
Bintang di langit berkilauan, cahayanya berpijar ke berbagai penjuru. Hanya di bagian sisi tengah hutan ini yang tidak mendapatkan bagian terangnya cahaya bulan. Seakan-akan sudah menjadi kesepakatan alam semesta bahwa bagian tengah hutan ini hanya disinari oleh kilauan cahaya bintang.
"Hei..."
"Mengagetkanku," jawab raja muda ular.
"Kenapa kami tidak diajak?" tanya Lintang Samudera.
"Lupa," jawab raja muda ular seenaknya. "Mana ratu samudera?"
"Ada di depan."
"Goa pengantin?" tanya Candani Paramita.
"Hanya sepasang kekasih yang tulus mencintai yang bisa menemukan keberadaan goa itu," jawab raja muda ular.
"Ayolah secepatnya ditemukan keberadaan goa itu. Sepasang kekasih yang tulus mencintai? Aku dan suamiku sepasang kekasih yang saling mencintai," canda Candani Paramita.
Mereka bertiga mengikuti arah gugusan bintang yang benar-benar berbentuk seperti ular. Yang konon diceritakan gugusan bintang ini merupakan perwujudan dari ular air raksasa yang memiliki sembilan kepala, yang apabila ditebas akan tumbuh lagi kepala yang baru.
Setelah berjalan beberapa waktu lamanya, mereka pada akhirnya hanya kembali pada jalan awal, kembali pada bagian ekor gugusan bintang.
"Apa yang salah?" Candani berpikir dalam.
"Aku kira tidak ada yang salah. Hanya caranya yang diubah." Lintang Samudera berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita berciuman dengan sangat mesra, bukankah goa yang dicari bernama goa pengantin, berarti sepasang pengantin yang saling tulus mencintai yang bisa menemukan keberadaan goa itu?" Lintang Samudera menggoda istrinya.
"Mungkin juga. Alangkah baiknya dicoba. Ehmmm... Raja Muda mungkin sebaiknya memalingkan wajah dulu?" ujar Candani malu.
"Ah kalian, lagi-lagi berciuman di hadapanku. Kebiasaan. Lagi pula buat apa malu, aku sudah sering menjumpai kalian sedang berciuman di tempat terbuka. Dari dulu tidak berubah." Raja muda ular pun melengos memalingkan wajahnya ke tempat lain.
__ADS_1
Lintang Samudera dengan erat memeluk tubuh Candani Paramita. Dengan penuh cinta dan kerinduan diciumnya bibir istrinya lembut. Sebuah ciuman yang hangat. Direngkuhnya dengan erat tubuh istrinya, sebelum ciuman itu berubah menjadi ciuman panas, seberkas cahaya memanjang yang berasal dari tubuh kunang-kunang bersinar menyinari sebuah jalan, cahaya itu membentuk seperti gugusan bintang ular air raksasa di langit.
"Berhasil," ucap Lintang Samudera berbangga diri.
Dan benarlah, saat diikuti arah cahaya kunang-kunang itu, mereka sampai di depan pintu sebuah goa. Goa yang bagian atapnya berkilau sangat terang penuh dengan kilauan emas dan mutiara di bagian atas goa.
Raja muda ular dengan tidak sabar melangkah memasuki pintu goa. Tanpa diduga dirinya diserang dua ekor ular yang sedang berjaga di pintu goa. Sebuah perkelahian ringan terjadi. Meskipun kedua penjaga pintu itu memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, tapi ketinggian ilmu mereka masih berada jauh di bawah kemampuan raja muda ular. Dengan mudah raja muda ular berhasil menjatuhkan kedua penjaga pintu goa.
"Siapa kalian?" gertak raja muda ular.
Kedua ular yang sedang tersungkur itu, seketika kaget ketika menyadari siapa lawan mereka. "Raja Muda ampuni kami. Kami hanya berusaha menjaga keselamatan permaisuri Nimas Ayu Palupi," ucap salah satu ular penjaga pintu.
"Istriku ada di dalam goa?" tanya raja muda ular dengan binar bahagia.
Tanpa menunggu jawaban dari dua ular penjaga, raja muda ular pun bergegas berlari menuju tempat persembunyian istrinya.
Dengan payah Nimas Ayu Palupi mengangkat badannya. Perutnya yang sudah mulai membesar, rasa sakit dan nyeri di seluruh badan menjadikan Nimas Ayu sangat bersusah payah. Berbagai buah-buahan ada di hadapannya, kebutuhan minum pun terpenuhi. Hanya saja rasa payah karena kehamilan nya cukup berat. Mengandung sepasang bayi ular membuat Nimas Ayu harus kesakitan di setiap harinya. Rasa lemah dan tidak berdaya menjadikan wajahnya begitu pucat.
Di atas dipan batu Nimas Ayu menangis sesenggukan memegang perutnya yang terasa sangat sakit. Rintihan terdengar jelas dari bibirnya.
"Anakku, kenapa menyiksa ibumu? Ini sakit sekali, Nak. Kakang Raja......," jerit Nimas Ayu. "Ini sakit sekali. Tolong aku. Aaaaaaa..... Kakang Raja..... tolong selamatkan aku." Tangis Nimas Ayu semakin keras.
Raja muda ular hanya berdiri terpaku.
"Permaisuri setiap hari menahan kesakitan kandungannya. Saat kami berusaha menolong, permaisuri mengatakan hanya ingin bersama suaminya."
"Apa saja yang sudah istriku alami di sini?" Raja muda ular sedikit pun tidak mengalihkan pandangannya dari istrinya. "Dia sangat kesakitan."
"Permaisuri tidak mendapat hal buruk di goa ini. Mungkin saat berlari untuk menyelamatkan diri membuat perutnya berguncang hebat," jelas penjaga goa.
__ADS_1
"Nimas, istriku?" sapa raja muda ular pelan.
Nimas Ayu yang lemah menahan sakit, akhirnya pingsan, wajahnya yang pucat makin pucat. Dalam pingsannya dirinya merasakan mendengar suara seseorang yang sangat dirindukan kehadirannya. Seseorang yang dengan sabar dan telaten membantunya melewati kesusahannya dalam menjalani kehamilan. Dibukanya kedua bola matanya perlahan.
"Kakang Raja, kau datang."
Raja muda ular tak kuasa menahan sedih dan rindu yang berebutan menjadi satu. Dipeluknya tubuh istrinya. Diciuminya seluruh wajahnya dengan air matanya. "Nimas maafkan aku. Maaf karena tidak secepatnya menolong. Nimas, aku rindu."
Nimas Ayu tersenyum pucat. Raja muda ular membelai lembut kepala istrinya. Disentuhnya wajah istrinya yang seolah-olah sudah kehilangan cahaya.
"Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan benar. Mana yang sakit, mana, aku harus bagaimana agar sakit mu berkurang?"
"Kakang kenapa lama sekali. Aku kesakitan. Ini sakit sekali," rintih Nimas Ayu memelas.
Rahimnya yang seharusnya diisi dengan bayi manusia, harus berisikan bayi perpaduan antara manusia dengan suaminya yang setengah manusia dan setengah ular. Rasa sakit menggerogoti perut Nimas Ayu. Ditambah harus menanggung kesaktian mustika pelindung sejati yang akan terus bersemayam di rahimnya sampai anak-anaknya terlahir.
"Sudah jangan menangis. Mana yang sakit?" Dielusnya perut istrinya. Mencoba memberikan ketenangan pada ibu dari anak-anaknya.
Goa yang tadinya hanya disinari dengan cahaya dari kunang-kunang berubah menjadi terang benderang. Dua ekor ular raksasa muncul tidak terduga, mendekati raja muda ular dan Nimas Ayu yang masih sibuk dengan rasa cintanya.
Sepasang ular raksasa itu berubah wujud menjadi sepasang manusia yang sangat cantik dan sangat tampan.
"Kakang mereka siapa?" tanya Nimas Ayu ketakutan sembari terus memeluk erat suaminya.
Raja muda ular tidak sampai hati melepas pelukan istrinya. Dia pun akhirnya berdiri dengan posisi tetap memeluk istrinya.
"Salam hormatku kepada pemilik goa pengantin. Terima kasih karena sudah menyelamatkan istriku dan anak-anakku," sapa raja muda ular hormat.
Sepasang ular yang berubah wujud menjadi pemilik goa pengantin itu mendekat.
__ADS_1
"Sudah sepatutnya kami membantu ibu dari pewaris mustika pelindung sejati. Istrimu seorang istri yang setia dan tabah. Kelak anak keturunan mu yang terlahir dari rahimnya akan membawa kedamaian bagi seluruh alam ular."
Sepasang kekasih pemilik goa pengantin akhirnya menghilang. Kunang-kunang kembali beterbangan memberi penerangan di dalam goa yang gelap gulita.