
Candani Paramita dan Lintang Samudera saling memandang mengagumi keindahan masing-masing. Tatapan mereka menyatakan saling menunjukkan rindu dan cinta yang bergemuruh. Bergemuruh laksana air terjun yang berada di ketinggian berdebur indah ke tempatnya. Saat hati berdenyut bibir pun tak mampu berkata-kata, silau oleh debaran hati, sibuk dengan kemilau yang memancar penuh keindahan. Indah. Membuat siapapun terpaku. Hati bernyanyi memainkan lagu. Dialah matahari dan aku bulan. Dialah samudera dan aku daratan.
"Eheeemmm.....eheeeemmmm," terdengar suara Ki Danasura di pintu bilik.
"Aduh indahnya cinta. Jadi ingin muda lagi. Dimabuk cinta lagi," ucap Ki Danasura sambil terkekeh.
Lintang Samudera dan Candani Paramita pun tersipu-sipu. Malu gelora cintanya diketahui oleh orang lain.
"Nini ayu siapa namamu?" tanya Ki Danasura
"Namaku Candani Paramita."
"Saat kau terbawa arus sungai, apakah Nini Candani memakan bunga mawar putih berkelopak delapan susun?"
"Betul Ki. Aku mamakannya. Dan aku berikan pada bayi itu juga."
Ki Danasura manggut-manggut menerima jawaban Candani.
__ADS_1
"Keris Sarpa Hastha dibuat oleh seorang Mpu yang sakti linuwih. Namanya Mpu Adhigana," Ki Danasura mulai bercerita.
Dikisahkan bahwa Mpu Adhigana menemukan batu meteor berwarna hitam kelam dan mengeluarkan hawa yang sangat panas. Setelah mesu diri selama empat puluh hari, jiwa batu meteor yang bergolak itu akhirnya dapat ditaklukkan.
Ditempanya batu itu siang dan malam. Hingga berujud sebuah keris berkepala ular berlekuk delapan. Sedari awal Mpu Adhigana sudah berniat menjadikan jiwa berbagai ular sebagai jiwa keris buatannya tersebut. Dia bertapa di lereng gunung Mandara selama seratus hari lamanya, di gunung itu Mpu Adhigana memperoleh kesaktian mampu menyerap bisa dan kesaktian berbagai ular, serta memiliki kekebalan dengan semua bisa ular yang ada di dunia ini, dan mendapatkan sebuah pecut yang diberi nama Pecut Sahasra Agni.
Diserangnya bangsa ular yang ada di alam lelembut. Raja ular dan bala tentara ular dari bangsa lelembut berkelahi antara hidup dan mati. Ular-ular dari alam lelembut lari pontang-panting menyelamatkan diri. Di sudut manapun mereka bersembunyi tetap ditemukan oleh Mpu Adhigana. Yang ada hanya kehancuran. Pecut Sahasra Agni memiliki kesaktian mengeluarkan api ke berbagai penjuru. Sekali pecut itu dilecutkan api muncul di mana-mana membakar semua yang ada di sekitarnya. Banyak satria-satria ular yang mati. Yang nekad menggigit Mpu Adhigana maka bisa ular tersebut seketika diserap olehnya, dan ular itu mati seketika.
Mayat-mayat ular berserakan dimana-mana. Anak-anak ular berkumpul menangis menjerit-jerit mencari orang tuanya. Alam lelembut bangsa ular habis luluh lantak. Api di mana-mana. Kehancuran tidak bisa dihindarkan lagi.
"Mpu Adhigana, aku mengaku kalah kepadamu. Jangan hancurkan rakyatku," ucap raja ular menangis pilu melihat mayat-mayat rakyatnya ada dimana-mana.
"Aku akan menurut padamu, tapi kumohon lepaskan semua rakyatku yang masih hidup. Dan lepaskanlah semua anak-anak ular dan bayi-bayi ular yang selamat. Ijinkan kami melanjutkan hidup," ucap raja ular memohon.
"Hahaha... hahaha." Mpu Adhigana tertawa panjang. Puas dengan kemenangannya.
"Raja ular, kau memohon kepadaku untuk melepaskan rakyatmu yang masih hidup? Jika aku melepaskan kalian semua, bukankah kalian akan bangkit kembali menyusun kekuatan untuk melawanku. Aku tidak bodoh raja ular. Kau kira dirimu bisa menipuku," Mpu Adhigana berbicara dengan berapi-api.
__ADS_1
"Tidak Mpu. Kami tidak berani melawanmu. Pecutmu telah meluluhlantakkan kerajaanku. Aku tidak ingin rakyatku menderita lagi. Aku mohon lepaskanlah kami." Raja ular mengiba memohon demi rakyatnya.
"Baiklah raja ular aku kabulkan permintaanmu. Tapi apa yang akan kau berikan padaku sebagai ganti atas pengampunan yang aku berikan ini?" tanya Mpu Adhigana.
"Aku serahkan nyawaku padamu. Ambilah bisa dan kesaktianku. Dan lepaskan segenap rakyatku," ucap raja ular mengorbankan diri
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu. Jangan pernah menyesalinya," ucap Mpu Adhigana dengan jumawa.
Akhirnya raja ular dari alam lelembut mati. Diserahkannya bisa dan kesaktian yang dimilikinya kepada Mpu Adhigana. Tapi sebelum raja ular memohon keselamatan untuk rakyatnya kepada Mpu Adhigana, telah berpesanlah ia kepada Mahapatih dan Panglimanya. "Aku akan mengorbankan diri demi keselamatan rakyatku. Jagalah putraku yang masih kecil ini. Jadikan dia sebagai raja ular berikutnya. Bimbing dan ajari anakku dengan berbagai ilmu, jangan sampai dia menjadi raja yang bodoh. Mulai sekarang carilah kelemahan Mpu Adhigana secara diam-diam. Selagi kalian belum mendapatkan kelemahan Mpu Adhigana, kalian jangan pernah melawannya."
"Raja pertimbangkan kembali keputusannya," ucap Mahapatih nya.
"Jika aku tidak menyerahkan diri maka rakyatku akan mati. Segenap jiwa ular, kesaktian dan bisa ular yang sudah diserap oleh Mpu Adhigana akan dipindahkan ke keris yang sedang dibuatnya. Kelak minta tolonglah kepada siapapun entah itu dari bangsa manusia atau bangsa lelembut untuk menyelamatkan kami yang terpenjara di dalam keris. Agar kami mati tanpa dendam," pesan raja ular kepada orang-orang kepercayaannya.
"Ki Danasura sekarang dimana keberadaan Mpu Adhigana, dan dimana pula pecut Sahasra Agni berada?" tanya Lintang Samudera.
"Tidak ada yang tahu anakmas Lintang Samudera. Setelah kejadian itu Mpu Adhigana seolah-olah hilang ditelan bumi," jawab Ki Danasura.
__ADS_1