CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
BAYANGAN


__ADS_3

Para dayang begitu terpesona melihat keindahan yang tercipta di depan mata. Suami ratu samudera sangat gagah, tampan, dan sangat menarik. Dayang-dayang membawa khayalannya setinggi awan, jika sampai khayalan mereka diketahui oleh sang ratu maka habislah riwayat hidup mereka.


"Aku tadi melihat suami Kanjeng Ratu, tampan sangat tampan. Dan sikapnya yang pendiam membuat ku ingin terus memandanginya. Aku ingin punya suami seperti suami ratu," rengek salah seorang dayang.


"Hussshhh. Ngawur. Jaga bicaramu. Itu suami ratu bukan orang pinggir jalan yang bisa seenaknya dibicarakan," salah satu dayang menasehati dayang-dayang lain, supaya sadar diri dengan keadaan dirinya sendiri.


Dayang lainnya menimpali khayalan dayang yang menjadi teman baiknya. "Aku mau jadi selirnya. Memandanginya, memegang tangannya, tidur di pelukannya," dayang itu tersipu malu dengan khayalannya sendiri. "Suami ratu samudera tampan sekali, membuat ku kesengsem. Wajahnya, senyumnya saat tersenyum kepada Kanjeng Ratu, indah sekali," imbuh dayang tersebut.


"Ooh dasar dayang keblinger. Melihat itu ke bawah jangan ke atas. Sadar cepetan sadar. Sing insyaf," dayang yang sudah cukup tua menasehati.


Ratu Samudera mengetahui jika kedatangan suaminya Lintang Samudera sedang menjadi buah bibir di kalangan para dayang. Bahkan putri para punggawa kerajaan laut Segaralaya banyak yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ratu Sanura semakin dibuat pusing. Masalah negara belum selesai, sekarang ditambah masalah suaminya yang membuat para wanita jatuh cinta.


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Lintang Samudera.


Ratu Samudera menatap wajah laki-laki yang jadi suaminya itu. Dirabanya wajah laki-laki itu. "Terlalu tampan. Pantas saja jadi buah bibir wanita seluruh istana ini," rajuk Ratu Sanura.


Lintang Samudera memeluk mesra istrinya. "Kalau istriku yang seorang ratu ini tidak suka wajah ku dilihat banyak wanita di kerajaan ini, aku rela dikurung di dalam bilik sang ratu," rayu Lintang Samudera sembari menyentuh leher sang istri dengan bibirnya.

__ADS_1


Lintang Samudera sangat memahami isi hati istrinya. Untuk sekedar cemburu bahkan tidak bisa. Berbeda dengan kehidupan rumah tangga pada umumnya bisa cemburu kapan saja, bisa melimpahkan semua isi hati tanpa harus khawatir pada siapapun. Istrinya selalu berusaha menahan isi hatinya, keluh kesahnya.


"Kasihan istriku, apa ada yang mau dibicarakan?" tanya Lintang Samudera sembari mencium pipi istrinya dengan lembut.


"Jangan pernah tersenyum kepada para dayang, jangan bicara dengan para dayang, tidak boleh bicara dengan para putri punggawa atau putri dari kerajaan bagian!" perintah sang ratu samudera.


"Jadi maksudnya aku hanya cukup diam seperti patung, bersembunyi di balik kekuasaan sang istri. Istriku sayang, nanti apa kata rakyat mu, suami ratunya manja, penakut, bersembunyi di belakang istri. Apa mau seperti itu," jawab Lintang Samudera pelan dengan kedua tangan yang terus memeluk erat tubuh istri cantiknya, mencoba meredam gejolak badai cemburu yang menguasai sang istri.


Ratu Samudera terdiam. Mendengar para dayang dan putri para punggawa memuji Lintang Samudera, membuat kuping sang ratu menjadi panas, memerah karena rasa cemburu yang terpendam.


"Baiklah, suamiku yang tampan boleh bicara dengan para wanita-wanita itu. Tapi ingat hanya seperlunya tidak boleh berlebihan. Jangan tebar senyum kemana-mana!" perintah sang ratu samudera.


Suasana yang penuh rasa cemburu akhirnya mencair. Ratu Samudera memeluk suaminya erat. "Sekarang, di kamar ini, aku hanya ingin menjadi seorang istri dari laki-laki yang bernama Lintang Samudera," ucap Ratu Samudera berubah menjadi manja. "Nyamannya pelukan ini," imbuh sang ratu.


Lintang Samudera memahami semua beban berat yang dipikul di pundak sang istri. Harus menjaga kehormatan tahta dan kehormatan diri sebagai seorang wanita, harus menjaga kesetiaan kepada yang namanya tahta, tapi di sisi lain harus menjaga kesetiaan sebagai seorang wanita seorang istri. Semua itu harus dilakukan dan dilaksanakan dalam waktu bersamaan. Direngkuhnya tubuh istrinya. Dirinya teramat sangat mencintai istrinya. Di kamar ini wanita yang sedang dipeluknya hanyalah istrinya, bukan seorang ratu bukan pula seorang panglima perang wanita yang pilih tanding, semata-mata hanya istri tercintanya. Rasa cinta dan hasrat yang menggebu-gebu dari sepasang suami istri itu harus terhalang dengan kedudukan yang bernama tahta.


Ratu Samudera melingkarkan tangannya di leher suaminya. Dengan rasa yang menggebu sepasang suami istri melimpahkan gejolak cinta yang mendalam. Mereka saling berpagutan bibir dalam rasa yang menggoda, saling menyentuh, saling memiliki, saling melepaskan hasrat yang bernama ingin. Lintang Samudera membawa tubuh indah istrinya ke ranjang. Membawa tubuh itu dalam sesuatu yang bernama percintaan. Semuanya terasa indah meskipun masih dalam batas-batas yang belum bisa dilanggar.

__ADS_1


🔸🔸🔸🔸🔸


Ratu Samudera harus merelakan suaminya menjadi buah bibir para wanita istana yang tidak henti-hentinya memuji. Dicobanya untuk menerima semua itu sebagai suatu bentuk pujian secara terang-terangan dari kawulanya.


"Sudahlah, waktunya mengurus dan menjaga yang bernama tahta seorang penguasa," kata hati sang ratu. Ditenangkan pikirannya, dibawanya dirinya untuk menjadi seseorang yang tegas tapi bijaksana.


"Baiklah rakyat yang utama," ratu samudera menghibur diri.


Pertemuan berlangsung sewajarnya. Setiap punggawa kerajaan memberikan laporannya.


Di balik kedamaian di dalam istana, di luar dinding istana laut Segaralaya terjadi hiruk pikuk luar biasa. Para Senopati prajurit berburu para pengkhianat kerajaan, pengkhianat yang berhasil melarikan diri langsung bergabung dengan kerajaan Segara Pitu, bergabung dengan raja Seteja Thani.


Di hutan laut, di dasar laut, di goa laut, tidak ada bagian dari wilayah laut yang luput dari pencarian kesatuan-kesatuan prajurit Segaralaya. Ratu Samudera memerintahkan harus terang-terangan menunjukkan kemampuan tempur bala tentara Segaralaya, dengan tujuan memberikan tekanan kepada lawan.


Bahkan suami sang ratu ikut serta berburu para pengkhianat. Pertarungan demi pertarungan dilalui oleh Lintang Samudera. Dirinya yang tidak pernah merasa lebih tinggi dari siapapun membuat bala tentara Segaralaya mulai bisa menerima adanya.


Malam itu sekelebat bayangan mengendap-endap berusaha memasuki istana laut Segaralaya. Langkah orang itu begitu cepat, dia berlari dengan sesekali menyembunyikan dirinya dari pandangan mata siapapun. Di pundaknya terdapat bungkusan kosong. Bayangan itu ternyata tidak sendiri, di belakang bayangan itu berbaris bayangan-bayangan yang lain. Maling bukan sembarang maling. Sang pemimpin maling berusaha mengeluarkan ilmu sirepnya demi memudahkan pencurian yang akan dilakukan.

__ADS_1


Pemimpin pencuri berkali-kali mengeluarkan ilmu sirepnya, bahkan mengerahkan semua kekuatan batinnya untuk memperkuat dan memperluas daya pengaruh ilmu sirep yang dimilikinya. Tapi semuanya sia-sia. Ilmu sirepnya berkali-kali menabrak dinding pertahanan yang begitu kuat, bahkan ilmu sirep maling itu selalu dipatahkan oleh kekuatan batin yang sangat besar yang ada di dalam istana laut Segaralaya.


__ADS_2