CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
JAGRATARA


__ADS_3

Ruh Ibunda Wali Ratu dan ruh-ruh pertapa laut dengan hening mengelilingi wilayah cakupan Segaralaya. Hawa dingin terus melibas panasnya api neraka. Saling bertarung dan saling menguasai.


Semangat bala tentara Segaralaya kembali berkobar untuk bertarung dengan para iblis hingga tetes darah penghabisan. Pun hawa panas masih tetap melibas, prajurit Segaralaya tidak akan mundur meskipun hanya selangkah.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Lintang Samudera tidak menyangka hawa panas yang menyelimuti tubuh Mahogra menjadi kian dahsyat. Tenaga dalam Lintang Samudera sebagian besar tercurah untuk melawan panasnya hawa api neraka yang menyelimuti tubuh lawannya. Dengan tatag mantap tidak ada yang mampu melemahkan semangat tanding seorang Lintang Samudera.


Selendang Baruna melepaskan diri dari kendali Lintang Samudera. Melayang mengikuti perintah Ibunda Wali Ratu, dan membalut tubuh Ratu Agung Segaralaya. Bunga -bunga bergerak secara perlahan menutupi keseluruhan tubuh Ratu Samudera Sanura yang telah terdiam tenang, menjaganya dari libasan panasnya air laut yang menggelora.


Lintang Samudera akan mengejar selendang Baruna, tapi langkahnya terhenti tatkala serangan Mahogra berubah menjadi semakin beringas. Tongkatnya pun segera dicabutnya. Dengan tatag mantap diarahkannya tongkat tersebut menyerang, melawan, dan menghantam musuhnya. Mahogra sedikitpun tidak menghindari rangkaian serangan anak muda di hadapannya, anak muda yang memiliki tata gerak kanuragan yang sama persis dengan Jagratara. Mahogra tidak henti-hentinya menyalurkan hawa panas ke seluruh wilayah laut Segaralaya, menghancurkan seluruh kehidupan laut, memusnahkan para penghuni laut. Rongrongan serangan Mahogra tiada henti. Menendang, menghantam, menghancurkan, menguasai. Hawa panas kian panas, ditambah bau kemenyan dari tubuh para iblis yang sangat memuakkan. Meskipun mampu bertahan, pelan tapi pasti pasukan Segaralaya mulai kalah. Jika peperangan dilanjutkan bisa dipastikan pasukan dan kehidupan laut akan musnah.


Lintang Samudera bertempur antara hidup dan mati. Nyawanya sudah diserahkan bulat-bulat untuk membela kerajaan yang dipimpin oleh istri tercintanya. Tenaga yang mulai susut, darah yang mengalir deras, luka-luka yang menganga, lepuhan karena terkena percikan api dari tubuh Mahogra, semua itu sama sekali tidak dirasakannya. Hati dan pikirannya hanya berisikan satu hal 'selamatkan Segaralaya'. Tubuh Lintang Samudera yang sudah kehilangan banyak kekuatan tetap berusaha untuk bertarung dengan kokoh, melahirkan rasa iba dan penghormatan dari bala tentara Segaralaya. Melihat Lintang Samudera yang bertarung tanpa kenal kalah dan tanpa kenal mengalah, pasukan Segaralaya pun menyatukan semangat menggempur lawan. Jika iblis memiliki api maka penghuni laut pun memiliki air laut sebagai jati dirinya. Sebuah kesadaran dari buah kesabaran. Lintang Samudera berusaha menyatukan diri dengan ruh laut itu sendiri, dengan setiap air yang mengalir, dengan gunung yang menjulang, dengan segala yang menjadi penyebab adanya laut. Diingatnya saat seorang Candani Paramita memindahkan lembah Chedana dengan ilmu pasak bumi. Batu berwarna biru memancar dan batu bening dengan bentuk aliran air di dalamnya. Lintang Samudera memutar bagian tengah tongkatnya. Kedua batu itu masih ada di sana. Lalu di sambungkannya kembali tongkat itu dengan posisi kedua batu yang ada di dua sisi berada di luar tongkat.


Mahogra terkejut melihat kedua batu itu. Matanya nanar menatap dua batu kecil yang baginya sangat menakutkan. Lintang Samudera mengejar lawannya yang enggan untuk berhadapan dengan dua batu kecil yang ada di kedua sisi dari tongkat miliknya. Tongkat terus diarahkan ke tubuh lawan. Mahogra berkelit dan menghindar, mundur dan menyingkir. Kesempatan itu tidak dilepaskan oleh Lintang Samudera, dirinya mengubah pola serangan, tidak menyerang tapi hanya terus mengarahkan ujung tongkat dengan batu bening ke api neraka yang mengelilingi Mahogra. Batu bening secara perlahan menyerap hawa panas yang menguasai lautan, dan batu biru mengembalikan gejolak lautan agar kembali tenang. Hawa panas menghilang, laut kembali tampak tenang, tubuh iblis-iblis kecil telah kehilangan api yang menyala. Di dalam hati pasukan iblis, di saat ini, hanya memiliki satu tujuan hidup, menjadi pasukan siap kabur.

__ADS_1


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


"Aku tidak bisa terus maju. Apabila aku paksakan, sudah bisa dipastikan kedua batu sialan itu akan menyerap kekuatan api yang ada di dalam tubuhku," keluh guru iblis Mahogra.


"Jangan mundur guru iblis Mahogra!!! Aku siap bertarung denganmu!" tantang Lintang Samudera.


"Jaga lisanmu anak muda. Siapa sebenarnya dirimu? Kenapa kedua batu itu bisa berada di tangan mu?" tanya Mahogra menyelidik.


Suara angin menderu terdengar keras memecah keriuhan suasana perang. Deru angin disertai dengan bunga-bunga warna-warni yang terus menyelimuti tubuh sang Ratu Samudera Sanura. Bunga-bunga itu secara perlahan membawa tubuh yang diam itu terus melayang ke permukaan.


"Dia putraku." Suara itu memenuhi lautan.


Suara yang penuh wibawa itu mampu mendiamkan mereka yang sedang beradu nyawa.


"Jagratara....!!!!"

__ADS_1


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Dear readers,


Jangan lupa berikan apresiasi atas usaha author dalam menulis dengan memberikan vote dan like.


Ditunggu jempolnya ya untuk klik like dan klik vote.


Sehat selalu


Love you all


Makasih


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


__ADS_2