
Kubu yang mendukung bahwa permaisuri kerajaan ular harus berasal dari bangsa ular, berkumpul di sebuah tempat rahasia di dekat hutan belantara. Setelah siasat yang direncanakan gagal saat dibawa ke balai pertemuan, kini penasehat Osadha dan pengikutnya menyusun rencana lain, bekerjasama dengan iblis.
Gadis ular Moktika dengan hati yang berbunga-bunga mengunjungi raja muda ular. Hatinya serasa melayang saat mendapat kabar bahwa dirinya bisa menemui raja muda ular.
Di sebuah taman yang indah, di sanalah raja muda ular sudah menantinya.
"Tampannya. Ini bukankah, ini taman tempat raja dan permaisuri menghabiskan waktu untuk bermesraan, apakah raja muda ular mau langsung... aaahhh aku malu?" Moktika menutup wajahnya, malu dengan angan-angan yang dirajutnya sendiri.
"Raja Muda," sapa Moktika.
"Sudah datang." Raja muda ular memandang Moktika dengan pandangan berbinar, pandangan yang mampu merenggut hati para gadis. "Sangat cantik. Ternyata kabar yang ku dengar mengenai dirimu benar adanya, sangat cantik," puji raja muda ular dengan pujian yang melelehkan hati.
Moktika mengulum senyum. Bunga-bunga indah bermekaran di dalam hatinya, saling memilin membentuk sebuah rangkaian bunga.
"Terima kasih untuk pujiannya."
"Moktika jangan terlalu kaku, bersikaplah sewajarnya. Kalau terlalu kaku seolah-olah ada jarak yang memisahkan," raja muda ular mengeluarkan rayuan yang berisi madu dan gula demi meluluhkan hati Moktika.
Tanpa basa-basi gadis ular Moktika memberanikan diri duduk di depan raja muda ular dengan jarak yang cukup dekat. Bukan tanpa tujuan dia melakukan itu. Dengan sedikitnya jarak bukankah raja muda ular akan menjadi menyadari semua keindahan yang ada di dirinya.
Di taman itu sengaja dikosongkan dari para prajurit penjaga. Karena taman itu memang sebuah taman khusus tempat raja dan permaisuri untuk menghabiskan waktu bersama.
Raja muda ular menggandeng Moktika dan membimbingnya menuju pintu bunga. Moktika menuruti semua permintaan raja muda yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Pintu bunga terbuka perlahan, kaki Moktika memasuki pintu itu melangkah dengan penuh kebahagiaan, masuk ke tempat raja dan permaisuri memadu kasih, saat pintu tertutup sebuah kejadian tak terduga terjadi. Beberapa orang menyekap gadis ular Moktika, mengikatnya dan menutup matanya.
"Mahapatih aku butuh bantuan mu?" pinta raja muda ular saat mereka berdua berada di bilik pribadi raja.
__ADS_1
"Apakah yang bisa dibantu oleh ular yang sudah tua ini?"
"Aku akan mencari keberadaan adinda permaisuri Nimas Ayu Palupi. Sekiranya Mahapatih bisa memimpin pertemuan. Jika ada yang bertanya aku pergi kemana, cukup katakan sedang di taman pintu bunga."
"Baik Raja Muda. Tapi apakah maksudnya...ehmmm... gadis ular Moktika akan disekap di taman pintu bunga?"
"Benar Mahapatih. Karena itu aku membutuhkan bantuan Mahapatih," ucap raja muda ular.
"Baiklah. Karena Raja Muda sedang sibuk di taman pintu bunga, hamba yang akan menggantikan memimpin pertemuan." Mahapatih pun pergi menjalankan perintah rajanya.
🔸🔸🔸🔸🔸
Suara burung hantu saling bersahutan. Dari satu tempat ke tempat lainnya. Jalanan sangat sepi. Semua pintu tertutup. Pergerakan secara rahasia yang dilakukan di malam hari, menjadikan para pemilik rumah memilih menutup pintunya sedari sore hari. Tidak ada satupun lampu yang menyala. Semuanya begitu senyap sepi. Melahirkan suasana yang mencurigakan.
Di salah satu rumah terdapat cahaya yang terang. Sebuah jalur bawah tanah berisik oleh suara merangkak dan merangkak. Tanpa disadari oleh mereka yang sedang merangkak, terdapat beberapa pengikut gelap yang jauh mengikuti di belakang mereka.
"Lebih dalam memasuki hutan."
"Tapi satupun dari kawula ular tidak ada yang pernah menerobos jauh sampai ke dalam hutan."
"Kalau begitu kitalah yang pertama kali menyusup sampai jauh ke dalam hutan. Apa kau pikir putri bungsu yang manja itu berani masuk jauh ke dalam hutan?"
"Raja muda ular sangat menyayanginya, tentulah banyak kebaikan dan kelebihan yang dimiliki Nimas Ayu Palupi."
"Betul juga katamu. Daripada Moktika yang bisanya hanya merengek-rengek dan memerintah."
Pepohonan berubah menjadi bayangan hantu-hantu gentayangan. Bergoyang-goyang menembus batas angan keangkeran.
__ADS_1
Raja muda ular dan pengikutnya tidak melewatkan pembicaraan segerombolan ular suruhan penasehat Osadha. Mereka pun memilih mengambil jalan memutar, berselisih jalan. Tidak ada jebakan di hutan ini. Hanya saja hutan ini memiliki misteri tersendiri.
"Bagaimana aku bisa menemukan istriku?"
"Raja Muda ada sebuah cerita yang disampaikan secara turun-temurun, tapi hamba ragu, mungkin itu hanya cerita asal bicara saja."
"Sampaikanlah apapun itu. Meskipun hanya kebohongan aku akan melakukannya. Sudah sepuluh hari lamanya istriku menghilang."
"Baiklah. Raja Muda ada sebuah kisah di masa lalu yang mungkin hanya sebuah kebohongan. Bahwa di hutan ini terdapat sebuah goa yang disembunyikan dari pandangan mata kasar. Dahulu dikisahkan ada sepasang ular jatuh cinta. Tapi mereka berasal dari alam yang berbeda. Ular yang betina merupakan penghuni telaga murni alam suci ular, dan yang jantan hanyalah ular biasa yang sehari-harinya mencari penghidupan di hutan. Mereka berjumpa dan saling jatuh cinta. Sebuah cinta yang dilawan dan ditentang oleh semua pihak. Akhirnya dengan kesaktian yang dimiliki ular betina dibuatlah sebuah goa tersembunyi sebagai tempat sepasang kekasih itu mengarungi hidup bersama. Mereka menamai goa itu dengan sebutan 'goa pengantin'. Sepasang kekasih yang saling mencintai itu di dalam kisah disebutkan hingga kini tinggal di dalam goa itu. Banyak yang berusaha mencari keberadaan goa itu, tapi tidak pernah ditemukan."
"Panglima prajurit ceritamu sangat panjang. Sungguh merepotkan untuk mendengarkannya." Raja muda ular tersenyum serasa mendapat jawaban atas kegelisahannya. "Bagaimana cara menemukan goa itu?" tanya raja muda ular.
"Mudah. Di dalam kisah disebutkan hanya mereka yang mempunyai cinta yang tulus suci untuk pasangan nya yang bisa menemukan goa pengantin."
"Baiklah. Cinta tulus suci. Panglima berjagalah di sini. Aku akan berusaha menemukan goa pengantin," perintah raja muda ular.
"Tapi Raja Muda sangat bahaya pergi sendirian," panglima mengingatkan.
"Aku harus mencarinya sendiri. Mungkin benar istriku di dalam goa pengantin, diselamatkan oleh penghuni goa itu."
Semua akhirnya patuh. Karena memang keberadaan tempat persembunyian permaisuri Nimas Ayu Palupi tidak dapat ditemukan sama sekali. Mungkin keberadaan 'goa pengantin' benar adanya.
Raja muda ular memohon petunjuk kepada Sang Pencipta. Lalu dilanjutkan meminta kerelaan sepasang kekasih ular penghuni goa pengantin untuk membuka jalan dan menyerahkan istri tercintanya kembali kepada dirinya. Di selusurinya semak belukar yang tumbuh tinggi, semua pohon dan belukar di tengah-tengah hutan ini tidak pernah tersentuh siapapun, yang memaksa memasukinya akan mati tersasar atau menghilang entah kemana.
Jalanan gelap gulita hanya cahaya bintang yang ada. Bulan bersembunyi di balik semaraknya pasukan awan.
Raja muda ular kembali memohon dengan sepenuh hati. Memohon melalui kerinduan dan rasa cinta yang sangat dalam kepada Nimas Ayu Palupi. Dalam keputusasaan raja muda ular menatap langit. Menatap bintang yang tersusun lurus ke suatu arah. Tanpa disadarinya diikutinya arah rasi bintang itu.
__ADS_1