
Raja muda ular memeluk Nimas Ayu Palupi, melabuhkan tangisnya di pelukan gadis itu. Nimas Ayu tidak memahami apa yang terjadi. Dibelainya kepala suaminya dengan lembut. Laki-laki itu terus menangis, menyembunyikan wajahnya pada perut rata istrinya.
Malam berganti pagi. Suasana di ruangan batu sudah kembali seperti sedia kala. Setelah beberapa hari berada di ruangan batu, beberapa prajurit menjemput penghuni ruangan itu untuk dibawa ke Gunung Anaga. Penguasa gunung Wadas Putih Ki Estungkara sudah sampai di gunung Anaga.
Sandera atau tahanan atau apapun namanya. Tapi ini bukanlah sandera. Tidak ada sandera naik kereta kencana. Tidak ada sandera yang diberi makan enak-enak, diberi ruangan yang nyaman. Ini bukan sandera, tapi tamu istimewa.
"Urusan apa yang belum diselesaikan dengan gunung Wadas Putih?" tanya Lintang Samudera.
Raja muda ular menatap malas. "Semua urusan sudah selesai. Hanya tinggal masalah keris Sarpa Hastha."
Raja muda ular menerawang jauh, menembus kenangan lama. Nimas Ayu duduk mendekat, memegang tangan raja muda ular. Telapak tangan mereka kini saling membelit.
"Jiwa-jiwa yang bersemayam di keris Sarpa Hastha bisa bebas dengan sebuah kunci."
Candani menatap raja muda ular. Yang ditatap membuang muka. Tidak berani membalas tatapan lawannya.
Kereta kencana terus berlari, melewati pedesaan dan pedukuhan-pedukuhan kecil. Pepohonan di pinggir jalan bergoyang ke kiri dan ke kanan terbawa sepoi angin.
Sebuah pasar pagi tampak ramai. Para pembeli dan penjual riuh ramai berjual beli. Sekelompok orang yang ada diantara ramainya para pedagang dan pembeli, terus memantau pergerakan iring-iringan pasukan berkuda yang mengawal sebuah kereta kencana. Mereka menyusup dan menyebar mengikuti arah perjalanan dari iring-iringan pasukan berkuda.
🔸🔸🔸🔸🔸
__ADS_1
Gunung Anaga di pagi yang masih dingin tampak seperti seekor ular naga yang sedang tidur, sedang terpulas di dinginnya pagi. Pepohonan meranggas kering di tengah musim kemarau. Daun-daun berjatuhan memenuhi tanah gunung Anaga.
Kereta kencana dan iring-iringan prajurit berhenti di kaki gunung Anaga. Pepatnya pepohonan menghalangi kereta kencana untuk melalui jalanan yang ada di depannya. Pohon-pohon sengaja ditanam dan disusun sedemikian mungkin. Sengaja dijadikan benteng alam untuk melindungi sesuatu yang ada di dalamnya. Tanaman merambat yang terasa gatal jika bersentuhan dengan kulit, berjajar memanjang di sepanjang jalan kecil yang memang sengaja dibentuk sebagai salah satu jalan pintas.
Beberapa prajurit mengawal sandera berjalan menyusuri jalan kecil yang hanya bisa dilewati satu orang dengan posisi berbaris ke belakang. Semakin memasuki jauh ke pegunungan, pepohonan yang ada semakin rimbun, ditambah tanaman berduri memanjang di sepanjang jalan.
Setelah memasuki sebuah pintu yang terbuat dari tubuh kayu jati yang cukup besar, para sandera digiring melewati jalanan yang cukup lebar yang bisa dilewati sekumpulan pasukan berkuda. Jalan itu lebar, di kanan kiri terdapat barak- barak yang berisi bahan makanan dalam jumlah yang cukup besar. Tempat itu dijaga oleh prajurit dengan jumlah tidak sedikit. Bagian gunung ini sengaja tanahnya diratakan sehingga mempermudah untuk pembuatan barak.
Mereka tidak menuju puncak gunung Anaga, melainkan menuju kaki gunung di sebelah selatan. Tempat itu harusnya menjadi sebuah pemukiman penduduk, tapi mungkin dialihfungsikan oleh Kerajaan Abyudaya sebagai tempat pelatihan prajurit.
Terdapat sebuah danau buatan yang lebar memanjang, danau ini digunakan sebagai sumber air untuk setiap penghuni di tempat pelatihan prajurit ini.
Kelima sandera dibawa ke sebuah barak prajurit yang cukup lebar. Seorang lelaki tua duduk dengan mengelus-elus sebuah pecut. Itulah pecut Sahasra Agni. Pecut yang dahulunya sangat ditakuti bangsa ular. Sekarang, keganasan pecut sudah tidak ada artinya lagi. Tentu dengan telah kembalinya pelindung sejati ular, merupakan benteng kokoh bagi setiap ular.
"Ada apa melihatku? Kenapa matamu?" hardik laki-laki tua itu pada seorang prajurit yang mengantar sandera Seorang wanita muda yang cantik dengan genit memijit bagian tubuh laki-laki tua itu. Tapi gerakannya tidak seperti memijit, bagi yang matanya masih baik, pasti mengatakan bahwa perempuan genit itu sedang mengelus-elus tubuh laki-laki tua.
"Maaf Ki." Seorang prajurit menundukkan pandangannya. Laki-laki tua dan gila yang sekarang ada di hadapannya harus dijauhi. Aliran sesat yang dipimpinnya, selain melakukan ritual-ritual persembahan, di waktu-waktu tertentu ada ritual khusus lainnya, saling berhubungan badan di tanah terbuka. Dan prajurit ini pernah sekali menyaksikan ritual hubungan badan yang dilakukan para pemuja aliran sesat ini. Menjijikkan. Setelah para pemuja setan itu puas makan daging mentah dan mandi darah korbannya, laki-laki dan perempuan dari aliran itu dengan gilanya melakukan hubungan badan di depan umum. Sudah gila, edan, gendheng, ditambah tidak punya malu. Demi menguasai ilmu yang bagi prajurit itu merupakan ilmu gila, para penyembah penguasa kegelapan itu rela melakukan hal gila yang memalukan, dan prajurit itu memberi mereka semua julukan "pemuja orang gila". Dan laki-laki tua yang ada di hadapannya ini pemimpin orang-orang gila. Dan tidak mungkin si prajurit memberi julukan kepada orang tua yang bau tanah ini dengan julukan"Si tua yang tergila-gila".
"Aku hanya minta dibawakan raja muda ular. Kenapa Gasita Anjali mengirim lima orang? Apa otak perempuan itu sudah kemasukan air?"
Si prajurit hanya terdiam, tidak mau meladeni percakapan "Si orang tua gila alias tergila-gila". Karena kalau diladeni si prajurit khawatir dirinya ikut gila. Istri dan anak-anaknya di rumah sangat takut pada orang gila, istri dan anak-anaknya lebih memilih menyukai orang waras.
__ADS_1
Suasana hening beberapa saat.
"Raja muda ular, aku minta maaf dengan semua beban hidup yang menimpa bangsa ular?' Laki-laki tua gila itu menyingkirkan tangan perempuan muda yang sedang memijitnya. "Bagaimana kalau kita bekerjasama untuk menguasai bangsa ular?"
Raja muda ular duduk sembarang. Muak melihat laki-laki tua yang ada di hadapannya.
"Jangan membuatku hilang kesabaran. Kau bisu? Jawab pertanyaan ku selagi aku masih bicara baik-baik," hardik si orang tua gila.
"Apalagi yang harus dibicarakan. Kerjasama?" Raja muda ular mengangkat satu alisnya. "Bangsa ular tidak butuh kerjasama denganmu.
Si orang tua gila tertawa keras. "Jangan jumawa. Kalau sekarang aku bunuh pelindung sejati ular, penggantinya tidak akan ada. Kita sama-sama tahu, siapa yang akan jadi pelindung sejati berikutnya."
Raja muda ular untuk sekilas menatap benci. Tapi tatap mata itu dalam sekejap berubah biasa lagi.
"Mana istrimu?" tanya si orang tua gila. Semua terdiam. "Mana?" si orang tua gila membentak dua perempuan cantik yang ada di hadapannya. Tatapan laki-laki tua itu nanar, menggerayangi tubuh dua perempuan yang ada di hadapannya dengan sepasang mata gilanya.
Lintang Samudera dan raja muda ular sudah tidak sabar ingin mencolok sepasang mata yang dengan buas menatap tubuh istri mereka.
Candani mencubit pelan telapak tangan Nimas Ayu Palupi. Dengan wajah tertunduk pura-pura ketakutan. "Aku Ki." Candani terus tertunduk.
" Cah ayu, bagaimana kalau kau jadi istriku saja? Buat apa jadi istri seekor ular?" Air liur si tua gila hampir saja menetes.
__ADS_1
Candani jijik melihat tatapan laki-laki tua di hadapannya. "Maaf Ki. Aku tidak suka aki-aki, apalagi aki-aki gila. Aku suka yang muda. Yang aki-aki sudah jelek, keriput, ditambah sebentar lagi mati. Sedangkan yang muda masih tampan dan enak dipandang. Aku lebih suka memandang wajah suamiku yang tampan, dibandingkan melihat wajah aki-aki yang sudah jelek keriput, bau tanah. Coba aki berkaca di danau." Candani kembali tertunduk pura-pura ketakutan.
Raja muda ular sontak tertawa keras mendengar seloroh Candani. Dan si prajurit bersorak girang di dalam hatinya.