CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
PARA PERTAPA LAUT


__ADS_3

Inilah makna dari sebuah kesatuan, saling bersatu-padu dalam niat, seiya sekata, menyatukan kekuatan, membela yang sama, mencurahkan tenaga dan pikiran untuk sesuatu yang sama. Gempuran gabungan bala tentara Segaralaya dan Segara Pitu menerjang bagaikan amukan badai yang akan menghancurkan apapun yang menghalanginya. Mereka bertarung antara hidup dan mati, hawa panas yang sangat tinggi seakan-akan hendak mematangkan daging-daging mereka. Pasukan iblis dengan garangnya melayani gempuran gabungan pasukan lautan, tidak ada lagi yang harus mereka takuti. Setiap iblis menjadikan tubuhnya berselimut api, menjadikan pasukan Segaralaya harus berkelompok untuk mengalahkan tentara iblis. Pasukan lautan saling berkelompok bukan karena takut tapi keselamatan seluruh penghuni lautan Segaralaya sekarang berada di pundak mereka.


Di tempat-tempat lain di luar hiruk pikuk peperangan, di dalam istana Segaralaya, Ibunda Wali Ratu yang merupakan ibu dari Ratu Samudera Sanura sedang duduk di batu di ruang semedinya. Sebuah batu berwarna putih terang berbentuk bulat yang cukup besar, dengan gambar deburan ombak di dalamnya. Ibunda Wali Ratu duduk dalam semedi dengan hening. Hawa panas api neraka yang menguasai seluruh wilayah yang berada di bawah kekuasaan Segaralaya harus ditekan. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Ibunda Wali Ratu berusaha mengurai hawa panas itu dengan mengerahkan hawa dingin yang ada di alam semesta tepatnya di wilayah gunung es yang berada di negeri nun sangat jauh di sana. Ruh sang Ibunda Wali Ratu melayang-layang menembus batas-batas wilayah. Dari satu wilayah ke wilayah lain. Di sebuah gunung es di tempat yang dituju oleh Ibunda Wali Ratu, di sana sudah menunggu ruh-ruh pertapa yang ada di Segaralaya. Para pertapa mengikuti panggilan dari Ibunda Wali Ratu, membawa ruh mereka ke gunung es. Setelah seluruh ruh-ruh para pertapa Segaralaya berkumpul di gunung es, dengan kekuatan yang berasal dari alam semesta hawa dingin es segera digiring oleh para ruh menuju wilayah lautan Segaralaya. Meskipun tidak mampu menekan hawa panas secara menyeluruh, tapi setidaknya hawa panas yang mematikan dapat diredam. Ruh Ibunda Wali Ratu dan ruh-ruh para pertapa mengelilingi wilayah Segaralaya, mengerahkan hawa dingin yang sudah disatukan dengan alam semesta. Terus mencurahkan hawa dingin itu ke seluruh wilayah Segaralaya. Dari kesatuan prajurit, para prajurit yang memiliki ilmu batin yang tinggi dapat menyaksikan ruh-ruh itu. Di dalam hati mereka begitu terharu melihat Ibunda Wali Ratu memimpin para ruh pertapa untuk ikut serta menjaga kedamaian di Segaralaya. Para prajurit yang mengetahui keberadaan para ruh itu seketika memberikan penghormatan setinggi-tingginya. Dalam peperangan kali ini bahkan Ibunda Wali Ratu sampai harus membawa serta para pertapa untuk menyelamatkan Segaralaya. Para pertapa yang hanya menghambakan diri menyerahkan hidup untuk Sang Pencipta, sekarang harus disibukkan dengan kehidupan duniawi. Tapi sebenarnya tidak ada yang disesali oleh para pertapa, membantu keberlangsungan kehidupan manusia merupakan hal yang sewajarnya dilakukan.


Kini bala tentara Segaralaya merasa sedikit berlega hati. Hawa panas yang tadinya luar biasa hebatnya sekarang masih terasa panas tapi tidak sepanas keadaan sebelumnya. Pasukan ombak laut mulai mengendalikan ombak dari arus air di dalam laut. Sebanyak seratus orang berjibaku memanfaatkan arus bawah laut untuk menciptakan ombak di dalam perut lautan. Sebuah ombak besar tidak ayal lagi tercipta di kedalaman lautan, menerjang dan mematikan selimut api yang menyelubungi tubuh para pasukan iblis. Pasukan permukaan laut mengambil langkah sama. Gugusan ombak telah tercipta secara perlahan tapi pasti menerjang dan mematikan api yang menyelimuti tubuh bala tentara iblis.


Senopati Laut Muda tidak henti-hentinya berteriak menyemangati pasukan. Bahkan bende yang ada di tangan salah satu prajuritnya terus-menerus ditabuh. Suara bende menyeruak menggema menguasai permukaan lautan, membakar semangat para prajurit laut Segaralaya dan Segara Pitu. Panglima Senopati Pasukan Segara Pitu berlutut menyerahkan seluruh pasukannya di bawah kepemimpinan Senopati Laut Muda. Kini diantara mereka tidak ada lagi permusuhan yang ada hanyalah persatuan, menjadi kesatuan demi keselamatan keberlangsungan kehidupan para penghuni lautan. Suara semangat bersatu padu dengan dentangan senjata. Serangan yang terjadi begitu menggebu-gebu. Pasukan iblis pun tidak patah arang, mati satu lahir seribu.

__ADS_1


Peperangan dahsyat kembali terjadi.


"Seraaaangggggg!!!!!"


"Lindungi wilayah lautan dari para iblis!!!!!""


Umbul-umbul kerajaan Segaralaya berkibar-kibar di seluruh permukaan lautan Segaralaya. Umbul-umbul Segara Pitu sudah lama teronggok entah kemana. Suteja Thani dan pasukannya tidak punya muka lagi untuk menegakkan umbul-umbul kerajaan. Bende mereka terbuang entah kemana. Kibaran umbul-umbul Segaralaya dan suara bende yang ditabuh terus-menerus kembali membangkitkan semangat seluruh tentara yang berdiri di sisi Segaralaya. Isi hati para prajurit lautan membuncah, bergemuruh saling berebut berdebur untuk menyelamatkan tonggak kehidupan wilayah lautan. Demi sang Ratu Agung Segaralaya yang telah pupus nyawanya dalam pralaya, mereka kini harus bangkit menyelamatkan Segaralaya. Bahkan Ibunda Wali Ratu yang sehari-harinya menghabiskan waktu dengan bersemedi telah mengambilalih tampuk kepemimpinan prajurit. Dengan kehadiran ruh Ibunda Wali Ratu yang memimpin ruh-ruh pertapa dari wilayah lautan, salah satunya merupakan pertanda bahwa kepemimpinan bala tentara Segaralaya telah diambil alih oleh beliau.

__ADS_1


Suteja Thani begitu malu menghadapi kenyataan. Seorang Ibunda Wali Ratu yang sudah mengabdikan hidupnya untuk bertapa harus kembali terjun di kancah peperangan, dan semua itu berawal dari tingkah keserakahan busuk diri Suteja Thani sendiri.


"Ibunda Wali Ratu... ampuni Raja Segara Pitu ini. Aku berjanji dengan seluruh jiwa ragaku, mulai sekarang akan aku abdikan diriku untuk Segaralaya. Demi Ratu Agung Segaralaya yang telah pupus nyawanya, akan aku kerahkan semuanya demi menyelamatkan keberlangsungan kehidupan lautan!!!" Setetes demi setetes air mata mengalir dari mata Suteja Thani. Mata itu sudah tidak lagi menyiratkan keserakahan, yang ada sekarang hanyalah penyesalan dan semangat baru yang telah terlahir di dada Suteja Thani.


Suteja Thani dengan garang menerjang pasukan iblis yang sebelumnya menjadi sekutunya.


"Guru Yasa Rasendriya biarkan aku dan Darliah yang bertarung menghadapi Iblis Pratangga!!! Guru Yasa silahkan memberikan bantuan kepada Ibunda Wali Ratu untuk meredam hawa panas api neraka yang melibas wilayah Segaralaya dan sekitarnya." Suteja Thani berteriak dan segera terjun ke kancah pertarungan.

__ADS_1


Guru Yasa yang bijaksana pun mengerti maksud dari Suteja Thani. Dengan sesegera mungkin Ki Yasa Rasendriya menggabungkan diri dengan ruh-ruh para pertapa, begitu pun dengan Guru Wigata dan Saka Sangkara. Mereka berdua memilih bergabung dalam kepemimpinan Ibunda Wali Ratu untuk meredam hawa panas yang akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan Segaralaya. Tonggak kehidupan lautan harus kokoh kuat, karena kehidupan lautan berhubungan erat dengan kehidupan mereka yang ada di wilayah daratan.


__ADS_2