
Bunyi kayu-kayu patah karena jilatan api berderak pelan ikut menyemarakkan suasana malam yang sepi, disertai dingin bedinding yang tercipta karena musim kemarau. Selumrahnya saat musim kemarau siang begitu panas dan malam menjadi begitu dingin.
Api unggun yang menyala masih tetap terjaga nyawanya dengan pasokan kayu-kayu kering yang tersebar banyak di dalam hutan. Sekelompok orang duduk berkerumun menikmati kehangatan yang ditawarkan oleh hawa api yang menyala.
Nimas Ayu Palupi terlelap dalam pangkuan suaminya raja muda ular. Meskipun tidak dirasanya, secara perlahan raja muda ular sudah mulai mengisi sisi-sisi relung hatinya, sehingga dirinya tidak menolak dengan berbagai sentuhan ringan yang diberikan oleh raja muda itu.
Raja muda ular tidur dengan posisi duduk dan bersandar pada batang pohon yang besar. Memejamkan mata untuk bekal perjalanan esok.
Lintang Samudera dan Candani Paramita tidur dengan posisi yang tidak selumrahnya. Duduk bersila dengan sangat tenang, dengan telapak tangan dibuka diletakkan di atas paha berdekatan dengan lutut dan dihadapkan ke atas, posisi telapak tangan harus terbuka karena jika tertutup akan menyerang balik titik energi mereka. Perjalanan memasuki alam di bawah sadar mengharuskan adanya pemusatan jiwa dan raga, menutup pintu-pintu nafsu agar terbuka pintu alam lainnya. Jika jiwa dan raga sudah terpusat maka ruh dengan sendirinya meninggalkan raga, berkelana ke alam keheningan menjumpai ruh-ruh para orang-orang suci.
🔸🔸🔸🔸🔸
Candani Paramita terbangun saat ayam mulai berkokok, kemudian disusul oleh ketiga teman seperjalanannya. Mereka menyapa pagi dengan membersihkan diri di sungai terdekat dengan saling bergantian.
Bau wangi singkong bakar menyeruak udara di pagi hari. Mengisi perut yang lapar.
"Raja muda ular apa tidak sebaiknya kau kembali ke kerajaan mu, apa tidak mengapa jika kau tinggalkan kerajaan mu dalam kurun waktu yang lama?" Suara Lintang Samudera memecah hening pagi.
"Tidak apa-apa Kakang. Sekarang pelindung sejati ular telah kembali ke alam ular. Meskipun ular Buraksa hanya duduk bertapa di alam ular, tapi sesungguhnya ruh nya selalu berkeliling mengitari seluruh alam yang dihuni ular. Hanya jasadnya saja yang bertapa, tapi batinnya tidak berhenti menjaga keamanan bangsa ular."
__ADS_1
Raja muda ular berhenti sejenak lalu melanjutkan perkataannya. "Ratu Sanura dari Kerajaan Laut Segaralaya dengan rela hati membantu bangsa ular, padahal kerajaannya sendiri sedang berada dalam bahaya. Demi kehormatan bangsa ular, aku harus ikut membantu. Meskipun bantuan yang diberikan tidak seberapa, tapi setidaknya aku mewakili bangsa ular mampu berterima kasih dengan memberikan sedikit bantuan."
"Hanya bantuan kecil, tidak perlu dihitung Raja Muda," ucap Candani Paramita atau Ratu Sanura.
Keheningan mulai melanda. Baik Candani Paramita atau raja muda ular sama-sama mengetahui bahaya besar yang mengintai Kerajaan Laut Segaralaya. Peperangan kali ini bisa saja merenggut nyawa Candani Paramita. Lintang Samudera sengaja tidak diberitahu mengenai bahaya yang sesungguhnya ada, Candani hanya meminta kepada suaminya untuk selalu di sisinya dan menjaganya.
Saat hari agak siang, mereka melanjutkan perjalanan. Menuju tempat yang diarahkan oleh telik sandi Kerajaan Laut Segaralaya. Di tempat itu sudah menanti Senopati Jaladhi dan beberapa anggota dari pasukan kelana.
Akhirnya tempat yang mereka cari ditemukan. Begitu melihat Kanjeng Ratu junjungannya, Senopati Jaladhi dan prajuritnya langsung memberi hormat berjongkok dengan salah satu lutut dipijak ke bumi.
"Hormat kami yang mulia Kanjeng Ratu Sanura," ucap pasukan pasukan kelana serentak.
Ratu Sanura tersenyum bangga kepada prajurit telik sandinya. Mereka tetap patuh dengan perintahnya meskipun tidak mengetahui hidup mati ratunya. "Bangunlah prajurit telik sandi. Seperti ucapanku saat kita di awal perjalanan, panggil namaku Candani Paramita."
"Kenalkan ini suamiku Lintang Samudera."
Senopati Jaladhi dan prajurit telik sandi lainnya menyalami Lintang Samudera.
"Selamat karena berhasil menaklukkan hati ratu junjungan kami yang seteguh karang," Jaladhi memberikan selamat. " Tapi sebelum kau mampu membuktikan untuk layak menjadi guru besar di Kerajaan Laut Segaralaya, kami seluruh bala tentara Segaralaya hanya bisa menghormatimu selayaknya teman. Jadi berusahalah kawan untuk bisa mendapatkan pengakuan kami," lanjut Jaladhi.
__ADS_1
Pasukan Kelana dan Lintang Samudera pun tertawa bersama. "Kalau begitu terimalah aku sebagai prajurit muda Segaralaya. Jadi aku akan ikut menjaga keselamatan ratumu dan Kerajaan Segaralaya. Usahaku untuk mendapat pengakuan bala tentara Segaralaya akan aku mulai dengan menjadi prajurit muda." Perkenalan dengan suami ratu junjungan mereka begitu hangat. Lintang Samudera yang mudah bergaul mempermudah kedekatannya dengan pasukan kelana.
Candani Paramita kembali mengenalkan teman seperjalanannya. "Pemuda ini adalah raja muda ular, dan yang sedang yang berdiri manja di sampingnya adalah istrinya namanya Nimas Ayu Palupi puteri bungsu dari Raja Citraloka. Mereka pengantin baru jadi harap maklum jika masih malu-malu mau." Semua yang mendengar perkataan Candani pun tertawa.
Pertemuan kembali dengan pasukan kelana diisi dengan canda dan tawa. Merenggangkan ketegangan yang selalu menyelimuti selama perjalanan. Pasukan kelana pun melaporkan hasil penyelidikannya. Dan di sinilah kini mereka berada. Mengendap-endap diantara rapatnya pepohonan.
"Itu pohonnya. Dua pohon itu merupakan pintu masuk ke wilayah alam siluman. Prajurit yang disiapkan untuk berperang dengan kerajaan Laut Segaralaya digembleng di beberapa tempat. Untuk pasukan siluman dilatih di sini," jelas Jaladhi.
Candani bersama Lintang Samudera dan raja muda ular mengendap-endap mendekati sepasang pohon yang ternyata pintu masuk ke alam siluman. Nimas Ayu tidak ikut serta. Ilmu Nimas Ayu belum mencukupi sehingga ditinggalkan bersama pasukan kelana. Sebelum pergi raja muda ular mengelus lembut pipi istrinya, yang disambut dengan senyuman hangat dari Nimas Ayu Palupi.
🔸🔸🔸🔸🔸
Alam siluman pun terbuka di hadapan. Hiruk pikuk dunia siluman tidak berbeda jauh dengan dunia manusia. Kini mereka berada di lapangan besar. Di lapangan itu telah berdiri barak-barak prajurit siluman.
"Raja Sutedja Thani dari Kerajaan Segara Pitu benar-benar keterlaluan. Dia gadaikan rakyat laut Segara Pitu demi ambisinya." Candani Paramita memejamkan mata, menahan marah yang menggelegak di dalam dada. Dirinya mengetahui pasti ada perjanjian nista yang tercipta dari kerjasama yang dibentuk oleh Raja Sutedja Thani dengan golongan siluman. Jika Raja Sutedja Thani memenangkan peperangan pasti seluruh rakyat laut yang berada di bawah kekuasaan Segaralaya akan diperbudak oleh bangsa siluman.
"Kurang ajar. Raja gila," umpat Candani Paramita meradang.
"Tenanglah. Peperangan kali ini, aku yakin akan kembali dimenangkan oleh Kerajaan Laut Segaralaya." Lintang Samudera memberikan semangat kepada istrinya.
__ADS_1
Raja muda ular mengetahui malapetaka apa yang akan menimpa wilayah laut jika sampai Kerajaan Segara Pitu yang memenangkan peperangan, wilayah laut akan berada dalam kehinaan. Beberapa manusia ada yang suka mengikat perjanjian dengan mereka yang berbeda alam. Isi perjanjian itu bisa berupa tumbal atau hal lainnya yang intinya hanya menjadikan mereka sebagai budak dari alam siluman.
Latihan perang sedang berlangsung di lapangan ini. Para siluman yang ikut serta dalam latihan perang ini bukanlah siluman-siluman kecil yang memiliki kemampuan rendah. Mereka mahir menggunakan berbagai senjata. Mereka juga dididik untuk bisa berkelahi secara mandiri ataupun berada dalam kelompok-kelompok.