
Aku adalah samudera. Aku raih tangga menuju pintu langit. Kususuri langkah demi langkah. Aku buka pintu itu. Tampaklah warna putih kebiru-biruan. Kususuri barisan para malaikat yang bertasbih, bertahlil, dan bertahmid, dia tiada di sana.
πΈπΈπΈπΈπΉπππ
Perjalanan menuju Kerajaan Citraloka berjalan tanpa hambatan. Dilanjutkan dengan pertemuan dengan Paduka Raja. Setelah semuanya selesai, Ratu Sanura dan Raja Citraloka melakukan pembicaraan secara terpisah.
"Kanjeng Ratu Sanura, aku ingin membicarakan pesan yang aku titipkan lewat Puteri Bungsu," Raja Citraloka membuka pembicaraan.
"Sebelumnya silahkan Paduka Raja memanggilku Candani Paramita. Karena di wilayah daratan ini, aku sedang melakukan penyamaran dan pengembaraan. Dan bukan dalam kunjungan resmi antar negara," Candani Paramita menimpali.
Paduka Raja Citraloka manggut-manggut memahami.
"Sebenarnya apa isi wasiat dari mendiang Guru Jagratara, dan apa penyebab kematian beliau?" tanya Candani Paramita.
Raja Citraloka berdehem sebentar untuk melegakan tenggorokannya. "Raja muda bangsa ular dari alam lelembut meminta tolong kepada gurumu untuk membantu bangsa ular dari perbudakan yang dilakukan oleh anak keturunan Mpu Adhigana."
Paduka Raja Citraloka mengabarkan kisah yang diketahuinya.
Tiba-tiba seorang anak muda duduk bersimpuh tidak berdaya memohon di depan Guru Jagratara di lembah Chedana.
"Guru Jagratara tolonglah rakyatku?"
Guru Jagratara tergopoh-gopoh meminta anak muda itu untuk bangun dan duduk. "Siapakah kau anak muda? Dari aroma tubuhmu kau berasal dari bangsa ular?" tanya Guru Jagratara dengan pelan.
__ADS_1
"Benar Guru. Aku adalah raja muda ular dari bangsa lelembut. Bangsa kami sudah diperbudak oleh Mpu Adhigana dan dilanjutkan oleh keturunannya selama ratusan tahun lamanya. Anak-anak keturunan kami banyak yang dibunuh untuk ritual upacara persembahan mereka. Bayi-bayi ular yang belum merasakan kehidupan pun dibunuh dengan bengisnya, mereka tidak ada hati nurani. Bangsa kami disuruhnya berperang dengan siapapun yang mereka inginkan. Bangsa kami berada di barisan terdepan pertempuran. Puluhan ribu yang mati." Raja muda ular diam sejenak menahan kesedihannya. "Berita yang diberikan oleh pasukan telik sandi dari kerajaan ular menyebutkan bahwa kerajaan Segara Pitu yang merupakan bagian dari kerajaan Laut Segaralaya berencana untuk melakukan makar. Dan Santika Darliah anak Ki Estungkara keturunan Mpu Adhigana merupakan selir di kerajaan Segara Pitu, secara tidak langsung cepat atau pun lambat Raja Suteja Thani dari Segara Pitu sudah dipastikan akan meminta bala bantuan kepada Ki Estungkara. Dan berapa puluh ribu lagi rakyatku yang harus mati. Saat mati pun mereka tidak mati, jiwa-jiwa mereka terjebak di dalam keris sarpa hastha, menjadi jiwa yang penuh dendam yang diperbudak baik di saat hidup maupun sesudah matinya. Tolong kami Guru Jagratara, tolong agar bangsa kami bisa hidup dan mati dengan damai, pun kami harus mati biarlah kami ke alam kematian." Raja ular muda tidak mampu menahan Isak tangisnya. Dia menangis tersedu-sedu menahan pilu atas penderitaan yang dialami oleh rakyatnya. "Tolong kami Guru, kasihanilah kami?" pintanya kembali. Tangis raja ular muda semakin kencang, hatinya terasa sangat perih, dadanya sangat sakit dan sesak menyaksikan penderitaan rakyatnya dan dengan perintahnya pula dia harus mengorbankan puluhan ribu rakyatnya demi menuruti permintaan anak keturunan Mpu Adhigana .
Guru Jagratara ikut meneteskan air mata. Dirasakannya kepiluan yang dialami raja muda ular karena secara tidak langsung dengan perintahnya dirinya sudah membunuh bangsanya sendiri. Dibiarkannya raja muda itu meluapkan semua beban di hatinya.
"Guru Jagratara tolonglah kami. Mendiang raja terdahulu sebelum meninggal berpesan agar kami bangsa ular harus berusaha melepaskan diri dari perbudakan ini, baik itu meminta pertolongan bangsa manusia, atau siapapun yang bersedia menolong kami. Serta harus berusaha mencari kelemahan pecut sahasra agni," lanjut raja ular muda setelah reda tangisnya .
Guru Jagratara memandang dengan penuh iba. "Anakku adakah yang bisa orang tua ini bantu? Orang yang sudah tua ini adalah orang bodoh, takutnya tidak mampu melakukan apa-apa."
"Guru Jagratara sebelumnya mohon maafkan kelancanganku karena sebelumnya sudah melakukan penyelidikan mengenai diri guru. Hanya guru yang mampu membantu kami. Tolonglah kami Guru?" pinta raja ular dengan prihatin.
Guru Jagratara terdiam beberapa saat. Ditariknya nafas dalam-dalam.Guru Jagrata keluar dari rumahnya lalu berdiri di depan rumahnya. Dipandanginya lembah Chedana yang luas membentang dan berwarna hijau asri. Langit biru dihiasi langkah awan putih berarak-arak. Di lembah Chedana langit adalah atap dan bumi adalah lantainya. Kehidupan di lembah ini begitu damai dan tenang, tidak ada dendam dan prasangka. Guru Jagratara kembali menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan dengan perlahan-lahan.
"Raja muda ular, baiklah aku menyetujuinya."
"Begitulah kisah yang mengawali kepergian gurumu. Sebenarnya bukankah Ratu Sanura sudah mengetahui bahwa Guru Jagratara belum meninggal?" Ucap Paduka Raja Citraloka.
"Aku sangat mengenal guruku. Bertahun-tahun berguru kepadanya, menerima didikan dan kasih sayangnya membuatku sangat memahaminya. Yang jadi pertanyaan ku, apa hubungan antara Guru Jagratara dan Paduka Raja Citraloka?"
Paduka Raja Citraloka tertawa pelan. "Aku ini muridnya juga, cuma aku berguru setelah menjadi raja, tidak seperti Candani Paramita yang berguru sejak masih belia. Jadi aku ini adik seperguruanmu, jadi aku harus memanggilmu Kang Mbok seperguruan," ucap paduka raja sambil tertawa keras malu.
Candani Paramita pun ikut tertawa karena merasa lucu memiliki adik seperguruan yang sudah berumur. Dan panggilan kang mbok tadi terasa geli di hatinya.
"Guru Jagratara meminta kepadaku untuk mengabarkan kepada dunia bahwa dirinya seolah-olah sudah meninggal. Jadi dibuatlah seakan-akan beliau sakit parah karena tua, setelah tiga bulan dalam sakitnya beliau pun dibuat seolah-olah meninggal dunia." Jelas Raja Citraloka.
__ADS_1
"Adakah permintaan guru kepadaku adik seperguruan?" ucap Candani dengan tertawa sekeras-kerasnya, kata-kata adik seperguruan sengaja diucapkan dengan penekanan khusus.
Raja Citraloka pun tidak bisa menahan tawanya, membuat Lintang Samudera dan Nimas Ayu Palupi yang berada di depan pintu kebingungan. Ini adalah penyampaian wasiat tapi yang terdengar seperti bercanda, tidak air mata atau kesedihan lainnya. Apakah wasiatnya lucu?
"Buka dan bacalah tulisan di dalam lontar ini," pinta Raja Citraloka.
Candani Paramita pun menerima surat dari gurunya dengan sopan. Dibuka dan dibacanya surat itu.
"Baiklah Paduka Raja wasiat ini akan segera aku jalankan. Tapi aku.... " Candani Paramita ragu-ragu malu.
"Kang Mbok seperguruanku mau minta dinikahkan dengan Lintang Samudera?" ledek Raja Citraloka dengan tertawa keras.
...Candani Paramita berusaha tenang menutupi rasa malunya. "Betul adik seperguruan, aku minta bantuanmu untuk menikahkanku dengan Kakang Lintang Samudera, jadi perwakilan Ibunda Wali Ratu Segaralaya."...
"Tentu aku bersedia. Tapi ada imbalannya. Beri aku ijin untuk bisa ke Kerajaan Laut Segaralaya. Tanpa ijin Kang Mbok seperguruan Sanura, baru di pantai aku sudah mati tenggelam." Sepasang saudara seperguruan itu tertawa kembali dengan kerasnya.
"Candani di mana-mana laki-laki mengejar perempuan, tapi ini dari laut sampai ke daratan mengembara menempuh berbagai ujian dan penderitaan demi mencari seorang laki-laki. Benar-benar murid utama Guru Jagratara." Puji Raja Citraloka.
"Paduka Raja, sekali hati terpaut langsung kejar jangan dilepas," ucap Candani Paramita atau Ratu Sanura.
"Baiklah aku bantu."
Sebelum keluar dari ruangan pertemuannya dengan Raja Citraloka, Candani membakar lontar yang diberikan oleh gurunya.
__ADS_1