipun sembrono tapi sangat menyenangkan. Seorang gadis riang yang berlaku seenaknya sendiri. Dan Baluh Jingga sangat manja dan perhatian, minta dielus-elus perut gendutnya, menjadikan kepala Ular Buraksa sebagai bantal, dan menangis keras jika kemauannya tidak dituruti.
"Indah sekali," gumam Ular Buraksa. Seandainya sekarang dirinya berkumpul dengan kaumnya sesama ular tentu akan lebih menyenangkan. Mengingat hal itu wajahnya pun menjadi sayu kembali.
Sepasang harimau penguasa hutan, burung rajawali, dan hewan-hewan lain yang menjadi pertapa dan penjaga hutan, menasehatinya untuk kembali ke kaumnya, bangsa ular. Sepertinya dirinya akan merepotkan Ratu Muda Sanura atau Candani Paramita.
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
Sepasang harimau penguasa hutan mengajak Candani Paramita dan Lintang Samudera bicara empat mata.
__ADS_1
"Anak angkatku Ratu Laut muda, apakah kau sudah menerima wasiat dari gurumu?" tanya Raja Harimau.
"Sudah ayah harimau," jawab Sanura atau Candani Paramita.
"Nah karena kau sudah menerima wasiat Guru Jagratara, sekarang sudah waktunya kau bawa Ular Buraksa kembali ke bangsa ular. Bawalah serta suamimu Lintang Samudera. Dan jangan lupa, kau bawa serta si gadis sembrono Nimas Ayu Palupi, puteri bungsu Raja Citraloka. Bukankah gurumu menyuruhmu untuk membawa gadis sembrono itu untuk ikut serta," ucap raja harimau.
"Baik ayah dan ibu harimau. Ananda akan menjalankan amanat dari Guru Jagratara, serta perintah ayah dan ibu harimau," jawab Candani dengan penuh hormat. "Untuk Baluh Jingga dan Apsara, serta pengawal Nimas Ayu, Ananda titipkan di hutan kuno ini, atau harus ananda bawa serta?"
"Untuk Baluh Jingga dan Apsara, biarkan mereka berdua kembali ke Kerajaan Segara Madya untuk menyusun rencana pertahanan. Kerajaan Laut Segaralaya sebentar lagi akan mengalami serangan besar-besaran dari Kerajaan Segara Pitu. Banyak penjahat, dukun-dukun, serta pasukan gabungan dari kerajaan daratan Abyudaya dan kerajaan kecil lain yang bergabung. Setelah mengantar Ular Buraksa, kau kembalilah ke kerajaanmu, jangan terlalu lama meninggalkan kerajaanmu, rakyatmu membutuhkanmu." Setelah mengatakan hal tersebut, raja harimau mengaum keras, memberi tanda kepada seluruh penghuni wilayah hutan kuno untuk waspada.
🔸🔸🔸🔸🔸
Perjalanan dimulai.
Candani Paramita, Lintang Samudera, dan Nimas Ayu, berangkat ke kerajaan ular dengan menaiki Ular Buraksa. Mereka terbang tinggi di angkasa. Bertegur sapa dengan aneka burung penguasa udara. Burung-burung menepi, memberikan jalan bagi Sang Pelindung Sejati.
Itulah di sana, pintu untuk memasuki alam lelembut kerajaan ular. Hanya orang-orang khusus yang mampu memasuki pintu itu. Sebuah pintu yang berada di alam kasat mata.
Raja ular muda menanti dengan gagahnya. Guru Jagratara telah memberitahukan bahwa satu-satunya yang bisa melindungi bangsa ular hanyalah satu, dia, Sang Pelindung Sejati yang telah terusir karena kesalahan di masa lalu.
__ADS_1
Raja ular muda mengubah wujudnya dalam bentuk manusia. Seorang lelaki muda gagah dan berwibawa.
"Selamat datang dengan kepulangan Pelindung Sejati Ular di kampung halaman," raja ular muda menyapa dengan ramah dan berwibawa. Kisah masa lalu dari Ular Buraksa telah diketahuinya, dan akibat kepergian Ular Buraksa yang merupakan pelindung sejati segenap kaum ular, bangsa ular berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
Ular Buraksa menggeram keras, tatapannya tajam. "Apakah bangsa ular masih bersedia menerimaku?"
"Kami akan berusaha memaafkan atas kejadian yang telah lalu. Tapi dengan syarat Paman Ular Buraksa harus bersedia menjadi pelindung bangsa ular kembali. Tidak akan melarikan diri, dan tidak akan membunuh bangsa ular dengan semena-mena."
"Kau raja ular muda, di sisi lain meminta pertolonganku, tapi di sisi lain juga mengancamku."
"Aku tidak berani mengancam pelindung sejati bangsa ular. Hanya saja sebagai seorang raja, aku harus memastikan keselamatan rakyatku yang sudah lama diperbudak."
Penumpang yang menunggangi ular buraksa turun, membuat raja ular muda kaget. Dikiranya Ular Buraksa datang sendirian, tapi ternyata membawa tiga manusia.
"Aku Candani Paramita, murid Guru Jagratara. Dan laki-laki di sampingku ini bernama Lintang Samudera, suamiku. Sedang gadis sembrono yang ada di sisi kanan paman Ular Buraksa bernama Nimas Ayu Palupi, adik seperguruan suamiku."
Candani Paramita dan raja ular muda saling bertatap mata. Mata mereka saling menatap, tidak ada yang mau mengalah. Dan Candani, pantang baginya untuk mengalah pada raja ingusan yang sudah menyusahkannya. Kerajaannya sendiri sedang dalam bahaya, tapi dirinya harus membantu kerajaan orang lain. Sangat menyusahkan. Raja ular muda ini bahkan tidak menyapanya dengan benar, membuatnya ingin menendang raja ular yang masih ingusan itu.
Raja ular muda menunduk, mata wanita yang bernama Candani Paramita seolah-olah akan menerkamnya. Membuat nyalinya menciut.
__ADS_1
"Hei raja ingusan, bisakah kita bicara di tempat yang lebih menyenangkan, apakah begini cara raja ular muda menyambut tamunya?" sindir Candani Paramita.