CINTA SUCI RATU SAMUDERA

CINTA SUCI RATU SAMUDERA
SELAMAT TINGGAL PUTERI PAMBAYUN


__ADS_3

Candani dan Lintang Samudera menderap kudanya menjauhi desa. Jalanan begitu sepi. Lintang Samudera berkali-kali tidak mampu memusatkan kekuatan batinnya. Ingin rasanya dirinya menyayat tangannya dengan pisau agar kesadarannya kembali, dan bisa menyelamatkan dirinya dari pengaruh sirep yang mengalir tajam.


Beberapa orang tergeletak di jalan, tidur. Dan beberapa lagi tertidur di tengah sawah. Secara perlahan angin yang membawa muatan sirep mulai memudar, seiring dengan menjauhnya orang yang menjadi penyebab terciptanya ilmu sirep yang menyerang. Saat terbangun, banyak diantaranya kebingungan. Yang tertidur di tengah jalan, merasa sedang bermimpi mengalami kejadian tidur sambil berjalan. Lebih-lebih yang tertidur di tengah sawah, orang itu sampai mengira bahwa dirinya sudah digotong oleh gendruwo yang melemparkannya di tengah sawah. Untung baru panen, kondisi sawah kering.


Candani dan Lintang Samudera sudah jauh meninggalkan desa tempat mereka dikepung. Di kejauhan tampak seseorang berlari mendekat.


"Ada apa?"


"Kakang Lintang, tolong selamatkan Nimas Ayu dan raja muda ular. Di sana," orang itu mengatur nafasnya yang naik turun tidak tentu. "Di sana," tunjuknya ke belakang.


"Kakang Adil, tenangkan dirimu. Atur nafas."


Orang yang bernama Adil tersebut, yang merupakan bagian dari pasukan kelana berusaha menenangkan diri. Diaturnya pernafasannya. "Kami diserang olehorang yang tidak dikenal, dan orang itu memiliki anak buah yang mencegat kami di perjalanan."


"Dimana?" tanya Candani Paramita.


"Di sebuah pedukuhan kecil di arah sana," jawab prajurit Adil sembari menunjukkan arah.


Lintang Samudera dan Candani Paramita bergegas melarikan kudanya. Dan prajurit Adil harus kembali berlari kencang menerjang malam yang hampir pagi. Mengobral tenaga dan nafasnya yang kembang kempis.


Raja muda ular tergeletak di tanah sambil memegang dadanya yang seakan-akan terkena hantaman palu gada.


"Raja Muda Ular, apa yang terjadi? Siapa yang sudah melukaimu."


"Suruhan wanita yang sudah kau tolak cintanya yang sudah menyerangku," jawab raja muda ular sembari menahan nyeri.


"Pambayun?"


"Siapa lagi kalau bukan puteri sulung dari Kerajaan Citraloka, Pambayun Ayu Nastari."


"Apa maksud semua ini, Kakang? Siapa wanita yang sudah kau tolak cintanya."


Lintang Samudera mengarahkan wajahnya ke langit sambil menutup mata. "Puteri Pambayun, kakak dari Nimas Ayu Palupi. Dia terus mengejar ku semenjak masih kecil. Tapi aku sama sekali tidak mencintainya."

__ADS_1


"Bukankah berarti dia puteri dari Raja Citraloka. Rasanya tidak mungkin Raja Citraloka memiliki anak seperti itu." Candani merasa antara percaya dan tidak percaya dengan keadaan yang tengah terjadi.


"Ratu muda laut, cinta membuat puteri Raja Citraloka buta, dan memilih jalan bergabung dengan aliran sesat yang dipimpin oleh Ki Estungkara," raja muda ular memberikan jawaban atas kebingungan yang menimpa Candani Paramita.


"Dimana anak gendruwo Bhanu?" tanya Candani Paramita.


"Anak gendruwo Bhanu sudah menyelamatkan Nimas. Tapi Nimas Ayu memilih mengikuti kakaknya dengan sukarela," raja muda ular terdiam kacau.


"Kakang Lintang, selesaikan urusan cintamu dengan Pambayun. Beri sebuah kepastian yang tegas mengenai isi hatimu. Dan hasil dari keputusan itu entah baik atau buruk, sudah sewajarnya menjadi pilihan masing-masing."


"Tapi kau harus menemaniku?"


"Tentu aku akan menemanimu. Jika Puteri Pambayun mau hitung-hitungan denganku, aku pun akan melayaninya. Enak saja mau merebut suamiku."


🔸🔸🔸🔸🔸


Di sini di tepi sebuah sungai, kini Raja Citraloka berada. Mengikuti puteri sulungnya yang sudah salah jalan.


"Pambayun lepaskan adikmu! Nimas Ayu selalu menghormatimu. Bahkan dia dengan rela hati menjadi sanderamu."


"Pambayun, ayahanda tidak pernah tidak adil. Semua ayahanda lakukan demi kebahagiaan putera dan puteri ayahanda."


"Bohong. Ayahanda pembohong. Adinda Nimas Ayu Palupi menikah dengan raja muda ular karena mereka saling mencintai."


"Kang Mbok Pambayun, ayahanda bukan pembohong. Dan ayahanda menjodohkanku dengan raja muda ular dengan tanpa sepengetahuanku. Aku dipaksa menikah. Tidak ada cinta, tidak saling mengenal."


"Tapi hari itu aku melihatmu bermesraan dengan raja muda ular. Dan pandang mata kalian penuh cinta."


"Kang Mbok Pambayun, pada awalnya aku memang tidak mencintai raja muda ular. Tidak pernah kubayangkan, aku tidur dengan satu ranjang dengan seekor ular yang besar, bahkan harus melahirkan anak keturunannya. Aku ngeri memikirkan hal itu. Tapi aku hanya bisa patuh pada perintah ayahanda, dan berusaha menjalankan kewajiban sebagai istri seekor raja ular. Aku bersuamikan seekor ular, Kang Mbok. Dan Kang Mbok Pambayun dijodohkan dengan manusia seutuhnya, bukan demit, bukan siluman, bukan seekor ular. Lalu apa yang tidak adil?"


"Kenapa kau tidak melawan perintah ayahanda raja?"


"Aku harus menjaga kehormatan ayahanda raja. Menjaga wibawanya. Apa demi kepentingan pribadi, aku harus menangisi cinta, mengejar cinta yang tidak jelas ada dimana, buat apa. Kita ini puteri seorang raja, kita memiliki tugas berbeda dibanding rakyat biasa."

__ADS_1


"Apa sekarang kau mencintai suamimu yang seekor ular?" Hati nurani Pambayun tersentuh dengan jawaban adiknya. Adiknya selalu patuh pada perintah ayahanda raja dan ibunda permaisuri. Tapi dirinya, sejak awal selalu melawan jika perintah yang diberikan tidak sesuai keinginannya.


"Cinta. Aku tidak tahu apa itu cinta. Yang aku tahu, raja muda ular selalu menyayangi dan melindungiku. Mungkin aku jatuh cinta. Yang pasti sekarang, aku ingin selalu berada di sisi raja muda ular, menemaninya dalam suka dan duka. Aku tidak peduli dengan wujud aslinya. Apapun dia, dia suamiku."


Pambayun menatap satu persatu mereka yang berdiri di hadapannya.


"Kakang Lintang, kenapa tidak memilihku?"


"Pambayun, cinta tidak bisa dipaksakan. Aku sangat mencintai istriku. Banyak pangeran dari negara lain yang layak menjadi suamimu. Aku pertegas, aku tidak pernah mencintaimu."


"Tapi aku mencintaimu, Kakang!" Pambayun menangis tersedu-sedu, dirinya begitu sakit hati. Cintanya hanya angan-angan belaka.


"Lepaskan Puteri Pambayun. Kau akan mendapat pendamping yang baik untuk menemani hidupmu." Candani Paramita akhirnya bersuara setelah sekian lama diam.


"Kau dasar perempuan sialan, rasa sakit hatiku harus kau bayar dengan nyawamu."


Pambayun menyerang Candani Paramita dengan membabi-buta. Candani hanya menghindar, sama sekali tidak melawan. Ilmu Pambayun masih berada di tingkat dasar, harga dirinya bisa jatuh jika harus melayani lawan yang ilmunya masih ingusan.


Pambayun mengeluarkan pecut Sahasra Agni. Pecut yang dipinjamnya dari Ki Estungkara. Pecut Sahasra Agni dihentakan ke segala arah. Api-api kecil mulai terbentuk di sekitar tempat itu. Candani mulai jengah dengan permainan yang dilakukan Pambayun. Diserangnya tangan Pambayun, dan direbutnya pecut Sahasra Agni.


"Cukup, Puteri Pambayun."


Pambayun mulai menyerang dengan ilmu hitamnya yang masih berada di tingkat dasar. Candani hanya mengibaskan tangannya untuk meladeni serangan Pambayun.


Pambayun terpental jauh. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Dia pun tertawa keras dan panjang. Tawanya lama-kelamaan berubah menjadi tangisan. Wanita yang menjadi istri Lintang Samudera sangat luar biasa. Dan lihatlah dirinya. Dirinya sekarang tidak lebih dari seorang gadis muda pemakan daging mentah persembahan, dan gadis yang sering mandi darah segar.


Pambayun mendekati ayahandanya, kemudian bersimpuh. "Ayahanda Raja, maafkan Pambayun, mulai sekarang Pambayun akan menjalani hidup dengan pilihan Pambayun."


"Anakku. Kembalilah ke jalan yang benar. Ayahanda dan ibunda permaisuri akan tetap menerimamu."


"Tidak Ayahanda. Mulai sekarang Pambayun akan sepenuh hati menekuni ilmu hitam, menjadi pelayan bagi penguasa kegelapan. Ini sudah pilihan ananda."


Raja Citraloka memejamkan matanya. Merasakan kesedihan yang luar biasa menyesakkan dada. Puteri kesayangannya yang sewaktu kecil ditimang dan digendong, kini harus direlakan menjadi pengikut aliran sesat. Puterinya, anak gadisnya, cahaya matanya, bunga hatinya.

__ADS_1


Raja Citraloka mengangkat Puteri sulung untuk berdiri. "Cahaya mata ayahanda, jika suatu saat Pambayun ingin kembali, maka kembalilah. Ayahanda akan selalu menerimamu apapun keadaannya. Tapi ayahanda pinta, jika aliran sesat menjadi pilihanmu, maka gantilah namamu, tapi jika suatu saat Pambayun kembali kepada ayahanda, jadilah Pambayun kembali."


__ADS_2