
Dua orang prajurit duduk tiga meter jauhnya dari perapian. Merekapun membuat perapian sendiri untuk menghangatkan badan bagi yang bertugas jaga.
"Bayu Putra sudah matang apa belum singkong bakarnya?"
"Sebentar lagi Kakang Samba."
"Wanginya sudah membuat perutku berbunyi krucuk-krucuk."
"Sabar Kakang. Sebentar lagi perutmu yang krucuk-krucuk itu akan teratasi dengan pulennya singkong bakar ini, bersabarlah, untuk menunggu matang aku persilakan Kakang untuk berkhayal yang indah-indah."
Senyap.
Hening.
Hanya suara desiran angin lembut yang terdengar. Suaranya seperti sekumpulan lelembut yang sedang melakukan perjalanan dari arah-arah yang tidak terduga yang sedang bermigrasi dari desa lelembut satu ke desa lelembut yang lain. Mungkin jika sesekali terdengar suara burung itu mungkin pertanda ada bayi lelembut yang sedang rewel. Untuk menenangkan anaknya mungkin sekumpulan lelembut yang sedang bermigrasi itu berhenti sebentar di sebuah desa manusia. Tujuannya satu mencari anak kecil dari bangsa manusia untuk menemani anaknya bermain supaya anaknya tidak rewel lagi. Karenanya anak yang masih kecil jangan suka ditinggal sendiri. Takutnya ada ibu dari bayi lelembut yang sedang menenangkan anaknya dan mencari anak dari bangsa manusia untuk bermain. Jika terjadi hal itu maka adakalanya seorang anak bangsa manusia tertawa-tawa sendiri, atau bermain sendiri, padahal sebenarnya tidak sendiri, anak manusia itu sedang bermain dengan anak bangsa lelembut. Ssssssstttt karenanya waspadalah! Suara kelelawar ikut menjadi pembisik di malam ini. Suara patahan kayu yang terbakar ikut menjadi pelengkap nada di malam hari. Hening. Pelan. Senyap.
"Sssttttt dengarkan ada suara anak-anak kecil menangis," ucap prajurit Bayuputra sembari meletakkan satu jari ke bibirnya meminta perhatian serius dari Samba.
Samba mendengarkan dengan seksama. Ditajamkannya indra pendengarannya ikut terbawa suasana mencekam yang ditawarkan Bayu Putra. Dan tanpa diduga-duga muncullah suasana mencekam melanda dua prajurit yang sedang bertugas jaga itu. Semakin mencekam membangkitkan bulu kuduk. Mungkin ada anak bangsa lelembut yang sedang rewel atau sedang demam badannya karenanya mencari teman untuk bermain dari anak manusia. Seperti diketahui anak manusia itu lucu dan menggemaskan. Memang sedikit ngawur pemikiran dua prajurit yang sedang berjaga ini, mungkin untuk menghilangkan rasa kantuk.
Krik.....kriiikkkk....kriiikkkk.
Hmmmmm....hmmmm....hmmm, dengan dengungan agak sedikit keras.
Kreeettt....klesek....klesek. Ada yang merayap di tanah.
Suara kelelawar ikut meramaikan kesunyian.
__ADS_1
Suasana semakin tegang. Bulan sabit di langit terlihat redup menandakan baru terjadi pergantian bulan.
Riuh angin melewati tanpa permisi. Degup jantung mulai terdengar.
Deg....degggg....degggggg.
Dan ambyarlah suasana ketika bau khas hutan yang berisikan aroma dari pepohonan, dedaunan, tanah, kayu-kayu kering, buah-buahan, aneka bunga dan lain-lain, berubah menjadi aroma busuk yang sangat menyengat yang berasal dari pelepasan udara dari saluran pembuangan.
Samba langsung berlari menjauhi Bayu Putra. Jurus pelepasan yang dikeluarkan oleh Bayu Putra sangat dahsyat. Pasukan semut pasti langsung pingsan jika mencium aroma dari jurus pelepasan Bayu Putra ini. Dan kambing yang sedang hamil tua pasti langsung melahirkan karena baunya sampai ke dalam rahim ibu kambing, si bayi kambing pasti butuh udara segar untuk menyelamatkan diri dari bau busuk yang tiada tara.
"Ahhhhhh leganya." Ucap Bayu Putra sembari mengusap-usap perutnya yang seolah-olah telah terlepas dari belenggu yang dahsyat. Bibirnya tersenyum puas. Dan wajah kurang ajarnya melambai-lambai mengejek semua yang melihatnya. Belenggu itu kini tengah menyerang Samba dan para penghuni hutan di sekitar kedua prajurit ini.
"Dasar edan. Gendheng, ora nduwe isin ( tidak punya malu ), ngisin-ngisinake ( malu-maluin )," maki Samba sambil terus memegangi hidungnya, menghindari polusi dari aroma busuk yang dikeluarkan oleh Bayu Putra.
"Hahaha...... hahahaha..... hahaha," Bayu Putra tertawa tanpa bersuara. Bahkan dia sampai berguling-guling puas mengerjai Samba.
"Tobat. Tobat. Namamu seharusnya bukan Bayu Putra ganti mulai sekarang namamu Kentut Putra. Bayu Putra terlalu bagus putra dari dewa angin, Kentut Putra lebih cocok untukmu, putra dari dewa kentut cocok sekali untuk orang yang kentutnya busuk setengah mati seperti dirimu," umpat Samba penuh berisik menganggu tidur ayam hutan.
"Bocah saru ( tidak sopan )," ucap Samba belum bisa menerima kenyataan pahit yang menimpa dirinya.
Malam terus berjalan menyusuri waktu. Bulan muda mengawal alam dengan sedikit cahayanya.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Pagi pun akhirnya datang. Cahaya matahari hanya sedikit yang bisa menembus rimbun pepohonan dari hutan ini. Semua pasukan kelana duduk mengelilingi Ratu Sanura karena ada yang hendak disampaikan olehnya.
Kuda-kuda dengan tenang merumput termasuk kuda Antari kuda milik ratu mereka.
__ADS_1
" Para Senopati dan prajuritku semua. Di negeri daratan ini aku atau tepatnya kita semua sedang berkelana. Karena itu aku ingin melakukan penyamaran dalam perjalananku ini," Sanura menatap setiap tatapan mata pengikutnya, mencoba memberikan pemahaman yang dapat dimengerti dan diterima oleh mereka.
"Sebelumnya ampun Kanjeng Ratu, hamba memberanikan diri untuk bertanya," ucap Senopati Jaladhi sebagai orang tertua di pasukan ini. " Apakah Kanjeng Ratu akan menyamar dan dalam penyamaran ini Kanjeng Ratu bukan bertindak sebagai seorang ratu?"
"Benar Senopati Jadhipa. Semalam telah kupikirkan matang-matang, untuk pengembaraanku ini aku akan memakai nama lain sebagai nama penyamaranku. Nama penyamaranku Candani Paramita."
"Mulai sekarang dalam pengembaraan ini tidak ada Ratu Sanura , tidak ada Senopati , prajurit, ataupun emban. Kita hanyalah sesama saudara yang sedang melakukan pengembaraan untuk menambah ilmu dan bekal hidup lainnya."
" Lalu bagaimana posisi dalam memanggil Kanjeng Ratu?" tanya Senopati Apsara.
"Untuk Senopati Jaladhi dan Senopati Apsara, kami semua akan memanggil Senopati berdua dengan panggilan Kakang Jaladhi dan Kakang Apsara. Kakang berdua silahkan cukup memanggilku Candani Paramita anggaplah aku adalah adik yang wajib kalian lindungi. Bukankah tugas kalian melindungiku?"
Jaladhi dan Apsara manggut-manggut memahami penjelasan Candani.
"Untuk Baluh Jingga karena usiamu lebih muda panggil aku dengan sebutan Kang Mbok ( sebutan kakak untuk saudara perempuan yang lebih tua ), dan aku akan menganggapmu sebagai adik perempuanku."
"Kang mbok Candani," ucap Baluh Jingga sambil tersipu malu dan terharu, karena ratu junjungannya ini bersedia menganggapnya sebagai seorang adik. Seorang ratu yang agung tapi tidak menyombongkan diri.
Candani tersenyum puas dengan keluwesan Baluh dalam memanggilnya.
"Untuk para prajurit silahkan menyesuaikan untuk panggilannya," ucap Candani.
Sekarang yang ada hanyalah sebuah keluarga dan saudara seperguruan yang sedang melakukan pengembaraan.
Sekumpulan orang-orang baru ini menderap kudanya dengan santai. Menyusuri jalan sampai keluar hutan. Menapaki dari satu desa ke desa yang lain. Sesekali mereka berhenti di sebuah desa bahkan menginap dan sampai tinggal beberapa hari. Mencoba mempelajari tata kehidupan dari rakyat negeri daratan.
Interaksi Candani dan saudara-saudara barunya ini begitu apik, saling membantu dan saling melindungi, tidak ada perbedaan. Candani mencuci bajunya sendiri, memandikan kuda, bahkan ikut memasak membantu Baluh Jingga.
__ADS_1
Tapi di saat-saat mereka istirahat dan ada waktu kosong Candani Paramita hanyut dalam semedinya. Dirinya merasa yang dicari akan segera diperolehnya.
Hening menyatukan diri dengan rahasia keheningan alam semesta. Keheningan yang bisa membawa seseorang untuk menjumpai orang-orang suci baik yang telah tiada maupun yang masih ada. Keheningan yang mampu menembus pintu-pintu langit.