
Jaladhi meninggalkan Senopati Arkana. Dirinya menuju tempat pembuatan senjata. Suara dentang palu bergema di sekeliling kaki gunung Anaga. Berbagai jenis pedang tergeletak di setiap sisi para pembuat senjata. Mereka bekerja dengan bertelanjang dada. Panas yang keluar dari bijih besi yang dicairkan sangat luar biasa.
Di tempat itu Jaladhi hanya sebentar, menjumpai seseorang yang dengan damainya menjadi mata-mata di tempat itu.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Ki Estungkara menahan sakit di atas pusatnya. Rasa nyeri yang melilit menjadikannya susah bergerak. Diapun hanya duduk di tanah sembari memegang bagian atas pusatnya. Wajahnya memerah, perpaduan antara marah dan malu.
"Kau salah orang, Estungkara. Aku bukan istri raja muda ular. Aku hanyalah seorang pengembara, dan lelaki berwajah tampan itu adalah suamiku." Candani menunjuk ke arah Lintang Samudera. Yang baru saja dipuji tampan, wajahnya langsung sumringah.
Raja muda ular dibuat geli melihatnya. "Kakang, cuma dipuji tampan hatimu sudah melayang-layang."
"Tentu saja. Istri yang memuji tentu bahagia. Lihat kau, apa pernah istrimu memujimu?"
"Yah kena. Nimas, ayo puji aku! Puji suamimu!"
Nimas Ayu Palupi menunduk malu. Dirinya belum terbiasa menunjukkan kemesraan di depan umum. Tanpa diperintah kepalanya menggeleng.
"Lihat, istrimu saja tidak mengakui ketampanan mu." Tawa Lintang Samudera membahana di ruangan itu.
"Diam!" Bentak Ki Estungkara. Wajahnya semakin memerah. Harga dirinya benar-benar jatuh. Bahkan raja muda ular yang dahulunya selalu menekuk kepala di hadapannya, sekarang dengan berani bercanda tertawa-tawa di depannya.
"Jangan galak, Ki," ledek raja muda ular.
Candani kembali mendekati Ki Estungkara.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Ki Estungkara penasaran.
"Aku, aku hanya pengelana," jawab Candani singkat.
"Dasar demit," Ki Estungkara mengeluarkan umpatannya.
"Nah betul sekali. Aku ini demit. Jadi Ki Estungkara jangan banyak tingkah. Sudah tua ingat mati."
__ADS_1
"Dasar sialan," umpatan kembali muncul dari mulut Ki Estungkara.
"Seratus nilai untuk umpatanmu. Aku demit sialan yang menghajar orang tua dungu sepertimu." Candani tampak riang meladeni umpatan Ki Estungkara.
"Istriku, sudahlah. Jangan mempermainkan orang tua. Kasihan sudah tua dihina lagi." Lintang Samudera menambah sedikit bahan bakar untuk memancing kembali kemarahan Estungkara.
Candani mulai malas meladeni laki-laki tua di hadapannya ini.
"Persekongkolan apa yang kau buat dengan iblis Prabangga. Bagaimana kau bisa mengenal iblis laknat itu?"
Ki Estungkara tercengang. Gadis muda di hadapannya ini mengetahui iblis Prabangga. "Siapa dia?" tanyanya dalam hati.
"Jawab," bentak Candani Paramita dengan suara keras.
"Itu....itu..."
Semua yang ada di kemah itu terdiam. Seorang wanita cantik, Gusti Permaisuri Gasita Anjali tiba-tiba masuk ke dalam kemah dengan gaya anggunnya.
"Apa-apaan ini? Ki Estungkara, apa yang kau lakukan!" Gasita Anjali memandang Ki Estungkara dengan tatapan menyelidik.
"Kau!"
"Sudah diamlah kau, Gasita Anjali. Aku bosan menjadi tahanan mu." Candani Paramita enggan berdebat dengan si muka dua Gasita Anjali.
"Prajurit tangkap wanita sialan ini!"
Puluhan prajurit mengepung di dalam kemah. Bahkan di luar kemah telah mengepung ratusan prajurit lainnya.
Candani Paramita terdiam memusatkan alam pikirannya. Ada yang sedang dipanggilnya dari bagian alam semesta. Teman-temannya dengan cepat mendekat ke samping Candani. Bahkan Jaladhi pun telah sedia pula di samping Candani Paramita.
Suara kemerisik menyebar di seluruh tempat pelatihan. Suara yang tadinya sedikit berubah menjadi ramai menggema memenuhi setiap sisi kaki gunung Anaga. Para prajurit yang melakukan pengepungan kebingungan dengan apa yang didengarnya. Secara perlahan tapi pasti, daun-daun kering yang ada di pegunungan beterbangan menuju tempat pelatihan prajurit. Daun-daun itu mengikuti perintah seseorang. Dengan cepat daun-daun kering terkumpul.
Lintang Samudera melihat kebingungan yang menimpa pasukan musuh. "Minggir,' perintahnya.
__ADS_1
Para prajurit tetap bergeming.
"Minggir atau kalian mati terbunuh dengan sia-sia! Kau, Gasita Anjali, cepat suruh prajurit mu untuk keluar dari ruangan ini. Cepat ?" Teriak Lintang Samudera tidak sabar.
Gasita Anjali berdiri kebingungan. Suara kemerisik dedaunan kering semakin keras terdengar. Bahkan suara itu mirip suara pasukan lebah yang sedang terbang bergerombol.
"Cepat, minggir!" Lintang Samudera kembali memekik keras.
Gasita Anjali melangkah minggir, gerakan Gasita Anjali diikuti secara serempak oleh para prajurit. Jalanan terbuka. Pasukan pengepung memberi jalan, seolah-olah melepas kepergian tuan raja.
Daun-daun kering itu terus terbang, menimpa di atas setiap perkemahan. Setelah Candani lepas dari kepungan para prajurit, Candani kembali melanjutkan rencananya. Hawa panas dari tempat pembuatan senjata menyebar secara merata ke seluruh tempat pelatihan. Hawa panas itu awalnya memberikan gesekan-gesekan halus pada daun-daun kering. Gesekan-gesekan halus itu makin lama makin keras dan semakin kencang.
Api-api kecil mulai tercipta di tempat berkumpulnya dedaunan kering. Api yang kecil dan sedikit lama-kelamaan menjadi banyak, dan berubah menjadi besar. Sebuah kebakaran tercipta. Api melahap kemah-kemah, senjata-senjata yang berbaris rapi dilahapnya dengan rakus, anak-anak panah terbelah terkena lalapan api yang makin lama makin menggila.
Para prajurit tanpa diperintah langsung berlarian menuju danau. Membawa apapun yang bisa digunakan untuk memadamkan amukan api.
Candani dan teman-temannya menuju kandang kuda. Sungguh baik. Kuda-kuda mereka berbaris dengan gagah di kandang kuda. Para prajurit yang melihat sandera melarikan diri bergegas berlari mengikuti. Sebelum para prajurit itu sadar dengan keadaan. Sebuah ombak yang tinggi tiba-tiba muncul dari danau besar yang ada di tempat pelatihan itu. Ombak itu terus meninggi dan makin tinggi menimpa dan menerjang apapun yang ada di hadapannya. Api besar yang hampir saja merenggut nyawa banyak orang, telah dipadamkan oleh dia yang memanggil kehadiran pasukan dari alam semesta itu, Candani Paramita.
Hiruk pikuk yang hebat melanda tempat pelatihan prajurit. Tiap orang kebingungan dengan apa yang terjadi dan apa yang dilihatnya. Gasita Anjali basah kuyup oleh air yang mengguyur. Dandanannya hancur sudah. Pupur yang dioleskan di pipi luntur, hiasan rambutnya tertidur. Pudar sudah ayu yang dipancarkan. Yang hadir sekarang seorang wanita penyihir jadi-jadian.
"Tutup telingamu," perintah salah seorang prajut. "Sudah menurut saja."
Prajurit-prajurit yang mendengar perintah itu segera menutup telinganya.
"Sanura sialan. Dasar demit, iblis, setan, dasar perempuan sialan." Sumpah serapah Gasita Anjali menggema di seluruh kaki gunung.
Seperti kata seorang prajurit "tutup telinga maka kau selamat". Ternyata ini makna tersembunyi ucapan prajurit itu. Menyelamatkan telinga dari sumpah serapah yang tidak berguna.
Kehancuran luar biasa terjadi di tempat itu. Tombak, anak panah, busur, dan senjata lainnya yang mengandung bahan kayu semuanya habis terbakar. Kemah-kemah satupun tidak ada yang selamat, kecuali kemah yang dihuni oleh para prajurit yang sakit. Candani sedikit berbaik hati pada mereka yang sakit.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Ayo vote vote vote dan like. Tunjukkan kesaktian jari-jari para readers semua dengan memberikan vote dan like. Eeeiiittt jangan lupa komen cantiknya harus mendarat sempurna.
__ADS_1
Para readers dan sahabat NT, vote dan like dari para readers semuanya merupakan salah satu berkah yang sangat berharga bagi author. Makasih untuk semuanya. Salam rindu dari "Candani Paramita dan Lintang Samudera".
Are you ready?πππππππ