CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
MENJALANKAN RENCANA


__ADS_3

Pagi yang indah. Sekelompok ombak kecil sedang berlatih berdebur di pantai. Ombak ini berusaha untuk bisa menjadi ombak yang besar. Tapi apa daya, seberapapun berusaha dirinya tetap menjadi ombak kecil. Si ombak kecil pantang menyerah, dirinya percaya suatu hari usahanya akan berhasil, dan dirinya layak bersanding dengan para ombak besar.


Ratu Samudera Sanura dan Lintang Samudera berada di tempat latihan khusus yang disediakan untuk sang ratu. Mereka berlatih saling adu ilmu beladiri. Masing-masing memasang kuda-kuda, dan selanjutnya perkelahian pun terjadi. Sang ratu mengarahkan serangannya pada bagian leher lawan latihannya. Lintang Samudera tidak menyangka istrinya akan langsung mengarah untuk menyerang leher. Mendapat serangan yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka, Lintang Samudera langsung melompat mundur menjauh. Ketika kesadarannya sudah kembali Lintang Samudera pun langsung menyerang, kembali disiapkannya kuda-kudanya, kaki Lintang Samudera melenting mengarah ke kepala sang ratu, sang ratu tidak mengelak, kaki Lintang Samudera dipegangnya lalu diputar dan dilempar. Sebelum sang ratu berhasil melempar kakinya, Lintang Samudera menyorokkan kakinya semakin dalam, mau tidak mau ratu samudera melepaskan pegangannya pada kaki lawannya, kalau tidak maka kepalanya yang akan jadi sasaran tendangan. Setelah terbebas, Lintang Samudera mulai beradu pukulan dengan sang istri. Kedua tangan mereka saling mengepal dan saling menghantam, sang ratu mengarahkan pukulan tangannya pada bagian perut Lintang Samudera, dengan lihai Lintang Samudera menangkisnya. Sang ratu kembali mengarahkan serangannya, kedua sikunya diarahkan untuk menyerang kedua paha suaminya, sebelum siku sang ratu mengenai pahanya, dengan cepat Lintang Samudera menyerang mengarahkan pukulan ke punggung sang ratu. Menyadari adanya serangan balik, sang ratu merubah arah gerakannya, kedua tangan sang ratu menangkis pukulan yang mengarah ke punggungnya, dan dengan gerak cepat kaki sang ratu menyapu kedua kaki Lintang Samudera.


Latihan itu terus berlanjut dengan serunya. Dari arah pintu tempat latihan muncul beberapa orang pangeran dari kerajaan bagian dan beberapa Senopati. Akhirnya Ratu Samudera menghentikan latihannya dengan suaminya, dan membiarkan suaminya melanjutkan latihan dengan para pangeran kerajaan bagian dan para Senopati.


Sang Ratu pergi membersihkan diri, dan bersegera menuju Balairung pertemuan.


Sedangkan di tempat latihan Lintang Samudera dengan senang hati melanjutkan latihannya dengan ditemani para pangeran kerajaan bagian dan beberapa Senopati.


🔸🔸🔸🔸🔸


Malam ini bulan muda. Cahaya bulan sabit bersembunyi di langit biru yang tampak gelap. Sebuah pergerakan senyap dilakukan beberapa orang dengan menutup wajahnya. Mereka melindungi diri di balik dinding pagar istana Segaralaya yang tinggi. Berjalan merambat perlahan, dua orang yang melakukan tugas jaga di depan pintu gerbang segera dibekukan, dan dibunuh tanpa harus mengeluarkan suara. Pakaian prajurit itu dipakai oleh dua orang yang kelompok yang hendak menyusup itu, sedang yang lainnya membawa mayat prajurit jaga dan menyimpannya di kereta kuda yang telah disiapkan. Kedua orang yang telah mengenakan pakaian prajurit Segaralaya segera mengambil alih tugas menjaga gerbang. Lima orang penjaga yang sedang meronda menyapa mereka.

__ADS_1


"Apakah sudah waktunya ganti penjaga?" tanya salah seorang penjaga yang berkeliling itu kepada penjaga gerbang.


"Kami berdua tidak tahu. Kami hanya diperintah untuk menuju pos jaga untuk menggantikan dua penjaga sebelumnya," jawab salah seorang prajurit jadi-jadian penjaga pintu gerbang.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya penjaga yang berkeliling.


"Siap, Senopati Laut Muda yang memberi perintah," jawab penjaga pintu gerbang.


Lima penjaga yang berkeliling itu saling memandang. "Apakah kalian prajurit baru di sini?"


Kelima prajurit yang berkeliling itu langsung mengambil posisi siaga memencar.


"Siapa kalian? Senopati Laut Muda sedang mendapat tugas khusus dari Ratu Samudera untuk menangkap para pengkhianat kerajaan. Kalian penyusup!" teriak salah seorang prajurit yang tugas berkeliling. "Tidak ada prajurit baru yang ditugaskan menjaga gerbang istana, kebohongan kalian terlalu kentara," imbuh orang itu lagi.

__ADS_1


Dua prajurit palsu penjaga pintu segera bersiap-siap menerima serangan. Keributan harus dihindari sedemikian mungkin, atau tujuan mereka akan tercium dengan cepat. Kawanan mereka yang masih berlindung rapat di dinding pagar istana secara bersamaan bermunculan. Dengan cepat baku hantam terjadi. Saka Sangkara tidak ingin keributan ini didengar banyak para prajurit pengawal kerajaan. Dengan cepat kelima prajurit penjaga keliling ditaklukkan oleh Saka Sangkara. Mereka dibuat pingsan, lali diambil seragamnya. Kelima orang prajurit ini kembali dibawa ke kereta kuda. Saka melarang pembunuhan, beberapa kawanannya sudah membunuh dua prajurit jaga pintu gerbang, dan hal ini membuat Saka murka. Bagaimanapun Saja tidak ingin meninggalkan kesan buruk di hadapan Ratu Samudera.


Ketujuh penyusup itu sudah berganti pakaian prajurit jaga. Dengan cepat mereka melakukan tugas untuk berjaga. Untuk berikutnya mereka pun bergabung dalam setiap hal di kesatuan bala tentara Segaralaya dengan sangat hati-hati. Untuk tujuan penyusupan ini dilakukan perlahan, tidak boleh tergesa-gesa. Di sisi lain Saka Sangkara berusaha untuk bisa menjumpai kekasih idaman hatinya sang ratu samudera yang sudah membuatnya jatuh cinta tergila-gila.


Suatu hari kesempatan untuk melihat kekasih hatinya pun diperolehnya. Dirinya diperintahkan untuk mengantar para pangeran dari kerajaan bagian dan beberapa Senopati ke tempat latihan khusus sang ratu.


Di tempat latihan itu disaksikannya tontonan yang sangat memukau. Sang ratu samudera dengan lincahnya berloncatan dari satu balok kayu ke balok kayu yang lain, saling menyerang dan saling menghantam dengan Lintang Samudera. Rasa iri dan cemburu langsung menguasainya. Tapi dengan cepat diredamnya rasa itu, Lintang Samudera mengetahui wajahnya, karenanya dengan cepat ditundukkannya wajahnya dalam.


Setelah kedatangan para pangeran dan Senopati, sang ratu pun pergi meninggalkan tempat latihan dan meninggalkan Lintang Samudera dengan mereka. Saka Sangkara langsung membalikkan badan hendak mengawal sang ratu, tapi sang ratu mengangkat salah satu tangannya sebagai tanda menolak pengawalan. Sang ratu hanya membawa dua orang dayang yang ikut serta menemaninya di tempat latihan. Saka Sangkara pun diperintahkan untuk kembali ke tempat para prajurit.


Baru kali ini Saka melihat wajah Ratu Samudera dari dekat. Sangat jelita. Kulit wajahnya yang putih, bukan, bukan putih tepatnya kuning langsat begitu bercahaya terkena kilau sinar matahari. Anak rambutnya yang basah terkena keringat semakin menambah kecantikannya. Rambut panjangnya yang hitam legam berkilau semakin menambah keindahan yang ada. Saka Sangkara begitu terpesona, ingin rasa hatinya berlutut dan meminta ijin untuk diijinkan menyentuh sedikit saja kulit tangan sang ratu, tapi tidak mungkin hal itu dilakukan. Jadi hanya dilukisnya kecantikan dan pesona sang ratu di dalam hatinya. Hatinya berdebar begitu keras, sampai-sampai dirinya khawatir debaran hatinya akan didengar orang lain.


Sebelum sang ratu pergi, Lintang Samudera mengelap keringat sang ratu dengan kedua tangannya. Lalu dirangkulnya pundak Ratu Samudera dan diantarkan ke pintu ruang latihan. Setelah bayangan sang ratu tidak tampak barulah Lintang Samudera melanjutkan latihannya.

__ADS_1


Semua itu tidak luput dari pandangan Saka Sangkara. Perseteruan antara dirinya dan Lintang Samudera sudah dimulai.


__ADS_2