CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
MAKNA TERSEMBUNYI BUNGA MAWAR PUTIH BERSUSUN DELAPAN


__ADS_3

Satu bulan lamanya Candani Paramita tinggal di rumah Ki Danasura. Selama masa penyembuhan Candani ikut berbaur dengan kehidupan penduduk di desa Kali Ranti. Candani tidak segan untuk membantu Nyai Danasura ke kebun atau ke hutan.


Sedangkan Lintang Samudera selama satu bulan tetap menemani Candani Paramita. Dirinya tinggal bersama Wirasena dan kedua orang tuanya. Diapun ikut membantu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga Wirasena.


Sedangkan bayi yang diselamatkan oleh Candani berangsur-angsur mulai membaik. Candani memberi nama bayi laki-laki itu Nadi Tirta.


Setiap hari Lintang Samudera menjenguk keadaan Candani. Selain untuk melihat kesembuhan Candani, Lintang Samudera juga banyak belajar ilmu pengobatan dari Ki Danasura. Selain itu pengetahuan Ki Danasura mengenai banyak hal menambah perbendaharaan ilmu pengetahuannya.


"Ki Danasura, kenapa pengobatan Candani hanya dengan menggunakan bunga mawar putih berkelopak delapan susun. Adakah makna khusus di tiap kelopak itu?" tanya Lintang Samudera penasaran, yang juga mewakili rasa penasaran Candani Paramita.


"Memang banyak yang tidak mengetahui khasiat bunga itu. Baiklah akan aku ceritakan tentang bunga mawar putih berkelopak delapan susun."


"Keris Sarpa Hastha seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya berisikan jiwa-jiwa ular beserta bisa dan kesaktiannya. Ular-ular yang jiwanya terperangkap di dalam keris memiliki dendam yang mendalam. Mereka terperangkap dan tidak bisa mati secara wajar," Ki Danasura membuka penjelasan.

__ADS_1


"Bunga mawar yang putih sebagai perwujudan dari kesucian. Untuk kelopak yang ke delapan berarti tiada. Asal muasal segala hal memang tiada. Kelopak ke delapan membersihkan bisa ular-ular itu. Menjadikannya jernih dan menghilang kembali tiada. Untuk susunan yang ke tujuh memiliki makna tujuh cahaya yang sebenarnya ke tujuh cahaya melambangkan cahaya putih sehingga bisa meredam gejolak dendam dari jiwa-jiwa ular yang terperangkap di dalam keris Sarpa Hastha. Susunan kelopak yang keenam melambangkan kekuatan lahir dan batin yang ada di alam semesta. Sebesar apapun kekuatan itu jika seimbang maka akan bermanfaat bagi kehidupan ini. Dengan kelopak susunan yang keenam ini mengembalikan segenap kesaktian ular yang menyerang untuk dikembalikan ke alam semesta ke tempat asal kekuatan itu bermula. Untuk susunan kelopak yang kelima bermakna rasa kasih sayang yang menjadikan awal adanya setiap hal. Dengan adanya kasih sayang ini membuat jiwa-jiwa ular yang mempunyai dendam itu kembali memiliki harapan untuk bisa kembali ke alam kelanggengan dengan penuh kedamaian. Untuk susunan kelopak yang keempat melambangkan air , api, tanah, dan angin. Dengan bersatunya keempat elemen ini maka mengembalikan nyawa yang sedang melayang-layang dari orang yang sudah tertusuk oleh keris Sarpa Hastha tersebut. Untuk susunan kelopak yang ketiga melambangkan keutamaan dalam kehidupan untuk menjalani hidup. Sebesar apapun ujian yang ada dalam kehidupan harus dijalani, sehingga kelopak yang ketiga ini mengembalikan kesadaran orang yang tertusuk keris tersebut. Untuk susunan kelopak yang kedua melambangkan perbuatan dan penglihatan ruhani, kelopak yang kedua membersihkan segenap dendam dan kebencian yang sudah merasuki tubuh seseorang yang tertusuk keris Sarpa Hastha. Kelopak yang pertama membentuk cincin, cincin ini secara tidak langsung akan mengembalikan segala sesuatu seperti mulanya."


Lintang Samudera dan Candani Paramita meresapi penjelasan Ki Danasura. Sebuah hal yang sederhana tapi sangat bermakna.


"Sedangkan air yang digunakan untuk berendam bermakna sederhana saja. Dengan mandi bukankah segala sesuatunya akan kembali bersih."


"Sungguh kasihan jiwa-jiwa ular yang terjebak dalam keris Sarpa Hastha. Mereka belum bisa kembali kepada Penciptanya. Tapi mereka tetap sabar menunggu seseorang akan membebaskan jiwa mereka, meskipun dendam menguasai segenap jiwanya," Ki Danasura ikut merasakan pengharapan segenap jiwa ular-ular yang terjebak itu.


Waktu terus berjalan. Setelah sebulan lebih sepuluh hari Candani Paramita sudah benar-benar pulih dari lukanya. Akhirnya Lintang Samudera dan Candani Paramita pamit untuk pergi meninggalkan Desa Kali Ranti. Nadi Tirta dibawa serta, mereka berdua sudah memutuskan bahwa Nadi Tirta akan diserahkan pengasuhannya kepada Ki Yasa Rasendriya yang merupakan ayah kandung dan guru dari Lintang Samudera.


Candani Paramita tersenyum.


"Ki Danasura, aku tinggalkan pedang ini di desa ini. Pedang ini akan aku tanam di dalam tanah desa ini. Sehingga pedang Gentala Handaru akan melindungi tempat ini. Saat Desa Kali Ranti berada dalam bahaya maka pedang Gentala Handaru akan menemuiku untuk meminta bantuan. Ini sebagai wujud terima kasihku kepada semua penduduk di desa ini yang sudah bersedia menerima kami bertiga. Biarlah pedang ini menjadi senjata pusaka untuk wilayah ini dan sekitarnya. Wilayah manapun yang menjadi bagian dari Desa Kali Ranti berada dalam perlindungan pedang Gentala Handaru."

__ADS_1


Candani Paramita menutup kedua matanya . Meminta keikhlasan pedang Gentala Handaru untuk tinggal bersemayam di desa Kali Ranti. Pedang Gentala Handaru tiba-tiba bergejolak disertai suara angin yang kencang. Tiba-tiba pedang Gentala Handaru menghilang dari pandangan. Menjadi pertanda bahwa pedang ini sudah menyatukan diri dengan desa Kali Ranti.


Candani Paramita dan Lintang Samudera pamit kepada segenap penduduk desa Kali Ranti. Saat sore hari mereka berdua bersama bayi Nadi Tirta memulai perjalanan.


Sebenarnya Candani teringat dengan Baluh dan pasukan kelana. Tapi dia mempunyai urusan yang harus segera diselesaikan. Sebelum ke padepokan Ki Yasa Rasendriya, mereka berdua berencana menunju gunung Adwaya.


Perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki melewati dari satu pedesaan ke pedesaan lain. Pegunungan, tebing-tebing curam, sungai, lembah, hutan mereka lewati dengan penuh kesabaran.


Ikatan cinta Candani Paramita dan Lintang Samudera semakin kuat baik lahir maupun batin. Mereka menjaga kesucian cinta dengan jiwa dan raga, jangan sampai ternodai oleh nafsu yang membawa diri ke dalam dosa.


Nadi Tirta digendong secara bergantian oleh Candani Paramita dan Lintang Samudera. Bayi itu tumbuh dalam keprihatinan.


Lintang Samudera terenyuh dengan kesetiaan yang Candani berikan. Gadis ini tidak menuntut apapun dari dirinya. Cukup Lintang Samudera. Hanya Lintang Samudera. Penghormatan dan kepercayaan diberikan dengan sepenuh hati. Kedudukannya sebagai seorang ratu tidak menjadikan Candani menjadi jumawa ( sombong ). Sedikitpun keluhan tidak pernah keluar dari mulut Candani Paramita. Cintanya yang begitu besar melahirkan pengabdian lahir dan batin. Bulir air mata gadis ini berisikan cinta dan kerinduan. Cintanya pada kerajaannya, cintanya pada kekasihnya.

__ADS_1


Bulan di langit luas bersinar terang purnama. Memberi pengelihatan cahaya di malam hari. Awan berjalan beriringan menghiasi suasana malam. Bintang gemerlapan saling bertebaran memenuhi langit. Alam tengah tertidur. Kehidupan sedang beristirahat untuk menyambut hari di esok pagi.


Maniking netra tuntunging ati ( kekasih ).


__ADS_2