
"Raja Suteja Thani kekuatan lawan sangat kuat. Jika Segara Pitu memaksa menyerang kemungkinan hasil yang diperoleh hanya berupa kekalahan."
"Segara Pitu harus terus maju. Tidak ada kata mundur. Aku harus menaklukkan Segaralaya. Sudah kepalang tanggung, harus terjun sekaligus." Keinginannya untuk menaklukkan Segaralaya harus terus maju. Semuanya sudah direncanakan dengan rencana yang sangat matang. Tidak mungkin mundur dengan teratur. Perjanjian tidak masuk akal sudah disepakatinya dengan para sekutunya, jika sampai perjanjian itu dibatalkan akan ada hal buruk yang diterimanya dari para sekutunya yang selalu berhitung dengan nyawa.
Latihan perang yang dilaksanakan di Segara Pitu tidak kalah keras seperti yang dilakukan di Segaralaya. Seluruh barisan pasukan Segara Pitu berusaha keras untuk mampu menyamai kedahsyatan pasukan lawan. Mereka berlatih siang malam menempa diri demi mampu berada dalam posisi seimbang saat peperangan dengan prajurit Segaralaya terjadi. Siapa yang tidak tahu Ratu Samudera Sanura, seorang panglima perang wanita pilih tanding. Namanya tersebar harum di seluruh wilayah lautan. Melawan Ratu Samudera Sanura sama saja mencari mati. Berhadapan dengan pasukan Ratu Samudera sama artinya mencari kemusnahan.
Kekuatan di Segara Pitu terbelah menjadi dua kubu. Kubu yang mendukung dan kubu yang menolak. Kedua kubu itu selalu berseteru dalam senyap. Saling mempengaruhi dan saling melawan. Alhasil kubu yang menolak mau tidak mau, sudi tidak sudi, pada akhirnya harus tunduk bertekuk lutut pada setiap keputusan dan perintah rajanya Suteja Thani.
Seluruh bala tentara Segara Pitu telah siap sedia terjun ke kancah peperangan. Semangat berapi-api yang selalu diberikan oleh raja mereka menjadikan isi dada pasukan Segara Pitu bergelora, darah mendidih ingin sesegera mungkin menghancurkan lawan. Maju menang. Mundur mati.
"Kalahkan kekuasaan Ratu Samudera. Di dunia ini yang berhak menjadi seorang raja harus laki-laki. Jangan mau diperintah dan dikuasai oleh seorang wanita. Perempuan itu di dapur, tugasnya mengurus rumah, mengurus anak, mengurus suami, bukan mengurus sebuah kerajaan menjadi penguasa. Kita runtuhkan kekuasaan Ratu Samudera."
__ADS_1
Suara bala tentara Segara Pitu bergemuruh memenuhi langit-langit Segara Pitu. Kemenangan yang belum tentu jadi miliknya seakan-akan sudah berada di genggaman. Pandangan mereka menerawang menggambarkan angan-angan setinggi langit, mengalahkan kekuasaan seorang ratu besar. Benar perkataan Raja Suteja Thani bahwa perempuan itu di dapur, melayani suami, mengurus anak, bukan gagah-gagahan jadi seorang penguasa. Tidak sudi dipimpin seorang penguasa wanita.
Sekutu Segara Pitu mulai berdatangan. Memenuhi seluruh lapangan-lapangan besar Segara Pitu. Hanya untuk mengalahkan seorang Ratu Samudera, Raja Segara Pitu harus menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Meskipun dirinya berkoar-koar jangan mau dipimpin oleh seorang ratu, akan tetapi Suteja Thani sangat menyadari kekuatan satu orang prajurit Segaralaya sebanding dengan kekuatan dua puluh prajurit Segara Pitu. Kemampuan olah kanuragan prajurit Segaralaya sangat luar biasa, meskipun dipimpin seorang penguasa wanita tapi kemampuan Ratu Samudera dalam melatih mendidik, dan menempa pasukannya menjadi kuat tak tertandingi sungguh luar biasa . Dirinya pun dibuat heran, dirinya sebagai seorang laki-laki tidak mampu menggembleng pasukannya menjadi kuat tak terkalahkan.
🔸🔸🔸🔸🔸
Ratu Samudera duduk sila di sebuah batu bulat di sekitar taman ratu. Kedua matanya terpejam. Menenangkan hati dan pikiran. Peperangan yang sudah di depan mata tidak boleh menjadikan hatinya goyah. Apabila dirinya goyah maka semangat prajurit Segaralaya dengan sendirinya ikut tergoyahkan.
Gemericik air di pancuran taman menggoda hati sang ratu. Dikendalikannya gemericik air itu. Air di pancuran perlahan menari-nari mengelilingi Ratu Samudera. Dengan gemulainya air itu menari-nari menyapa bunga-bunga di taman ratu. Bunga-bunga pun mulai beterbangan dengan indahnya. Aneka warna bunga ikut menari-nari mengikut perintah yang berasal dari alam bawah sadar Ratu Samudera. Warna merah, putih, kuning, hijau, dan bunga-bunga dengan warna lainnya dengan sangat apik berduel dengan beningnya air pancuran yang meliuk tiada henti. Berputar mengikuti pusaran yang menuntunnya.
__ADS_1
Lintang Samudera terpukau dengan keindahan yang disuguhkan. Hatinya ikut menari-nari terbawa nuansa alunan gemericik air. Matanya bersuara dalam sepi menyaksikan buliran air jatuh satu-persatu menyentuh kulit kuning langsat yang berkilau terkena pantulan cahaya pagi, dikerumuni oleh pasukan bunga penuh warna yang menari berusaha mengimbangi keindahan Ratu Samudera.
Alam bawah sadar sang ratu kian hening. Sepi. Hanya ada dirinya dan Sang Pencipta. Tarian bunga dan air ikut memasuki alam keheningan. Terdiam di udara, ditopang oleh kekuatan kasat mata.
Keheningan yang tercipta dari alam bawah sadar sang Ratu Samudera menyusup ke seluruh istana Segaralaya. Para guru yang merasakan panggilan alam keheningan seketika duduk bersila di batu tempat biasanya bertapa. Lintang Samudera mengikuti panggilan alam keheningan sang ratu, dirinya pun ikut duduk sila di salah satu batu taman.
Keheningan yang muasalnya dari istana Segaralaya kian meluas dan meluas. Seluruh wilayah Segaralaya hanyut memasuki pintu rahasia Sang Pencipta. Pepohonan yang menari-nari seketika terdiam tegak tak tergoyahkan, awan yang berarak di langit menghentikan langkahnya bersedia menaungi panggilan kasat mata, ombak yang berdebur dengan patuhnya menjadi tenang. Alam Segaralaya terpaku pada satu pesona keheningan.
__ADS_1
Dari barisan prajurit yang memiliki ilmu lebih ikut serta duduk sila larut memasuki alam keheningan. Semuanya tergabung dalam sebuah pusaran yang kian lama kian melebar kian besar melingkupi wilayah Segaralaya, berada dalam satu kepemimpinan seorang penguasa Ratu Samudera.
🔸🔸🔸🔸🔸