
Semuanya gelap. Di tempat ini tidak ada sedikitpun cahaya. Hampa. Hanya ada hitam dan dinding kokoh di ke empat sisi.
"Dimana aku?"
"Candani, istriku, kau ada dimana?"
"Raja muda ular, Nimas Ayu, kalian ada dimana?"
Sepi.
Tidak ada jawaban.
"Candani Paramita, tolong aku?"
Suara teriakan menggema di dalam ruangan kosong gelap itu.
"Ini hanya ruh, lalu dimana ragaku?"
Dilihatnya seorang gadis memeluknya dengan erat, dan meraba wajahnya dengan keserakahan.
"Hei, siapa kau? Candani tolong aku. Candani! Kenapa diam saja? Tolong aku! Istriku!"
Tidak ada jawaban. Dan, siapa gadis ini?
"Hei, singkirkan tanganmu, nanti aku dibunuh oleh istriku jika aku berani selingkuh! Apa kau tidak tahu istriku sangat sakti."
Tidak ada jawaban. Yang ada hanya ruangan gelap. Sangat gelap. Tidak ada setitik pun cahaya.
Diingatnya tadi dirinya terpesona dengan kecantikan seorang gadis yang sedang tertidur pulas. Dan dengan sendirinya kakinya melangkah mendekati gadis jelita itu. Setelah itu ruhnya entah ada di mana.
Lintang Samudera duduk bersila mendengarkan semua pembicaraan dari mereka semua.
"Sihir."
"Aku terkena sihir."
"Apakah ini sihir perindu?"
"Pinggala."
__ADS_1
"Ramaniya."
"Siapa orang-orang ini?"
"Sepertinya setelah aku bisa membebaskan diri dari sihir ini, Candani akan langsung membunuhku. Mati aku."
Lintang Samudera menenangkan diri. Sekarang yang ada hanyalah ruh yang terkurung dalam sebuah ruangan yang gelap. Candani Paramita sebenarnya mampu menolongnya, tapi didiamkannya.
🔸🔸🔸🔸🔸
"Ratu Samudera, kenapa kau biarkan Lintang Samudera berada dalam penguasaan sihir perindu? Kenapa tidak diselamatkan?" tanya raja muda ular. Bingung.
"Aku percaya pada Kakang Lintang Samudera. Dia pasti mampu menolong dirinya sendiri."
"Sekarang kita kemana?" tanya Nimas Ayu cemas. "Apa kita akan meninggalkan tempat ini?" lanjutnya.
"Tidak mungkin aku meninggalkan tempat ini. Suamiku ada di sini. Dengan susah payah aku menemukan Lintang Samudera, dan seenaknya saja mau dicuri oleh tukang sihir."
"Tapi kenapa kau biarkan Lintang Samudera terkena sihir?" tanya raja muda ular.
"Tentu saja agar tetap bisa di tempat ini. Aku harus menyelamatkan pemilik asli tempat ini. Dan untuk Kakang Lintang Samudera, aku yakin dia mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Biarkan Kakang Lintang melakukan permainan bersama gadis Ramaniya."
"Tinggalkan saja. Berani-beraninya di hadapanku memuji wanita lain. Ini hukuman untuknya. Lihat saja nanti kalau sudah kembali ke kesadarannya. Aku hajar Lintang Samudera sampai babak belur."
"Sadis," pikir raja muda ular. Ternyata wanita kalau sudah marah sangat menyeramkan.
Candani mengambil tongkat milik Lintang Samudera, dan beberapa barangnya. Begitupun dengan raja muda ular dan Nimas Ayu Palupi.
Kakek tua Pinggala mengamati kepergian tamu-tamunya. Setelah dilihatnya mereka semua pergi meninggalkan gerbang tempat itu, kakek tua Pinggala mendatangi sebuah pohon besar.
🔸🔸🔸🔸🔸
Derap kuda meninggalkan tempat yang sangat indah dan penuh kedamaian. Sayang kedamaian tempat itu dihancurkan oleh dua orang yang tidak bertanggung-jawab. Dua orang penyihir yang selalu memaksakan kehendaknya.
Setelah melangkah cukup jauh, kuda-kuda itu dihentikan oleh penunggangnya. Jaladhi dengan setia masih menunggu di tempat itu. Candani menitipkan kuda-kuda kepada Jaladhi.
"Sekarang aku jadi tukang kuda," ucap Jaladhi merasa lucu. "Besok-besok jangan-jangan bakalan jadi pelayan di warung makan."
Candani Paramita mendatangi tempat itu kembali. "Akan aku rusak tabir ini. Tuan dan Nyai pemilik tempat ini, aku ijin membobol tabir ini."
__ADS_1
Candani meletakkan kedua tangannya menyilang di depan dada. Dibacanya bait-bait mantra untuk mengoyak tabir pelindung. Dihentakkannya kakinya ke bumi tiga kali. Air yang diletakkan di pelepah daun kelor dicipratkannya ke tabir yang ada di hadapannya.
Secara kasat mata tabir itu terbuka sedikit. Seukuran pintu masuk pada umumnya. Tiga orang manusia kembali memasuki tempat itu. Masuk dengan cara sembunyi-sembunyi.
Candani meminta kepada raja muda ular dan Nimas Ayu untuk langsung ke tempat gadis Ramaniya tinggal.
"Hati-hati berhadapan dengan dengan sihir gadis Ramaniya. Sihir kakek beserta cucunya itu bukan berasal dari negeri-negeri di sekitar wilayah ini, melainkan dari sebuah negeri yang sangat jauh, jadi kita belum memahami bentuk sihir seperti apa yang mereka miliki," Candani diam sejenak. "Mungkin mereka tertinggal oleh kapal yang membawanya," jelas Candani panjang lebar.
"Atau mungkin mereka sengaja ditinggalkan oleh nahkoda kapal, mungkin pemilik kapal ketakutan menghadapi dua penyihir itu," ucap Nimas Ayu Palupi.
Raja muda ular dan Nimas Ayu Palupi segera bergerak menuju kaki gunung buatan. Mereka melangkah perlahan sambil sesekali menyembunyikan diri dari pengamatan hewan peliharaan gadis Ramaniya.
Candani sendiri langsung menuju tempat pemilik asli tempat ini yang sudah berubah wujud menjadi sebuah pohon besar. Terkunci dalam ilmunya sendiri, karena kelicikan seorang penyihir tua.
"Kakek tua Pinggala!" sapa Candani Paramita tajam.
Pinggala yang sedang sibuk mencaci-maki pohon jadi-jadian di hadapannya, dikagetkan dengan suara seorang wanita yang beberapa waktu lalu telah diusirnya.
"Kau masih punya nyali untuk kembali kesini. Apa kau sudah bosan hidup?" tanya Pinggala tajam.
"Jangan galak-galak kakek tua. Aku sebagai yang lebih muda menyapamu terlebih dahulu dengan sopan."
Pinggala menggeram.
"Apakah pohon itu pemilik asli dari tempat ini?" tanya Candani Paramita.
"Apa tujuanmu kembali kesini?" Pinggala balik bertanya.
"Aku, aku akan menyelamatkan pemilik sebenarnya dari tempat ini," jawab Candani.
Kakek tua Pinggala tertawa sekeras-kerasnya. "Sepertinya kau sudah lupa dengan peringatan ku, gadis muda?"
"Racun maksudmu. Dan aku akan mati karena racunmu. Aku ingat dengan ancaman mu. Dan sepertinya sekarang aku ketakutan."
Pinggala tidak habis pikir, wanita di hadapannya ini tidak takut dengan ancamannya. "Sekarang bersiaplah menghadapi seranganku!" ancam Pinggala tidak ingin berbasa-basi lagi.
Pinggala mengeluarkan pedang emasnya. Mereka berdua pun bertarung dengan sengit di depan pohon itu. Pinggala yang berasal dari negeri nun jauh di sana memiliki cara bertarung yang berbeda. Gerakannya mengutamakan kecepatan dan kelincahan. Gerakan lelaki yang sudah berumur itu begitu cepat. Pedangnya seperti memiliki seribu mata pedang. Pedang emas itu berkilauan terkena sinar matahari pagi. Menyilaukan pandangan mata lawannya.
Candani pun menggeser pertarungan ke rerimbunan pepohonan. Dirinya tidak mau kalah siasat dengan seorang laki-laki tua yang sudah sembarangan ingin mencuri suaminya untuk cucunya. Tanpa disadari oleh Pinggala, pertarungan secara perlahan bergeser ke rerimbunan pepohonan di dekat pondok yang pernah ditinggali oleh Candani dan Lintang Samudera.
__ADS_1
Candani dengan indahnya melayani gerak bela diri Pinggala. Tendangan kakek tua itu begitu cepat menusuk langsung ke perut Candani. Tapi Candani tidak hilang akal, dihindarinya serangan itu dengan tidak kalah cepat. Karena pergerakan kakek tua Pinggala dipusatkan pada kecepatan kedua kakinya, Candani pun berusaha menaklukkan kedua kaki itu dengan terus menerus memusatkan serangan pada kedua kaki Pinggala. Pinggala pun tidak bodoh. Sebagai seseorang yang sudah malang melintang di dunia persilatan, dirinya mampu membaca siasat lawan. Tangan kakek tua itu bergerak cepat, mencoba menyambar rambut panjang Candani yang tergerai. Tapi sayang serangan laki-laki tua itu gagal, tangan itu hanya menyambar udara yang tidak berarti. Candani melenting tinggi dan dari arah belakang dengan cepat memukul punggung Pinggala dengan telapak tangan kanannya.