CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
PASUKAN SILUMAN


__ADS_3

Gladi perang sedang berlangsung di lapangan yang luas ini. Masing-masing memegang senjata saling menghantam dan bertarung, bunyi senjata yang berdentang keras menjadi bukti dahsyatnya pelatihan yang sedang dilakukan.


Candani mengamati satu demi satu mereka yang ada di lapangan pelatihan. Di bagian paling depan berdiri berjajar rapi para pemimpin bangsa siluman. Tetua siluman api, siluman kera, raja gendruwo dan bala tentaranya, siluman penjaga tempat-tempat pemujaan aliran sesat, siluman-siluman sakti, raja-raja siluman, yang berwatak jahat dan serakah ikut bergabung dengan Kerajaan Segara Pitu, saling bekerjasama untuk menghancurkan kekuatan Kerajaan Segaralaya.


Candani bersama Lintang Samudera, dan raja muda ular, mengendap-endap mendekati sebuah sumur tua yang sudah tidak terpakai lagi, yang berada di dekat lapangan pelatihan bangsa siluman. Di sinilah mereka telah membuat janji dengan salah satu utusan raja siluman yang juga merupakan murid Guru Yasa Rasendriya.


Saat malam turun, seseorang melangkah senyap. "Kakang Lintang Samudera," sapa siluman yang datang. "Ini aku, siluman Astula dari Kerajaan siluman di Gunung Pandan Wangi.


"Siluman Astula, apa yang sedang kau lakukan di tempat ini?"


"Aku diperintahkan oleh Raja Siluman Gunung Pandan Wangi untuk membantu Kerajaan Segaralaya. Di sini aku sedang menyamar dan menggabungkan diri dengan para prajurit siluman lainnya."


"Apa kau di sini sendiri, Siluman Astula?"


"Aku tidak sendiri. Ada seribu prajurit dari Gunung Pandan Wangi yang membaur bersama pasukan siluman lainnya, kami diberi tugas untuk menjadi mata-mata." Siluman Astula menjeda ucapannya. "Hawa kalian sudah tercium oleh anjing-anjing penyidik. Sebaiknya kalian secepatnya pergi atau makanlah buah ini, buah ini mampu menyamarkan hawa tubuh kalian."


"Candani, bagaimana dilanjut atau kembali?"


"Lanjut Kakang Lintang. Sudah kepalang tanggung sampai di tempat ini. Aku harus mengetahui siasat apa yang digunakan para siluman-siluman itu untuk menghancurkan kerajaan ku."


"Siluman Astula, apakah kau tahu perjanjian seperti apa yang terjadi antara Raja Suteja Thani dari Segara Pitu dengan bangsa siluman?" tanya Candani Paramita.


"Semua hasil penyidikan ada di pimpinan kami. Dia yang akan menyerahkan hasil penyelidikan yang telah dilakukan. Tapi sekarang baiknya lekaslah makan buah ini. Agar tidak tercium oleh anjing-anjing penjaga disini. Penciuman mereka sangat tajam. Dan balurkan daun ini ke badan kalian, baunya sangat busuk, tapi ini akan sangat membantu."


Ketiga tamu yang tak diundang itu segera memakan buah yang diberikan Siluman Astula, dan mengoleskan daun yang berbau sangat busuk ke tubuh mereka.

__ADS_1


🔸🔸🔸🔸🔸


Siluman Astula membawa ketiga tamunya menemui Senopati siluman dari Gunung Pandan Wangi. Hasil penyelidikan yang sudah mereka kumpulkan ditulis dalam sandi yang tertulis di beberapa lontar.


"Ada penyusup.....ada penyusup.....ada penyusup," suara riuh ramai dari para anak buah siluman api memenuhi lapangan. Pasukan anjing penyidik bangsa siluman menyalak ramai, saling berlomba lari menelusuri aroma lain yang mengalir di penciuman mereka.


Kumpulan api memencar mengelilingi seluruh wilayah pelatihan prajurit bangsa siluman. Para prajurit siluman berlari memencar, dan sebagian lagi mengikuti langkah anjing-anjing penyidik.


Candani, Lintang Samudera, dan raja muda ular, segera berlari cepat melawan pepatnya kegelapan yang menjadi terang dikarenakan cahaya api yang bermunculan dari tubuh siluman-siluman api.


"Kelakuan siapa ini yang sudah melaporkan kedatangan kita?" tanya Candani Paramita. Mereka bertiga terus berlari sambil sesekali bersembunyi.


"Ini pasti ulah mata-mata dari siluman pohon. Tapi tenang saja siluman penyusup dari Gunung Pandan Wangi tetap selamat."


"Itu hal yang mudah. Pertemuan kita tadi dilakukan di sebuah sumur mati. Pohon-pohon yang ada di sana sudah aku periksa, semuanya asli pohon, bukan bentuk jadi-jadian dari siluman pohon."


Mereka kembali melanjutkan langkah kaki yang tertunda. Lintang Samudera kali ini memimpin di depan dan Candani Paramita berada di belakang raja muda ular. Bagaimanapun raja muda ular tidak boleh celaka, keberadaan raja muda ular merupakan sumber kekuatan seluruh rakyat ular.


Para siluman penyusup yang berasal dari Gunung Pandan Wangi ikut berlarian mencari keberadaan Candani dengan teman-temannya. Mereka mencoba mengalihkan perhatian para siluman api apabila sudah mendekati persembunyian sasaran yang dituju.


Terkadang Candani bersama Lintang Samudera dan juga raja muda ular, harus merangkak-rangkak menghindari para pengejar. Bahkan beberapa kali mereka harus merayap. Seruan kata-kata penyusup masih terus terdengar.


"Kanjeng Ratu Sanura," sapa sesosok wajah yang tidak dikenal.


"Siapa kau? Kau mengenalku?"

__ADS_1


"Perkenalkan namaku Bhanu. Aku anak keturunan dari hubungan antara gendruwo dan manusia. Aku anak angkat Nyai Niti Padmarini, pemilik kebun mawar putih berkelopak delapan."


"Bhanu. Bagaimana kau bisa menjadi anak angkat Nyai Niti Padmarini?"


"Para gendruwo tidak mau menerimaku yang separuh gendruwo dan separuh manusia, para manusia juga tidak mau menerimaku, para manusia ketakutan saat melihatku. Karena kasihan, Nyai Niti Padmarini mengambilku dan mengangkat ku menjadi anak angkat, mengajariku bicara dan bertingkah laku layaknya manusia, serta memberikan berbagai ilmu kesaktian." Bhanu terdiam sejenak. "Dan aku sekarang diberi tugas untuk melindungi Kanjeng Ratu Sanura beserta rombongan. Kata Nyai Niti Padmarini dengan membantu Kanjeng Ratu Sanura, kelak saat Nyai Niti sudah tiada, maka Kanjeng Ratu akan mengijinkan ku untuk mengabdi."


"Apakah ada yang dititipkan oleh Nyai Niti Padmarini?"


"Ada." Bhanu mengeluarkan sebuah kotak dan beberapa bunga mawar putih berkelopak delapan kepada Ratu Sanura atau Candani Paramita.


Candani membuka isi kotak dan menerima bunga mawar yang dibawa oleh Bhanu. "Sekarang apa yang kau inginkan?"


"Hamba hanya ingin menjadi bermanfaat di jalan kebaikan."


"Baiklah Bhanu. Aku ijinkan kau mengabdi padaku. Dan untuk selanjutnya, kau berada di bawah kepemimpinan suamiku Lintang Samudera. Untuk sekarang, tugas pertama mu bawa kami keluar dari tempat ini."


Dengan tangkas anak gendruwo Bhanu membelah jalan dan menipu pandangan para siluman yang mengejar. Pohon kembar yang menjadi pintu masuk sudah berada di depan mata. Dengan cepat keempat orang itu keluar dari alam siluman.


🔸🔸🔸🔸🔸


Pohon kembar itu kembali menjadi pohon pada umumnya. Berdiri di tengah rindangnya pepohonan yang lain. Hanya perbedaannya, tidak ada satupun hewan yang sudi singgah di kedua pohon itu.


Anak gendruwo Bhanu kembali menghilangkan wujudnya. Mata kasar tidak dapat melihat keberadaannya.Lintang Samudera menugaskan anak gendruwo Bhanu untuk menjadi pengawal bayangan selama dalam penyusupan.


Candani beserta teman seperjalanannya ditambah pasukan kelana, bergegas merapikan barang-barang mereka. Suara langkah kuda membelah malam, berlari berkejaran dengan waktu, keluar dari hutan secepat mungkin. Mereka melewati desa satu ke desa lainnya, menghindari kejaran bangsa siluman.

__ADS_1


__ADS_2