CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
CINTA DARI MASA LALU


__ADS_3

Saka harus menelan pahit keputusan Lintang Samudera bahwa dirinya ditolak mentah-mentah untuk masuk menjadi bagian prajurit Segaralaya.


"Pergilah, bala tentara Segaralaya tidak akan bisa menerima mu. Jika kau ingin mengabdi dan ingin ikut membantu Segaralaya dalam peperangan nanti, berdirilah sendiri. Ikut bergabung dengan mereka yang tanpa pasukan!"


"Lintang Samudera, aku hanya ingin bergabung dengan pasukan Segaralaya. Sungguh tidak ada maksud lain. Aku memang memuja Ratu Samudera, aku harap kau melarang ku bergabung dengan pasukan Segaralaya bukan karena hal remeh temeh yang berkaitan dengan masalah hati."


"Saka kesalahan mu sangat fatal. Aku membiarkan mu lepas semata-mata karena aku menilai kau orang yang baik dan memegang janji. Jika kau memang benar-benar ingin mengabdi kepada Segaralaya, buktikan terlebih dahulu pengabdian mu di luar ranah keprajuritan. Aku yakin kau mengerti maksud ku."


Saka menimbang saran dari Lintang Samudera. "Baiklah kawan, sepertinya memang harus seperti itu. Saat peperangan nanti aku akan ikut serta membantu. Cintaku kepada Ratu Samudera akan aku buktikan melalui pengabdian di luar sana."


Semburat senyum muncul dari bibir Lintang Samudera. Dirinya yakin Saka akan memberikan pengabdian yang tulus.


"Tapi sebelumnya bolehkah aku menjumpai Ratu Samudera, cukup sekali ini saja?"


Lintang Samudera mengernyitkan alisnya. "Apa perlu mu?"


"Menggodanya," ucap Saka dengan senyum samar. "Ayolah kawan bukankah kau akan turut serta menemani sang ratu untuk menemui ku. Sampaikan kepada Ratu Samudera murid Guru Wigata ingin menghadap."


"Guru Wigata?" mata Lintang Samudera membulat mendengar nama itu disebutkan.


Sang ratu bersedia menerima permintaan Saka Sangkara. Atas saran Lintang Samudera pertemuan diadakan di taman sang ratu.


Taman ratu merupakan taman pribadi sang ratu. Tempat di mana Ratu Samudera bebas bercengkrama dengan suaminya. Taman tempat sang ratu sering menyendiri di saat kegundahan menghampirinya.


Lintang Samudera memeluk istrinya dari belakang, diciumnya rambut sang istri yang wangi mawar, lalu diciumnya kedua pipi wanita yang sangat dipujanya itu.


"Ada yang meminta ijin untuk menghadap Ratu Samudera?"

__ADS_1


"Siapa?" tanya sang ratu.


"Murid Guru Wigata, maling yang aku lepaskan waktu itu merupakan murid Guru Wigata. Karenanya aku melepaskan maling itu." Lintang Samudera semakin mempererat pelukannya. Dengan penuh kelembutan diselusurinya leher Ratu Samudera.


Saka melihat semua kemesraan yang terjalin antara Lintang Samudera dan Ratu Samudera melalui celah pintu. Hatinya berdegup tak beraturan raut wajahnya memanas memerah, keringat dingin mengalir di setiap sisi wajahnya. Di dalam hatinya yang paling dalam bergejolak rasa sakit yang dipadu dengan rasa rindu. Pesona keindahan yang membuatnya bertekuk lutut ini apakah mungkin diraihnya, apabila tidak ada kesempatan baginya untuk meraih pesona itu, ingin dirinya hanya mengabdi pada yang dicintainya, seperti gurunya Guru Wigata yang hanya bisa mengabdi pada satu-satunya wanita yang dicintainya di dunia ini, mengabdi tanpa harus memiliki.


Saat sang ratu membalikkan badannya, Lintang Samudera dengan penuh cinta menyentuh kelembutan bibir sang ratu dengan bibirnya, isi hati Saka Sangkara ingin berlari meraih sedikit kelembutan bibir wanita sangat dipujanya. Ingin terbuai dalam pesona bibir yang membuatnya jatuh bertekuk lutut.


Setelah beberapa waktu menanti, akhirnya Saka diperkenankan menghadap Ratu Samudera yang duduk ditemani sang suami.


"Salam hormat hamba Ratu Samudera." Pesona Ratu Samudera begitu memukau. Tapi tangan Lintang Samudera yang melingkar erat di pinggang sang ratu menghalangi keindahan pesona yang ada.


"Aku terima salam hormat mu. Apakah ada pesan dari Guru Wigata?"


Saka Sangkara masih tersihir dengan pesona yang ada. Dirinya terpaku tidak mendengar pertanyaan yang dikemukakan.


Melihat Saka kebingungan, sang ratu pun mengulang pertanyaannya. "Apakah ada pesan dari Guru Wigata?"


"Ada," jawab Saka sedikit gelagapan. "Ada titipan dari Guru Wigata untuk Ibunda Wali Ratu." Ucap Saka sembari menyerahkan sebuah bungkusan tipis kain berwarna kebiruan.


Lintang Samudera menerima bungkusan itu dan menyerahkannya kepada sang ratu. Ratu Samudera memegang erat bungkusan itu. "Bagaimana keadaan Guru Wigata?"


"Guru Wigata baik-baik saja. Beliau sudah memiliki istri dan dua orang anak," jawab Saka dengan wajah tertunduk. "Tapi Guru Wigata masih menyimpan rasa itu."


"Syukurlah, aku turut bahagia. Guru Wigata sangat mencintai ibuku Ibunda Wali Ratu, sampai-sampai membuatku khawatir beliau akan terlena dengan pengabdian cinta yang tidak berbalas itu."


"Hanya saja...." Saka menahan ucapannya..Tapi melihat Ratu Samudera menanti kelanjutan perkataannya, akhirnya tanpa ragu Saka kembali bicara. "Hanya saja Guru Wigata meminta ijin untuk bisa bertemu dengan Ibunda Wali Ratu."

__ADS_1


"Akan aku sampaikan pesan beliau. Dan tunggulah kabar dariku."


Saka pun meninggalkan istana Segaralaya dengan debaran hati yang kian berpacu. Dengan lukisan indah yang berbingkai di dalam relung hatinya.


🔸🔸🔸🔸🔸


"Kakang Lintang kenapa maling itu dilepaskan?"


"Aku juga tidak tahu. Tapi hatiku mengatakan dia akan banyak membantu kita."


"Jangan hanya mengikuti kata hati!" Senopati Laut Muda menatap lurus ke depan ke arah jalan yang diambil Saka Sangkara.


"Aku yakin Saka bukan orang pada umumnya. Jika kita membantunya aku yakin dia akan memberi lebih banyak lagi. Percayalah padaku!" Ucap Lintang Samudera penuh keyakinan.


"Baiklah. Aku tunggu bukti dari perkataan mu itu."


Lintang Samudera dan Senopati Laut Muda pun berlalu.


🔸🔸🔸🔸🔸


Guru Wigata menatap lurus ke depan. Hatinya selalu berdesir mengingat semburat wajah yang telah begitu lama menghiasi relung hatinya yang paling dalam. Seorang gadis cantik yang pernah ditolongnya di masa mudanya dulu. Seorang gadis cantik yang tiba-tiba datang dengan suaminya memohon kepadanya untuk bersedia mengantarkan putrinya yang masih kecil kepada seorang guru besar yang seolah hanya berada di dunia maya Sang Guru Jagratara.


Senyum wanita itu masih ada, masih mampu membuatnya menyebut namanya dengan suara lirih. Atas nasehat wanita yang masih sangat dicintainya itu, dirinya pun bersedia menikah dengan salah seorang wanita yang dinikahinya setelah menyelamatkannya dari kebiadaban seorang pemerkosa. Jika wanita yang sangat dicintainya itu tidak memintanya untuk menikah dengan wanita lain, tentulah sampai sekarang dirinya masih menyendiri.


Dan pada peperangan kali ini, untuk kesekian kalinya dirinya akan membantu Ibunda Wali Ratu. Mencurahkan pengabdian pada cinta yang tak bisa digenggam, cinta yang hanya bisa diukir. Ulah nakal muridnya yang berjanji untuk membantu mencuri mutiara laut untuk Kerajaan Daratan Abyudaya, membuatnya harus membayar mahal atas ulah Saka. Harga yang harus dibayar atas kesalahan muridnya harus dibayar dengan ikut serta dalam peperangan besar ini. Dan meminta muridnya Saka Sangkara untuk mengabdi sepenuh hati di Kerajaan Segaralaya.


🔸🔸🔸🔸🔸

__ADS_1


Saat hati berdenyut dalam penantian, mata ini menerawang jauh. Hati dan mata patuh pada satu hasrat.


__ADS_2