
Saka memerintahkan teman-temannya untuk segera membawa mutiara laut ke kerajaan Segara Pitu. Tanpa banyak kata hewan-hewan laut raksasa yang mereka tunggangi dibawa berpacu dengan waktu. Perbatasan di depan mata. Perintah untuk menutup perbatasan belum sampai ke tangan prajurit, pintu perbatasan terbuka lebar, memuluskan para pencuri dalam menjalankan aksinya. Setelah keluar dari perbatasan Segaralaya, mereka memutar arah ke daratan Abyudaya bukannya ke Segara Pitu.
Lintang Samudera ikut serta berpacu dengan waktu. Dirinya tidak sabar dengan segala sesuatunya yang terasa begitu lambat. Ikan paus tunggangannya terus berpacu mempercepat derunya di dalam laut.
"Kakang Lintang Samudera sepertinya perintah untuk menutup pintu perbatasan belum sampai kepada prajurit jaga di bagian perbatasan. Aku khawatir kita tidak bisa menangkap maling mutiara laut," ucap Senopati Laut Muda.
"Aku khawatir maling-maling itu dengan mudah lolos dan membawa mutiara laut ke Segara Pitu," ucap Lintang Samudera menanggapi pembicaraan Senopati Laut Muda.
"Aku rasa mereka mengambil arah langsung ke pesisir Kerajaan Abyudaya, tidak mungkin mampir ke Segara Pitu. Saran ku langsung ke pesisir Abyudaya. Waktu dan bencana yang sedang terjadi memuluskan rencana mereka," Senopati Apsara tiba-tiba muncul diantara pembicaraan mereka.
"Apsara?" ucap Lintang Samudera dan Senopati Laut Muda bersamaan.
"Jangan bertanya apapun. Maling masih melenggang bebas di depan," ucap Apsara memotong pembicaraan.
Ketiga orang perkasa itu terus melesat. Mereka bertiga langsung melaju ke pesisir Abyudaya. Senopati dan prajurit yang mengiringi di belakang diperintahkan untuk mengarah terus menuju perbatasan.
Prajurit dari kesatuan telik sandi dengan sigap berpencar dalam penyamaran. Mutiara laut yang berhasil dicuri menimbulkan bahaya besar. Perang besar dalam waktu dekat bisa terjadi. Raja Suteja Thani dari Kerajaan Segara Pitu sudah hilang akal sehatnya, demi memuluskan rencananya semua penguasa kejahatan dipanggil dan dikumpulkan. Tawar menawar bagi hasil pun disetujui demi memuluskan nafsu busuknya. Tidak perduli meskipun rakyat yang jadi korban.
Hiruk pikuk akibat bencana yang terjadi masih berlangsung. Rakyat dibuat kelabakan dengan imbas bencana yang ada, mereka tidak berani membayangkan kehancuran besar seperti apa yang melanda tempat pusat bencana.
__ADS_1
Lintang Samudera hampir berhasil menyusul pelarian para maling mutiara laut. Tapi di tengah jalan, seseorang yang tidak diundang datang menghadang.
"Apa kabar Lintang Samudera?" sapa si penghadang.
"Saka Sangkara. Ternyata kau dan kawanan mu yang melakukan pencurian," jawab Lintang Samudera berang.
"Jangan marah kawan, berjumpa kawan lama bukankah harus saling bertegur sapa. Di mana Lantang Samudera yang terkenal ramah itu?" ledek Saka Sangkara. Saat dilihatnya Lintang Samudera, hati Saka menjadi panas. Laki-laki di hadapannya ini bisa menyentuh kekasih idaman hatinya seenaknya. Kulit yang indah itu, bibir yang menggoda, rambut hitam panjang yang tergerai, leher yang jenjang, semua keindahan Ratu Samudera menari-nari di hadapannya. Keindahan yang sangat ingin direngkuhnya.
Lintang Samudera tidak peduli dengan celoteh Saka Sangkara. Dengan gerak cepat diterjangnya lawannya dengan ikan raksasa yang menjadi tunggangannya.
"Minggir kau, jangan menghalangi langkahku!" hardik Lintang Samudera tidak sabar.
Dengan cepat Saka Sangkara menyerang Lintang Samudera. Pecutnya diarahkan untuk memukul hewan tunggangan lawannya. Ikan paus yang dikendarai Lintang Samudera bukan sembarang hewan tunggangan. Ikan paus ini sudah dilatih dengan keras untuk bisa ikut serta dalam peperangan. Dengan lihai si ikan paus berkelit menghindari pecutan Saka Sangkara. Saka mempercepat gerakannya. Lintang Samudera terpaksa meladeni orang yang tidak diundang itu.
Pergumulan pun. tidak bisa dihindari lagi.
"Apsara, Laut Muda, kejar para maling. Musuh sialan ini serahkan padaku!" perintah Lintang Samudera.
"Nah begitu suami Ratu Samudera, jangan bisanya hanya berlindung di belakang kekuasaan dan kekuatan istrimu," ucap Saja Sangkara mencoba merusak perhatian Lintang Samudera.
__ADS_1
"Memang kenapa jika aku bersembunyi di belakang istriku. Istriku saja tidak keberatan, tapi malah kau yang tidak terima," jawab Lintang Samudera membalas omongan lawannya yang memanaskan kuping.
"Aku suka bersembunyi di belakang istriku sang ratu samudera. Kenapa, kau iri?" tanya Lintang Samudera tidak kalah panas. "Aku suka bersembunyi di belakang istriku yang sangat cantik. Sepertinya kau sudah melihat wajah istriku dari dekat. Apakah Ratu Samudera seorang perempuan tua?"
Saka Sangkara membuang muka. Bayangan Lintang Samudera memeluk sang ratu dari belakang menari-nari di matanya.
"Aku sudah melihat istrimu dari dekat, dan aku cabut semua ucapan buruk ku. Aku akui Ratu Samudera sangat cantik jelita, dan aku pun ingin merengkuhnya hanya untukku saja," ucap Saja Sangkara disertai seringai licik.
Lintang Samudera tertawa mendengar ucapan lawannya. "Hari ini kau mengatakan istriku cantik, mungkin esok kau akan mengatakan istriku galak, esoknya lagi berubah menjadi lemah lembut. Sudahlah Saka, jangan suka mengkhayalkan istri orang lain. Dan sepertinya kita sudah siap bertarung, untuk apa membual kemana-mana!" lanjut Lintang Samudera.
Setelah mengatakan itu Lintang Samudera membuka serangan dengan mengarahkan tendangan ke perut lawan. Saka menghindar, pecut arus air laut buatannya berganti menyerang mengejar lawannya. Lintang Samudera diam tidak menghindar saat pecut air berusaha menyambar dirinya. Ditangkapnya pecut air itu, ditariknya. Tarikan Lintang Samudera membuat Saka ikut tertarik. Saat Saka kehilangan keseimbangan dengan gerak cepat telapak tangan Lintang Samudera berhasil mengenai dada Saka Sangkara.
Saka pun tersungkur. Pecut air buatannya rusak dan bubar. "Setan alas," umpatnya. Saat mulutnya akan mengeluarkan umpatan lanjutan, lawannya dengan gerak cepat menarik tangannya, sebelum Lintang Samudera berhasil menguasai tangan Saka, Saka berhasil melibas tangan Lintang Samudera. Kali ini kedua tangan orang yang sedang bertarung itu saling melibas berusaha menaklukkan perlawanan lawannya.
"Perkelahian yang menjemukan," ucap Lintang Samudera. Dirinya ingin segera menghentikan perkelahian yang tidak bermanfaat ini.
Gerak perkelahian Lintang Samudera menjadi cepat, bagai angin yang menderu melibas semua lawan-lawannya. Begitu cepat menerjang dan membelit lawan. Kedua tangan Lintang Samudera tidak ada hentinya bergerak, begitu pula dengan kedua kakinya. Saka Sangkara tidak mau dilibas serangan-serangan yang membahayakan keselamatan nya. Dengan gerak cepat pula ia meladeni perkelahian musuhnya.
Lintang Samudera mengarahkan kakinya pada bagian punggung bawah lawannya, Saka dengan gesit meliukkan badan, Lintang Samudera tidak melepaskan kesempatan ini, sikunya diarahkan untuk menerjang dada musuhnya. Dengan mudah Saka berkelit dan menerima serangan Lintang Samudera dengan tangan kedua tangannya.
__ADS_1
Lintang Samudera makin jenuh dengan perkelahian yang tidak jelas ini. Dirinya dengan cepat mengarahkan tendangan beruntun yang berbahaya. Saka hilang keseimbangan tendangan Lintang Samudera berhasil mengenai perutnya menimbulkan rasa mual yang tidak terkira.