
Santika Darliah merasakan getaran keris Sarpa Hastha. Ada hawa yang mengusik kembaran keris itu. Keris Sarpa Hastha menggeliat dari tidurnya, berdiri, kemudian terbang mengitari wilayah pegunungan Anaga. Tubuh keris itu mengeluarkan hawa panas, yang menandakan bahwa keris Sarpa Hastha tidak suka dengan keadaan yang sedang dialaminya. Keris itu terbang berputar-putar meluapkan kegelisahannya.
Dan di sisi lain dari tempat Santika Darliah berada. Orang-orang menari-nari mengelilingi sesosok mayat yang baru mati kemarin sore. Tarian memuja setan disertai tembang memuja para penguasa kegelapan membahana menguasai malam. Bulan purnama. Gerakan tarian semakin cepat, jiwa dan raga sudah berada dalam penguasaan iblis penguasa kegelapan, mulut menjerit lapar dengan darah. Mereka menyayat tubuh tak bernyawa yang dijadikan persembahan, saling berebut untuk memakan daging mentah dan mandi darah. Semakin banyak daging mentah yang dimakan, dan semakin sering mandi darah, penguasa kegelapan akan melimpahi mereka dengan ilmu-ilmu hitam yang luar biasa kejam. Setelah puas memanjakan diri dengan dosa, orang-orang itu terkapar di tengah lapangan dengan seluruh anggota badan berwarna merah darah, mulut menyeringai, dan tatapan mata yang nanar entah kemana. Dan korban naas yang dipersembahkan hanya tersisa tulang belulang, tulang-tulang itu di kemudian hari dimanfaatkan untuk ilmu-ilmu hitam para pemuja penguasa kegelapan untuk memusnahkan lawannya.
Santika Darliah sedikit pun tidak pernah tertarik dengan upacara-upacara persembahan yang dilakukan oleh leluhurnya yang diikuti pula oleh segenap anak keturunannya. Sejahat-jahatnya seorang Santika Darliah, dirinya tidak mau menghinakan manusia ataupun makhluk hidup lainnya untuk dipersembahkan sebagai syarat prosesi pemujaan penguasa kegelapan untuk memperoleh yang namanya kesaktian.
Di ruangan inilah kini Darliah berada, tengah memandikan keris Sarpa Hastha untuk meredam gejolak kemarahan keris itu. Jika keris-keris pada umumnya dimandikan dengan air bunga, tapi berbeda dengan keris Sarpa Hastha yang harus dimandikan dengan darah bayi-bayi ular yang jiwanya masih suci bersih. Darah bayi-bayi ular yang masih suci itu mampu meredam gejolak kemarahan yang menghinggapi keris Sarpa Hastha.
Sebanyak seratus bayi ular dibantai dengan kejam. Darahnya dikucurkan dan ditempatkan dalam sebuah wadah yang terbuat dari emas. Jiwa-jiwa suci bayi ular meronta menangis mencari perlindungan. Jiwa mereka ikut terpenjara dalam alam keris Sarpa Hastha. Berdiri di pinggiran alam keris Sarpa Hastha, menangis kebingungan karena tidak mampu reinkarnasi ataupun kembali ke alam kelanggengan. Keris itu kian lama kian haus dengan persembahan yang berupa darah, dendam yang menguasai keris selalu lapar dengan kejahatan.
Seorang gadis yang cantik jelita mendekati Santika Darliah. Dialah puteri sulung Raja Citraloka, Pambayun Ayu Nastari. Cintanya yang ditolak oleh Lintang Samudera, ayahanda rajanya tidak berkenan untuk menjodohkannya dengan Lintang Samudera, melahirkan rasa benci dan sakit hati yang begitu dalam. Membuatnya memilih untuk mengikuti mereka yang menyebut diri mereka sakti.
"Sedang apa Darliah?" tanya Pambayun.
"Sesuci keris," jawab Santika Darliah singkat. Darliah mencium bau anyir dari lawan bicaranya. "Mandilah yang bersih, jangan biarkan bau darah menguasai tubuhmu, bau tubuhmu sama dengan hawa jahat keris ini, bau darah," lanjut Darliah tidak suka sambil menekankan ucapannya.
__ADS_1
Pambayun tersenyum getir. Cinta yang tidak terbalaslah yang membuatnya terjerumus pada jalan sesat ini.
"Aku sudah membersihkan diri, tapi mungkin karena rambutku belum kering bau anyir itu masih ada."
"Buat apa kau mengikuti orang-orang kasar seperti kami. Bukankah menjadi seorang puteri raja merupakan sebuah keberuntungan?" Darliah balik bertanya.
"Puteri, aku hanyalah puteri yang terabaikan. Cinta yang tak terbalas. Aku mencintai seorang lelaki, tapi lelaki itu tidak mencintaiku, bahkan memilih menikah dengan wanita yang baru saja dijumpainya," Pambayun mulai bercerita.
"Cari saja laki-laki lain. Untuk apa kau kejar cinta dari si dia yang tidak mencintaimu. Bagiku, aku lebih suka dicintai daripada mencintai. Saat aku dicintai, aku akan dikejar, dan laki-laki lah yang berlutut di hadapanku." Darliah berbicara dengan tenang.
"Jatuh cinta, tentu saja pernah, bahkan sangat mencintai juga pernah. Tapi saat sampai di titik terakhir usahaku dan lelaki yang aku idamkan lebih memilih wanita lain, aku mengalah. Aku hargai rasa setia yang dimiliki laki-laki itu," jawab Darliah.
"Dan sekarang aku di sini sedang berusaha untuk mendapatkan cintaku," ucap Pembayun bersemangat.
Darliah tersenyum getir. "Aku tidak pernah mengejar cinta laki-laki dengan ilmu pelet, ilmu penakluk sukma, atau apapun sebutannya. Buat apa, aku tidak ingin memiliki patung hidup, yang aku inginkan cinta yang diberikan untukku." Darliah terdiam sejenak.
__ADS_1
"Dan lihatlah dirimu sekarang, menyembah penguasa kegelapan. Melakukan puja dengan upacara memakan daging mentah dan mandi darah segar. Laki-laki mana yang akan menginginkanmu. Siapa nama laki-laki yang kau cintai itu?" tanya Darliah.
Pambayun Ayu Nastari terdiam tidak menjawab pertanyaan lawan bicaranya. Memang benar dirinya sudah terjun jauh dalam dunia kegelapan, ilmu-ilmu hitam perlahan sudah mulai dipelajarinya. Semakin dipelajari dirinya semakin suka dengan ilmu hitam itu sendiri. Bisa membunuh dan menyiksa korbannya tanpa harus adu ilmu kanuragan. Menjadi orang yang ditakuti karena ilmu sesatnya.
"Eh siapa laki-laki yang kau cintai, ditanya tidak menjawab. Kebanyakan mandi darah kau ini," Darliah mulai jengkel.
"Lintang Samudera. Aku mencintainya sedari kecil. Tapi sedikit pun dia tidak pernah melirikku. Setelah ilmu hitamku mumpuni, akan aku bunuh istrinya, dan aku rebut Kakang Lintang Samudera," Pambayun menjawab dengan berapi-api.
Santika Darliah tertawa keras bahkan tawanya semakin panjang. Lintang Samudera, siapa yang tidak kenal Lintang Samudera, suami dari Candani Paramita atau ratu dari Kerajaan Laut Segaralaya.
"Sampai kapanpun kau tidak akan bisa memiliki Lintang Samudera. Bahkan mengalahkan istrinya pun, kau tidak akan mampu, ilmu yang kau miliki hanyalah butiran debu bagi seorang Candani Paramita. Isi kepalamu menjadi tumpul karena kebanyakan mandi darah. Lebih baik kau pilihlah salah satu diantara laki-laki pengikut penguasa kegelapan, pemuja iblis dan setan, penikmat ilmu sesat. Aku lihat mereka juga lumayan tampan, cocok denganmu Pambayun, sama-sama suka mandi darah dan makan daging mentah," Darliah tertawa puas. Ternyata ada orang bodoh yang tidak punya otak seperti Puteri Pambayun.
Pambayun mengernyit tidak suka dengan ejekan Santika Darliah.
Santika Darliah membuka mulutnya kembali. "Dengarkan nasehatku ini. Lepaskan rasa cintamu pada Lintang Samudera. Cintamu padanya adalah pungguk merindukan bulan. Carilah laki-laki baik-baik yang mencintaimu sepenuh hati dan menerimamu apa adanya. Aku yang liar ini juga mendambakan seorang laki-laki baik-baik untuk menemani hidupku sampai tua. Janganlah kau yang sudah baik terjerumus ke jalan kesesatan." Darliah pun berlalu pergi, meninggalkan Pambayun yang sudah dibutakan oleh cinta.
__ADS_1
Malam beranjak pagi dan begitulah seterusnya, saling silih berganti mengisi hari sampai hari akhir itu datang.