
Di desa Karangwuni tempat Baluh Jingga dan pasukan kelana tinggal terjadi kegelisahan. Pagi hari setelah hari agak terang mereka pergi menemukan bekas perkelahian di pintu masuk desa. Perkelahian yang terjadi cukup dahsyat dikarenakan banyak pohon-pohon yang roboh dan hancur. Rerumputan ikut tergerus dahsyatnya pertempuran.
Diikutinya jejak perkelahian itu hingga di tepi sungai yang airnya sedang meluap. Yang terlihat hanya sisa tanah yang seperti dibajak. Pepohonan di sini pun ikut roboh. Jejak darah Candani Paramita yang mengucur ke tanah sudah hilang oleh air hujan. Yang tertinggal hanya bekas perkelahian saja.
Di pinggir sungai, Jaladhi menemukan lambang kerajaan bagian Segara Pitu. Hal ini semakin memperkuat dugaannya mengenai rencana makar yang sedang disusun di sana.
Pasukan Kelana berkumpul di tempat yang disediakan oleh penduduk desa setempat, sebagai bentuk terima kasih atas pertolongan yang telah diberikan.
"Kakang semua, aku akan tinggal di desa ini menunggu kembalinya Kang Mbok Candani Paramita. Kalian semua silahkan melanjutkan perjalanan untuk menjalankan tugas yang sudah Kang Mbok Candani berikan," ucap Baluh Jingga membuka percakapan.
"Baluh ikutlah dengan kami, jangan tinggal di desa ini sendiri?" Apsara mencoba membujuk pelan.
"Tidak Kakang. Kang Mbok Candani pernah berpesan padaku, jika ada peristiwa yang menjadikan Kang Mbok Candani menghilang, aku diperintahkan untuk menunggu di tempat terakhir kami bersama. Kang Mbok Candani mengatakan bahwa dia akan kembali ke tempat itu. Itu perintah yang aku peroleh," Baluh Jingga mencoba menjelaskan.
"Tapi kau akan sendirian di sini Baluh. Ikutlah dengan kami," pinta Jaladhi.
__ADS_1
"Tidak Kakang. Aku akan menunggu Kang Mbok Candani Paramita di sini. Antari akan menemaniku. Suatu saat Kang Mbok kembali mencari kudanya, maka aku bisa mengembalikan kuda Antari kepadanya."
Semua terdiam. Larut dengan pemikiran masing-masing.
Apsara memecah keheningan. "Saudaraku semua, aku akan menemani Baluh Jingga di desa ini. Maafkan aku Kakang Jaladhi. Aku tidak sampai hati meninggalkan Baluh Jingga sendirian di sini. Biarlah kami menanti di desa Karangwuni. Seperti kata Baluh bahwa Candani Paramita akan kembali ke tempat ini."
Jaladhi mencoba memahami perubahan keadaan. Baluh Jingga tidak mungkin ditinggal sendirian. Bagaimanapun sesungguhnya Baluh Jingga bukanlah seorang emban, kedudukannya termasuk tinggi, dia menjadi seorang emban dikarenakan harus banyak belajar dari Candani Paramita.
"Baiklah. Diputuskan bahwa Baluh Jingga dan Apsara akan tinggal di desa ini. Beritahukan kepadaku jika ada kabar dan berita penting. Sedangkan untuk Pratama dan Aryasatya aku perintahkan kembali ke Kerajaan Laut Segaralaya untuk melapor ke Ibunda Wali Ratu. Untuk yang lainnya ikut denganku untuk melanjutkan penyelidikan," ucap Jaladhi menjelaskan.
Baluh dan Apsara hidup bermasyarakat dengan penduduk desa Karangwuni. Apsara membuka lahan pertanian untuk penghidupan mereka berdua. Digunakannya ilmu bercocok tanam yang diperolehnya selama di pengembaraan. Dibuatnya juga tambak ikan di belakang rumah.
Sudah tiga bulan Baluh dan Apsara tinggal bersama dalam satu atap. Sebenarnya suasana canggung melanda mereka berdua. Baluh merasa tidak enak hati hanya berduaan dengan seorang lelaki yang bukan apa-apanya. Yang penduduk tahu mereka hanyalah saudara angkat. Penduduk tidak ambil pusing keberadaan mereka berdua, karena Baluh dan Apsara membantu ketentraman desa ini, dan tidak pernah melakukan tindakan yang melanggar norma-norma kesusilaan. Apsara melihat kecanggungan Baluh Jingga, Apsara pun membuat sebuah keputusan.
"Baluh, aku tahu dirimu merasa tidak nyaman dengan keberadaanku. Karenanya aku memberikan sebuah saran kepadamu," ucap Apsara.
__ADS_1
"Apa itu Kakang?" tanya Baluh Jingga penasaran.
"Menikahlah denganku. Aku tahu kedudukanku tidak sepadan dengan kedudukanmu. Tapi demi nama baik diri Baluh sebagai seorang wanita lebih baik kita menikah."
Baluh Jingga tercengang dengan saran Apsara. Menikah dengan Apsara. Laki-laki di hadapannya ini sebenarnya memiliki wajah yang cukup tampan, ilmu kanuragannya juga termasuk tinggi, dan menjadi salah seorang kepercayaan Ratu Sanura. Baluh meminta beberapa hari untuk memikirkannya.
Selama tiga hari Baluh Jingga merenungkan perkataan Apsara. Menikah dengan Kakang Apsara. Selama ini Ratu Sanura memberikan perintah kepada Apsara untuk menjaganya kemanapun dirinya pergi. Sepertinya jika menikah tidak mengapa.
"Kakang Apsara, aku setuju untuk menikah denganmu."
Apsara tersenyum penuh makna.
"Baiklah Baluh. Aku akan meminta tolong kepada kepala desa dan para tetangga mengenai pernikahan kita."
Apsara tersenyum penuh makna. Sebenarnya sudah cukup lama ia memendam hati pada gadis muda ini. Tapi mengingat kedudukannya yang hanya sekedar Senopati membuatnya tidak berani secara terang-terangan menunjukkan cintanya. Ratu Sanura sebenarnya juga mengetahuinya. Ratu Sanura seorang yang selalu mengamati setiap orang di sekitarnya. Pikiran dan penilaiannya begitu jeli, jadi tidak mungkin hal sederhana itu tidak diketahuinya. Itu dibuktikan dengan perintah yang diberikan oleh Ratu Sanura agar dirinya bertugas mengawal Baluh Jingga kemanapun dia pergi. Dan dikarenakan ratunya tidak keberatan, maka diberanikanlah dirinya untuk mengajukan saran ini. Selagi ada kesempatan kenapa tidak dimanfaatkan. Dan gayung pun bersambut. Yang penting menikah dulu. Masalah tumbuhnya cinta akan berjalan seiring waktu.
__ADS_1