CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
SIHIR DARAH


__ADS_3

Pinggala tersungkur ke tanah. Wajahnya mencium tanah yang masih basah oleh lumpur. Kakek tua itu mendengus marah. Menyadari bahwa dirinya telah dipermainkan oleh seorang gadis muda.


"Kau berani-beraninya mempermainkan seorang Pinggala."


"Kenapa, salah? Apa sebenarnya masalahmu? Aku tahu bahwa sebenarnya kau berasal dari negeri seberang nun jauh di sana yang tidak cukup ditempuh dalam tiga bulan perjalanan dengan menggunakan kapal layar. Jika kau sedang bertamu di negeri orang jaga sopan santun mu, jaga etikamu. Bukan bertindak seenak perutmu." Dengan lantang Candani melawan.


Kakek tua itu tersentak dengan perkataan Candani Paramita.


"Apa maksud perkataan mu? Aku berasal dari wilayah di sekitar sini. Jangan ngelantur kalau bicara." Pinggala terlihat panik.


"Kau bisa membohongi banyak orang, tapi jangan harap bisa membohongiku. Jadilah tamu yang baik, jadilah pendatang yang sopan, jangan gentayangan kemana-mana pamer kekuatan."


Pinggala terdiam. Mata kakek tua itu semakin nanar karena marah, tapi kemarahannya tidak mampu ia luapkan dengan kata-kata.


"Kau kira dengan kemampuan beladiri dan sihirmu yang tidak seberapa sudah mampu mengalahkan pendekar-pendekar dari negeri-negeri di wilayah ini. Jangan berpikiran picik kakek tua. Di atas langit masih ada langit. Kesaktian mu tidak seberapa kakek tua," ucap Candani Paramita tanpa henti.


Kuping Pinggala memerah mendengar sesorah seorang gadis muda. Pinggala kembali menyerang Candani Paramita. Pedang kakek tua itu kembali menusuk mengarah ke tubuh Candani. Pinggala telah membubuhkan racun kalajengking di pedangnya. Di beberapa waktu, Pinggala sengaja membiarkan dirinya terkena hantaman keras dari tangan Candani Paramita, dan berharap pedang emasnya mampu menyentuh sedikit saja bagian dari tubuh gadis itu. Tapi gadis yang dihadapinya begitu lihai, mampu menghindari setiap serangannya yang sangat mematikan. Ayunan pedangnya hanya mengenai tempat-tempat kosong.


Pinggala mengalami luka-luka memar di sekitar tubuhnya. Bahkan di saat dirinya sedang lengah, gadis muda di hadapannya ini berhasil menghantam dadanya dengan pukulan yang amat keras. Darah segar pun mengalir deras dari mulutnya. Dan diapun jatuh terkulai di tanah.


Dengan tertatih-tatih kaket tua itu berdiri kembali. Memaksakan diri untuk terus adu kekuatan. Padahal jika Pinggala mengaku kalah, Candani pun akan melepaskannya.

__ADS_1


Tapi sayang kakek tua Pinggala tidak mau menyerah. Lebih baik adu jotos daripada harus mengaku kalah di hadapan musuhnya. Saat ilmu bela dirinya sudah terkalahkan. Diapun mulai mengeluarkan kekuatan ilmu sihirnya.


"Mau main sihir ternyata," sindir Candani Paramita kepada Pinggala. "Keluarkan semua sihirmu, aku penasaran dengan ilmu sihir dari negeri kalian. Sehebat apa sihirmu itu kakek tua."


Pinggala tidak peduli dengan sindiran pedas gadis muda di hadapannya. Dia pun mulai merapal bait-bait mantra menggunakan darahnya sendiri sebagai senjata. Diambilnya sebuah belati yang ada di pinggangnya, disayatkannya belati itu pada telapak tangannya. Darah mengucur deras, dan darah itu langsung berpindah tempat pada pedang emas Pinggala.


Pinggala kembali dalam posisi siaga untuk bertarung. Kaki kiri di depan, dan kaki kanan di belakang, mematangkan posisi kuda-kuda. Candani berhati-hati dengan perubahan cara berkelahi Pinggala, dirinya tidak boleh lengah, apalagi sampai meremehkan lawan.


Laki-laki tua itu menggabungkan antara gerak beladiri bersama dengan ilmu sihir. Menjadi perpaduan yang luar biasa dahsyat. Pinggala terus menyerang, apapun yang terkena darah yang ada di pedang emasnya langsung melepuh seperti terbakar. Perpaduan antara racun kalajengking yang dicampur dengan darah manusia yang disihir sungguh luar biasa. Beberapa dahan pohon yang terkena lemparan darah langsung berasap dan patah. Daun-daun seperti terbakar. Badan pohon yang terkena cipratan darah sihir, daun-daunnya langsung meranggas.


Bentuk sihir yang dimainkan Pinggala memang sangat berbeda. Jika sampai Pinggala bersatu dengan dukun-dukun dari aliran hitam dari negeri ini, kekuatannya akan semakin luar biasa.


Candani menyerang titik energi Pinggala. Memutus aliran energi yang mengalir pada darah. Pinggala pun tersengal-sengal, merasakan nafas yang kesulitan untuk memenuhi paru-parunya.


Gadis Ramaniya mengajak Lintang Samudera berbicara, bercanda tawa, menyuapi dirinya dengan makanan. Tapi Lintang Samudera tetap bergeming. Dirinya hanya sebuah raga yang terkunci ruhnya. Hanya patung hidup yang akan patuh kemanapun diminta.


Hewan peliharaan gadis Ramaniya melolong keras, memberitahukan sesuatu hal kepada tuannya.


"Tunggu di sini, Kakang! Sepertinya aku kedatangan tamu yang tak diundang." Gadis Ramaniya mengelus lembut sepasang tangan Lintang Samudera, lali diapun pergi.


"Hai, gadis Ramaniya. Jumpa lagi!' ucap raja muda ular dengan santainya.

__ADS_1


Raja muda ular menyuruh Nimas Ayu menyingkir dari papan pertarungan.


"Ada perlu apa kembali ke sini, bukankah kakek Pinggala sudah menyuruhmu pergi?" tanya gadis Ramaniya.


"Aku hanya ingin menjemput sahabatku yang tertinggal di dalam. Bolehkah aku membawanya pergi?"


"Apa maksudmu? Apa kau mencari mati?" ancam gadis Ramaniya sambil memindahkan ke depan kantung yang selalu disandangnya. "Jangan harap bisa membawa kekasihku."


"Mati. Aku masih ingin hidup. Istri cantikku tidak mau ditinggalkan, jadi aku harus hidup. Tapi kalau kau mau mati, silahkan saja. Dan untuk Lintang Samudera, dia suami sahabatku tentu saja sepasang suami istri harus terus bersama, dia bukan kekasihmu. Seorang istri lebih berhak daripada seorang kekasih." Raja muda ular meladeni pembicaraan gadis Ramaniya dengan santai tapi tatap mata tetap waspada.


Ramaniya sudah tidak peduli lagi, tidak dibiarkannya siapapun mencuri Lintang Samudera dari sisinya. Gadis Ramaniya mengambil gumpalan serbuk beracun dari kantung kainnya.


Racun.


Berbeda dengan kakeknya yang seimbang dalam ilmu beladiri dan ilmu sihir. Gadis Ramaniya lebih suka meracik racun-racun berbahaya, ilmu beladiri nya tidak seberapa, tapi ilmu sihir dan racunnya saling mengimbangi.


Pertarungan pun tidak dapat dihindari. Gadis Ramaniya bertarung dengan menggunakan sepasang sarung tangan perak yang sudah ditaburi racun. Sarung tangan perak beracun itu sungguh-sungguh sangat berbahaya dan sangat mematikan. Sedangkan raja muda ular hanya menggunakan tangan kosong.


Meskipun ilmu beladiri gadis Ramaniya tidak seberapa, tapi dia sama seperti kakeknya, memiliki gerakan lincah dan cepat hanya bedanya dirinya lebih lentur. Gadis Ramaniya meloncat dan melenting, tangannya mencoba menerkam dan menyayat tubuh raja muda ular dengan sarung tangan peraknya. Raja muda ular lebih banyak menghindar, tidak terlalu meladeni serangan-serangan gadis Ramaniya. Kedua tangan gadis itu sangat berbahaya. Gadis Ramaniya menjadi marah karena raja muda ular hanya menghindar dan berlarian, tidak pernah menyambut serangannya, membuat kemarahan gadis itu memuncak. Saat kemarahannya memuncak, gadis Ramaniya kehilangan pengendalian diri, dan dirinya pun menyerang lawannya dengan serampangan, membuat gadis itu kehilangan kewaspadaan.


Raja muda ular merasa usahanya untuk membuat gadis Ramaniya marah telah berhasil. Dengan perlahan dibawanya titik perkelahian menjauh dari kaki gunung buatan. Raja muda ular terus saja berlari dan menghindar. Kedua telapak tangan gadis itu sangat membahayakan nyawanya.

__ADS_1


Sesuai arahan Candani Paramita, perkelahian dibawa ke tempat Candani sedang berlaga dengan kakek tua Pinggala.


__ADS_2